Kisah Hidup di Desa

Sebenarnya sudah lama mau nulis tentang ini.  Tapi karena pingin nampilin foto, malah gak jadi-jadi nulisnya. Terus jadi termotivasi lagi deh, mbaca tulisannya ini.  Kebetulan aku juga bisa dikatakan tinggal di desa, tepatnya desa Sawo Wirokerten, Bantul. Sekalian review karena keputusan terakhir tadi siang sih, kita tetap di rumah sekarang tapi minta lantainya di’benerin’. Mudah-mudahan bisa deh ya, soalnya lantai rumah yang sekarang kan belum di-aci, apalagi dikeramik. 😛 Waktu awal-awal kontrak sih masih rapi-rapi aja dilapisi karpet plastik dan ruang depan dikasih evamat banyak-banyak. Tapi sekarang karpetnya dah sekarat, jadi bikin aku males ngepel rumah :P.

Baca selengkapnya Kisah Hidup di Desa

Mencoba Menjalani Gaya Hidup Lebih Sehat

Sebenarnya, ini juga sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan mengisi perut. Tapi aku lagi gak bisa nyari-nyari haditsnya.

Terkadang manusia lupa karena makan hanya karena sekedar mengisi perut, biar kenyang, mengecap kelezatan dan sebagainya. Padahal lebih penting lagi adalah makan itu untuk beribadah kepada Allah dan sangat penting juga kalau makan itu bukan menjadi hal yang membahayakan diri kita sendiri. Kok bisa? Baca selengkapnya Mencoba Menjalani Gaya Hidup Lebih Sehat

Mabruk Untuk Mas Lyno dan Mba Iyus

Kemarin, dapet sms dari mas Lyno. Kakak kandungku yang pertama. Beliau ‘untuk sementara ini’ tinggal di Belanda. Dah 2 tahunan gak ketemu iy. Entah kapan yaa balik ke Indo.

Aku belum cerita ya, kalau Ma & Pa sempat ke Jogja akhir bulan kemarin. Padahal aku emang lagi kangen banget dan bolak balik minta ke bang Hen untuk ke Jakarta. Qadarulllah, anaknya mba Maya – kakak kandungku yang kedua dan tinggal di Surabaya – (Maritza Naazneen K) mesti opname dan mba Maya-nya juga ikutan di rawat karena tipes. Jadilah Mama sama Papa ke Surabaya terus pulangnya mampir ke Jogja. Tapi qadarullah, Papa cuma nginep semalem aja di rumah. Paginya dah ke Solo terus langsung pulang ke Jakarta. Nah, alhamdulillah Mama bisa agak lamaan di rumah (3 malam), kebetulan pas mo dipesen tiket yang hari Ahad, ternyata penuh. Hihi…seneng deh.

Kok jadi ngelantur yaa ceritanya. Pokonya, Mama kan main-main terus tuh sama Ziyad. Terus sempet nyeletuk tentang masalah mas Lyno dan mba Iyus yang belum dikaruniai anak sampai saat itu (nikahnya cuma beda 3 bulan loh sama aku, mas Lyno bulan Agustus 2006, aku bulan November 2006). Terus mama bilang, “Mama ngebayangin kalo anaknya mas Lyno nanti lucu, putih.”

Hihi…gak salah sih bayangan mama. Soalnya mas Lyno-nya kan masya Allah ganteng. Terus mba Iyus juga masya Allah cantik dan keturunan Arab asli (cuma kebetulan pindahan ke Belanda dari kecil).

Di awal bulan, mas Lyno sempet sms ngasih tau kalau abis kecelakaan, jatuh dari sepeda. Tangannya patah. Jadi, gak bisa kerja selama sebulan. Wah…la ba sa thohurun insya Allah ya Mas. Terus-terus…kira-kira semingguan lebih ya, mas Lyno sms nanyain kabar sambil ngasih tau kalau mba Iyus (nama aslinya Fayrus) lagi hamil 5 minggu!!!

Waaaaaaaaaahhhh aku langsung mau nangis terharu. Seneeng banget. Ikut seneng dengernya. Bisa ngerasain insya Allah kebahagiaan mas Lyno di sana. Di jaga ya kakakku sayang. Semoga dimudahkan sampai proses kelahiran nanti dan terus diberi kemudahan dalam merawatnya. Aamiin. Mama juga aku yakin senenggg banget. Soalnya langsung sms aku juga ngasih tau kalau seneng soalnya mas Lyno dan mba Iyus dah 3 tahun menikah.

Mabruk ya akhil kabiirr…

Saufa Nadzhabu ilal Madinatil Munawwaroh, Insya Allah ya Habibi…

Aku yakin, kita esok akan pergi ke Madinah Munawaroh Insya Allah wahai kekasihku…

Ceritanya di balik kalimat ini…

Kemarin salah satu personil Penalette minta ketemuan di kantor. Kebetulan waktu itu abang masih di rumah. Aku berdua sama bang Hen punya firasat yang sama.

“Kayanya kok mau keluar ya bang?”

“Abang juga kepikiran gitu.”

Dan berlanjut dengan perkiraan-perkiraan lainnya yang jadi muhasabah dengan kondisi penalette sekarang.

Akhirnya, sewaktu bang Hen pulang pukul 18.30 wib, aku tanya lagi, “Sesuai perkiraan ya Bang?”

“Iya.”

Kemudian bang Hen cerita kalau si i Ikhwan ini ditawari untuk kerja sebagai pembuat web, sekaligus menjadi admin untuk website Syaikh Abdur Razaq di Madinah. Sebenarnya si ikhwan ini belum lama berkecimpung di dunia perweban (belum paham xhtml, css, dsb yang berkaitan sama web). Aku (yang punya keinginan ingin pergi ke sana) dengan sedikit lesu dan sedih mendengarnya, “Kok gak kita aja bang, yang kesana?”

Terus bang Hen menceritakan berbagai alasan yang emang logis dan syar’i Insya Allah. Itupun pertimbangan dari berbagai sisi.

Terus bang Hen cerita, kalau ikhwan ini punya waktu cuma sebulan untuk mengurus semuanya sekaligus belajar. Tapi insya Allah keputusannya dah kuat dan bulat. Dari personil Penalette yang lain sudah memberikan banyak masukan, seperti, “Tidak semua mesti jadi ustadz.” “Web itu susah lho.” dan lain sebagainya yang bukan bermaksud membuat down si ikhwan.

Akhirnya… insya Allah semuanya mudah-mudahan lancar dan berakhir kebaikan. Ujung-ujungnya buat dakwah. Abu Aisya bilang, “Insya Allah dua tahun lagi kita ketemu di sana akh.” (Aku pingin nangis dengar abang cerita dan ketika menuliskan ini pun juga. Mudah-mudahan ya Allah). Bang Hen mengamini ucapan Abu Aisya ini.

Bang Hen juga jadi lebih optimis, insya Allah berarti ada kesempatan untuk kami dan Penalette untuk ke sana. Tapi sebenarnya usaha seperti Penalette dibutuhkan pula di sini. Karena dari ikhwah belum ada yang khusus bergerak di situ. Padahal posisinya penting dalam dunia yang serba techie ini. Mudah-mudahan dengan kedekatan si ikhwan dengan Syaikh Abdur Razaq juga bisa ada efek positifnya untuk membantu dakwah teman-teman di sini.

Sebenarnya, sebelum ada kejadian ini, sejak beberapa hari yang lalu aku sama bang Hen lagi semangat-semangatnya belajar dan melatih muhadatsah lagi. Diawali dengan dapat tutorial bahasa arab yang bagus banget di youtube (aku gak tahu ni urlnya), terus sama banyak hal-hal lainnya yang berkaitan dengan bahasa arab (mogen, tutorial untuk anak-anak). Semoga Allah memudahkan jalan kami. Aamiin.