Ijazah Sanad Ziyad: Hafsh ‘an ‘Ashim dan Ibnu Katsir

Alhamdulillah, Kamis, 15 Oktober 2026, Ziyad sampai di tahap mendapat ijazah dengan riwayat Ibnu Katsir dari syaikh Abdur Rozzaq Limbarki. Ini adalah ijazah sanad kedua yang Ziyad terima dari syaikh. Setahun yang lalu, waktu Ziyad menerima sanad riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim, Ziyad jeda sepekan dan syaikh sudah tahu Ziyad mau melanjutkan ke sanad berikutnya. Sebelumnya proses untuk mendapatkan sanad Hafsh ‘an ‘Ashim, Ziyad menyetorkan dulu hafalan 30 juz-nya selama ± 1,5 th (sejak pertengahan tahun 2023, saat dia kelas 2 SMA).

Jadi Ziyad, sudah belajar ± 3,5 tahun bersama syaikh Abdurrozaq Limbarki. Alhamdulillah.

Apakah dia meneruskan ke sanad berikutnya? Kita bahas satu persatu dulu.

Riwayat Ibnu Katsir

Waktu itu syaikh menawarkan riwayat yang lainnya (aku lupa riwayat apa). Tapi —aku dan Abang—dengan pertimbangan supaya terasa mudah dilalui Ziyad, menyarankan dia ambil riwayat Ibnu Katsir aja. Ini berdasarkan sedikit pengetahuan yang kami pelajari di kuliah bahasa Arab di IOU. Ditambah lagi, bacaan Ibnu Katsir adalah bacaannya penduduk Mekkah (ini dulu ya di masa awal, kalau sekarang memang sudah lebih ke riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim).

Catatan tentang Ibnu Katsir
  • Beliau adalah Abdullah bin Katsir ad-Dari al-Makki (wafat 120 H). Beliau salah satu dari tujuh imam qiraat (Qurra’ Sab’ah) dan menjadi imam qiraat di Mekkah.
  • Beliau belajar dari ulama tabi’in di Mekkah, seperti Mujahid bin Jabr dan Darbas. Mereka belajar dari sahabat, di antaranya Ibnu Abbas, yang menerima bacaan dari Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit.
  • Dua perawinya: Al-Bazzi (wafat 250 H) dan Qunbul (wafat 291 H). Keduanya orang Mekkah juga.

Catatan: Ibnu Katsir ahli qiraat ini berbeda dengan Ibnu Katsir penulis Tafsir Ibnu Katsir (Ismail bin Katsir, wafat 774 H, Damaskus).

Jadi dalam ilmu qiraat, Ibnu Katsir disebut sebagai imam Mekkah, sama seperti Nafi’ untuk Madinah, Abu Amr untuk Bashrah, Ibnu Amir untuk Syam, serta Ashim, Hamzah, dan Al-Kisa’i untuk Kufah.

Salah satu ciri bacaan Ibnu Katsir: Shilah mim jamak
Mim jamak adalah mim pada akhir kata seperti كُمْ dan هُمْ. Dalam riwayat Hafs, mim ini dibaca sukun. Dalam bacaan Ibnu Katsir, kalau setelah mim ada huruf berharakat, mim dibaca dhammah lalu disambung wawu panjang.

Contoh: عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ dibaca ‘alaikumu junāh dengan “mu” yang dipanjangkan (‘alaikumuu junāh).

Ini catatan aku pas awal-awal Ziyad belajar sanad Ibnu Katsir.

Caption instagram untuk postingan di atas:

Alhamdulillah.. tanggal 6 Oktober 2025, Ziyad sudah mendapatkan sanad riwayat Hafsh dari Syaikh Abdurrozaq Al Limbarki.

Sebenarnya ada kejadian sesaat sebelum khataman ini dan sesudahnya.
Tapi terlalu “dalem” untuk diceritakan di social media. Waktu itu, ada nasehat-nasehat yang kami berikan terkait Al-Qur’an. Alhamdulillah Allah lapangkan hati Ziyad untuk melanjutkan belajar Al-Qur’an bersama Syaikh.

Syaikh menawarkan untuk belajar riwayat….(nanya Ziyad dulu, aku lupa riwayat apa). Tapi kami beri masukan ke Ziyad, coba tanyakan Syakh tentang riwayat Ibnu Katsir. Kami tahunya itu insya Allah lebih mudah. Maksudnya, biar Ziyad juga ga langsung merasa kesulitan di awal menempuh belajar riwayat selain Hafsh.

Karena kami juga belum tahu ilmunya, jadi ini tetap kami arahkan Ziyad untuk minta nasehat bagaimana baiknya. Kalau memang jalur yang ditawarkan syaikh di awal lebih baik, tentu saja itu yang dijalankan. Alhamdulillah syaikh menjawab yang intinya iya, Ibnu Katsir insya Allah mudah. Jadi Ziyad insya Allah akan belajar riwayat Ibnu Katsir.

Walaupun tetep ya, Ziyad pas udah nutup video call sama Syaikh menunjukkan ekspresi “berat “.

“Gpp Ziyad. Insya Allah itu bagus buat Ziyad.” Aku bilang hehehe. Semoga Allah mudahkan perjalanan ini.
Semoga Allah berikan akhir yang baik untuk segala urusan Ziyad.

Riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim

Setahun sebelumnya, tanggal 6 Oktober 2025, Ziyad mendapatkan ijazah sanad Hafsh ‘an ‘Ashim dari syaikh Abdurrazaq Limbarki. Proses belajarnya selama setahun dia menyetorkan kepada syaikh.

Pas hari khatam dan sesudahnya ini, ada kejadian seperti aku tuliskan di postingan instagram pas awal Ziyad belajar bacaan riwayat Ibnu Katsir. Tapi kejadian ini bagian dari perjalanan Ziyad sebagai sosok yang memerlukan bimbingan, insya Allah. Alhamdulillah, setelah hari-hari yang terasa berat, Allah mudahkan Ziyad mau melanjutkan belajar riwayat Ibnu Katsir.

Ketaatan –apalagi terkait Al-Qur’an– insya Allah tidak akan memberatkan kehidupan kita. Sebaliknya, itu lebih baik dari segala yang kita kumpulkan, memberi ketenangan dan kemudahan dalam perjalanan kehidupan kita, insya Allah
.

Ralat: Video 24 April.
Ngeditnya videonya 25 April (kurang teliti lihat tanggalnya).

Waktu Ziyad dalam proses setoran hafalan untuk sanad Hafsh ‘an ‘Ashim ini adalah saat-saat Ziyad kelas 3, ujian akhir SMA dan ujian untuk masuk universitas (SNBT). Alhamdulillah, di hari dia ujian SBNT (Seleksi Nasional Berbased Tes), sorenya dia masih setoran kepada syaikh. Sebenarnya aku senang dan terharu ya di momen ini. Begitulah, ada saat-saat yang rasanya anak-anak bikin kita bahagiaaa banget, ada juga saat-saat yang bikin bikin ulu hati sakit dan rasanya aku mau pergi dulu menyendiri.

Alhamdulillah, sebulan kemudian, dapat pengumuman Ziyad diterima di universitas negeri. Waktu aku bikin caption di postingan instagram bulan April itu, tentu saja aku gak tau gimana masa depan Ziyad, gak tau dia diterima apa engga. Alhamdulillah Allah bimbing untuk kami yakin bahwa Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang “mengganggu” kehidupan insya Allah.

Catatan tambahan terkait Hafsh ‘an ‘Ashim:

  • Siapa Ashim? Beliau adalah Ashim bin Abi an-Najud al-Asadi al-Kufi (wafat sekitar 127 H). Beliau salah satu dari tujuh imam qiraat dan menjadi imam qiraat di Kufah.
  • Dari mana bacaannya? Beliau belajar dari dua guru utama, yaitu Abu Abdurrahman as-Sulami dan Zirr bin Hubaisy. As-Sulami belajar dari Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan. Zirr belajar dari Abdullah bin Mas’ud. Sanad ini bersambung sampai Rasulullah ﷺ.
  • Siapa Hafs? Beliau adalah Hafs bin Sulaiman al-Asadi al-Kufi (wafat 180 H). Beliau murid sekaligus anak tiri Ashim. Beliau dikenal paling teliti menjaga bacaan Ashim.
  • Perawi Hafs: Ubaid bin Shabbah dan Amr bin Shabbah. Ashim juga punya perawi lain, yaitu Syu’bah.

Jadi Hafs ‘an ‘Ashim artinya bacaan Ashim yang diriwayatkan oleh Hafs. Imam Kufah ada tiga: Ashim, Hamzah, dan Al-Kisa’i.

Setoran 30 Juz (Bukan Sanad)

Perjalanan Ziyad belajar ke syaikh dimulai sejak Juli 2023. Sekitar dua bulan setelah dia kami keluarkan dari pondok. Karena kami merasa hafalan dan tajwid Ziyad mengalami penurunan, makanya kami gak langsung mengarahkan atau kepikiran untuk dia ambil sanad. Walaupun waktu itu ada seseorang yang menawari agar Ziyad mengambil sanad melalui anaknya yang sudah mendapat sanad dan bisa memberikan ijazah sanad Hafsh ‘an ‘Ashim. Buat apa? Ngejar apa?

Jadi, fokus di awal memang memperbaiki lagi bacaan dan hafalan Ziyad. Sebelum setoran ke syaikh, Ziyad setoran hafalan ke Abang (Abi-nya). Abang harus “susah payah” mengingatkan dia membaca sesuai tajwid, gak buru-buru daaaan seterusnya. Alhamdulillah setelah belajar ke syaikh, terasa sekali pengaruh dan perbaikannya, biidznillah.

Dalam proses setoran 30 juz ini, Syaikh juga memberi tes-tes setiap juz-nya.

Proses setoran hafalan Ziyad ini, berlansung hampir 1,5 tahun. Karena dia selesai di 31 Oktober 2024. Ini adalah video saat khataman dan pemberian ijazah. Nasehat syaikh di acara ini bagus banget masya Allah.

Proses khatamannya malah waktu itu lebih panjang dibandingkan proses khataman Ziyad saat sanad.

Saat proses setoran hafalan 30 juz ini pula, Ziyad mengambil sanad Tuhfatul Athfal dan Al Jazary dari syaikh Abdurrazaq Limbari, alhamdulillah.

Pengulangan Setoran 30 Juz di SMP

Ini jawaban ust Izzudin ketika pertengahan semester kelas 3, Ziyad dites untuk masuk SMA dan ditanya kekuatan hafalannya, ada jawaban ust Izzudin yang menyatakan Ziyad sudah kuat 15 juz dan sisanya insya Allah akan bisa dilalui saat dia lulus.

Saat di SMP pun, Ziyad sudah mengulang setoran hafalan 30 juz-nya ke ustadz Izzudin hampir 2 putaran. Ziyad menyelesaikan hafalan 30 juz-nya di usia 14 tahun (saat naik kelas 3 SMP). Berarti, dia mengulang hafalannya selama setahun. Pengulangan ini juga disertai tes kekuatan hafalan. Jadi, dari Ziyad hafal 30 juz sampai Ziyad mendapatkan sanad di bulan Oktober tahun 2025, ada rentang waktu 4,5 tahun.

Jadi, bagi teman-teman yang anaknya baru aja menghafal 30 juz, janganlah terburu-buru dan berpikiran untuk langsung mengambil sanad. Ada proses pengulangan dan penguatan. Sebenarnya, biasanya anak juga sadar bahwa dia belum “kuat” :). Kadang orang tua belum tahu kondisi hafalan anaknya—terutama kalau anaknya menghafal di pondok dan tidak setoran ke orang tua—. Cobalah minta anak setoran hafalannya kepada orang tua untuk mengetahui kondisi bacaan dan hafalannya. Bisa juga dicoba cek tes sambung ayat untuk mengetahui kekuatan hafalan anak. Untuk mengetes ini, anak bisa diberitahu dulu, misal akan dicek Juz 5. Sekali lagi, hafalan Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang langsung melekat dan bisa kuat tanpa pengulangan dan penjagaan.

Catatan penting lainnya: Jangan tertipu dengan gelar atau sandangan bahwa “anakku sudah memiliki sanad”. Semoga Allah membimbing dalam setiap perjalanan Al-Qur’an kita bersama anak-anak. Semoga Allah memberi hidayah taufik dan menjadikan amalan ibadah kita dan anak keturunan kita ikhlas karena-Nya.

Lanjut Riwayat Berikutnya?

Setelah selesai pross acara pemberian ijazah, Syaikh udah nanya langsung nanya apakah Ziyad mau lanjut ke riwayat berikutnya—via chat di wa 🥹.

Selain pertimbangan biaya (dari kami) , dari Ziyad sendiri juga mau jeda dulu. Karena SPP untuk pengambilan sanad ini adalah 1jt per bulan. Selama ini, alhamdulillah kami “gotong royong” supaya anak-anak bisa belajar ke syaikh. Untuk pengambilan sanad ini, Ziyad juga ikut tanggung jawab. Jadi aku dan Abang gak bayar full 1jt.

Tapii…sebenarnya, faktor biaya ini insya Allah bukan—dan kami sendiri gak pingin—ini jadi alasan utama. Harus berusaha memperbaiki pola pikir. Dalam arti, insya Allah yakin Allah akan cukupkan. Apalagi ini untuk Al-Qur’an.

Faktor yang memberatkan Ziyad adalah dia merasa punya tanggung jawab yang besar dengan “ilmu” yang akan dia emban. Kami berusaha memahami ini insya Allah. Aku dan Abang diskusi di malam hari terkait ini setelah acara khataman. Biarkan dia jeda dulu. Dalam niat kami, bukan semata-mata sanadnya yang dikejar sebenarnya insya Allah. Tapi gimana Ziyad bisa tetap dekat dengan Al-Qur’an terutama dengan adanya guru.

Dalam hati aku, ada rasa sedih ketika kepikiran Ziyad gak belajar lagi sama syaikh. Tapi aku sendiri berusaha berlapang dada. Begitulah kehidupan. Ada saat bertemu ada saat untuk berpisah. Kadang sementara dan tetap bertemu di kesempatan lainnya. Semoga Ziyad bisa belajar dengan guru lainnya dan Allah mudahkan untuk terus melalui kehidupan ini dan tetap berusaha dekat dengan Al-Qur’an, menjaga dan mengamalkan apa yang sudah dipelajari.

Hadiah

Di blog aku sengaja tampilkan nilainya. Kalau di media sosial, orang yang melihat postingan aku itu bisa dari orang yang gak aku kenal dan gak kenal aku. Jadi, sudut pandangnya dan cara menilainya bisa beda-beda. Jadi amannya gak usah dikasih lihat aja. Kalau di sini, aku sengaja tampakkan dengan berbagai pertimbangan juga insya Allah 🙂

Hadiah tahun 2025, sanad Hafsh ‘an ‘Ashim

Setelah Ziyad menyelesaikan setoran hafalannya dan mendapatkan ijazah sanad Hafsh ‘an ‘Ashim dan Ibnu Katsir, alhamdulillah kami bisa memberikan hadiah untuk dia. Karena dia punya keperluan yang dia yang paling tahu, jadinya kami berikan dalam bentuk uang. Nilainya, sebenarnya “gak seberapa” dibanding proses yang dia lalui. Makanya ini bukanlah “bayaran” atas apa yang dia lakukan. Bahkan dia juga gak tahu bakal kami kasih ini.

Pas dapat hadiah yang Ibnu Katsir ini, walaupun ekspresi di chat ini kaya flat, ini gak menggambarkan reaksi dia sebenarnya hehehe. Ini aku chat pas dia lagi di kampus. Pas sampai rumah, seperti biasa dia salim ke aku dan Abang. Terus dia dengan heboh dan bahagianya menceritakan “proses” dia ketika menerima chat itu. Karena gak tau jumlahnya, dia pikir udah alhamdulilah kalau dikirim 250rb hehehe. Pas tahu 500rb, langsung tahu buat apa.

Muroja’ah

Alhamdulillah, kami sudah membicarakan ini sebelum Ziyad selesai dengan riwayat Ibnu Katsirnya. Dia bilang, setorannya ke aku aja. Alhamdulillah pekan ini sudah langsung berjalan. Tiap pagi sebelum kuliah, dia setoran ke aku 5 halaman. Insya Allah bakal aku bagi waktunya supaya dia muroja’ah 2 riwayat ini. Karena riwayat Ibnu Katsir ini cukup ringan, jadi rencananya insya Allah 2 hari tiap pekan untuk setoran bacaan riwayat Ibnu Katsir. Aku juga minta dia setoran Tuhfatul Athfalnya dan Al Jazari-nya. Oh ya, tahun kemarin, dia juga ikut dauroh Al-Jazari selama beberapa bulan. Yang mengajar syaikh dari Al Jazair juga.

Semoga Allah beri hidayah taufik untuk Ziyad dan kecintaan untuk terus bersama Al-Qur’an.

Jogja – Jumat 23 Oktober 2026

Buku Menata Hati
Buku Menata Hati [versi cetak]
E-Book Menata Hati di Play Books

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *