Kain Alas Haid

Kain alas yang aku pakai di sini kain biasa aja. Aku udah pernah coba beli 1 mens pad. Aku pikir tapi kayanya sayang-sayang kain yang ada di rumah.

Kain apakah itu?

Kain alas ompolnya anak-anak hahaha.

Yang jenisnya kaya handuk gitu ya. Bukan yang licin. Karena tujuannya biar bisa nyerap darah.

Nah, alhamdulillah aku udah biasa ngadepin haid pakai kain kaya gini dari zaman SMP (awal-awal aku haid). Memang diajarin sama Mama, kalau gak ada pembalut pakai kain. Waktu ituu…Mama ngajarinnya pakai kain popoknya adik bungsu aku yang beda usianya 10 tahun sama aku. Jadi, popoknya udah gak dipakai lagi.

Zaman dulu, popoknya bentuknya benar-benar kotak dan warnanya putih. Ada talinya seperti sekarang. Waktu digunakan sebagai kain alas haid talinya dipotong. Bahannya juga semacam kain berserat seperti handuk tapi tipis. Jadi nyerap darah juga.

Nah, kain alas ompol zaman sekarang (aku pakai yang merk baby oz) itu lebar. Aku potong lagi jadi dua.

Kain ini gak dijahit-jahit lagi karena memang sengaja biar mudah bersihinnya dan lebih mudah keringnya.

Cara Pakai

Kain di lipat sampai jadi selebar area tengah sirwalun dakhiliyyun (bahasa arabnya celana dalam :D). Panjangnya sepanjang pembalut sekali pakai pada umumnya.

Biasanya aku pakai kain ini, kalau darah haid sudah mulai deras. Biasanya hari ketiga. Hari pertama dan kedua kebiasaan darah haid aku itu seperti masih belum luruh gitu. Baru bercak-bercak dan ngendap di area farji.

Pas lagi deras-derasnya, nanti kalau sudah mulai banyak darah yang terserap kain atau pas udah pipis biasanya aku ganti. Karena gak enak kalau udah kena basah terus dipakai lagi. Sama aja sih sama pembalut biasa kalau udah kena basah juga gak enak kan.

Kalau khawatir jatuh, bisa dipenitiin. Tapi karena aku di rumah aja, gak pernah pakai peniti. Atau kalau pas keluar kan biasanya aku pakai celana panjang lagi. Jadi udah cukup menahan insya Allah.

Cara Bersihin

Nah, ini yang mungkin bakal dianggap repot. Tapi apalah. Yang namanya apa-apa itu kan kalo belum biasa atau belum niat ya bakal ngerasanya susah. Namanya juga keluar dari zona nyaman kan :D. Ngaku hayo.

Jadi gini. Kalau udah gak enak lagi kainnya atau mulai banyak nyerap darah, silakan ganti kain yang baru.

Tahap pertama.
Kain yang sudah kotor, disikat dengan sabun mandi yang sudah tidak dipakai lagi. Ini yang paling efektif meluruhkan darah dibandingkan detergen. Diusahakan sampai bersih tidak ada terlihat sisa darah.

Tahap kedua.
Habis itu, dikumpulin aja kain yang dipakai sehari itu di satu ember sendiri (jangan campur baju lain ya). Direndam dengan deterjen lagi biar gak amis. Dan setelah itu, sebelum dimasukkan ke mesin cuci, disikat lagi satu persatu, biar memastikan seluruh darah/lendir darah sudah bersih.

Walau tahap pertama kita udah nyikat sampai terlihat tidak ada darah, kenyataannya di kain tuh biasanya masih ada sisa-sisa darah. Akan terbukti dari warna air rendaman yang masih ada kemerahannya :D.

Tenang aja. Gak selalu saklek kaya gini juga. Kadang aku juga pas lagi gak bisa ngelakuin bersihin yang tahapa pertama, ya cuma sikat-sikat sedikit atau siram kemudian di taruh di ember; rendam air biar darahnya luruh otomatis walau tentu saja belum bersih.

Yang jelas tahap kedua jangan dilewatin. Biar hasilnya pas udah kering gak bau amis dan tentu saja bersih untuk dipakai lagi.

Pengalaman Tak Terlupakan

Yang namanya ABG emang otaknya kadang suka gak jalan ya ternyata. Aku kalau ingat-ingat kejadian rasanya bersyukuurrr banget. Alhamdulillah Allah masih menyelamatkan aku.

Jadi, waktu SMP, aku biasa main sama sekelompok teman yang biasa barengan pas pulang sekolah. Waktu itu aku pulang jalan kaki hampir 2 km dari sekolah ke rumah.

Biasa yang namanya anak-anak. Sambil main-main gitu mampir ke salah satu tandon air dekat majid yang kami lewati. Anak-anak lainnya manjat itu tandon sampai atas trus duduk-duduk pinggir tandon.

Hal yang menghalangi aku untuk manjat saat itu bukan karena ketinggian tandonnya.

Tapi karena aku lagi pakai pembalut yang pakai peniti. Ya Allah.

Mungkin ABG itu emang lebih gede gengsinya daripada akal sehatnya ya.

Aku gak mau kalau pas aku manjat, aku bakal kelihatan pakai pembalut yang pakai peniti. Kayanya jadi aib kalau aku ketahuan pakai pembalut kain. Bukan pembalut sekali pakai pada umumnya seperti yang digunakan teman-temanku.

Bukan pula karena mikir bakal kelihatan aurat. Begitulah. Hidayah belum menyapa. Kalau alasannya karena aurat lebih bagus lagi kan. Tapi SMP aku belum pakai jilbab. Kisah tentang perjalanan pakai jilbab sampai sekarang insya ALlah suatu hari akan aku ceritakan di sini.

Tapi kalau dipikir sekarang. Itu kayanya akalnya dimana manjat tandon air tinggi banget. Kalau jatuh apa gak bahaya banget.

Alhamdulillah ya Allah. Aku gak ikutan manjat.

Menstrual Cup

Aku udah lihat-lihat menstrual cup ini. Sudah ada keinginan tapi belum tergerak sepenuhnya. Masih agak ragu apakah bisa menjaga kehigienisan si cup sebelum dimasukkan ke farji. Musykilah paling besarnya di situ.

Jadi, saat ini aku cukup merasa nyaman dengan penggunaan kain ini. Alhamdulillah udah hampir setahun pakai cara ini. Alhamdulillah benar-benar gak tergoda untuk beli pembalut sekali pakai.

Demikianlah sekilas tentang alas kain haid.

Semoga bermanfaat.

cizkah
11 Maret 2020 /Rajab 1441

2 Replies to “Kain Alas Haid”

  1. Pakai kain itu apa ga tembus? Kalau lagi banyak, seberapa sering gantinya?

    1. Silakan dibaca lagi dan dipraktekkan ya.
      Yang ditanyakan sudah dibahas di tulisan insya Allah.
      Bisa lebih terjawab kalau dipraktekkan.

Leave a Reply