Alhamdullillah, Sabtu pekan lalu, 5 September 2026, bisa ke Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM sama anak-anak. Tujuan utamanya sebenarnya ke Brilliant Books Store. Tadinya, Abang kepikiran berdua aja dulu sama aku. Akhirnya tapi nawarin anak-anak dan tentu saja disambut semangat sama tiga sekawan.
Sore itu, habis ashar, Ziyad keluar ke gym “Majapahit” di Pogung. Thoriq nyepeda. Tadinya ngira Ziyad sama Thoriq ga bakal ikut. Alhamdullillah Allah mudahkan semuanya pas. Pas kami mau berangkat pakai taksi, Thoriq pulang. Sempat cerita kenapa akhirnya dia nyepedanya jadi 16km. Soalnya aku udah pesenin ga usah kejauhan. Karena sebelumnya udah pernah 19km.
Kami duluan berangkat. Dia sama Ziyad jadi bersih-bersih dulu karena habis olahraga dan mereka berangkat naik motor.
Sebelum ke GIK, sholat Maghrib dulu di masjid kampus UGM yang sebenarnya di sana juga ada cerita. Tapi kita fokus ke Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM ini dulu dan toko buku yang ada di sana.
Brilliant Books Store
Aku, Abang dan tiga sekawan karena kami jalan kaki dari masjid kampus UGM, jadi gampang aja langsung datang dari arah “dalam”. Bisa dibilang, malah kalau dari arah sini lebih dekat ke toko buku Brilliant. Kami nanya satpam, melewati lorong sedikit, tau-tau ketemu pintu masuk toko buku.
Nah, aku kaget melihat besar toko bukunya. Karena kalau melihat dari foto-foto yang tersebar, aku gak mengira kalau sebenarnya itu satu ruangan kecil aja. Mungkin karena ruangannya tinggi dan dari cara penyusunan bukunya, jadi terkesan bahwa ini toko buku besar.
Sampai-sampai, karena melihat keramaian di dalam toko buku, sebelum masuk aku sampe mikirnya kok kaya bakal penuh banget nih kalau kami 7 orang masuk. Hehehehe….asli lohh…kaya bakal sempit banget ngeliatnya, bakal mepet-mepetan. Abang langsung meyakinkan aku karena aku emang mengekspresikan ragu dan kaget, “Udah masuk dulu aja…”
Alhamdulillah, gak lama kami masuk, Ziyad dan Thoriq juga udah sampai. Ternyata mereka agak kesulitan cari parkiran. Karena mereka bawa motor, jadi mereka harus cari area parkir dari arah yang berbeda dari arah kami masuk.
Hati-Hati Toko Bagian Atas
Display toko ini memang banyak main di tembok. Dan untuk satu sisi, dibikin jadi seperti ada 2 lantai. Tapi, karena bangunannya bukan permanen, jadi memang harus hati-hati. Di bagian awal tangga, sudah ada kertas pengumuman ditempel bahwa yang naik ke atas dibatasi 10 orang.
Nah, bagian pengumuman ini sepertinya gak semua orang aware atau baca, Karena biasanya naik tangga langsung tertuju pada buku-buku yang dipajang.
Juga yang sangat perlu hati-hati adalah pagar sepanjang lantai 2 ini yang juga bukan pagar kokoh. Ada peringatan di beberapa spot untuk TIDAK BERSANDAR. Aku sibuk ngingetin anak-anak untuk gak bersandar. Karena refleksnya kalau udah sampai di lantai atas, pingin berdiri yang kemudian jadi bisa ngeliat ke bawah, dan refleknya biasanya lumayan senderan sama pagarnya itu.
Untuk satu sisi lagi, ada area yang sangat tinggi yang juga tetap jadi space display buku. Aku sempat mikir, itu gimana ya ngambil bukunya? Oh…ternyata disediain tangga. Tapi kayanya emang khusus orang yang udah tahu bakal mau beli buku yang di situ ya. Karena kalau untuk lihat-lihat gak mungkin masang tangga terus ngambil sendiri hehe. Entah lah. Sepanjang aku di sana, belum ada orang yang beli buku yang bikin penjaganya harus pakai tangga untuk mengambil buku.
Yang jadi catatan juga adalah menurut aku bagian bawah lantai 2 yang justru jadi tempat untuk duduk-duduk membaca. Kalau bawa anak-anak, buat mengantisipasi justru jangan berlama-lama berada di bagian bawah situ—ini dengan pertimbangan resiko ya.
Alternatif Toko Buku
Dari yang udah aku sebutin di atas, tetap insya Allah kami suka juga kok. Ada nilai yang berbeda dibanding toko buku Toga Mas atau Gramedia. Display bukunya mempermudah memilih buku. Ada juga buku yang bahkan di Gramedia gak ada, contohnya Na Willa —ini karena baru 2 pekan yang lalu kami ke Gramedia jadi bisa tahu, dan sebenarnya ada banyak cerita pas perjalanan ke Gramedia ini.
Selain itu, ke toko buku di sini malah juga bisa jadi “sambilan” aja. Karena bisa jadi kita sebenarnya cuma mau berganti suasana dari rumah dan mau duduk-duduk di banyak spot yang disedikan di GIK. Ada tangga-tangga, bangku-bangku di area di bawah pepohonan. Bisa bawa bekal sendiri juga tapi di sana juga ada beberapa counter makanan—yang sebagian besar harganya lebih mahal dibanding di luar. Tapi ada juga counter seperti warmindo yang isinya mie dan minuman instan.
Insya Allah kami sudah berencana akan ke sini lagi di lain waktu saat suasana masih terang.
Aku gak banyak foto di sana karena suasana gelap dan lagi gak terlalu mood buat foto-foto hehe.
cizkah,
Jogja — Ahad, 13 September 2026

