Menjaga Takwa

Mungkin kita pernah melihat lontaran kalimat seperti ini,

“Biar tetap waras.”
“Menjaga kewarasan.”

Kalimat ini, seringkali diucapkan berkaitan dengan aktifitas seorang ibu dalam menghadapi keseharian kehidupan. Ibu perlu hiburan, biar tetap waras. Kira-kira seperti itu makna secara umum ketika kalimat ini diucapkan.

Sebagai seorang muslim, kita harus hati-hati dan mengatur setiap kata yang keluar dari lisan.

Kalaupun terlihat lucu atau seperti menggambarkan secara ringkas rasa yang ada di jiwa, coba direnungkan lagi apakah sesuai dengan syariat atau engga.

Karena gak semua kata dan rasa di jiwa harus kita lontarkan dalam kata-kata.

Coba kita ingat lagi keadaan seorang muslim sebagaimana dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam. Seluruhnya baik.

Baiknya ini karena ada rasa sabar dan ada rasa syukur.

Dan yang mungkin juga kita lupa atau belum tahu, adanya rasa sabar dan rasa syukur ini berkaitan dengan ketakwaan.

فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“…Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (Q.S. Ali-Imron: 123)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqoroh: 153)

Maka harus diakui ketika kita merasa tidak baik-baik saja, sebenarnya, kemungkinan yang paling besar karena kurangnya ketakwaan kita.

Maka ketika kita tidak baik-baik saja, segeralah melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan ketakwaan kita. Bukan sebaliknya.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (Q.S. Al-Baqoroh: 45)

Memang berat. Disitu ujian kita sebagai seorang muslim.

Nangis-nangis gpp. Tapi jangan sampai terucap kalimat yang khawatirnya menunjukkan ketidakbersyukuran kita atas nikmat yang ada.

Nikmat memiliki suami, maka ada tanggung jawab kita sebagai seorang istri.
Nikmat memiliki anak, maka ada tanggung jawab kita sebagai seorang ibu.

Rasanya kurang bersyukur kalau nikmat-nikmat itu kemudian dikatakan bisa membuat seseorang menjadi tidak waras.

Badan boleh letih. Hati boleh sedih. Semuanya perlu istirahat. Namun jangan sampai terlontar dari lisan kita, ucapan yang tidak diridhoi Allah. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis karena anaknya Ibrohim meninggal, beliau bersabda,

ﺇﻥَّ ﺍﻟﻌَﻴْﻦَ ﺗَﺪْﻣَﻊُ ﻭﺍﻟﻘَﻠﺐ ﻳَﺤْﺰﻥُ ، ﻭَﻻَ ﻧَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﻳُﺮْﺿِﻲ ﺭَﺑَّﻨَﺎ

“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati merasa sedih dan tidak ada yang kami katakan selain yang membuat Tuhan kami rida.” (Muttafaqun ‘alaih)

Karena seperti aku pernah sampaikan juga, pada setiap amanah atau tanggung jawab yang kita miliki, sebenarnya ada rezeki di situ. Yang namanya rezeki itu berarti nikmat. Dan harusnya kita syukuri.

Minta petunjuk Allah

Kita perlu memperbaharui doa. Maka jangan bosan untuk berdoa agar Allah memberi petunjuk kepada kita. Supaya ketika kita dalam keadaan susah dan payah, maka Allah beri petunjuk kepada kita.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. At-Taghobun: 11)

Berdoa agar diperbaiki untuk (1) mengingat Allah, (2) bersyukur kepada Allah dan (3) beribadah dengan baik kepada Allah. Tiga harapan ini penting banget supaya benar-benar bisa jadi seorang mukmin seperti yang disebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Alhamdulillah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita doa yang berisi tiga harapan ini. Doa ini adalah doa yang disunnahkan dibaca sebelum salam. Berarti, kita bisa memperbaharui doa di bawah ini, minimal 5 kali dalam sehari. Menakjubkan ya semua hal yang terkait ini. Masya Allah.

للّهُـمَّ أَعِـنِّي عَلـى ذِكْـرِكَ وَشُكْـرِك
وَحُسْـنِ عِبـادَتِـك

“Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu.” (Abu Dawud 2/86, An-Nasa’i 3/53. Lihat juga Sahih Abu Dawud Al-Albani 1 /284)

Semoga Allah mudahkan agar kita selalu mendapat petunjuk Allah. Semoga Allah mudahkan kita untuk terus mengingat Allah dalam setiap kondisi kehidupan kita.


Tentang sabar dan syukur ada di hadits ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya baik. Tidaklah ini didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)


Untuk terhindar dari gila, maka ada doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat rutin kita panjatkan juga.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ

ALLAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu

مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُوْنِ

MINAL BARASHI WAL JUNUUNI
Dari penyakit belang dan gila

وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ

WAL JUDZAAMI  WA MIN SAYYI-IL ASQOOMI
Dan kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya

(H.R. Abu Dawud)

cizkah
Jogja, 8 Agustus 2021
Ahad malam

Bagi yang kenal aku baik di dunia nyata dan maya yang mungkin pernah melontarkan kalimat di atas, mohon jangan merasa ini membahas teman-teman secara personal ya. Baik sebelum dan setelah tulisan ini disusun, ga terbersit satu namapun yang aku kenal di benak sebagai contoh kejadian ini insya Allah 🙂.

One Reply to “Menjaga Takwa”

  1. MasyaAllah mbak..ini juga yg aq pikirin ktk tmn2 bnyk yg mengucapkan atau menuliskan hal tsb..tp memang journey seseorang utk spiritualitas itu berbeda2..jadi kuncinya adalah pembaharuan doa..setuju..🙂

Leave a Reply