Ketika Ziyad Sekolah

Banyak alasan, ketika akhirnya kami mencoba memasukkan Ziyad sekolah dan akhirnya pelan-pelan memutuskan memasukkan dia ke sekolah.

Pertama mungkin karena takut…atau khawatir…atau berbagai kecemasan lainnya yang aku sendiri ngerasa belum sanggup menghadapinya – apalagi suami lebih banyak menyerahkan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan ke aku.

Permintaan dari Ziyad…- yang sebenarnya mungkin bisa berlalu oleh waktu -.

Kondisi lingkungan di rumah yang kurang mendukung untuk adanya kegiatan bermain bersama dengan teman-teman sepermainan. Sebagian besar adalah anak perempuan. Anak yang beda setahun dua tahun, mungkin kurang suka bergaul dengan anak umur 4 tahun yang bicaranya pada waktu itu sulit dimengerti dan belum bisa mengikuti permainan mereka. Tapi sama sekali aku gak masalahin masalah sosialisasi insyaAllah. Bahkan ketika muncul teman sepermainan yang cocok sama Ziyad selama 2 bulan , sampai kepikiran, “Ah…betapa di kehidupan sehari-hari inilah anak (kita pun) belajar sosialisasi.” Sampe mo nulis belajar sosialisasi untuk bersosialisasi di sekolah atau belajar sosialisasi di sekolah untuk sosialisasi di kehidupan nyata? Hehe..

Prakteknya…

Kemaren pas nyoba, udah semester akhir. Masuknya masih jarang. Sempat sakit. Trus udah keburu ujian, class meeting, dll. Ya cuma sekitar 10 kali pertemuan.

Terus sekarang udah semester baru. Ketemu bulan Ramadhan. Jadwal juga masih belum fix banget.

Dan Aku…

Aku sedih banget sebenarnya. Pas lagi nyoba-nyoba itu – bahkan sampai kemarin pun – aku berkali-kali nanya ke Ziyad, “Ziyad senang sekolah?” “Gpp kok kalo Ziyad tetep mau belajar sama Ummi.” “Ziyad mau terus sekolah?”

Baca selengkapnya Ketika Ziyad Sekolah