Pekan kemarin, bagi aku terasa sebagai pekan terberat sebagai seorang ibu. Keadaan berat itu diperparah dengan kondisi aku yang lagi haidh. Dzikir-dzikir jadi banyak yang lepas karena biasanya dzikir pagi dan sore ya setelah sholat. Waktu-waktu “rehat” terkena air wudhu tentu saja jadi gak ada. Hari Jumat kemarin adalah hari terberat dan tersedih.
Malamnya aku sampai berdiskusi dengan abang sampai pukul setengah dua pagi. Tentu saja diselingi tangis sesunggukan. Aku merasa begitu bersalah pada anak-anak karena kurang bisa sabar menghadapi mereka. Di sisi lain, keletihan yang sangat tak bisa dihindari karena mereka adalah anak-anak yang hampir tidak pernah tidur siang. Mereka juga hampir selalu tidur malam.