Perhatian

Sebenarnya, kita sedang mencari perhatian siapa?

Manusia?

Bukan? Yakin?

Sebenarnya, kita sedang cari kebahagian dimana?

Manusia?

Bukan? Yakin?

Sebenarnya, kerinduan kita pada apa?

Manusia?

Bukan? Yakin?

Pertanyaan untuk direnungi dan dijawab masing-masing. Kemudian ketika sudah menemukan jawabannya, semoga bisa kembali ke jawaban yang lebih baik insya Allah. Untuk dunia dan akhirat.

cizkah
21 Jogja 2020

Ketika Harga Ayam Naik

Harga ayam akhir-akhir ini naik. Kalau aku mengomentari hal semacam ini, biasanya Abang jawabnya sederhana aja, yang intinya ya udah gpp. Lha wong kita mo nernak sendiri juga belum tentu bisa. Ini kan enak, udah disembelihin, udah dibersihin, udah dipotongin. Tinggal beli aja. Kalau tentang makanan nanti jawabnya, “Adek kalo bikin mungkin jualnya lebih mahal lagi. ” Ngomong sambil ceringisan sama-sama.

Baca selengkapnya Ketika Harga Ayam Naik

Tired, Sad..and Worried…

Sedih

Gak tau apa karena aku terlalu capek jadi kesedihan itu jadi semakin menggugu, atau karena aku  yang terlalu sedih kemudian jadi berasa capek dengan semuanya.

Terus akhirnya pikiran kemana-mana, dan perenungan jadi kemana-mana terus ternyata muncul kesadaran akan masalah lain yaitu aku khawatir…

Malam ini banyak perenungan.
Abis periksa kehamilan minggu ke 24 lewat 5 hari.

Aku berusaha menahan diri dari semua keluh kesah yang mungkin bisa aku lontarkan kepada Abang. Aku juga berusaha menahan diri dari melampiaskan masalahku dalam bentuk kemarahan kepada anak-anak.

Baca selengkapnya Tired, Sad..and Worried…

Mati Itu Pasti

Mati itu pasti.
Akhir-akhir ini banyak kematian di sekitar yang pastinya patut diambil pelajaran.

Kejadian yang paling bikin aku mikir adalah tentang perempuan yang lagi ngambil S2 di Jogja. Usia masih sekitar 30-an. Meninggal dalam kecelakaan tunggal. Meninggalkan anaknya perempuan yang masih usia 3 tahun. Beritanya sempat nyebar di berbagai media sosial, karena ketika kecelakaan dia bersama anaknya yang masih kecil itu. Qodarullah ternyata dia meninggal dan anaknya selamat. Akhirnya karena gak ketahuan identitasnya, menyebarlah informasi supaya jika ada yang mengenali bisa membantu pihak rumah sakit mengidentifikasi.

Yang jadi renungan aku banget:
Betapa kita sebagai orang tua, pasti pingin banget bisa nemenin anak-anak sampai gede. Berharap mereka umur panjang dalam ketaatan. Berharap kita bisa nemenin terus mereka, bimbing mereka. Apalagi anak-anak yang masih kecil-kecil. Betapa kita tahu mereka tuh masih butuh banget sama keberadaan orang tua. Keberadaan ibunya.
Tapi kita gak bisa nunda. Kalau memang sudah ajalnya. Kita juga gak bisa milih kita mau mati kaya gimana. Sakit dulu atau tiba-tiba. Atau bahkan mati dalam tidur. Gak ada yang tahu. 


Rasa khawatir mikirin anak-anak itu udah gak bisa kita bawa. Karena diri kita sendiri yang sudah perlu dikhawatirkan. Apakah selamat dari adzab kubur? Apakah bisa mendapat kelapangan kubur? Apakah bekal kita cukup?

Terus gimana ya?
Terus aku bisa apa? Kalau misalnya ternyata terjadi pada diriku sendiri?

Jawabannya…sebenarnya sebagaimana sudah kita ketahui bersama.

Berusaha sebaik-baiknya menjadi hamba yang bertakwa.
Banyak doa…Doain diri sendiri, anak-anak, keluarga.
Pengen banget sih pesen (lagi) ke abang, untuk segera cari ibu baru untuk anak-anak kalau memang terjadi aku meninggalkan mereka lebih dulu. Tapi setiap mo ngomong malah jadi mo nangis heheh. Pengen juga pesen ke anak-anak, kalo ummi gak ada…………malah lebih lagi mo nangisnya heheh. Padahal reaksi mereka ada yang udah ngerti, ada yang setengah ga ngerti, ada yang gak ngerti sama sekali hehe.

Ya Allah, panjangkanlah umurku dan keluargaku dalam ketaatan, dan perbaguslah amalanku.

#edisirenungan

Aku kalo nulis blog gak selalu langsung jadi. Termasuk tulisan ini. Dan kemarin baru aja juga ada kabar ada pelajar LIPIA perempuan yang bernama Annisa Sholihah meninggal karena tertabrak bis. Allahummaghfirlaha warhamha…
Benar-benar kematian itu dekat yah.

Mau Hidup Terus

Ziyad masih berumur 4,5 tahun saat mulai berkenalan dengan kematian. Kematian dari sosok yang dekat dengan dirinya. Kucing betina belang tiga, Telon namanya. Kucing yang selalu kami beri makan jika kami punya sisa-sisa makanan yang bisa diberikan. Namun dengan sebab itu pula, entah kenapa secara otomatis kucing itu menjadi milik kami. Waktu itu sepertinya Telon mati karena terkena racun.  Sepanjang hidupku memelihara kucing, saat mereka mati, mereka akan tiba-tiba menghilang. Allah memang Maha Bijaksana. Kalau semua makhluk hidup mati di tengah lalu lalang kehidupan manusia, betapa repotnya manusia mesti menguburkan semua binatang yang mati di sekitar. Mungkin hampir setiap saat.

Waktu kejadian, Telon terkencing-kencing beberapa kali di teras rumah, sebelum akhirnya tergeletak mati. Kejadiannya pun di depan Ziyad saat dia bermain bersama mas Ukkasyah.

Aku minta Abang pulang waktu itu.  Melihat kondisi Telon yang membujur kaku, aku sedih. Dua ekor lalat juga mengitari jasadnya. Di sekitar tubuhnya juga ada genangan-genangan kecil bekas kencingnya. Abang memilih menggali tanah di pinggir jalan depan rumah kami. Tanah yang biasanya menjadi tempat semak-semak tumbuh atau tempat sampah daun pohon rambutan kami timbun.

Ziyad melihat semua proses itu. Penggalian, penguburan. Kematian.

***

Kematian kedua yang Ziyad sadari adalah meninggalnya Fia karena sebab sakit ginjal. Sosok yang hanya beberapa kali kami temui. Namun semuanya penuh kesan. Bukan hanya bagiku, tapi bagi Ziyad. Dan ketika ia meninggal, itulah pertama kalinya aku mulai sadar, Ziyad sudah mulai paham dengan kematian.

“Dikubur, Mi?” tanyanya waktu itu.

Baca selengkapnya Mau Hidup Terus

Di Atas Langit Ada Langit

Lagi inget kalimat ini sejak kemarin. Mengingatkan diri untuk tidak sombong dan berusaha menempatkan diri berada pada posisi orang lain yang kita berikan sikap tertentu…

Kalimat ini keluar dari bocah berusia 15 -16 tahun. Waktu itu masih SMP. Aku senang membaca kalimat yang ia tuliskan di buku kelas kami. Kalimat itu ditujukan kepada seorang teman lainnya yang menunjukkan gelagat kesombongan – yang aku pikir hanya aku yang merasakannya –

Kadang…ketika aku mengira seseorang sombong, lama kelamaan aku berpikir (karena kemudian memikirkan kesalahan orang yang kuanggap sombong), “Jangan-jangan, akulah yang sombong dengan menganggap dia sombong, sehingga menganggap akulah yang benar sehingga aku merasa lebih tinggi dan paling benar.”

Karena kesombongan adalah merendahkan orang lain dan tidak menerima kebenaran… (blum bisa kasih hadits riwayat siapa, yg jelas shahih dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)