Still Continue Our Journey; Homeschooling

Sebenarnya, kalau ada yang belum mencoba melakukan kegiatan homeschooling terus nanya pertanyaan terkait masa depan seperti, “Nanti kuliahnya gimana?” “Pakai ijazahnya bisa kepake untuk daftar kuliah?”

Itu jawabannya mudah banget. Coba dulu homeschooling SD-nya :). Tapi ya wajar pertanyaan itu muncul. Berarti memang sempurna gak tahu menahu tentang homeschooling. Karena homeschooling gak mesti terus menerus sampe SMA. Setiap tingkatan ada ijazah. SD dapat ijazah paket A, nanti saat SMP bisa beralih ke jalur sekolah. Begitupun nanti kalau pas SMA-nya.

Ngomong-ngomong coba dulu homeschooling SD. Soalnya disitu bakal berasa banget deh, semangat naik turun. Galau pudar dan menebal. Pokoknya butuh perjuangan dan gak melulu bisa “istiqomah”.

Jadi gak usah mikir jauh-jauh sampe SMA. Coba dulu, bisa gak melalui homeschooling tingkat SD. Ya karena homeschooling itu satu sisi pasti melelahkan. Sisi lain…terlihat “mencemaskan” atau “mengkhawatirkan” berkaitan dengan masa depan. Ah..tapi kan itu semua tergantung dari sisi mana atau siapa yang melihat.

Dan kami pun melalui masa-masa galau, pudar semangat dan ingin istirahat dari homeschooling.

Baca selengkapnya Still Continue Our Journey; Homeschooling

Galau SD bagian 2 (My Prespective)

Namanya juga galau. Mesti ada dua atau beberapa pemikiran yang bikin pendapat yang kita pilih jadi goyah. Kalau di postingan kemarin banyak menuliskan apa yang ada di pikiran abang..kali ini buat melegakan yang ada dipikiranku.

Setelah melihat dan mempertimbangkan beberapa hal, entah kenapa aku pada akhirnya cenderung memilih – jika memang akan menyekolahkan Ziyad -, sekolah negeri sebagai pilihan utama. Atau bisa juga pilihan yang lumayan seimbang dengan itu adalah salah satu sekolah muhammadiyah di Jogja. Sedangkan sekolah dasar dekat rumah menjadi pilihan terakhir.

Tapi ini pun ombang-ambing. Bisa jadi bahkan pilihan terakhir mungkin yang akan kami ambil. Hehe..

Sekolah negeri, karena latar belakangku dulu juga disekolahkan di sekolah negeri. Mama Papa, walaupun dengan ekonomi terbatas, berusaha mencarikan sekolah negeri yang berkualitas. Aku juga kurang ngerti kenapa bisa jadi beda-beda (kadang pake banget) antara sekolah negeri yang satu dengan yang lainnya.

Sekolah negeri jadi pilihan tengah-tengah. Karena biayanya tidak semahal SD swasta. Pun jika memilih sekolah yang tepat juga in sya Allah secara pendidikan akademik bagus. Latar belakang ekonomi keluarga masing-masing anak juga merata. Karena secara umum…sebagian besar orang tua ingin anaknya masuk sekolah negeri. Pertimbangan ini muncul waktu sempat menanyakan biaya masuk TK di sekolah Islam swasta di Jogja  – yang bagi kami sangat mahal -. Sempat ada keinginan untuk memasukkan Ziyad ke situ – walaupun biayanya mahal -. Tapi rasanya itu akan tempat bergaul yang kurang tepat untuk Ziyad. Dan lagi rasanya memang kami akan terlalu memaksakan diri jika memasukkannya ke sana.

Baca selengkapnya Galau SD bagian 2 (My Prespective)

Galau SD

Mungkin ada beberapa yang pernah melihat aku  menulis #galauSD di beberapa tempat. Hehe…ini ceritanya berarti lanjutan cerita tentang homeschoolingnya Ziyad bagian 4 ya :D.

Ziyad udah 6 tahun..udah bisa baca latin, bisa al-quran, bisa hitung-hitungan sederhana. Terus? Ko gak masuk SD aja sih? Pas banget dia bulan Juli kemarin 6 tahun. Kalo berdasar kalender hijriah sih udah sebelum itu malahan 6 tahunnya hehe.  Samar-samar, rasanya pingin masukin dia ke SD. Sayang-sayang dia udah bisa ini itu terus masih setahun lagi. Tapiii…tapinya itu banyaak banget…

Baca selengkapnya Galau SD

Poster Perkalian

poster perkalian cizkah

Alhamdulillah, hadir produk cizkah yang terbaru. Poster perkalian. Masih ingat postingan pas launching produk poster hijaiyah? Disitu disebut-sebut tentang poster perkalian dan keinginan tiba-tiba untuk bikin poster tersebut.  Alhamdulillah terwujud juga.

Dalam matematika, ada beberapa hal yang akan memudahkan  bagi seorang anak untuk ke depannya dengan cara di hafal. Salah satunya adalah perkalian. Aku masih ingat seorang teman yang begitu susah payah setiap menghadapi soal perkalian karena dia harus menambah secara manual satu persatu setiap angka (karena dia tidak hafal perkalian).

Misalnya soal: 63 x 5
Maka dia akan menyelesaikannya dengan cara 63 + 63 + 63 + 63 + 63

Baca selengkapnya Poster Perkalian

Ketika Ziyad Sekolah

Banyak alasan, ketika akhirnya kami mencoba memasukkan Ziyad sekolah dan akhirnya pelan-pelan memutuskan memasukkan dia ke sekolah.

Pertama mungkin karena takut…atau khawatir…atau berbagai kecemasan lainnya yang aku sendiri ngerasa belum sanggup menghadapinya – apalagi suami lebih banyak menyerahkan hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan ke aku.

Permintaan dari Ziyad…- yang sebenarnya mungkin bisa berlalu oleh waktu -.

Kondisi lingkungan di rumah yang kurang mendukung untuk adanya kegiatan bermain bersama dengan teman-teman sepermainan. Sebagian besar adalah anak perempuan. Anak yang beda setahun dua tahun, mungkin kurang suka bergaul dengan anak umur 4 tahun yang bicaranya pada waktu itu sulit dimengerti dan belum bisa mengikuti permainan mereka. Tapi sama sekali aku gak masalahin masalah sosialisasi insyaAllah. Bahkan ketika muncul teman sepermainan yang cocok sama Ziyad selama 2 bulan , sampai kepikiran, “Ah…betapa di kehidupan sehari-hari inilah anak (kita pun) belajar sosialisasi.” Sampe mo nulis belajar sosialisasi untuk bersosialisasi di sekolah atau belajar sosialisasi di sekolah untuk sosialisasi di kehidupan nyata? Hehe..

Prakteknya…

Kemaren pas nyoba, udah semester akhir. Masuknya masih jarang. Sempat sakit. Trus udah keburu ujian, class meeting, dll. Ya cuma sekitar 10 kali pertemuan.

Terus sekarang udah semester baru. Ketemu bulan Ramadhan. Jadwal juga masih belum fix banget.

Dan Aku…

Aku sedih banget sebenarnya. Pas lagi nyoba-nyoba itu – bahkan sampai kemarin pun – aku berkali-kali nanya ke Ziyad, “Ziyad senang sekolah?” “Gpp kok kalo Ziyad tetep mau belajar sama Ummi.” “Ziyad mau terus sekolah?”

Baca selengkapnya Ketika Ziyad Sekolah