Kholid Dijahit

Senin 18 Februari 2018, kami dapat pengalaman (ujian) baru lagi. Ini kejadian berarti sekitar 10 hari setelah Kholid terakhir di ambil darahnya. 

Gelas keramik yang cukup tebal, pecah pas dekat Kholid. Ketika dia mulai menangis, baru kami sadar kalau darah mulai mengalir dari kakinya.

Baca selengkapnya Kholid Dijahit

Cerita Sunat Metode Clamp Ziyad

Alhamdulillah, Ziyad sudah disunat tanggal 11 bulan Maret 2013 kemarin. Proses menuju kesana sebenernya gak secepat pengambilan keputusan tanggal sunatnya tanggal segitu hehe.

Aku lupa sejak kapan memotivasi Ziyad untuk disunat. Sunat itu ibadah. Sunat itu biar bersih. Aku juga kasih lihat ke dia foto anak-anak yang disunat pake metode clamp. “In sya Allah Ziyad pake cara ini. Biar gak terlalu sakit.”

sunat-clamp-ziyad

Dia semangat banget dan gak ada keraguan untuk disunat. Pas lagi seperti itu, aku bujukin abang untuk benar-benar ambil keputusan untuk sunat ini. Gak disangka malah pakai hitungan hari. Abang nelpon tempat yang menyediakan fasilitas sunat clamp itu hari sabtu,trus tau-tau bilang, “Hari Senin aja kalau gitu in sya Allah.” Jiaa… Mulai deh akunya yang deg-degan.

Kenapa Clamp?

Ziyad itu tipe yang kalau sakitnya agak berat mengalami perubahan kelakuan. Pas abis sakit DB itu, lumayan lama untuk balik lagi ke Ziyad yang ceria. Pas sempat sakit panas tinggi banget  tahun lalu karena main hujan-hujanan, abis itu juga bawaannya murung, marah-marah. Terutama ke Ab-nya sama ke Thoriq. Sedih banget ngelihatnya. Padahal udah sembuh. Tapi murung aja. Sampai dibawa nonton acara lumba-lumba. Cerianya sesaat aja. Habis itu tetep cemberut. Sampai bingung. Alhamdulillah trus kita kasih lihat dia video-video dia yang lama. Gimana dia ceria. Gimana dia baik banget sama adiknya masya Allah. Trus pelan-pelan balik lagi ke Ziyad yang heboh, ceria banget masya Allah hehe.

Nah, karena sebab itulah, aku pingin banget proses sunat ini berjalan tidak terlalu menyakitkan bagi dia. Rasanya gak pengen kalau dia jadi murung dan bersikap lain kaya kemarin-kemarin kalau sakit lumayan berat. Setelah browsing sana-sini tentang metode sunat, aku in sya Allah yakin dengan metode clamp ini. Dari hasil browsing itu, entah kenapa di otak aku tuh, kalo pake metode clamp itu gak pake acara sayat-menyayat :D. Atau paling tidak bukan seperti yang kemarin aku lihat pas Ziyad sunat. Kirainnya, kalo pake metode clamp itu, nanti kalau udah dipasang, trus nanti dibiarkan alat tersebut beberapa hari, trus nanti kulitnya kan bakal mati tuh yang terjepit. Jadi bakal gampang untuk “membuang”nya. Gak tau apa mau disayat atau tau-tau ngeletek sendiri kulit matinya (ini ko bisa banget ya pikiran kaya gini haha…).

Baca selengkapnya Cerita Sunat Metode Clamp Ziyad

Diare, Ruam dan Bayi Usia 7 Bulan

Tiga hal di atas adalah hal yang berkaitan yang membuat aku menjalankan aktifitas yang berbeda akhir-akhir ini. Saat usia Thoriq pas 7 bulan awal Ramadan ini, dia terkena diare. Sebabnya? Gara-gara kaldu yang aku jadiin balok es kayanya. Dulu gak pernah pakai metode ini, selalu fresh hari itu juga aku bikin. Jadinya langsung kapok, dan bertekad insyaAllah bakal bikin kaldu fresh sama kaya dulu ngasih Ziyad.

Baca selengkapnya Diare, Ruam dan Bayi Usia 7 Bulan

Hasil Diskusi Tentang Imunisasi

Alhamdulillah, setelah aku posting link tentang imunisasi di facebook (yg sayangnya dari segi konspirasi), setelah itu terjadi diskusi antara teman-teman yang mengimunisasi anaknya dan yang tidak. Kebetulan aku juga kmrn baru aja posting tentang itu, dan di postingan tsb, aku cuma nyebut sekilas tentang link tsb karena memang keputusan kami untuk gak mengimunsasi Ziyad 3th yang lalu bukan karena itu (konspirasi dsb). Namun, alhamdulillah hasil diskusi ini insya Allah tidak akan menyinggung hal-hal yang berkenaan dengan konspirasi dsb. Semoga dengan membaca artikel ini, yang masih bingung bisa menetapkan apakah dia memilih tetap mengimunisasi atau tidak.

Kesimpulan Ringkasnya:

Yang mengimunisi: yakin dengan kehalalan vaksin dan atau  ridho anaknya terinjeksi vaksin tsb secara kontinyu.

Yang tidak mengimunisasi: tidak yakin dengan kehalalan vaksin dan atau kurang ridho anaknya terinjeksi vaksin secara kontinyu.

Kenapa tidak aku cantumkan masalah darurat di sini? Kita perjelas satu persatu dibawah ya hasil kesimpulan tsb.

Oh ya, yang perlu diingat bahwa insya Allah ketika kita menemukan saudara kita memutuskan hal yang berbeda dengann kita, maka tidak perlu gundah gulana dan emosi ataupun memaksakan pendapat kita, karena masing-masing pihak insya Allah telah mempertimbangkan secara masak dan alasannya adalah berkisar di kesimpulanku di atas.

Baca selengkapnya Hasil Diskusi Tentang Imunisasi

Anakku Tak Diimunisasi Alhamdulillah

Sebenernya gak sepenuhnya gak diimunisasi.

Ziyad pas baru lahir udah kena dua suntikan imunisasi (Hepatitis sama BCG kalo gak salah). Itu pun tahunya pas lihat kuitansi pembayaran rumah sakit. Abis itu kita masih ngimunisasi, tapi perasaan bang Hen udah gundah gulana. Ibaratnya, fase kami dalam memutuskan tidak mengimunisasi adalah:

Pertimbangan logika: si abang yang cerewet banget, “Ini mo sampe kapan disuntik terus?” “Masa tiap bulan mo disuntik?” Maksudnya kasihan buat anaknya gitu. Abang kan khawatiran banget juga orangnya.

Baca selengkapnya Anakku Tak Diimunisasi Alhamdulillah