Jangan Takut Anakku

Jangan takut anakku…

Setan itu lemah
Sama seperti kita yang lemah
Maka mintalah perlindungan kepada yang Maha Kuat…Allah

Jangan takut anakku…
Jika was-was tetap ada dalam hatimu…
Baca saja surat pendek yang telah ibu ajarkan untukmu
Surat An-Naas dan Surat Al-Falaq
Dua surat ini disebut surat Mu’awadzatain
Masih kau ingat isinya bukan?

Kita meminta perlindungan…
kepada Rabb manusia…
Raja Manusia..
Sesembahan manusia
Berlindung dari kejahatan setan…
Berlindung dari keburukan dari kegelapan malam
Berlindung dari tukang sihir
Berlindung dari kejahatan makhluk…baik dari manusia dan jin
Karena kejahatan bukan hanya dari setan wahai anakku..

Jangan takut anakku…
Jadilah manusia pemberani…
Seperti sahabat yang sangat dicintai nabi shallallahu’alaihi wa sallam,
yaitu Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu
Setan akan mencari jalan lain agar tidak bertemu dengan Umar bi Khattab radiallahu ‘anhu

Jangan takut anakku…
Lihatlah Khalid bin Walid
Yang diperintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghancurkan berhala ‘Uzza
Tanpa takut, ia  menusuk dan memusnahkan setan yang berwujud wanita berambut panjang yang bercokol di berhala tersebut…
Betapa gagah dan pemberaninya para sahabat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Jangan takut anakku..
Semoga Allah selalu melindungimu…jangan takut anakku
Karena Ayah dan Ibu..selalu mendoakanmu dengan doa perlindungan
Agar kau terhindar dari setan..
Terhindar dari bahaya binatang buas
dan dari keburukan pandangan mata yang jahat

 

Jangan takut anakku…
insyaAllah tak akan ada yang membahayakanmu…
Jangan lupakan dzikir yang Ayah dan Ibu ajarkan untukmu..
Agar kau baca di pagi dan petang…

Jangan takut anakku…
Semoga Allah melindungimu selalu…

 

cizkah
Artikel: www.ummiummi.com
.

Gaya Belajar Montessori

Montessori adalah salah satu tokoh pendidikan. Itu jawaban simpel buat temen-temen yang mungkin belum tahu.

Waktu zaman kuliah dulu, kedapetan tugas bikin presentasi tentang beliau. Dan ketika membaca informasi yang ada, aku merasa cocok dengan cara yang digunakan. Bahkan dengan bekal pengetahuan tentang gaya pendidikan Montessori, waktu itu jadi sedikit berpengaruh pada  tulisanku tentang mendidik tanggung jawab pada anak :).

Yang paling aku ingat tentang sistem pendidikan Montessori adalah bagaimana menyediakan “lingkungan” yang sesuai dengan fisik dan perkembangan si anak.  Misalnya, naro gambar ya yang sejajar dengan jarak pandang matanya.

Jadi kalo menempelkan poster untuk anak jangan tinggi-tinggi yah :).

Coba dibayangkan- misalnya – kita melihat suatu pameran suatu karya dan karya tersebut diletakkan tinggi jauh di atas kepala kita. Ga bakal asyik lagi kan?

Atau misalnya menyiapkan gantungan baju sesuai jangkauan anak. Jadi jangan mengharapkan anak disiplin meletakkan barang-barang sesuai tempatnya, kalau tempatnya itu gak disediakan (kalau tinggi kan gak bisa ya). Dan hal-hal lain di sekitar rumah yang kita kadang mesti jeli dan berpikir dengan cara pikir mereka.

Dari artikel yang pernah aku baca pas zaman kuliah juga dikasih beberapa contoh kejadian. Misalnya saat anak memegang trotoar. Mungkin orang tua akan bereaksi, “Awas! Kotor. Aduh itu kotor” dll. Padahal dari situ dia bisa belajar tentang permukaan yang kasar, permukaan yang halus dsb. Atau ketika misalnya si anak pingin banget bantu orang tuanya dalam kegiatan rumah tangga, semisal cuci piring, pel. Maka kita dukung saja, sesuai kemampuan mereka. Kegiatan belajar juga lebih untuk ke praktek kehidupan sehari-hari.

The main premises of Montessori education are:

  • Children are to be respected as different from adults and as individuals who differ from each other.
  • Children possess an unusual sensitivity and intellectual ability to absorb and learn from their environment that are unlike those of the adult both in quality and capacity.
  • The most important years of childrens growth are the first six years of life when unconscious learning is gradually brought to the conscious level.

Ini beberapa contoh cara belajar Montessori (niatnya mo posting video-video Montessori…tapi…apa daya..masih di akhir2 trimester 1 :P) . I have lots video about this. Kalo ada yang mo copy, monggo. Lebih enak lagi kalo flashdisk ukuran besar ya.  Kayanya perlu diposting per bahasan sendiri kalo memang mo didownload.

 

Catatan:

Sekarang tanggal 25 Agustus 2013. Tulisan ini aku tulis tanggal 20 Desember 2012, kemudian beberapa kali mengalami pengeditan walaupun akhirnya tetap menjadi draft.

Bullying & Unschooling

I don’t know where to start….
Perasaan berdebar dan gelisah berlangsung sejak kemarin. Menimpa kami berdua. Aku dan abang.

Beberapa hari yang lalu, aku membaca artikel tentang bullying di group Sunni Homeschooling. Artikel yang cukup panjang. Namun aku membacanya secara keseluruhan. Bukan tanpa alasan. Karena aku ibu dari Ziyad. Aku mengenal karakternya. Ziyad adalah tipe anak yang tidak suka main dengan hal-hal yang berbau kekerasan. Permainan yang sebenarnya tidak umum namun memang seringkali terjadi pada anak-anak. Kalaupun terjadi, Ziyad kemungkinan besar menjadi anak yang terkena bullying. Setelah membaca artikel itu, aku langsung mengirimkan lewat email ke abang.

Gak disangka, kalau itu memang benar-benar terjadi pada Ziyad. Sudah lama! 🙁

Baca selengkapnya Bullying & Unschooling

Alternatif Penyapihan (The Hypnoparenting Way)

MasyaAllah, aku sama abang baru dapat masukan dari seorang teman. Beliau bernama mas Abdulrachman, termasuk tim Yufid juga :D, istrinya bernama Vita. Mungkin yang tinggal di Purwokerto pernah ketemu ^^.

Beliau bercerita tentang teknik penyapihan yang digunakan untuk anak pertama. Tanpa konfrontasi, tanpa ribut-ribut. Beliau menjelaskan prosesnya, dan dikaitkan dengan penjelasan gelombang otak.

Pas baca ceritanya, masyaAllah. Baru ingat. Itu kan namanya hypnoparenting. Pernah baca di salah satu forum di TUM. Tapi waktu itu gak dikaitin sama proses penyapihan, jadi gak kepikiran sama sekali untuk nerapin untuk nyapih.

Proses yang beliau jalani seperti ini.

Baca selengkapnya Alternatif Penyapihan (The Hypnoparenting Way)

Kesalahan Orang Tua

Kalau buah yang kita tanam ranum, manis…rasanya bahagia banget ya. Tapi kalau yang terjadi sebaliknya, rasanya sungguh pahit. Rasanya ingin segala daya upaya dilakukan supaya hasil buah yang kita dapatkan kembali manis.

Ini yang aku rasakan saat ini.

Kemarin, sewaktu kami jalan-jalan ke Gramedia, perilaku Ziyad tidak seperti biasanya. Dia menempel terus padaku, bahkan tidak ingin melepaskan pegangan tangannya dariku. Aneh. Biasanya dia dengan percaya diri berlari kesana-kemari. Biasanya bang Hen akan sibuk memanggil atau mencari, “Ziyad…Ziyad.” Kali ini tidak. Ziyad seperti kehilangan percaya dirinya. Ziyad seperti ketakutan.

Sedih? Ya, aku sungguh sedih dan khawatir. Pagi ini aku dan bang Hen mendiskusikan hal itu. Aku pun berusaha mengingat apa kira-kira yang membuat Ziyad tiba-tiba seperti itu. Dan sungguh sedih, ketika kemungkinan-kemungkinan yang ada, disebabkan oleh “ulah” kami sendiri padanya.

Semoga ini hanya sementara. Semoga kami bisa “meralat” apa yang telah kami lakukan. Semoga kami bisa berlaku lebih baik lagi. Semoga Allah menjadikan kami orang tua yang lebih baik hari kehari…

Sungguh aku galau…

Saling Memberi Hadiah

Salah satu saran untuk menumbuhkan kecintaan antara adik dan kakak baru *karena adeknya baru lahir* adalah saling memberikan hadiah. Hehe…ya walo sebenernya pada kenyataannya kedua hadiah itu yg beli ya ibu bapaknyah. Tapi kita mengajarkan mereka dan semoga membentuk keterikatan hati. Lagipula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kan juga mengajarkan untuk saling memberi hadiah ya…

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencinta.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 594. Ibnu Hajar berkata,”Sanadnya shahih”)

Nah…dari kemaren mah insya Allah gampang buat milih hadiah dari Ziyad buat bujang #2, soalnya kan emang beberapa barang ada yg dibeli baru, kaya jaket, handuk, sepatu buatan aku sendiri huhu (blum jadi). Udah dari kemaren2 juga bilang ke Ziyad,” insya Allah nanti bungkus hadiah buat adek ya…”. “Insya Allah Ziyad juga dapet hadiah dari adek loh…”

Tapi sampe sekarang blum dapet barang yang tepat yang kira-kira bikin Ziyad sumringah ngedapetin hadiah itu “dari” adeknyah.  *Mikir*

Oh ya, kalo menurut salah satu buku sih, hadiah ini saling diberikan pas si kakak masuk ke kamar ibunya dan melihat adiknya untuk pertama kalinya. Tapi gak tau nih nanti prakteknya gimana insya Allah 😀

Box Bayi dan “Ibo Ati”

Ini salah satu efek mikirin “adil” kemarin itu.

Intro:

1-2 minggu yang lalu, aku liat foto keponakanku Syifa Salsabila di akun FB adek tercinta si Ichad. Dia printscreen foto2nya Syifa pas lagi video call sama mas Lyno. Lucu2 masya Allah. Nah, dari foto itu, kelihatan di latarnya ada box bayi putih (yg sebenernya dari dulu naksir box yang kaya gitu hihi). Tapi pas Ziyad kan gak make dan gak ngerasa butuh make box bayi macam itu. Aku kasih lihat ke abang foto Syifa.

Trus lagi lihat2 gitu, aku bilang, “Butuh gak sih bang box bayi. Kan soalnya bayinya nanti juga nenen di samping, malah cape ongkat-angkat.”

Baca selengkapnya Box Bayi dan “Ibo Ati”

Berbuat Adil pada Anak

Ini adalah hal yg termasuk berat dan banyak perenungan dan tentu aja pengharapan pertolongan dari-Nya dalam menghadapi lahirnya anak kedua kami insya Allah.

Bener-bener berharap bisa bersikap adil dan berharap Ziyad (krn bujang satu ini kan dah mule punya perasaan dan akalnya juga dah jalan alhamdulillah),ga merasa bahwa kami orangtuanya bersikap ga adil ke dia.

Karena perasaan inilah yg menyebabkan saudara2 Yusuf ‘alahissalam sampe tega ‘menyingkirkannya’ bahkan sebenernya hampir oula membunuhnya.