Hallooo para pengantin baru :).
Gimana kabarnya?
Cuma mau berbagi rasa.
Kami sudah menikah 12 tahun.
Alhamdulilah sampai saat ini masih ngontrak.
Category: Rumah Tangga-Keluarga
Cara Merendam Baju dan Mencuci Baju Manual
Sejak ada sepupu suami yang nolongin aku di rumah, aku makin sadar ternyata pengetahuan tentang rumah tangga itu sebenarnya juga butuh magang atau pelatihan. Biar nanti pas udah jadi ibu rumah tangga punya bekal untuk mengerjakan berbagai urusan domestik. Ini terutama jika di rumah, sebelumnya tidak/belum memiliki bekal-bekal tersebut. Kalau ada yang belum punya pengetahuan ini, alamat adaptasi pas udah nikah mesti jatuh bangun. Atau berakhir dikerjakan sama ART (yang juga belum tentu punya pengetahuan maksimal hehe). Jadi dilematis kan?
Baca selengkapnya Cara Merendam Baju dan Mencuci Baju Manual
Jatah
Sebagai orang yang lahir di keluarga dengan anak banyak (lima itu cukup banyak kan yah), aku cukup terbiasa dengan sistem penjatahan. Apalagi kondisi ekonomi Mama Papa saat aku masih kecil memang serba tak pasti. Sudah biasa bagi kami untuk mendapat jatah makan satu rempela dan satu hati perorang untuk makan siang malam. Terserah nanti mau pilih makan hati dulu atau rempela dulu. Ziyad terheran-heran sekali mendengar cerita ini. Mungkn karena sebab itupula aku juga jadi penyuka lauk hati. Karena lauk hati bisa dicuil sedikit-sedikit tapi tetap berasa cukup sampai suap nasi terakhir, sedangkan rempela harus digigit ukuran lebih besar dan cepat habis sebelum nasinya habis. Jika lauknya telur, maka jatah per orang adalah satu setengah telur untuk makan siang dan malam. Silakan diatur sendiri apa mau makan setengah telur saat siang dan satu telur saat malam atau sebaliknya. Biasanya aku makan setengah untuk makan siang, biar puas pas makan malamnya. Makan lauk tanpa nasi, atau dalam bahasa kami “Gadoin lauk” itu adalah peristiwa langka. Sekalinya dibolehkan, senangnya luar biasa.
Kisah Persalinan si Kembar Bagian 3; Bukan Karena Banyak Uangnya
Akhir-akhir ini, alhamdulillah dapat kabar gembira dari orang-orang yang dekat dengan kami akan hadirnya buah hati – insya Allah – di antara mereka. Nah…di sela-sela obrolan ini itu tentang kehamilan, muncul juga pembicaraan tentang biaya yang dicover asuransi kesehatan tertentu.
Intinya, ada yang karena khawatir tentang biaya persalinan, untuk kemudian merasa perlu untuk menggunakannya. Ada juga tadinya tahunya itu haram, tapi dengar kabar-kabar angin dari teman lainnya bahwa itu boleh kok, udah halal kok.
Biasanya, kami tetap menyarankan untuk berusaha dengan dana mandiri. Tapi gak maksa juga. Cuma memberi masukan aja. Keputusan tetap di keluarga masing-masing kan ya.
Waktu akhirnya aku diputuskan harus caesar, dan dengan mantapnya Abang bilang gak pake suatu jaminan/asuransi kesehatan, itu bukan karena…
Baca selengkapnya Kisah Persalinan si Kembar Bagian 3; Bukan Karena Banyak Uangnya
Ketika Harga Ayam Naik
Harga ayam akhir-akhir ini naik. Kalau aku mengomentari hal semacam ini, biasanya Abang jawabnya sederhana aja, yang intinya ya udah gpp. Lha wong kita mo nernak sendiri juga belum tentu bisa. Ini kan enak, udah disembelihin, udah dibersihin, udah dipotongin. Tinggal beli aja. Kalau tentang makanan nanti jawabnya, “Adek kalo bikin mungkin jualnya lebih mahal lagi. ” Ngomong sambil ceringisan sama-sama.
Mesin Obrasku…
Alhamdulillah punya mesin obras sejak… Mmh.. Kira-kira hampir 4tahun yang lalu. Ingatnya karena pas jahit-jahit rok Luma aku obrasin.
Untuk bujukin abang beliin obras ga selama pas bujukin mesin jahit hehe. Mungkin karena udah lihat emang InsyaAllah bakal aku pake beneran. Bukan cuma nangkring karena keinginan semata.
Tolong Jangan Puji..
Tolong…
Jangan puji aku.
Apalagi tanpa doa keberkahan.
… Sungguh itu malah menggundahgulanakan aku.
إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادِحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ
“Jauhilah olehmu saling memuji, karena itu berarti penyembelihan.” (HR. Ibnu Majah terdapat dalam ash-Shahihah)
Bikin Boneka Sederhana
Punya anak kembar trus ngecraft itu kaya sesuatu yang mustahil banget.
Apalagi punya anak kembar trus homeschooling :D.
Tapi rasa pengen bikin sesuatu – yang sebenernya ujung-ujungnya untuk anak-anak – tuh terus menggelitik. Udah lama juga pengen bikin boneka untuk Luma.
Akhirnya diputuskanlah bikin boneka sederhana yang – seharusnya – super gampil. Yang bahannya dari sisa-sisa kain yang ada.

Baper…
Sebagai penjual…tentu punya prinsip. Sebagai pembeli…tentu juga punya prinsip. Sebaik-baik prinsip…adalah yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang sailng bermudah-mudahan dalam jual beli. Aku sendiri masih belajar. Sebagai perempuan yang biasanya memang lebih ketat dalam pengeluaran. Seringkali aku diingatkan oleh Abang, untuk masalah ini.
Secara kenyataan, masalah mudah memudahkan dalam jual-beli ini banyak tantangannya. Baik pas aku jadi penjual, maupun jadi pembeli.
Suatu hari kemarin, aku memutuskan untuk membeli baby walker tambahan. Karena sudah beberapa kali searching di salah satu media jual beli online, akhirnya ketemulah yang di Jogja. Ah, apalagi ada tulisan, “Gratis pengiriman untuk daerah Sleman dan Jogja bagian tertentu.”
Perjuangan Keluar Rumah
Ini adalah sebuah perjuangan…untuk keluar rumah…
Baca selengkapnya Perjuangan Keluar Rumah
Tips Cara Memilih Katun Jepang yang Bagus
Cara memilih Katun Jepang yang Bagus
Kok pakai ada cara memilihnya? Bukannya katun Jepang semuanya bagus.
Tadinya aku pikir juga gitu. Tapi ketika nyoba beli online, ternyata yang diharapkan beda dengan yang didapatkan. Karena sudah pernah beli bahan katun Jepang yang lembut, ketebalannya sedang, adem, makanya jadi tahu ternyata gak semua yang dibilang katun Jepang itu sama.
Lihat Merk Kain
Walau sama-sama ada kata Jepangnya, katun Jepang pilihanku adalah yang bermerk Japan Design. Baru nyadarnya pas foto bagian merk di tepi kain. Kalau toko online yang jual nyantumin Japan Design, alhamdulillah. Berarti ini emang bahan katun Jepang yang bagus insya Allah. Tapi kalo cuma nyantumin kata “katun jepang”, mendingan tanya merk kainnya.
Rekomendasi Dokter Gigi UGM RSGM Prof. Soedomo UGM
Beberapa tahun yang lalu, aku pernah nulis rekomendasi tentang tempat periksa gigi di Jogja. Makin ke sini, tapi kami merasa makin gak bisa menyesuaikan diri dengan setiap biaya tindakan di sana. Untuk lebih jelasnya, kami merasa biayanya terlalu mahaaall. Apalagi gigi-gigi yang mesti diurus sekarang ada banyak.
Terakhir kali, selama dua bulan berturut-turut, mesti keluar biaya > 300 ribu untuk satu gigi! Pertama tambal. Tapi akhirnya berakhir dengan dicabut. Kalau mau scaling, bakal lebih dari 300 ribu juga. Cabut gigi anak, juga mahal. Padahal kan cabut gigi bawah atau atas itu effortnya gak terlalu banyak :D. Selama ini, alhamdulillah sering banget Ziyad cabut giginya sendiri yang udah goyang banget kalo giginya cuma gigi seri biasa. Setiap kali dia berhasil cabut giginya sendiri, kami bercanda dengan mengatakan,”Alhamdulillah…hemat seratus ribu.. ” hihi.
Baca selengkapnya Rekomendasi Dokter Gigi UGM RSGM Prof. Soedomo UGM
“Cerita Ya…”
Satu malam, Ziyad menghampiri aku yang sedang menyusui si kembar di kamar. Karena kamar sudah gelap, dia otomatis berbicara sambil berbisik-bisik ke aku. Tetap sambil cekikikan kesenangan dia bercerita.
Dia menceritakan tentang kejadian yang baru saja terjadi di meja makan saat makan bersama ammah H. Kelihatan senang sekali. Bercanda tentang kepedasan Bon Cabe level 30. Ternyata ammah H sangat kepedasan dan tidak tahan.
“Tadinya pegang tangan Ziyad. Terus saking kepedasannya akhirnya nepuk-nepuk Ziyad.”
Dia ceritakan itu sambil ketawa seneng banget.
Reaksiku?
Siapa Dia?
Sejak 2-3 postingan aku sempat nyebut-nyebut sepupu suami.
Siapakah dia?
Baca selengkapnya Siapa Dia?Kisah Melahirkan Kembar Handzolah dan Kholid (2): THE DAY
Sampai di RS, aku langsung aja ke bagian pendaftaran. Gak pake ngambil nomor antrian seperti kemarin. Periksanya ke bidan aja. Kan cuma mau periksa bukaan. Alhamdulillah ketemu sama bu bidan Gayatri — yang ternyata adalah pendamping bu Muslimatun sejak awal Sakina Idaman berdiri.
Aku cerita kalau pas hamil Luma juga gitu. Kontraksi gak teratur, tapi pas dicek ternyata udah bukaan 3. Akhirnya langsung rebahan dan periksa dalam.
“Tarik nafas panjang…”
Aku narik nafas dan berusaha rileks. Bu Gayatri bilang, “Wah bener ini…udah bukaan 3.”
“Tuh kan bener”, aku bilang.
Gak tau kenapa tapi aku sama abang yang gak panik gitu. Kalo hamil biasa, kemungkinan besar kalo lahir usia segini aku bakal panik dan sedih deh. Alhamdulillah. Salah satu faktor juga emang aku udah sering bilang juga ke abang – dari hasil baca berbagai referensi – bahwa kebanyakan kehamilan kembar memang lahir sebelum 38. Dan insya ALlah mereka tetap tumbuh normal.
Baca selengkapnya Kisah Melahirkan Kembar Handzolah dan Kholid (2): THE DAY
Kisah Melahirkan Kembar Handzolah dan Kholid
Sejujurnya, gak pernah nyangka kalau aku termasuk dari ibu-ibu yang pernah melalui operase cesar. Apalagi kondisi kehamilan si kembar kemarin dari usia 30 minggu, keduanya kepalanya sudah di bawah. Bahkan posisi juga semakin bagus pas periksa terakhir usia 35 minggu. Terus ko bisa tetap cesar?
It’s a very long story.
Pengen banget cerita dari zaman kehamilannya. Tapi kita persingkat ke kejadian dua hari sebelum hari H itu.
Baca selengkapnya Kisah Melahirkan Kembar Handzolah dan Kholid