Kisah Melahirkan Kembar Handzolah dan Kholid

Sejujurnya, gak pernah nyangka kalau aku termasuk dari ibu-ibu yang pernah melalui operase cesar. Apalagi kondisi kehamilan si kembar kemarin dari usia 30 minggu, keduanya  kepalanya sudah di bawah. Bahkan posisi juga semakin bagus pas periksa terakhir usia 35 minggu. Terus ko bisa tetap cesar?

It’s a very long story.
Pengen banget cerita dari zaman kehamilannya. Tapi kita persingkat ke kejadian dua hari sebelum hari H itu.

Baca selengkapnya Kisah Melahirkan Kembar Handzolah dan Kholid

Still Loading…

Pas hamil…
Semangat tipis, kemampuan juga tipis

Pas abis lahiran
Semangat mulai muncul, kemampuan masih tipis

Pas udah sebulanan lahiran
Semangat udah mulai banyak, kemampuan masih tipis

wkwkwk…
pas hamil, kemampuan tipis soalnya bawaaannya tidur, rebahan dll
pas abis lahiran, ya emang gak kesentuh, pemulihan, adaptasi dengan kembar, bagi perhatian ke 3 anak..dll
pas udah mulai pulih…kaya udah mulai ide bertaburan, bahkan ide tulisan untuk ummiummi…tapi bener-bener masih terbatas karena masih super crowded, begadangan dll.

Ziyad HS-nya masih jalan, walau dengan keterbatasan di sana sini. Yang penting hafalan masih jalan. Dan udah mulai nambah lagi. Kemarin2 kan cuma muroja’ah.
Pelajaran paling biasanya cuma bisa 1 yang kebahas, apalagi kalau sama periksa hasil kerjaan math. Kalo lagi ngasih tugas aja sih bisa 2 pelajaran. Periksanya hasilnya nunggu aku sempat lagi.

Semoga Allah mudahkan segala urusan kita.

Ditulis singkat karena kembar lagi bobo keduanya, anak-anak lagi asyik main sendiri karena sore tadi udah pada makan home made spaghetti (dibikin dengan bala bantuan).
Sambil nunggu giliran mandi (nunggu depat laptop) :D.

Tired, Sad..and Worried…

Sedih

Gak tau apa karena aku terlalu capek jadi kesedihan itu jadi semakin menggugu, atau karena aku  yang terlalu sedih kemudian jadi berasa capek dengan semuanya.

Terus akhirnya pikiran kemana-mana, dan perenungan jadi kemana-mana terus ternyata muncul kesadaran akan masalah lain yaitu aku khawatir…

Malam ini banyak perenungan.
Abis periksa kehamilan minggu ke 24 lewat 5 hari.

Aku berusaha menahan diri dari semua keluh kesah yang mungkin bisa aku lontarkan kepada Abang. Aku juga berusaha menahan diri dari melampiaskan masalahku dalam bentuk kemarahan kepada anak-anak.

Baca selengkapnya Tired, Sad..and Worried…

Ketika Merasa Cucu tak Disayang Mertua

Perasaan ini bisa muncul kapan pun, dimanapun karena dengan sebab apapun. Pun juga tidak tidak mesti terjadi dari sisi mertua, bahkan orang tua sendiri pun bisa.

Si A misalnya, sebagai anak, ia sendiri merasa memang bukan anak kesayangan orang tua. Akhirnya ketika ia punya anak, ia merasa anaknya pun diperlakukan biasa-biasa saja.

Atau si B, yang mengharapkan anaknya ditimang-timang oleh sang mertua. Diberi hadiah berupa apapun. Tak mesti mahal, tapi cuma ingin tahu anakku diingat tidak oleh mertua, katanya. Tapi harapannya tak kunjung datang.

Dan masih banyak perasaan lain yang banyak jenisnya. Yang jelas intinya sama, mertua/orang tua tidak sayang cucu.

Lalu, bagaimanalah ini? Apakah perasaan ini salah? Kalau iya,  bagaimana cara menepisnya?

Kita sebagai Anak atau Menantu

Alhamdulillah, kita diberi tuntunan syari’at yang sangat jelas tentang kewajiban sebagai anak. Dan ini berlaku juga sebagai menantu.

Karena peran kita sebagai istri, adalah juga membantu suami untuk melakukan kewajibannya kepada orang tuanya.

Kita memang memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang. Tapi yakinlah, secara fitrah orang tua sudah mencurahkan segenap kasih sayangnya sejak kita kecil. Bahkan doa untuk orang tua yang kita amalkan adalah agar Allah menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kita di waktu kecil.

Maka, pada saat perasaan resah gelisah ingin agar cucu (anak kita) mendapat perhatian lebih dari mertua, cenderungkanlah hati untuk mengingat kewajiban kita sebagai anak, yaitu berbakti kepada orang tua.

cucu-tak-disayang-mertua

Akan lebih baik lagi jika kita memikirkan bagaimana kitalah yang menunjukkan kasih sayang dan perhatian itu kepada mertua atau orang tua.

Akan lebih baik lagi jika kitalah yang memberikan hadiah kepada mereka.

Akan lebih baik lagi jika kita berusaha mendapatkan surga dengan berbuat sebaik-baik apa yang bisa kita perbuat untuk mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ، أَحَدُ هُمَا أَوكِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]

Tips Menghilangkan Perasaan Sedih karena Merasa Cucu Tak Disayang Mertua/Orang tua

  • Ingat kewajiban utama kita, yaitu bakti kepada orang tua.
  • Ingatlah bahwa yang lebih pantas, kitalah yang memperhatikan mereka. Karena kita tidak mungkin membalas budi baik mereka. Aneh jika kita kemudian malah mengharapkan mendapat tambahan budi dari dari mereka.“Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.” (HR. Muslim no. 1510)
  • Biasakanlah diri kita untuk tidak mengharapkan balasan ketika melakukan kebaikan untuk orang lain. Baik itu hal yang sifatnya materi atau non materi. Apalagi ini adalah orang tua kita sendiri atau orang tua suami kita. Ingatlah apa yang kita harapkan adalah keridhoan Allah.
    “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al-Insan: 9).
  • Buang pikiran negatif (rasa was-was) dan biasakan berpikir positif. Was-was itu dari setan. Jika muncul perasaan ini, cobalah dengan membaca surat al-mua’awadzatain (surat Al-Falaq dan An-Naas).
  • Jangan “menularkan” perasaan negatif ini kepada pasangan atau bahkan ke anak kita sendiri.
  • Fokuslah untuk memberi perhatian kepada anak dan tidak mengharapkan orang lain yang memberi perhatian :).
  • Jadikan pikiran kita saat ini menjadi bekal kita bersikap di masa depan. Bukankah kita esok insya Allah juga akan menjadi nenek?

Semoga bermanfaat.

cizkah
Jogja, 5 Syawal 1437 H/11 Juli 2016

Artikel www.ummiummi.com

Karena Thoriq Suka Masak…

Tadinya, aku pikir, riwayat per-baking-an ku berakhir atau bakal terbengkalai sejak Ziyad homeschooling plus berbarengan dengan lahirnya Luma. Memasak pun lebih banyak beli lauknya setahun terakhir pas abang kuliah. Karena waktu makannya jadi diburu dan harus disesuaikan dengan waktu abang harus berangkat ke ma’had. Warung dekat rumah yang cuma beberapa langkah kaki jadi andalan.

Baca selengkapnya Karena Thoriq Suka Masak…

The Sweetest Word…

Romantis itu, apa yang bisa bikin hangat hati.

Udah pernah cerita kan ya, kalo Abang tu bukan tipikal yang romantis ngasih hadiah bunga. Kayanya selama 10 tahun nikah, cuma 2x ngasih aku bunga. Pertama, karena aku minta beliin hag hag hag. Dan yang aku minta waktu itu bunga Anggrek. Aku lebih suka bunga Anggrek daripada bunga Mawar. Baunya lebih enak ketika terpajang di rumah. Terus, kali lain pas aku minta beliin bunga Sedap Malam. Lupa kenapa waktu itu minta. Apa karena lebaran atau apa yah..yg jelas gak tepat pas lebaran. Rumahnya biar bau wangi bunga segar. Ternyata pas pulang, selain bawain bunga sedap malam, abang juga bawain mawar. Cieeh…

Baca selengkapnya The Sweetest Word…

3 Pilihan Masjid untuk I’tikaf Keluarga di Jogja

Pas dipostingan tentang awal aku hamil, aku sempat tulis rencananya pingin hamil setelah lebaran. Salah satu sebabnya sebenarnya pinginn banget bisa i’tikaf bareng sama keluarga. Maksudnya, kalo memang gak sama anak-anak gak mungkin, berarti ya sama anak-anak. Udah ngomong sama abang juga jauh-jauh hari. Sebenarnya pingin juga dari kemarin-kemarin, tapi biasanya pas ada mertua di Jogja, atau pas aku mudik ke Jakarta, atauu…pas aku lagi hamil muda yang kondisi fisik aku pasti super weak hehe.

Nah, walaupun hamil, tetap menyimpan asa itu. Kemarin tanya ke teman-teman di whatsapp. Ada beberapa alternatif pilhan di Jogja. Ga tau nanti bisa terwujud apa engga, yang penting tau infonya dulu :D.

  1. Masjid Nurul Fikri di Deresan
  2. Masjid Syuhada
  3. Masjid UII di Kaliurang atas.

Baca selengkapnya 3 Pilihan Masjid untuk I’tikaf Keluarga di Jogja

Percakapan Ibu-Ibu dengan Aku yang Bercadar

Alhamdulillah bisa ikutan puasa kali ini. Yang lebih bersyukur lagi adalah bisa full masak, gak pake beli di luar. Buat bukaan, sahur, nyiapin minuman berbuka dan makanan tambahan pasca sholat tarawih sendiri. Seneng banget walaupun sajiannya sederhana tapi insyaallah lebih sehat dan bikin selera makan dibanding beli lauk di luar. Yang pasti lagi, ya lebih hemat.

Nah, tapi kan gerak aku terbatas banget untuk belanja. Padahal warung sayur dekat rumah ternyata stock selama bulan puasa ini lebih sedikit daripada bulan-bulan biasa. Plus lagi, banyak bahan makanan yang cuma bisa aku dapatin di swalayan. Misal daging giling atau gurami hidup.

Akhirnya ngajak abang Sabtu ini ke swalayan. Berangkat cuma ngajak Luma. Ziyad sama Thoriq – yang lagi kurang enak badan – ditinggal di rumah. Luma pakai rok batik warna merah hasil beli di Beringharjo. Plus jilbab Jersey warna coklat muda. Lucu banget masya Allah.

Baca selengkapnya Percakapan Ibu-Ibu dengan Aku yang Bercadar

Perkembangan Kehamilan Si Kembar 15 Minggu 5 Hari

Biasanya di setiap kehamilan, aku memang udah kaya orang nunggu gajian deh kalo pas nungguin jadwal periksa. Tapi ini rasanya lebih lambat banget waktu berjalan. Tadinya saking pinginnya periksa, mau periksa di minggu 15 aja. Tapi masih bisa terlewati.

Kehamilan yang dulu-dulu, aku selalu nandain kalender setiap minggu biar ketahuan ini udah masuk minggu berapa. Biar gak usah ngitung-ngitung lagi dari awal setiap kali pas pingin tahu. Dan selalu suka banget baca artikel tentang perkembangan janin per minggu atau perbulan. Padahal udah hamil berapa kali ya :D. Aku pikir, di kehamilan yang ini…mungkin aku bisa gak kaya gitu. Soalnya kadang bikin jadi serba salah sendiri heheh. Susah jelasinnya.

Baca selengkapnya Perkembangan Kehamilan Si Kembar 15 Minggu 5 Hari

Lusi, Iwan dan LGBT

Dakwah itu…pada dasarnya memang harus lembut. Karena dengan kelembutan, InsyaAllah akan lebih baik hasilnya. Pun menghiasi akhlak orang yang sedang berdakwah.

Dakwah kepada orang yang menderita LGBT pun begitu. Karena mereka juga ga semuanya bisa dipukul rata punya sifat yang sama. Tingkat keparahannya berbeda, penyebabnya berbeda dan seterusnya. Maka jika kemudian nasehat disampaikan kepada mereka tanpa nada emosional ataupun kebencian, InsyaAllah akan lebih baik lagi.

Kok aku bisa ngomong gini? Karena aku pernah hampir setahun kenal dengan orang seperti ini. Bertemu langsung. Bahkan – walaupun sedikit – berbicara dengan mereka. Ajaib ya.
Memang banyak yang belum aku ceritakan tentang hidupku. Salah satunya ya ini.

Waktu itu aku masih bekerja di warnet. Sudah pakai jilbab alhamdulillah. Tapi belum kenal sunnah seperti sekarang.

Warnet tempat aku bekerja cuma beberapa puluh langkah dari pasar Sumber Artha. Warnetku menempati blok keempat dari lima blok yang disewakan. Blok ketiga, dijadikan tempat usaha salon. Namanya, Salon Lusi.

Siapakah Lusi?

Sepertinya, dia adalah nama salah satu pendiri salon tersebut. Aku gak pernah tahu nama aslinya. Aku yakin Lusi bukan nama aslinya. Kecuali di dunia ini, ada orang tua yang kasih nama anak laki-lakinya Lusi.
Baca selengkapnya Lusi, Iwan dan LGBT

Sometimes, I Just Don’t Understand…

Kadang…apa sering yah, aku tuh gak ngerti sama percakapan mereka.
Anak-anak.
Ziyad, Thoriq yang suka banget cerita atau berkhayal sesuatu.
Seringkali aku berusaha konsentrasi mendengarkan cerita mereka. Dijelaskan dari gambar-gambar yang mereka buat, atau sambil memainkan mainan yang telah mereka buat.

Tapi gak paham. Gagal paham. Kadang aku menyahuti sedikit dari beberapa tokoh atau kata yang mereka lontarkan. Tapi kalo ditanya cerita sepenuhnya, aduh…serius..gak bisa deh.

Baca selengkapnya Sometimes, I Just Don’t Understand…

Welcome Trimester 1

Yes I’m pregnant…alhamdulillah ^^

Alhamdulillah dari kemarin masih pusing-pusing bisa bertahan :D. Yang herannya, sampai hari ini malah gak terlalu tidur-tidur banget gitu. Jadi pusing, terus dibawa rebahan, tapi gak bisa dibawa tidur yang lama. Paling 10 menitan udah melek berasa gak bisa tidur lagi. Hehe..

Kembar?

Baca selengkapnya Welcome Trimester 1

Palsu

Palsu…itu kalo seseorang menulis atau membahas tentang kebahagiaan, padahal dia jauh dari Allah. Jauh dari Islam. Jauh dari syari’atnya.

Palsu…seperti para komedian. Yang berbuat sesuatu untuk ditertawakan, padahal ternyata dirinya sendiri tak bisa tertawa bahagia.

Palsu…seperti para aktor komedian luar, yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai seorang yang humoris, lugu atau terlihat tanpa beban. Namun ternyata mengalami bipolar disorder…atau bahkan mati bunuh diri karena depresi.

Palsu…
Aku sangat yakin itu palsu.

Sedang bersedih karena seorang penulis yang aku sempat mengikuti perkembangannya beberapa tahun terakhir, akhirnya buka jilbab.
Baca selengkapnya Palsu

Memori sebagai Seorang Anak

Waktu kecil, aku sering merasa tidak bisa mengungkapkan keinginanku. Tidak bisa mengutarakan alasanku. Atau bahkan tidak bisa menyuarakan apa kata hatiku. Sampai akhirnya terbersit keinginan untuk mencatat apa yang ada di otakku. Alasannya, supaya nanti kalau aku punya anak, anakku tidak mengalami hal yang sama. Aku ingin aku mengerti anakku. Aku khawatir kalau aku lupa, bagaimana rasanya di posisi anak.

Sayangnya, ide itu gak aku wujudkan. Cuma beberapa kali muncul setiap kali ada rasa sesak di dada yang tak bisa diungkapkan saat Mama atau Papa memarahi atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai kata hatiku.

Masa kecil, dewasa, orang tua, dan masa tua memang seperti ada wilayah di otak (atau hati?) yang  punya cita rasa sudut pandang tersendiri, memorinya sendiri dan pengambilan kebijakan sendiri. Yang ketika telah lewat masanya, seperti seakan tak bisa dikembalikan lagi. Sudah habis terkikis bersama umur yang bertambah.

Baca selengkapnya Memori sebagai Seorang Anak

Mati Itu Pasti

Mati itu pasti.
Akhir-akhir ini banyak kematian di sekitar yang pastinya patut diambil pelajaran.

Kejadian yang paling bikin aku mikir adalah tentang perempuan yang lagi ngambil S2 di Jogja. Usia masih sekitar 30-an. Meninggal dalam kecelakaan tunggal. Meninggalkan anaknya perempuan yang masih usia 3 tahun. Beritanya sempat nyebar di berbagai media sosial, karena ketika kecelakaan dia bersama anaknya yang masih kecil itu. Qodarullah ternyata dia meninggal dan anaknya selamat. Akhirnya karena gak ketahuan identitasnya, menyebarlah informasi supaya jika ada yang mengenali bisa membantu pihak rumah sakit mengidentifikasi.

Yang jadi renungan aku banget:
Betapa kita sebagai orang tua, pasti pingin banget bisa nemenin anak-anak sampai gede. Berharap mereka umur panjang dalam ketaatan. Berharap kita bisa nemenin terus mereka, bimbing mereka. Apalagi anak-anak yang masih kecil-kecil. Betapa kita tahu mereka tuh masih butuh banget sama keberadaan orang tua. Keberadaan ibunya.
Tapi kita gak bisa nunda. Kalau memang sudah ajalnya. Kita juga gak bisa milih kita mau mati kaya gimana. Sakit dulu atau tiba-tiba. Atau bahkan mati dalam tidur. Gak ada yang tahu. 


Rasa khawatir mikirin anak-anak itu udah gak bisa kita bawa. Karena diri kita sendiri yang sudah perlu dikhawatirkan. Apakah selamat dari adzab kubur? Apakah bisa mendapat kelapangan kubur? Apakah bekal kita cukup?

Terus gimana ya?
Terus aku bisa apa? Kalau misalnya ternyata terjadi pada diriku sendiri?

Jawabannya…sebenarnya sebagaimana sudah kita ketahui bersama.

Berusaha sebaik-baiknya menjadi hamba yang bertakwa.
Banyak doa…Doain diri sendiri, anak-anak, keluarga.
Pengen banget sih pesen (lagi) ke abang, untuk segera cari ibu baru untuk anak-anak kalau memang terjadi aku meninggalkan mereka lebih dulu. Tapi setiap mo ngomong malah jadi mo nangis heheh. Pengen juga pesen ke anak-anak, kalo ummi gak ada…………malah lebih lagi mo nangisnya heheh. Padahal reaksi mereka ada yang udah ngerti, ada yang setengah ga ngerti, ada yang gak ngerti sama sekali hehe.

Ya Allah, panjangkanlah umurku dan keluargaku dalam ketaatan, dan perbaguslah amalanku.

#edisirenungan

Aku kalo nulis blog gak selalu langsung jadi. Termasuk tulisan ini. Dan kemarin baru aja juga ada kabar ada pelajar LIPIA perempuan yang bernama Annisa Sholihah meninggal karena tertabrak bis. Allahummaghfirlaha warhamha…
Benar-benar kematian itu dekat yah.