Biopori untuk Sampah Hewani

Alhamdulillah, Allah mudahkan untuk bisa bikin biopori.

Sebelum membuat biopori ini, ternyata yang ada di benak aku selama ini ada yang salah. Beberapa hal yang aku salah paham adalah:

  • Aku pikir, untuk bikin lubang biopori itu susah dan mesti pakai tukang. Soalnya lubangnya kecil dan dalam. Kayanya mesti alat khusus yang mungkin hanya tukang yang punya. 
  • Nah, kalau sudah pakai tukang atau pakai alat khusus, tentu saja mindsetnya jadi urusannya agak sedikit lebih ribet dan mahal. 
  • Kalau sudah urusan tukang juga, berarti mesti nunggu Abang yang bergerak. Bergerak untuk menghubungi tukang, dll. 

Ternyata semuanya salah dan salah.

Jadi, suatu hari aku merasa resah karena sampah sisa hewani dan sisa-sisa dari kotoran di wastafel sudah penuh di wadahnya. Wadah itu di taruh di bawah wastafel.

Yang agak parah, waktu itu, belatung putih – calon lalat yang jadi sumber penyakit –  mulai jalan kemana-mana dari arah dapur. Tapi karena ngira itu belatung – calon BSF (black soldier fly) yang bermanfaat  untuk kehidupan -, anak-anak malah heboh ngumpulin itu belatung. 

Begitu dibandingin sama belatung yang ada di komposter, ketahuanlah kalau itu belatung lalat. 

Kalau ada yang bingung tentang masalah belatung, insya Allah dibahas di postingan lain ya.

Akhirnya aku mulai lihat-lihat kemungkinan untuk membuat biopori.

Survey alat-alatnya. Seperti biasa, sejak masa corona ini, aku jadi terbiasa untuk mencari toko yang berada di area Yogyakarta. Lagipula, alatnya kan panjang. Dan ternyata alatnya, aslinya berat banget. Kalau yang udah pernah pegang linggis, mirip-mirip linggis tapi ujungnya ada untuk pelubangnya. 

Alhamdulillah ketemu satu toko di daerah Bantul. Nama tokonya: Madani Teknologi. Pemiliknya kalau dari nama pemilik rekening adalah mas Wahyu Arozi. Terjadilah percakapan berkaitan alat bor biopori; karena aku sempat bingung dengan jenisnya. Namanya juga masih ngeblank urusan gini. Karena alatnya cukup mahal, biar gak salah beli jadinya nanya sejelas-jelasnya.  Jadi inilah info yang bisa aku berikan. 

Jenis Alat Pelubang Tanah Lubang Biopori.

Ini pas aku tanya bedanya apa antara alat pelubang model u dan putar

Alat pelubang biopori ada 2 jenis. 

  1. Model U. Yang biasa kita lihat pada umumnya itu namanya model U. Ini yang biasa dipakai di sawah. Model ini lebih cocok untuk model tanah liat. 
  2. Model putar atau model spiral. Walaupun sebenarnya yang model U pemakaiannya juga diputar, tapi sama toko dibilangnya ini model putar. Tapi aku lebih suka bilang kalau ini model spiral. 

Rekomendasinya dari Madani Teknologi,  alat pelubang tanah yang lebih mudah digunakan adalah dengan yang model spiral.

Aku pesan ini akhirnya lewat WhatsApp. Karena kalau lewat Tokopedia ga bisa lewat gosend. Karena ga punya aplikasi gojek dsb, aku juga minta tolong yang mesanin gojeknya dari toko Madani.

Alhamdulillah memang termasuk cepat dan mudah bikin lubangnya dengan yang model putar/spiral. Pakai tenaga laki-laki ya ^^. Alatnya cukup berat. Dan cukup bikin otot dada, bahu dan lengan bekerja. Ini yang  dibilang sama Abang dan Ziyad yang kemarin pakai alat ini. 

Bikin lubang biopori

Ini info dari toko berkaitan alat tersebut. Aku catat di sini buat catatan aku juga. Karena info kaya gini, kalau sudah berlalu waktu, malah bermanfaat buat aku pribadi juga. 

  • Tinggi 130 cm
  • Panjang pegangan 42 cm
  • Besi diameter 19 mm
  • Berat 4 kg
  • Bahan pisau Besi Hardner
  • 2 buah Spiral Plate. Lebar plate 11,5cm (efektif lubang 4″= 10cm). Berarti ini cocok untuk pipa ukuran 4” ya .

Alat pelubang model ini kemarin aku beli seharga Rp 170.000. 

Aku lihat, di toko online lainnya harganya bervariasi antara 100- 150-an. Tapi aku insya Allah senang dengan alat yang aku beli karena besinya kokoh, gak ringkih dan insya Allah berkualitas.

Kalau mau lebih murah; mungkin  bisa bergabung dengan saudara atau ngajak satu RT untuk jadi alat inventaris bersama hehe. 

Waktu mindset tentang biopori aku masih salah, aku pernah  kepikiran untuk ngajakin gotong royong satu RT sumbangan untuk pengadaan lubang biopori di tiap rumah hehehe. Tapi siapalah saya. Pelan-pelan mulai dari diri sendiri dulu insya Allah. 

Pipa dan Tutup Lubang Biopori

Setelah dilubangi itu, lubangnya kita kasih pipa. Gunanya, supaya tanah lubangnya gak longsor lagi. Kalau menurut aku juga, manfaat lainnya biar tikus atau binatang lainya gak ngobrak-ngabrik lubang biopori kita.

Tutup Lubang biopori
Tutup Lubang Biopori

Sudah dipasang pipa, kemudian dikasih tutup. Pipanya sudah ada bolong-bolongnya di sisi-sisinya. Alhamdulillah semuanya udah tersedia di toko Madani Teknologi. 

Kemarin aku beli yang sudah paket pipa dan tutupnya. Harganya Rp 35.000. 

Karena gak tahu panjang pipanya dan niatnya masih nyoba aja, kemarin aku beli 4 paket. Ternyata panjang pipanya hanya 50 cm 35cm (baru tahu info detilnya ketika mau order lagi ke Madani Teknologi). 

Untuk sampah hewani normal sehari-hari, ya agak mepet-mepet untuk keluarga besar kaya kami. Nah, kalau sudah ada sampah di luar kebiasaan normal, akhirnya gak cukup. 

Update: akhirnya aku pesan lagi pipa bioporinya. Untuk ukuran 50cm harga Rp 50.000. Untuk ukuran 1 m harga Rp 85.000 per paket.

Update 19 Agustus 2020: Ternyata setelah baca-baca lagi tentang biopori, jadi sebenarnya, panjang pipa biopori tidak harus sepanjang lubang itu sendiri. Malah lebih bagus ada area yang tidak tertutup oleh pipa di bagian bawah. Pipa hanya untuk menahan lubang bagian atas agar tidak longsor ke bawah. Ini untuk mempermudah organisme agar bisa masuk kae area biopori.

Malah lebih bagus ada aera yang tidak tertutup oleh pipa di bagian bawah. Pipa hanya untuk menahan lubang bagian atas agar tidak longsor ke bawah. Ini untuk mempermudah organisme agar bisa masuk kae area biopori.

Kesimpulan: Untuk keluarga besar seperti kami, amannya dengan menyediakan lubang dengan kedalaman 1/2 meter sekitar pakai 6-8 lubang. Kalau dengan kedalaman 1 m, insya Allah 4 sudah sangat cukup sekali.

Kejadian pas hari raya kurban seperti sekarang, banyak sampah tulang. Terlalu cepat penuh kalau semua dimasukkan ke lubang biopori. Jadinya, ku minta tolong Ziyad gali dengan alat pelubang dan dibuat agak dalam untuk membuang sampah-sampah tulang tersebut.  Alhamdulillah bisa pakai alat pelubang biopori, jadi bikin lubangnya gak pakai cangkul.

Oh ya, karena alat biopori ini sebenarnya fungsi utamanya membantu penyerapan air hujan, jadi kalau ada air yang mengalir ke lubang biopori selama ini alhamdulillah ya masuk aja. Ga ada yang sampai menggenang kepenuhan air walaupun kondisi di lubang biopori sedang penuh dengan sampah.

Tips saat akan membeli paket pipa dan tutupnya: perhatikan apakah tutupnya dari bahan plastik atau bahan aluminium (tahan pecah).

Alhamdulillah yang aku beli paketannya, tutupnya dari bahan aluminium. Jadi memang harganya jadi agak lebih mahal. Tapi insya Allah bisa lebih awet karena ketika terinjak kendaraan atau beban yang berat tidak mudah pecah.

Jenis Sampah yang Dikubur

Lubang biopori
Lubang biopori

Jenis sampah yang dikubur atau dimasukkan lubang biopori adalah:

  1. Sampah-sampah sisa hewani. Seperti tulang-tulang, duri ikan, isi perut ikan, telur busuk. Tulang-tulang ini yang memang gak bisa dimakan kucing. Kalau bisa dimakan kucing, lebih baik dikasihkan ke kucing. Insya Allah terhitung sedekah. 

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

    “Pada setiap yang mempunyai hati yang basah (hewan) itu terdapat pahala (dalam berbuat baik kepadaNya)” (H.R. Al-Bukhari)

    Hadits ini berkaitan dengan seorang laki-laki yang ngasih makan anjing yang kehausan. Untuk cari tahu tentang hadits ini lebih lanjut bisa ke yufid.com. 
  2. Sampah lainnya adalah sampah yang biasa ada di lubang wastafel yang udah campur aduk isinya. Sampah jenis ini, kalau dikasih ke ayam gak dimakan dan malah bikin kotor halaman. Alhasil malah lalat yang datang dan ini tentu aja gak bagus buat kesehatan. Makanya ikut masuk ke jenis sampah yang dikubur. Kalau ada sampah sisa makanan yang bisa dikasih ke ayam, lebih baik di kasih ke ayam ya.
  3. Sampah lainnya yang berkaitan dengan kedua sampah di dua poin di atas.

Belatung dan Bau tak Sedap?

Setiap kali membuang sampah hewani, masukkan dedaunan di atasnya. Kalau ga ada dedaunan, bisa dengan diganti dengan kertas bekas, karton dll.

Ini untuk menyeimbangkan kandungan sampah supaya tidak timbul bau menyengat yang akhirnya malah memancing lalat.

Sedangkan keberadaan belatung di dalam biopori, itu wajar dan malah bagus. Karena mempercepat proses hancurnya sampah hewani.

Kapan Memasukkan Sampah ke Biopori?

Kalau sudah punya lubang biopori, berarti lubangnya sudah tersedia. Bisa dimasukkan tiap hari. Dan lebih baik memang tiap hari. Supaya organisme yang membantu proses penguraian bisa langsung bekerja. Kalau disimpan di dalam rumah buat apa juga kan hehe.

Supaya lebih enak, buat lubang yang mudah dijangkau oleh kita yang memang sehari-hari ngurusin sampah dapur atau dijangkau oleh orang yang membantu kita.

Karena sebab inilah, lubang biopori di rumah ditaruh di samping rumah. Supaya gak harus pakai jilbab lengkap untuk aku atau Hikmah memasukkan sampah ini ketika diperlukan tanpa perlu ditunda.

Sistem Gali dan Kubur

Membuat lubang biopori itu gak wajib. Jadi, jangan langsung lesu atau gak semangat kalau memang belum ada budget untuk beli alat tersebut :).

Tetap semangat untuk memilah sampah. Diniatin untuk memudahkan orang lain yang bekerja di TPA-TPA. Diniatin semua untuk ibadah. 

Alhamdulillah sebelum pakai alat biopori ini, kami cukup lama pakai sistem gali dan kubur. 

Cangkul
Pilih cangkul yang model seperti ini. Ini cangkul kedua yang kami punya. Yang pertama udah lepas antara besi dan kayunya.

Tips untuk sistem gali dan kubur:

1 Sampah gak harus dikubur tiap hari. Apalagi kalau yang mau dimintain tolong itu suami yang mungkin sibuk ya. Maksimal 3 hari. Dikumpulkan di satu wadah. Biar sekalian juga gali lubangnya. Kalau sudah lebih dari 3 hari, biasanya belatung sudah mulai bermunculuan :D. 

Sampah sisa hewani
Ada kulit oyong, karena belum punya komposter. Jadinya aku taruh sekalian di sini. Ini juga pas belum punya lubang biopori yah. Makanya jadi dikumpulin sampai penuh wadahnya kaya gini berarti sudah sampah 3 harian.

2 Gali lubang yang cukup dalam. Terutama kalau ada ayam di sekitar kita. Karena kalau engga dalam dan rapi nutupnya, bisa dijamin ayam bakal ngais-ngais dan berantakan lagilah si sampah.

3 Kalau salah-salah tempat mengubur, masalah sampah ini memang mudah mancing tikus.

Kalau waktu dikubur di halaman depan, alhamdulillah aman. Karena memang padat dan kayanya ga jadi jalur keluar masuk tikus. Tapi kami pernah bikin di halaman samping yang memang dekat dengan sarang tikus (di garasinya tetangga).

Saat pakai sistem gali dan kubur, setiap kali mengubur sampah hewani tetap ditambah daun.

Ternyata tikus langsung kepancing banget. Langsung ada lubang tikus di beberapa sudut. Kayanya dia ngorek-ngorek si sampah. Yang pernah lihat story aku tentang pohon pare yang hancur gara-gara tikus bikin lubang, penyebabnya ya sampah jenis ini. 

Balik lagi ke masalah pemakaian pipa penutup lubang biopori, ini insya Allah menghalangi si tikus untuk kepancing dengan jenis sampah ini. Alhamdulillah keempat lubang biopori kami buat di samping rumah dan sampai sekarang masih aman gak ada kejadian berkaitan dengan tikus. 

Alhamdulillah, selesai bahasan tentang biopori. Semoga bermanfaat.

Cizkah

2 Agustus 2020/

4 Replies to “Biopori untuk Sampah Hewani”

  1. Ummu Afifah says: Reply

    Alhamdulillah, akhirnya ada juga yg buat tulisan ini, baarakallahu fiikum,sdh lama ingin bikin biopori di depan rumah utk menyerap air hujan.Tp kepentok alat.Ada nomor yg bisa dihubungi ke toko tsb? Jazaakillahu khayran

    1. Buat rumah di Jogja um? Kalau di Jogja insya Allah ana kasih nomornya. kalau di Bandung insyaAllah lebih enak kalau cari yang jual alatnya di sana insyaAllah

  2. Alhamdulillah saya jg pke biopori dari tahun 2015 utk semua sampah dapur termasuk kulit duren.. Membuat tanah subur jg..

    1. waa…udah lama ya..
      alhamdulillah

Leave a Reply