Perhatian

Sebenarnya, kita sedang mencari perhatian siapa?

Manusia?

Bukan? Yakin?

Sebenarnya, kita sedang cari kebahagian dimana?

Manusia?

Bukan? Yakin?

Sebenarnya, kerinduan kita pada apa?

Manusia?

Bukan? Yakin?

Pertanyaan untuk direnungi dan dijawab masing-masing. Kemudian ketika sudah menemukan jawabannya, semoga bisa kembali ke jawaban yang lebih baik insya Allah. Untuk dunia dan akhirat.

cizkah
21 Jogja 2020

Apakah akan Berlalu Begitu Saja?

Sebenarnya, hasil perenungan atau banyak hal itu sebenarnya lebih ke buat aku. Dari berbagai hal yang terjadi di zaman sekarang ini, salah satu yang menurut aku sering “menipu” seperti aku pernah tulis adalah media sosial.

[Ini juga sering  jadi bahan diskusi antara aku dan Abang. Kalau diskusi aku dan Abang lebih ke arah pengayaan konten di internet. Bagaimana supaya konten-konten di dunia maya diisi oleh tulisan-tulisan orang yang berilmu. Tulisan-tulisan dari ringan atau sampai mendalam terhadap berbagai permasalahan dan bahasan dalam Islam. Ilmu itu kan luas banget. ]

Baca selengkapnya Apakah akan Berlalu Begitu Saja?

Ga Boleh Sombong dan Gak Boleh Komentar Negatif

Mau catat untuk diri sendiri.

Mudahnya gini.

Aku yang udah punya anak 5, jangan sampai mengatakan sebuah komentar kepada orang-orang sekitar yang baru saja memiliki anak 1 atau kurang dari itu.

Semisal, “Repot kan. Baru juga satu.”

Baca selengkapnya Ga Boleh Sombong dan Gak Boleh Komentar Negatif

Ketika Sibuk “Ngurusin” Hidup Orang Lain

Hidup itu pasti ketemu orang yah. Apalagi pas momen lebaran gini. Kemungkinan ketemu orangnya makin banyak. Apalagi sama keluarga. Masalahnya, aku baru sadar kalo semakin kita ketemu banyak orang, semakin kemungkinan ghibahin orang itu terbuka lebar. Karena ketemu fulan kabarnya begini. Ketemu fulanah kabarnya begitu. Kalo ada yang gak sreg di hati, manusiawi default-nya pengen aja gitu ngomongin. Na’udzu billah min dzalik.

Kalo udah gitu, bagusnya momen-momen ketemu banyak orang kita ikutin dengan ibadah tambahan. Biar pikiran langsung teralihkan ke ketaatan aja. Gak jadi buat maksiat. Atau kalau kelepasan ghibah, biar cepat-cepat dihapus dengan kebaikan*. Tentu aja harus sadar diri kalo habis berbuat dosa jadi harus banyak-banyak istighfar dulu deh dan taubat.

Sebenarnya ada lagi sih kejadian lain yang bikin ketemu orang itu, bisa jadi salah-salah kalau hati gak dikelola dengan baik.

Kadang kita kepo sama urusan orang. Pas akhirnya tahu, terus gak sesuai ekspetasi, malah jadi bicarain.

Baca selengkapnya Ketika Sibuk “Ngurusin” Hidup Orang Lain

Ketika Harga Ayam Naik

Harga ayam akhir-akhir ini naik. Kalau aku mengomentari hal semacam ini, biasanya Abang jawabnya sederhana aja, yang intinya ya udah gpp. Lha wong kita mo nernak sendiri juga belum tentu bisa. Ini kan enak, udah disembelihin, udah dibersihin, udah dipotongin. Tinggal beli aja. Kalau tentang makanan nanti jawabnya, “Adek kalo bikin mungkin jualnya lebih mahal lagi. ” Ngomong sambil ceringisan sama-sama.

Baca selengkapnya Ketika Harga Ayam Naik

Idealisme Tingkat Empeng

Masing-masing orang itu punya idealisme. Ada idealismenya untuk hal-hal yang sederhana. Ada yang sampai ke perkara besar menyangkut perut orang banyak.

Tapi yang namanya idealisme, ya tetap idealisme. Bahkan idealisme tingkat empeng pun rasanya jadi harus merasa “bersalah” ketika tidak mencapainya. Merasa ada yang kurang. Merasa harus menjelaskan ke semua orang bahwa,

“Hei aku tuh sebenarnya gak seperti ituh..”. Sebenarnya aku punya idealisme begini dan begitu…

Biasanya sih, kata idealismenya udah kehapus, dihilangkan. Mahdzuf kalo bahasa arabnya wkwkwk.

Yang lebih parahnya lagi, ternyata idealisme ini bisa mengarah ke kesombongan. Sampai-sampai, hampir saja aku memberi judul Kesombongan Tingkat Empeng.

Baca selengkapnya Idealisme Tingkat Empeng

Tired, Sad..and Worried…

Sedih

Gak tau apa karena aku terlalu capek jadi kesedihan itu jadi semakin menggugu, atau karena aku  yang terlalu sedih kemudian jadi berasa capek dengan semuanya.

Terus akhirnya pikiran kemana-mana, dan perenungan jadi kemana-mana terus ternyata muncul kesadaran akan masalah lain yaitu aku khawatir…

Malam ini banyak perenungan.
Abis periksa kehamilan minggu ke 24 lewat 5 hari.

Aku berusaha menahan diri dari semua keluh kesah yang mungkin bisa aku lontarkan kepada Abang. Aku juga berusaha menahan diri dari melampiaskan masalahku dalam bentuk kemarahan kepada anak-anak.

Baca selengkapnya Tired, Sad..and Worried…

Sometimes, I Just Don’t Understand…

Kadang…apa sering yah, aku tuh gak ngerti sama percakapan mereka.
Anak-anak.
Ziyad, Thoriq yang suka banget cerita atau berkhayal sesuatu.
Seringkali aku berusaha konsentrasi mendengarkan cerita mereka. Dijelaskan dari gambar-gambar yang mereka buat, atau sambil memainkan mainan yang telah mereka buat.

Tapi gak paham. Gagal paham. Kadang aku menyahuti sedikit dari beberapa tokoh atau kata yang mereka lontarkan. Tapi kalo ditanya cerita sepenuhnya, aduh…serius..gak bisa deh.

Baca selengkapnya Sometimes, I Just Don’t Understand…

Palsu

Palsu…itu kalo seseorang menulis atau membahas tentang kebahagiaan, padahal dia jauh dari Allah. Jauh dari Islam. Jauh dari syari’atnya.

Palsu…seperti para komedian. Yang berbuat sesuatu untuk ditertawakan, padahal ternyata dirinya sendiri tak bisa tertawa bahagia.

Palsu…seperti para aktor komedian luar, yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai seorang yang humoris, lugu atau terlihat tanpa beban. Namun ternyata mengalami bipolar disorder…atau bahkan mati bunuh diri karena depresi.

Palsu…
Aku sangat yakin itu palsu.

Sedang bersedih karena seorang penulis yang aku sempat mengikuti perkembangannya beberapa tahun terakhir, akhirnya buka jilbab.
Baca selengkapnya Palsu

Mati Itu Pasti

Mati itu pasti.
Akhir-akhir ini banyak kematian di sekitar yang pastinya patut diambil pelajaran.

Kejadian yang paling bikin aku mikir adalah tentang perempuan yang lagi ngambil S2 di Jogja. Usia masih sekitar 30-an. Meninggal dalam kecelakaan tunggal. Meninggalkan anaknya perempuan yang masih usia 3 tahun. Beritanya sempat nyebar di berbagai media sosial, karena ketika kecelakaan dia bersama anaknya yang masih kecil itu. Qodarullah ternyata dia meninggal dan anaknya selamat. Akhirnya karena gak ketahuan identitasnya, menyebarlah informasi supaya jika ada yang mengenali bisa membantu pihak rumah sakit mengidentifikasi.

Yang jadi renungan aku banget:
Betapa kita sebagai orang tua, pasti pingin banget bisa nemenin anak-anak sampai gede. Berharap mereka umur panjang dalam ketaatan. Berharap kita bisa nemenin terus mereka, bimbing mereka. Apalagi anak-anak yang masih kecil-kecil. Betapa kita tahu mereka tuh masih butuh banget sama keberadaan orang tua. Keberadaan ibunya.
Tapi kita gak bisa nunda. Kalau memang sudah ajalnya. Kita juga gak bisa milih kita mau mati kaya gimana. Sakit dulu atau tiba-tiba. Atau bahkan mati dalam tidur. Gak ada yang tahu. 


Rasa khawatir mikirin anak-anak itu udah gak bisa kita bawa. Karena diri kita sendiri yang sudah perlu dikhawatirkan. Apakah selamat dari adzab kubur? Apakah bisa mendapat kelapangan kubur? Apakah bekal kita cukup?

Terus gimana ya?
Terus aku bisa apa? Kalau misalnya ternyata terjadi pada diriku sendiri?

Jawabannya…sebenarnya sebagaimana sudah kita ketahui bersama.

Berusaha sebaik-baiknya menjadi hamba yang bertakwa.
Banyak doa…Doain diri sendiri, anak-anak, keluarga.
Pengen banget sih pesen (lagi) ke abang, untuk segera cari ibu baru untuk anak-anak kalau memang terjadi aku meninggalkan mereka lebih dulu. Tapi setiap mo ngomong malah jadi mo nangis heheh. Pengen juga pesen ke anak-anak, kalo ummi gak ada…………malah lebih lagi mo nangisnya heheh. Padahal reaksi mereka ada yang udah ngerti, ada yang setengah ga ngerti, ada yang gak ngerti sama sekali hehe.

Ya Allah, panjangkanlah umurku dan keluargaku dalam ketaatan, dan perbaguslah amalanku.

#edisirenungan

Aku kalo nulis blog gak selalu langsung jadi. Termasuk tulisan ini. Dan kemarin baru aja juga ada kabar ada pelajar LIPIA perempuan yang bernama Annisa Sholihah meninggal karena tertabrak bis. Allahummaghfirlaha warhamha…
Benar-benar kematian itu dekat yah.

Isyarat Mati…

Pernah penasaran dengan hal ini?

Aku pernah…

Sering mungkin…

Ada juga perasaan antara percaya dan tidak percaya. Bahkan perasaan was-was sehingga seperti khawatir membahas tentang hal ini. Sedih karena bisa jadi itu adalah tanda-tanda kematian dari diri kita sendiri. Kemudian setelah kita meninggal, orang-orang akan berbicara, “Kemarin sempat dia ngomong ini dan itu…” yang seakan-akan memang menguatkan bahwa diri kita sebenarnya memberikan tanda-tanda kematian.

Baca selengkapnya Isyarat Mati…