Kita dan Al-Qur’an

Sebenarnya, dari tulisan-tulisan sebelumnya, terutama tentang homeschooling, seringkali aku tekankan tentang Al-Qur’an.

Fokus homeschooling ya Al-Qur’an.

Beberapa kali aku juga sebutkan satu ayat ini. 

Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”(Q. S.Faathir: 29-30)

Walau kesannya berantakan, berusaha tetap istiqomah untuk pendidikan Al-Qur’an. Tiada hari terlewat tanpa belajar Al-Qur’an. Semuanya saling berkaitan.

Fokusnya ke ketakwaan yang seringkali terlalaikan. 

Sholat, semua orang mungkin akan berusaha menjalankan. Karena itulah kewajiban sehari-hari. 

Tapi Al-Qur’an…kadang bisa dibuat jadi hal yang “nanti-nanti.”

Berbagai pembenaran bisa juga dibuat, agar hal-hal terkait Al-Qur’an ini jadi terlihat jadi sesuatu yang wajar dan biasa saja untuk ditinggalkan.

Orang Tua dan Al-Qur’an

Sebenarnya, Al-Qur’an ini bukan cuma dalam bahasan pendidikan homeschooling untuk anak. Tapi juga orang tua. 

Ketika orang tua berusaha agar anaknya selalu dekat dengan Al-Qur’an, insya Allah sang orang tua juga lebih patut lagi untuk selalu dekat dengan Al-Qur’an. 

Bukan sekedar mengharapkan anaknya dekat dengan Al-Qur’an. Merasa cukup dengan menyekolahkan (bagi yang menyekolahkan) kemudian lepas tangan karena sudah berusaha mencarikan pendidikan Al-Qur’an untuk anak-anaknya. 

Karena pada dasarnya, kita juga menjadi anak bagi orang tua kita. 

Al-Qur’an yang Begitu Mulia

Sebenarnya, di bagian ini, aku ingin menyebutkan hal-hal terkait kenapa kita perlu menghafal Al-Qur’an. Pinginnya, biar yang membaca jadi lebih tergerak dan semangat untuk menghafal Al-Qur’an. 

Tapi, rasanya, bunyi tulisannya jadi terasa terlalu menggurui. Sepertinya ini bukan bagian aku untuk menyebutkannya.

Cukuplah baca dan renungi setiap ayat Al-Qur’an.

Yang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam diutus untuk menyampaikannya. Yang akhlak Rasululllah adalah Al-Qur’an.

Motivasi terbesar untuk menghafal Al-Qur’an ada di Al-Qur’an itu sendiri.

Jadi, cara paling mudah untuk termotivasi adalah dengan mulai menyelami dan membaca isi Al-Qur’an. 

Praktek Menghafal Al-Qur’an

Aku tuliskan cara – yang semoga bisa terasa mudah untuk dipraktekkan. 

Satu. Minta pertolongan Allah. Kalau  nyebutin ini, kadang ya seperti klise. Tapi gak mungkin kita melakukan semua hal – apalagi ibadah – tanpa pertolongan Allah. Jadi, harus banyak-banyak berdoa agar dimudahkan. Jangan bosan ketika kita saling meingatkan hal ini.  

Dua. Masalah waktu.

Yang sering bikin seperti susah itu masalah waktu. Bisa dari sisi seperti gak ada waktu. Atau khawatir malah waktunya berkurang. 

Makanya, kegelisahan dari sisi waktu ini yang sebenarnya juga harus mulai diatasi pelan-pelan. 

Salah satunya adalah dengan melaksanakan proses menghafal Al-Qur’an ini di pagi hari. Sebelum melakukan berbagai aktifitas. Ini bukan kesimpulan yang aku buat sendiri. Tapi dari beberapa kajian, pasti ditekankan masalah ini juga.

Waktu pagi ini adalah waktu yang penting. Waktu yang berkah. Yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mendoakan. 

Jadi, bisa dicoba aktifitas pagi setelah sholat subuh, setelah dzikir pagi. Maka mulai dengan hafalan Al-Qur’an. Kalau sekedar mau bikin minuman hangat sebagai teman hafalan bisa. Kebiasaan ini butuh dibiasakan dan perlu diperjuangkan. Insya Allah, lama-kelamaan ini jadi kultur yang baik untuk keluarga.

“Tidakkah salah seorang di antara kalian pada pagi hari bersegera ke masjid, kemudian ia mengajar atau membaca dua ayat dari Kitabullah, (maka hal itu) adalah lebih baik daripada dua ekor unta, dan (jika) tiga ayat (maka hal itu) lebih baik dari tiga unta, dan (jika) empat ayat (maka hal itu) lebih baik dari empat unta, dan begitu seterusnya perbandingan jumlahnya dengan jumlah untanya.”  (HR. Shahih Muslim (I/553) Kitabush Shalaatil Musaafiriin bab Fadhlul Qiraa-atil Qur-aana fish Shalaati wa Ta’allumihi)

Beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan. Hendaklah kalian melakukan amal dengan sempurna (tanpa berlebihan dan menganggap remeh). Jika tidak mampu berbuat yang sempurna maka lakukanlah yang mendekatinya. Perhatikanlah ada pahala di balik amal yang selalu kontinu. Lakukanlah ibadah (secara kontinu) di waktu pagi dan waktu setelah matahari tergelincir serta beberapa waktu di akhir malam.” (HR. Bukhari)

Kalau yang habis subuhnya sudah sibuk harus berangkat kerja, semoga Allah mudahkan untuk mendapatkan waktu penggantinya, sebagaimana disebutkan di hadits di atas.

Tiga. Mulai dari sedikit-sedikit. Jika ini adalah momen pertama kali menghafal atau menambah hafalan, maka mulailah sedikit. Jangan buru-buru pingin cepat hafal. Jangan buru-buru ingin cepat dapat banyak hafalannya. 

Bisa dimulai dari juz 30, dari halaman belakang. Mulai dari surat-surat pendek. 

Pahami arti setiap ayat.

Empat. Mulai sambil memperbaiki bacaan. Cari guru. Cari guru yang baik. 

Lima. Saat akan menghafal ayat per ayat, dengarkan dulu bacaan ayat tersebut dari qori yang sudah diketahui memang seorang muqri yang sangat memperhatikan tajwid saat membaca Al-Qur’an. 

Misalnya, syaikh Aiman, syaikh Husori, syaikh Minshawi. 

Audio murottal ini ada bisa kita akses dengan berbagai cara. 

Kalau dari apps bisa dari apps Ayat atau Quran Android. Aku pakai apps Ayat karena tata letaknya sama dengan Quran Madinah, karena aku pakainya Quran Madinah.

Kalau dari web, bisa dari 

Enam. Setorkan kepada pasangan masing-masing. Saling setoran. Setoran satu ayat gpp. Lama-lama jadi 2 ayat. Kemudian mulai setorkan hafalan satu surat. 

Kalau yang sudah banyak, biar terasa ringan, bisa disetorkan 1-2 halaman setiap ada kesempatan..

Tujuh. Mau gak mau kalau sudah mau setorkan, itu pastinya harus mengulang-ngulang hafalan. Jadi ini bagian yang juga penting. Mengulang-ngulang itu bisa di sela-sela aktifitas kita, atau saat kita mau tidur. Coba muroja’aah hafalan kita.

Delapan. Menghafal dari satu mushaf atau satu susunan cetakan ayatnya.

Sembilan. Kalau saat baru menghafal mendengarkan bacaan syaikh yang sangat memperhatikan tajwid, agar saat baru proses menghafal, kita tidak sampai salah bacaan. Namun untuk sehari-hari, bisa dicari bacaan murottal yang disukai. Yang ketika mendengarkan, semakin membuat makin cinta dan semangat menghafal Al-Qur’an.

Sepuluh. Sabar. Yang ini harus menyertai di setiap kita melakukan ibadah.

Ngejar Apa?

Pertanyaan ini sebenarnya bisa muncul dari dua sisi.

Kalau dari sisi kita sendiri, emang kita mau ngejar apalagi sih di dunia? Tapi pertanyaan ini akan bisa terjawab dan lebih bisa kita pahami setelah kita terjun dan berusaha menjalankan proses menghafal Al-Qur’an ini.

Dari sisi, ada orang lain yang bertanya, buat apa sih menghafal Al-Qur’an? Jawabannya ya balik lagi ini adalah jalan ketakwaan. Harapannya, Al-Qur’an ini adalah akan jadi bekal kita beramal, berakhlak. Nanti pada akhirnya kita akan benar-benar memahami, ketika berusaha berakhlak dengan Al-Qur’an.

Dengan menghafal Al-Qur’an, kita berusaha menjaga berbagai hal. Kita menjaga waktu kita, mata kita, telinga kita, badan kita. 

Kita harus menjauhi perbuatan maksiat, kecurangan atau hal-hal lainnya bisa menyebabkan hafalan kita terganggu.

Insya Allah akan berusaha mencari keberkahan dalam segala hal.

Dalam menjalankan proses ini, kita sebenarnya gak dikejar apa-apa dan gak perlu ngejar apa-apa atau gimana-gimana (secara duniawi). Jadi, proses menghafal dan menjaga Al-Qur’an adalah sebuah PROSES. Proses yang berjalan sepanjang hayat insya Allah.

Dalam proses menjalankan ibadah ini (dan ibadah lainnya), pastinya kita akan diuji. Apakah akan istiqomah? Apakah akan merasa puas? Apakah berusaha mengamalkan? Apakah berusaha menjaga?

Ashshidqu ma’allah. Orang yang jujur kepada Allah, akan ketahuan nantinya di perjalanannya. 

Jadi, kapan mau mulai perjalanan ini?

Perjalanan menghafal Al-Qur’an :).

Semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjaga Al-Qur’an. 

Mohon maaf kalau banyak kurangnya, karena ini juga ditulis dari orang yang juga masih sangat butuh pertolongan Allah untuk menghafal Al-Qur’an.

cizkah
5 Desember 2020

7 Replies to “Kita dan Al-Qur’an”

  1. Amaturrahmaan says: Reply

    Maasyaallaah.. baarakallahu fiik mba❤

    1. wa fiiki barokallah

  2. Maasya Allah, bener banget, Mba Ciz.
    انتصق الله يصدقك. Siapa yang jujur sama Allah, Pasti Allah benarkan. Memang istiqamah itu ga mudah ya. Dulu waktu kuliah, Allah kasih Taufik untuk semangat banget menghafal alQur’an. Salahsatu faktornya karna lingkungan juga yg mendukung. Semenjak menikah dan punya anak, perjalanannya seperti kura2. Lambat. Tp berusaha minta ke Allah agar terus dikasih Taufik dekat dg alQur’an, agar bisa mengamalkannya.

    Teladan itu setara dengan ribuan kata. Ana sendiri merasa ketika lg turun iman dan lg jauh dari alQur’an, ngaruh banget dampaknya ke semangat anak2 dalam berinteraksi dengan alQur’an.

    Tahun lalu, ana sempat ikut halaqah tahfizh yg di masjid Nabawi sama syaikhah Zainab. Qadarullah stlh melahirkan, ana ga ikut lagi. Adaptasi waktu. Sampai skrg blm nemu guru atau grup halaqah tahfizh yg di indo yg bisa setoran via medsos. Susah juga ya nyarinya yg sesuai dg kriteria. Barangkali mba Cizkah punya link. Soalnya kalau sama suami (untuk belajar yg sifatnya intensif), jujur aja, seringkali ga fokus mba. Hehe. Gmn gitu ya. Pengalaman ana belajar bahasa Arab juga gitu. Akhirnya, yg senantiasa membersamai ya anak. Karna sambil nyimakin bacaan dan hafalannya. Jadi bisa sambil muraja’ah.

    Alhamdulillah, metodenya sama dengan mba Cizkah. Hanya saja untuk waktu, ana dan anak2 biasanya menghafal/muraja’ah di jam2 setelah syuruq karna suami kerjanya pagi2. Jadi banyak yg harus disiapkan.

    Tulisan ini pengingat banget buat ana pribadi. Senang bisa punya teman yg semangat juga menghafal alQur’an, insya Allah.

    1. sebenarnya, sama juga di sini hehe..
      berliku-liku ya deh pokoknya terkait setoran ke suami

      dari kemarin udah sering kepikiran solusi buat ibu-ibu yang pingin menjaga hafalannya (setoran hafalan lama atau baru).
      Di sisi lain juga memikirkan kecenderungan sifat perempuan yang kadang bisa jadi melenceng. Dan juga dari sisi menjaga keikhlasan.

      Tapi belum ketemu ide yang pas.

      Semoga Allah mudahkan ya

  3. Iya bener mba, tentang menjaga niat dan keikhlasan… 😭 Ana sendiri berusaha meyakinkan diri bahwa ga mesti harus dg komunitas. Komunitas memang cukup penting buat ana. Karna kalau dengan suami kurang ada motivasi tersendiri. Beda kalau ana setoran ke guru atau ke teman yg kredibel.

    Sisi lain, ada kisah2 ulama kita yg pernah dipenjara bertahun2 tp mereka tetap bisa berkarya di dalam jeruji. Tanpa komunitas, tanpa teman. Karna niat mereka yg bener2 tulus karna Allah dan tingginya keimanan mereka.

    Komunitas teman2 yg shalih memang penting, tp itu bukan tujuan utama yang justru menjadikan kita, -mgkn ana tepatnya-, ketika Allah takdirkan blm bertemu dg sebuah komunitas, malah lalai dalam melaksanakan ibadah yg penuh berkah seperti menghafal alQur’an ini.

    Jazaakillaahu Khairan Mba…

  4. Ummu nalanayl says: Reply

    Assalamualaikum. Saya mah apa atuhlah. Udah lama banget ga menghapal, mungkin terahir sekitar 12tahun lalu, zaman sekolah. Maunya baru di hati aja, tapi badannya belum tergerak hiks. Mau banget Kalau memang ada info komunitas hafalan. Atau kita bikin aja yu komunitasnya. Mungkin ga?

  5. […] seperti pernah aku tulis di tulisan Kita dan Al-Qur’an, ada poin dimana kita bisa mendengarkan bacaan yang sedang kita hafal atau muroja’aah dari bacaan […]

Leave a Reply