Ruang

Anak Belajar di Rumah Berat?

Selama ini, mungkin sulit dibayangkan bagi teman-teman yang belum pernah menjalankan homeschooling, praktek sehari-harinya tuh seperti apa.

Jika dikaitkan dengan pendidikan jarak jauh yang kemudian diartikan belajar dari rumah dikarenakan pandemi Corona ini, maka praktek homeschooling tidak seperti itu.

Homeschooling memang bisa terasa berat untuk beberapa hal. Tapi, praktek belajar di rumah bukanlah kegiatan padat terstruktur untuk anak sebagaimana yang diterapkan di belajar di rumah saat pandemi berlangsung.

Kalau proses belajar di rumah seperti itu, mungkin banyak yang langsung “nyerah” karena membayangkan bertahun-tahun harus menjalankan aktifitas bersama anak seperti itu.

Di sisi lain, memang belajar di rumah juga bukan hal yang mudah karena pastinya butuh keterlibatan orang tua. 

Lalu, sisi ruangnya dimana?

Dalam praktek homeschooling, seperti aku pernah sebut di tulisan serihomeschooling sebelumnya, belajar tuh gak padat dalam arti seperti di sekolah harus dari pagi sampai siang atau bahkan sampai sore.

Kalau belum tahu tentang jenis kegiatan belajar anak, bisa-bisa dikira anak gak belajar. Atau hati orangtua jadi gak tenang karena merasa anak belajar sebentar dan sedikit. 

Kalau seperti itu, berarti mindset proses belajar dan tentang belajar itu sendiri masih dengan mindset sistem belajar di sekolah. Anak dianggap belajar kalau baca buku, duduk diam, ngerjain soal, dapat tugas-tugas, dikasih instruksi untuk melakukan suatu kegiatan untuk kemudian dilaporkan, atau hal-hal sejenis itu. 

Insya Allah, ini sekedar untuk mengingat tentang mindset belajar ya. Tapi tulisan kita kali ini sebenarnya bukan mau fokus di situ. 

Ruang dalam Homeschooling

Ruang dalam homeschooling adalah adanya kefleksibelan dalam pengaturan waktu formal teaching (untuk selanjutnya, saya bahasakan menjadi belajar formal).

Fleksibel ini maknanya bisa luas sekali. 

Fleksibel dalam Arti Libur Belajar Formal 

Fleksibel di sini bisa jadi, ketika waktu-waktu tertentu, anak bisa saja meninggalkan momen belajar formal ini. 

Misal saat orang tua baru melahirkan, bulan Ramadhan atau momen-momen lain dimana orang tua butuh jeda dan butuh waktu untuk lepas dari kewajiban mengajar anak. Atau sebaliknya, ketika anak memang sedang ingin difokuskan dengan kegiatan lainnya, misanya kegiatan di bulan Ramadhan. 

Jangan khawatir. 

Kenyataannya, sebenarnya anak yang belajar di sekolah, juga banyak sekali liburnya. Juga banyak sekali jeda belajarnya. Misal libur semester, libur akhir tahun, libur ada kakak kelas yang sedang ujian, libur ini dan itu. 

Dari sinilah kemudian di keluarga kami, bisa dibilang untuk hari-hari biasa, hampir tidak ada libur. Karena, rasanya setiap hari sebenarnya sudah terasa “santai” dan seperti orang libur karena bisa beraktifitas fleksibel sesuai kebutuhan. 

Dengan model seperti ini, alhamdulillah saat akhirnya anak harus meninggalkan momen belajar formalnya, materi yang dipelajari tidak tertinggal insya Allah. Bahkan biasanya anak sudah menyelesaikan dengan lebih cepat dibanding anak yang belajar di sekolah. 

Saya masih akan membahas kisah penting lainnya berkaitan libur ini. 

Fleksibel dalam Arti Anak Bisa Mundur Sejenak

Saat materi yang dipelajari anak ternyata mulai terasa sulit, atau ternyata ada yang kurang kuat di dasar materinya, maka tak usah ragu untuk mundur kembali untuk memantapkan materi dasar. 

Ini biasanya terjadi di matematika.  Sungguh, lebih baik perbaiki dulu dasarnya daripada terus lanjut tapi makin gak paham dan makin bikin anak merasa matematika itu susah banget dan tak terpecahkan. 

Kejadian seperti ini, sangat mungkin terjadi jika kita baru menjalankan homeschooling atau saat mendidik anak pertama. Karena kita sendiri juga sedang belajar tentang berbagai hal.

Saya pernah mengalaminya waktu Ziyad kelas 3. Materinya sudah mulai campur perkalian pembagian dibolak-balik. Ukuran waktu, berat dan panjang yang mulai dibolak-balik pertanyaannya. Kalau perkalian dan pembagian belum kuat, pasti bingung. 

Perkalian dan pembagian belum kuat karena biasanya penjumlahan dan pengurangan juga belum kuat. 

Akhirnya waktu itu kami mundur. Kembali ke penguatan di penjumlahan dan pengurangan. Yang berarti sebenarnya seperti mundur ke materi kelas 2 atau bahkan kelas 1. 

Berlanjut terus ke penguatan pemahaman perkalian. Baru akhirnya pembagian. Sampai akhirnya kembali lagi ke materi yang sedang dipelajari. 

Apakah jadi tertinggal? Engga..dan gak harus merasa tertinggal.

Alhamdulillah. Oleh sebab itu, kami sengaja memilih tidak mendaftarkan Ziyad ke PKBM yang modelnya harus ikut ujian semester. Dan pada dasarnya, aturan resmi dari PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) atau SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) , seorang anak perlu untuk didaftarkan ke PKBM mulai tingkat kelas 4. Insya Allah kita akan bahas ini di tulisan tentang PKBM. 

Walaupun PKBM bisa saja menerima anak dari usia kelas 1. Ada juga yang mewajibkan ikut ujian semester di PKBM tersebut. Kami memilih untuk tidak ikut. Karena usia kelas 1-2, anak-anak sebenarnya sedang belajar untuk belajar. 

Dengan fleksibilitas ini, kita jadi memiliki kesempatan untuk menjajaki diri kita, diri anak dan materi yang sedang kita ajarkan ke anak, insya Allah. 

Jangan Libur!

Ada hal yang tidak bisa dan jangan diliburkan dalam kegiatan homeschooling. Apalagi kalau bukan kegiatan yang berkaitan dengan Al-Qur’an.  

Tiada hari tanpa Al-Qur’an. Membacanya atau menghafalnya atau menyetorkan hafalan untuk dimuroja’ah.

Yang bisa dilakukan biasanya adalah memberi kelonggaran dalam aktifitas ini di hari-hari tertentu. 

Saat bertemu momen yang membutuhkan kelonggaran, semisal hamil semester awal yang biasanya badan seorang ibu jadi sangat lemah atau  lahirnya adik baru di keluarga, maka aktifitas berkaitan dengan Al-Qur’an tetap berlangsung. 

Kerjakan semampunya, namun jangan sampai ditinggalkan.

Kelonggaran ini bisa berupa target muroja’ah hafalan anak dikurangi. Atau durasi waktu menambah hafalan dikurangi jika anak masih harus ditalqin oleh kita.

Kisah Kami; Al-Qur’an dan Pelajaran Formal

Kenapa kita tidak meninggalkan Al-Qur’an? Karena ini adalah bagian dari ketakwaan. Dan dengan ketakwaan, insya Allah urusan kita bisa lebih mudah. Kemudahan ini bentuknya bisa macam-macam.

Salah satu pengalaman kami, praktek yang biasa kami lakukan setelah bulan Ramadhan adalah meliburkan kegiatan belajar formal dan fokus memperbaiki hafalan Al-Qur’an.

Hal ini karena biasanya saat bulan Ramadhan, proses muroja’ah dan menambah hafalan tidak berlangsung seperti biasanya karena masing-masing sudah disibukkan dengan ibadah pribadi – yang tetap juga berkaitan erat dengan Al-Qur’an.

Pernah suatu ketika, karena hafalan Ziyad juga sudah cukup banyak, aku putuskan sampai sebulan hanya menguatkan kembali hafalan. Bulan berikutnya perlahan mulai masuk ke materi pelajaran Matematika saja. Baru di bulan ketiga, mulai masuk ke pelajaran-pelajaran lainnya. 

Lucunya, setelah hampir 3 bulan tidak belajar pelajaran formal, saat memeriksa buku soal, Ziyad sangat heran dengan jawaban-jawaban yang dia buat kemarin sebelum kami jeda.

Seakan-akan, pikirannya jadi lebih terbuka dan jadi lebih paham dengan pertanyaan dan materi yang sedang dipelajari. 

Masya Allah, alhamdulillah, laa quwwata illa billah.

Jadi, jangan khawatir.

Hal penting dari keseluruhan tulisan ini adalah, jangan sampai kita lupa dan begitu khawatir dengan proses dan progres belajar pelajaran sekolah anak-anak kita dan menjadikan Al-Qur’an bagian yang tersisihkan dan bukan yang utama dari keseluruhan kegiatan belajar anak.

Akan tersedia ruang untuk dunia, selama kita selalu berusaha menyediakan ruang untuk akhirat. Insya Allah. 

Tetap berusaha mengisi hari-hari anak dengan pendidikan ketakwaan; pendidikan yang isinya mengutamakan akhirat. 

Cizkah
Diselesaikan 10 Mei 2020 / 17 Ramadhan 1441

Catatan: Tulisan ini sebenarnya gak dimaksudkan dikaitkan dengan Corona. Karena ide tulisan tentang “ruang” dalam kehidupan homeschooling sudah ada sejak lama.  Tapi jika saat ini dikaitkan, bisa jadi relevan dari perspektif tertentu. 

Lihat postingan ini di Instagram

Ruang ⁣ ⁣ Alhamdulillah, salah satu enaknya homeschooling adalah adanya ruang. Ruang untuk mundur sejenak ketika anak butuh intensif perbaikan. Ruang untuk cari kegiatan yang anak-anak minati. Dan ruang-ruang lainnya…⁣ ⁣ Ini Thoriq (9th) lagi semangat presentasi desain kereta dia. Umminya setengah paham namun berusaha tetap menjadi penyimak yang baik insyaAllah 😋.⁣ ⁣ ⁣ Tadinya selembar. Trus nambah jadi 2 lembar A3.⁣ Kemarin pagi, aku lihat udah ditempel lagi kertas A3nya, jadi 4 lembar.⁣ ⁣ Kemarin sempat aku ajarin nanti nyimpannya digulung. Jadi, gulungannya hari ini tambah panjang.⁣ ⁣ Jadi begitulah. Minatnya Thoriq ke hal-hal berbau mesin, teknis dan yang sejenis itu. Kemarin pesawat, hari ini kereta.⁣ ⁣ Beda-beda karakter dan minat. Dia masih sering bertanya kata-kata sederhana yang didapat dari bacaannya. InsyaAllah seiring waktu aku yakin dia bisa nangkep berbagai kata-kata itu sebenarnya. ⁣ Tapi, untuk saat ini, kalau istilah-istilah rumit teknis untuk bagian-bagian pesawat dan kereta… Monggo ngobrol sama dia kalau yang seminat. ⁣ ⁣ Barokallahu fiihim⁣ ⁣ Tadi malam keingat salah satu catatan di blog. Thoriq usia 11 bulan memainkan pesawat kecil disuarakan dan diaksikan lagi landing. Masya Allah. Sebenarnya samar-samar sudah terlihat arah bakat dan minat anak-anak. ⁣ ⁣ Makin besar insyaAllah makin kelihatan. Yang penting tetap semuanya diiringi ketakwaan. #pesanummi⁣ ⁣ #limaanakhomeschooling #thoriqibrohim #catatancizkah #keretaapi #kai #keretaindonesia #kereta

Sebuah kiriman dibagikan oleh Cizkah Ummu Ziyad (@cizkah) pada


One Reply to “Ruang”

  1. Assalamualaikum.. Sudah lama jadi silent reader blog ini.. Alhamdulillah selalu jadi inspirasi..
    Salam kenal y mba..

Leave a Reply