Still Loading…

Pas hamil…
Semangat tipis, kemampuan juga tipis

Pas abis lahiran
Semangat mulai muncul, kemampuan masih tipis

Pas udah sebulanan lahiran
Semangat udah mulai banyak, kemampuan masih tipis

wkwkwk…
pas hamil, kemampuan tipis soalnya bawaaannya tidur, rebahan dll
pas abis lahiran, ya emang gak kesentuh, pemulihan, adaptasi dengan kembar, bagi perhatian ke 3 anak..dll
pas udah mulai pulih…kaya udah mulai ide bertaburan, bahkan ide tulisan untuk ummiummi…tapi bener-bener masih terbatas karena masih super crowded, begadangan dll.

Ziyad HS-nya masih jalan, walau dengan keterbatasan di sana sini. Yang penting hafalan masih jalan. Dan udah mulai nambah lagi. Kemarin2 kan cuma muroja’ah.
Pelajaran paling biasanya cuma bisa 1 yang kebahas, apalagi kalau sama periksa hasil kerjaan math. Kalo lagi ngasih tugas aja sih bisa 2 pelajaran. Periksanya hasilnya nunggu aku sempat lagi.

Semoga Allah mudahkan segala urusan kita.

Ditulis singkat karena kembar lagi bobo keduanya, anak-anak lagi asyik main sendiri karena sore tadi udah pada makan home made spaghetti (dibikin dengan bala bantuan).
Sambil nunggu giliran mandi (nunggu depat laptop) :D.

Ketika Merasa Cucu tak Disayang Mertua

Perasaan ini bisa muncul kapan pun, dimanapun karena dengan sebab apapun. Pun juga tidak tidak mesti terjadi dari sisi mertua, bahkan orang tua sendiri pun bisa.

Si A misalnya, sebagai anak, ia sendiri merasa memang bukan anak kesayangan orang tua. Akhirnya ketika ia punya anak, ia merasa anaknya pun diperlakukan biasa-biasa saja.

Atau si B, yang mengharapkan anaknya ditimang-timang oleh sang mertua. Diberi hadiah berupa apapun. Tak mesti mahal, tapi cuma ingin tahu anakku diingat tidak oleh mertua, katanya. Tapi harapannya tak kunjung datang.

Dan masih banyak perasaan lain yang banyak jenisnya. Yang jelas intinya sama, mertua/orang tua tidak sayang cucu.

Lalu, bagaimanalah ini? Apakah perasaan ini salah? Kalau iya,  bagaimana cara menepisnya?

Kita sebagai Anak atau Menantu

Alhamdulillah, kita diberi tuntunan syari’at yang sangat jelas tentang kewajiban sebagai anak. Dan ini berlaku juga sebagai menantu.

Karena peran kita sebagai istri, adalah juga membantu suami untuk melakukan kewajibannya kepada orang tuanya.

Kita memang memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang. Tapi yakinlah, secara fitrah orang tua sudah mencurahkan segenap kasih sayangnya sejak kita kecil. Bahkan doa untuk orang tua yang kita amalkan adalah agar Allah menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kita di waktu kecil.

Maka, pada saat perasaan resah gelisah ingin agar cucu (anak kita) mendapat perhatian lebih dari mertua, cenderungkanlah hati untuk mengingat kewajiban kita sebagai anak, yaitu berbakti kepada orang tua.

cucu-tak-disayang-mertua

Akan lebih baik lagi jika kita memikirkan bagaimana kitalah yang menunjukkan kasih sayang dan perhatian itu kepada mertua atau orang tua.

Akan lebih baik lagi jika kitalah yang memberikan hadiah kepada mereka.

Akan lebih baik lagi jika kita berusaha mendapatkan surga dengan berbuat sebaik-baik apa yang bisa kita perbuat untuk mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ، أَحَدُ هُمَا أَوكِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]

Tips Menghilangkan Perasaan Sedih karena Merasa Cucu Tak Disayang Mertua/Orang tua

  • Ingat kewajiban utama kita, yaitu bakti kepada orang tua.
  • Ingatlah bahwa yang lebih pantas, kitalah yang memperhatikan mereka. Karena kita tidak mungkin membalas budi baik mereka. Aneh jika kita kemudian malah mengharapkan mendapat tambahan budi dari dari mereka.“Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.” (HR. Muslim no. 1510)
  • Biasakanlah diri kita untuk tidak mengharapkan balasan ketika melakukan kebaikan untuk orang lain. Baik itu hal yang sifatnya materi atau non materi. Apalagi ini adalah orang tua kita sendiri atau orang tua suami kita. Ingatlah apa yang kita harapkan adalah keridhoan Allah.
    “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al-Insan: 9).
  • Buang pikiran negatif (rasa was-was) dan biasakan berpikir positif. Was-was itu dari setan. Jika muncul perasaan ini, cobalah dengan membaca surat al-mua’awadzatain (surat Al-Falaq dan An-Naas).
  • Jangan “menularkan” perasaan negatif ini kepada pasangan atau bahkan ke anak kita sendiri.
  • Fokuslah untuk memberi perhatian kepada anak dan tidak mengharapkan orang lain yang memberi perhatian :).
  • Jadikan pikiran kita saat ini menjadi bekal kita bersikap di masa depan. Bukankah kita esok insya Allah juga akan menjadi nenek?

Semoga bermanfaat.

cizkah
Jogja, 5 Syawal 1437 H/11 Juli 2016

Artikel www.ummiummi.com

Karena Thoriq Suka Masak…

Tadinya, aku pikir, riwayat per-baking-an ku berakhir atau bakal terbengkalai sejak Ziyad homeschooling plus berbarengan dengan lahirnya Luma. Memasak pun lebih banyak beli lauknya setahun terakhir pas abang kuliah. Karena waktu makannya jadi diburu dan harus disesuaikan dengan waktu abang harus berangkat ke ma’had. Warung dekat rumah yang cuma beberapa langkah kaki jadi andalan.

Baca selengkapnya Karena Thoriq Suka Masak…

The Sweetest Word…

Romantis itu, apa yang bisa bikin hangat hati.

Udah pernah cerita kan ya, kalo Abang tu bukan tipikal yang romantis ngasih hadiah bunga. Kayanya selama 10 tahun nikah, cuma 2x ngasih aku bunga. Pertama, karena aku minta beliin hag hag hag. Dan yang aku minta waktu itu bunga Anggrek. Aku lebih suka bunga Anggrek daripada bunga Mawar. Baunya lebih enak ketika terpajang di rumah. Terus, kali lain pas aku minta beliin bunga Sedap Malam. Lupa kenapa waktu itu minta. Apa karena lebaran atau apa yah..yg jelas gak tepat pas lebaran. Rumahnya biar bau wangi bunga segar. Ternyata pas pulang, selain bawain bunga sedap malam, abang juga bawain mawar. Cieeh…

Baca selengkapnya The Sweetest Word…

3 Pilihan Masjid untuk I’tikaf Keluarga di Jogja

Pas dipostingan tentang awal aku hamil, aku sempat tulis rencananya pingin hamil setelah lebaran. Salah satu sebabnya sebenarnya pinginn banget bisa i’tikaf bareng sama keluarga. Maksudnya, kalo memang gak sama anak-anak gak mungkin, berarti ya sama anak-anak. Udah ngomong sama abang juga jauh-jauh hari. Sebenarnya pingin juga dari kemarin-kemarin, tapi biasanya pas ada mertua di Jogja, atau pas aku mudik ke Jakarta, atauu…pas aku lagi hamil muda yang kondisi fisik aku pasti super weak hehe.

Nah, walaupun hamil, tetap menyimpan asa itu. Kemarin tanya ke teman-teman di whatsapp. Ada beberapa alternatif pilhan di Jogja. Ga tau nanti bisa terwujud apa engga, yang penting tau infonya dulu :D.

  1. Masjid Nurul Fikri di Deresan
  2. Masjid Syuhada
  3. Masjid UII di Kaliurang atas.

Baca selengkapnya 3 Pilihan Masjid untuk I’tikaf Keluarga di Jogja

Perkembangan Kehamilan Si Kembar 15 Minggu 5 Hari

Biasanya di setiap kehamilan, aku memang udah kaya orang nunggu gajian deh kalo pas nungguin jadwal periksa. Tapi ini rasanya lebih lambat banget waktu berjalan. Tadinya saking pinginnya periksa, mau periksa di minggu 15 aja. Tapi masih bisa terlewati.

Kehamilan yang dulu-dulu, aku selalu nandain kalender setiap minggu biar ketahuan ini udah masuk minggu berapa. Biar gak usah ngitung-ngitung lagi dari awal setiap kali pas pingin tahu. Dan selalu suka banget baca artikel tentang perkembangan janin per minggu atau perbulan. Padahal udah hamil berapa kali ya :D. Aku pikir, di kehamilan yang ini…mungkin aku bisa gak kaya gitu. Soalnya kadang bikin jadi serba salah sendiri heheh. Susah jelasinnya.

Baca selengkapnya Perkembangan Kehamilan Si Kembar 15 Minggu 5 Hari

Welcome Trimester 1

Yes I’m pregnant…alhamdulillah ^^

Alhamdulillah dari kemarin masih pusing-pusing bisa bertahan :D. Yang herannya, sampai hari ini malah gak terlalu tidur-tidur banget gitu. Jadi pusing, terus dibawa rebahan, tapi gak bisa dibawa tidur yang lama. Paling 10 menitan udah melek berasa gak bisa tidur lagi. Hehe..

Kembar?

Baca selengkapnya Welcome Trimester 1

Memori sebagai Seorang Anak

Waktu kecil, aku sering merasa tidak bisa mengungkapkan keinginanku. Tidak bisa mengutarakan alasanku. Atau bahkan tidak bisa menyuarakan apa kata hatiku. Sampai akhirnya terbersit keinginan untuk mencatat apa yang ada di otakku. Alasannya, supaya nanti kalau aku punya anak, anakku tidak mengalami hal yang sama. Aku ingin aku mengerti anakku. Aku khawatir kalau aku lupa, bagaimana rasanya di posisi anak.

Sayangnya, ide itu gak aku wujudkan. Cuma beberapa kali muncul setiap kali ada rasa sesak di dada yang tak bisa diungkapkan saat Mama atau Papa memarahi atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai kata hatiku.

Masa kecil, dewasa, orang tua, dan masa tua memang seperti ada wilayah di otak (atau hati?) yang  punya cita rasa sudut pandang tersendiri, memorinya sendiri dan pengambilan kebijakan sendiri. Yang ketika telah lewat masanya, seperti seakan tak bisa dikembalikan lagi. Sudah habis terkikis bersama umur yang bertambah.

Baca selengkapnya Memori sebagai Seorang Anak

Libur Sebulan?

Walau dibilang libur sebulan…alhamdulillah dalam pelaksanaannya gak beneran libur sebulan hihi.

Cuma pelaksanaan proses belajarnya lebih dibawa santai. Anak-anak aku beri kelonggaran ke beberapa hal. And it’s good. Good for me…good for them insya Allah.

Aku sendiri, mengerjakan beberapa hal yang aku sukai. Yang kemarin-kemarin aku merasa mesti pinggirkan. Aku merasa waktunya terlalu terbatas untuk aku pakai untuk selain hal-hal pokok semacam urusan rumah tangga, homeschooling dan kerjaan.

Ternyata…terbalik.

Baca selengkapnya Libur Sebulan?

1 ber 5

Kalau makanan…dulu pas baru nikah, masih berdua aja (ya iya la :D). Beli cumi-cumi sepiring kecil dimakan berdua. Beli bakso, semangkok berdua. Sampai Ziyad lahir dan agak besar pun masih satu porsi. Beli tengkleng, bisa makan bertiga.

Ziyad makin besar, mulai deh beli dua mangkok bakso. Biasanya kemudian minta mangkok kosong. Jatah kami berdua kemudian dikurangi untuk Ziyad. Dan lagi saat-saat gitu, mulai lahir Thoriq.  Teruus seperti itu. Sampai akhirnya sekarang kalo beli bakso 4 mangkok. Karena sudah pengalaman dengan 2 anak sebelumnya, aku biasa bawa tempat sendiri untuk dijadikan mangkok ke-5. Untuk Luma :).

Dari semua kisah berbagi itu, masih ada yang belum berubah dari Ziyad lahir sampai sekarang.

Baca selengkapnya 1 ber 5

Kopi Kopian…

keiko-kopi2Setahunan yang lalu, abang “accidentally” mulai mendalami yang namanya kopi. Ceritanya abang lagi belajar tentang segala hal kamera, video, editing dan lain-lain. Dan kebetulan sample yang sedang dipelajari adalah salah satu video tentang kopi. Dan video tentang kopi itu banyaak yang bagus-bagus hehe.

Dan selayaknya pasangan lainnya yang saling mempengaruhi, segala hal tentang kopi mulai juga “diperkenalkan” ke aku. Aku yang notabene memang sebenarnya lumayan suka kopi dari dulu alhamdulillah bisa jadi “partner” abang juga untuk urusan ini hihi. Partner dalam arti aku bisa ikut menikmati apa yang beliau nikmati. Bukan cuma jadi penonton.

Jadi malu pernah nulis-nulis tentang kopi kemarin-kemarin wkwkwk. Ternyata yang kemarin aku minum itu namanya kopi instant – maksudnya dilihat dari segi kesehatan..instant…which is berarti memang biasanya kurang sehat hehe. Ternyata kopi kalo beneran kopi original  insya Allah malah bagus untuk kesehatan. Catatannya: gak pake gula!

Dan ternyata, dari awal mulai minum kopi kaya gini, aku malah suka banget kalo gak pake gula. Dan aku ngerasanya kopinya tetap ada rasa manisnya kok. Makanya kalo ada yang langsung meringiskan muka ketika dengar kopi gak pake gula – maksudnya udah bayangin pahit -, I just wanna say “You have to try it first!”. Alhamdulillah, Keluhan-keluhan yang dulu ada mulai dari deg-degan atau maag, juga malah gak muncul. Memang catatan ketika minum kopi adalah jadi gampang lapar berat. Jadi disarankan sebaiknya diisi perutnya. Ah, berikut beberapa hal pendahuluan buat yang masih blank tentang kopi.

Baca selengkapnya Kopi Kopian…

Tips Ketika Prahara Rumah Tangga Melanda

Diam kata orang adalah emas. Belum lagi ada hadits yang menyatakan bahwa berkata baik atau diam. Atau bisa dibilang, kalau mau bicara yang jelek-jelek -apalagi tentang suami- lebih baik ga usah aja, diam saja.

Namun, yang terjadi biasanya saat prahara rumah tangga, kecenderungan seorang wanita adalah ingin berbicara. Ingin membela diri. Ditambah lagi…ketika tak sampai rasa hati kepada suami, akhirnya untuk mendukung perasaan bahwa dia adalah yang paling benar, ingin saja ditumpahkannya cerita segala “salah”nya suami dan betapa “benar”nya dia sebagai istri kepada orang lain – baik itu teman ataupun orangtuanya sendiri-.

Ada dua tips untuk ibu-ibu salihah agar prahara tersebut tak makin membesar, yaitu diam dan tak diam. Prahara rumah tangga memang bertingkat-tingkat. Namun seringkali, yang kecil-kecil bisa menjadi besar dan memalukan karena perkara diam dan tak diam ini. Merugi rasanya jika sebenarnya perkara itu karena sekadar lantaran sang suami yang letih atau istri yang sedang dalam masa PMS (pre menstrual syndrom). Tapi kemudian masalah – kecil yang menjadi besar itu – diketahui segelintir sahabat yang kemudian menyebar ke sahabat si sahabat. Atau akhirnya menjadi bahan yang membuat martabat suami jatuh di depan orang tua kita sendiri.

Diam

  • Diam saat suami melepaskan emosinya adalah hal yang lebih tepat dibandingkan terus menjawab dengan perasaan dan logika apapun dari seorang perempuan. Jika memang perlu berkata menerangkan, maka terangkan dengan santun dan baik. Jangan berkata yang hanya menimbulkan pertentangan dan menambah runyam keadaan.
  • Diam menahan diri untuk tidak membuat “pengumuman” dalam bentuk apapun di social media. Mungkin zaman dulu, tidak perlu ada poin ini. Namun kini, di saat ada facebook, twitter, instagram, whatsapp dan lain-lain terbentang lebar menggoda seseorang untuk melontarkan segala apa yang ada di otak dan perasaannya sebagai bentuk luapan kekesalan – yang tidak pada tempatnya -, poin ini menjadi begitu penting.

Tak Diam

Jika terus berdiam diri hanya akan menambah kesempatan setan untuk menjejalkan berbagai hal buruk tentang suami dan masalah yang kita hadapi, maka Anda bisa tak diam dengan melakukan hal berikut.

  • Ambil wudhu, sholat atau bacalah Qur’an.
  • Mainlah dengan anak-anak dengan aktifitas yang “lepas” dan menyenangkan. Meniup gelembung sabun, bermain siram air atau hal lainnya yang membuat anak-anak tertawa bahagia -, maka semoga Anda pun menjadi bahagia -. Syukurilah nikmat itu.
  • Bicaralah dengan kawan-kawan Anda. Bukan..bukan untuk curhat masalah yang sedang terjadi di rumah tangga Anda. Tapi untuk berbincang ringan. Berbagi manfaat.Hal ini insya Allah juga akan meredakan rasa sesak di dada. Membuat pikiran Anda lebih terbuka.Curhat tentang masalah prahara rumah tangga bisa jadi malah menambah sesak karena Anda tak mendapatkan solusi positif dari permasalahan – yang sebenarnya anda dan suamilah yang paling tahu letak masalahnya dan sebenarnya bisa mencari solusinya -.Dengan curhat, bisa jadi yang bertambah malah kebencian kepada suami Anda – , membuka aib suami atau rumah tangga. Dan jika curhat itu kepada orangtua, maka hal itu bisa mengurangi rasa cinta dan kepercayaan dari orangtua kepada suami Anda.

Maka jika prahara rumah tangga melanda, yuk endapkan dulu baik-baik masalah tersebut. Biarkan air yang keruh kembali jernih. Coba selesaikan masalah itu terlebih dahulu berdua bersama suami. Jangan buru-buru “mengumumkan” persoalan rumah tangga – yang tidak ada keluarga manapun bebas darinya -. Semoga Allah memudahkan kita bersama suami terus saling menasihati dan membangun ketakwaan kepada Allah Ta’ala.

Oleh: cizkah ummu ziyad
Artikel: ummiummi.com
.

 

Ternyata Berarti Bagi Mereka

Cerita tentang Khodimah (aka ART atau yang sering disebut sebagai pembantu)

Dulu, pernah aku seringkali mengharapkan ada ART. Melihat fulanah enak sepertinya bisa senggaang mo ngapa-ngapain. Apalagi kalau anaknya disekolahin. Kayanya waktu luang jadi seperti waktu masih gadis aja. Sedangkan aku, anak-anak homeschooling dan masih dengan tanggung jawab lainnya.  Dalam bayanganku, punya ART berarti enak :D.

Ternyata Allah berikan rezeki punya ART pas hamil Luma kemarin. Kita sebut namanya mba N. Karena pengalaman sebelum-sebelumnya yang kalo aku hamil itu, tenaga kaya tinggal 20% hehe. Tapi, menjelang Luma lahir, aku udah minta ke abang, untuk stop saja. Aku mulai tidak nyaman dan merasa tidak mengenal dan “menguasai” medan rumah. Waktu itu tugas utama mba N memang membantu cuci piring, setrika, jemur baju dan bersih rumah. Mencuci baju, masak dll masih aku kerjakan sendiri. Tapi lama-lama aku seperti kehilangan privacy. Mau tidur mesti mencocokkan dengan datangnya mba N -apalagi waktu itu lagi hamil. Plus aku jadi banyak gak tahu letak barang :D. Ini sesuatu yang penting banget bagi aku. Kemudian qodarullah, ada alasan lain lagi yang membulatkan kami berdua untuk berhenti meminta bantuan mba N. Waktu itu usia Luma sekitar 3 bulan. Ziyad dan Thoriq tentu saja masih di rumah, belajar bersamaku. Jadi sekitar setahunan aku menikmati keberadaan ART.

Ternyata punya ART tidak membahagiakanku sebagaimana yang aku pikirkan waktu dulu.

Aku jadi merasakan bahwa ga ada ART itu juga membahagiakan. Bisa cuci piring sampai bersih berkilat itu menyenangkan. Bisa mengatur kembali semua barang-barang dan lain-lainnya itu menyenangkan.

Baca selengkapnya Ternyata Berarti Bagi Mereka

It Can Be Sooo Complicated…

Pekerjaan rumah tangga itu…satu haaal aja…bisa jadi complicated pelaksanaannya. Makanya mungkin bagi orang yang belum mengalaminya atau mungkin ada juga para suami yang kemudian menganggap, ‘perasaan gampang deh, kalo aku kerjain’, ‘cuci piring kan gitu aja…’, ‘itu aku lihat kalo pembantu yang kerjain ko cepet banget ya..berarti kan gampang’. Daan berbagai keraguan bahwa pekerjaan rumah tangga itu…bisa jadi complicated, butuh kesabaran tinggi, perjuangan…dan tentu saja yang paling utama…butuh banget pertolongan Allah.

Satu contoh aja nih…jemur baju kaya yang kemarin aku alami.

Jemuran kali itu itu, sudah  dua hari melambai-lambai diterpa angin. Itupun jemuran hasil dua kali mencuci. Jemuran itu memang posisinya di dalam teras. Cuma sudah dekat sekali dengan tepi atap. Plus lagi ternyata ada beberapa baju yang sempat dijemur abang di samping rumah.

Di dalam rumah, ada seember besar cucian yang sudah mesti dijemur.

Rencananya…

Kalau dengan pikiran “gampang” sih ya udah ambil aja tuh jemuran di luar terus jemur yang baru kaan?

Kenyataannya…

Baca selengkapnya It Can Be Sooo Complicated…

Belum Tamyiz…

Suka lucu kalau ngobrol sama Thoriq. Dari sisi dia yang suka kontroversi…kita bilang kanan…dia bilang kiri. Kadang pake gak nyambung juga…udah gitu tetep dilanjutin.

Pagi-pagi bangun nyamperin kita di kamar. Aku lagi nenenin Luma. Dia dipeluk-peluk sama abinya sambil tiduran.

Terus sampai ke pembicaraan,
Ummi: “Temen ummi ada yang anaknya sakit cacar..”

Thoriq: “Apa Mi? Cadar?”

U: “Bukan…caacarrr…itu lho sakit yang mirip kaya Thoriq dulu. Gatal…ada airnya…tapi kalo Thoriq flu burung…apa flu singapur ya?”

T: “Burung? Terbang kaya kupu-kupu itu ya…wiii wii…wii ( kaya suara robot terus tangannya bentuk kaya sayap kupu-kupu sambil ngepakin sayap.”

Gak nyambung atuh Thoriiq…jauh bener arah pembicaraannya.

Baca selengkapnya Belum Tamyiz…

Sambungan Cerita Tahsin

Waa….lama benerr ya mo nyambungin cerita yang kemarin. Sebenarnya, padahal mo cerita yang lainnya juga. Jadi dari kemarin nungguin link-link video bagus dari abang yang bisa diambil pelajarannya sesuai yang pingin aku tulisin. Balada aku tahunya juga dari abang. Mo ngesearch sendiri juga gak ketemu-ketemu. Akhirnya ini ngedownload manual dari facebook abang terus aku upload lagi. Pas ngedownload gak merhatiin ukuran…ternyata ukuran yang paling kecil. Gpp, yang penting suaranya masih jelas ya. Karena yang kita butuhin untuk materi pendukung postingan ini adalah suaranya hehe.

Baca selengkapnya Sambungan Cerita Tahsin