
Category: Rumah Tangga-Keluarga
Ziyad dan Thoriq Punya Adik Perempuan
Namanya Sofia Yusya. Umurnya 7 bulan.
Anak susuanku…^^
Cerita Mudik Bagian 2: Travel oh Travel…
Mari kita masuk ke cerita yang insyaAllah bisa jadi masukan untuk teman-temanyang belum pernah merasakan jasa angkutan umum yang bernama travel.
Singkat cerita, karena kami memutuskan mudik itu ya rodo dadakan dan tiba-tiba. Terus waktu kami membuat keputusan itu adalah pas zaman-zamannya arus balik orang abis mudik. Jadinya, semua tiket mahal-mahaaal, dan semua tiket ternyata sudah habiiis. Ckckck…tiket kereta aja sampe Rp 500.000 (gimana gak mikir panjang mo mudik kalo pas lebaran gini?). Tapi yang mahal kaya gitu ternyata udah abis loh. Tadinya aku masih berharap dan kepikiran mau pulkam pakai bis, yang berarti perjalanan 3 hari 2 malam. Itupun baru sampe Jambi bagian kota. Belum ke daerah dusun Mersam. Tapi abang udah say no dengan yakin. Gak kuaaat…bawa bayi gitu loh. Dulu tahun 2008 aja udah capeknya bukan main, padahal baru 1 anak.
Cerita Mudik Bagian 1: Antara Silaturahim dan Shodaqoh
Beberapa waktu yang lalu, aku baru sadar, ternyata ada yang sama dari ibadah silaturahim dan shodaqoh.
Kondisi 1
Untuk orang-orang yang tempat tinggal orangtua/keluarganya dekat, hubungan dengan keluarga harmonis adem ayem, maka menjalin silaturahim itu seperti orang kaya yang punya duit yang gak usah dihitung-hitung yang tinggal keluarin di saat dia mau atau dibutuhkan. Tinggal lagi tentu aja membiasakan diri untuk menjalin silaturahim atau membiasakan diri untuk menjadi seorang yang dermawan dengan apa yg dimiliki.
Baca selengkapnya Cerita Mudik Bagian 1: Antara Silaturahim dan Shodaqoh
Caesar Lebih dari 3x? Ternyata bisa!

Ini adalah screenshoot salah satu diskusi di group SHS di FB. Ceritanya mba Henny – atau tepatnya dr. Henny – (aku gak tau privacy beliau di FB, jadi mending aku samarin aja nama yg dipakai ya), lagi ngasih tau dalam penantian buah hati keempat. Makanya aku langsung komentari lagi di bawahnya sebagaimana dalam screenshoot.
Baru kali ini ada info ternyata caesar lebih dari 3x. Masya Allah. Pas aku cerita ke abang, beliau bilang, “Mungkin bla bla…jadinya orang mikirnya terbatas punya anak.” : D Trus biasa deh, ujung-ujungnya minta mba Henny nulis tentang itu buat ummiummi.com. Hehe…mudah-mudahan mau ya.
Vacation…
Tak seperti pasangan lain, yang dengan mudahnya mudik ke rumah orang tua untuk leyeh-leyeh selama beberapa hari, untuk melupakan tumpukan setrikaan, ceceran mainan yang tak berhenti tiap hari, dan hiruk pikuk yang sama setiap harinya…aku dan bang Hen baru sekali…- baru aku sadari kemarin, ternyata hampir 5 taun usia pernikahan kami!-, mudik ke Jakarta, dan baru sekali juga suami mudik ke Jambi.
Telu Likur
Hari itu aku belanja lebih pagi. Dan itu berarti berbarengan dengan ibu-ibu lain yang sengaja belanja pagi karena lauk pauk yang dibeli akan langsung dimasak hari itu juga.
Aku tak terlalu lama memilih-milih. Tumben-tumbenan bu Jum, sang pemilik warung menghitung belanjaanku dengan bahasa Jawa. Mungkin karena ibu-ibu di sekitar memang menggunakan bahasa Jawa, dan salah satu ibu membantu bu Jum menghitung belanjaanku, juga dengan bahasa Jawa.
Hasilnya…”Telu likur”, kata bu Jum.
Baca selengkapnya Telu Likur
Perkembangan Kemampuan Memasakku : D
Catatan penting, orang yang suka masak itu belum tentu bisa masak. : D
Tapi aku itu termasuk orang yang suka masak gak ya. Jadi gak pede. Udah 4 tahun nikah, bisa dikatakan kemampuan masaknya kayanya standar-standar aja. Hehe. Resep yang paling dihafal ya yang dulu zaman kos juga afal. Ayam kecap, sayur tumis yang bumbunya cuma bawang merah, bawah putih, cabe, garam dan sedikit campuran merica dan gula. Sayur sop yang cuma pake bawang merah dan putih.
Rencananya…
Rencana #1
Waktu ngelairin Ziyad, di ruang bersalin itu ada aku dan seorang ibu lagi yg akan melahirkan anak keduanya. Pembatas kami cuma tirai. Na, walau aku – alhamdulillah – gak marah-marah, gak teriak-teriak, gak nangis, dll dll selama kontraksi itu, aku “sedikit” merengek menanyakan, “Masih lama ya mbaa…” ke mba Dina – bidan pembantu – yg nungguin aku sampe pembukaan sempurna. Itu nanyanya pake nada merengek loh hehe.
Bukan Selalu Salah Istri
Sebenernya pingin posting tentang ini udah lama. Cuma waktu itu sengaja gak langsung dengan beberapa pertimbangan. Terus baca postingan di blognya Mutia, mo nulis komentar kok jadinya panjang huhu, ya uda deh sekalian bikin postingan aja.
Istri Antum Gimana Ini…
Antum dalam bahasa Arab artinya kalian, cuma utk afdholiyah (kalo ga salah ya), sering digunakan utk orang kedua tunggal (kamu). Nah, kalimat tersebut keluar dari seorang ustadz yang ketemu seorang laki-laki yang baru menikah, tapi pakaiannya kusut dan kurang tertata, ya bisa dibilang penampilannya lecek deh. (Oya, ini yang cerita abang karena ada di tempat kejadian).
Ustadz tersebut mengomentari, “Istri antum gimana ini?” Kebetulan waktu itu, ikhwan tersebut baru aja nikah.
SelanjutnyaUstadz tersebut bahkan sangat membanggakan istrinya, “Kalo istri ana (saya) , kalo ana keluar mesti licin semuanya.”
Love You Abang…
Seperti udah diceritain di postingan sebelumnyah, aku masih keluar flek-flek coklat (yang alhamdulillah bukan Ketuban Pecah Dini).Tapi karena itu tetep aja flek, aku mesti gak terlalu banyak jalan-jalan. Ya spt aku juga udah bilang, krn aku ngerasa ini kok perutnya juga pake kenceng-kenceng, jadi malah lebih khawatir dari pas pendarahan kemaren.
Jadinya, setelah periksa hari Senin, dan malamnya aku masih keluar darah warna merah disertai kontraksi, hari Selasanya aku udah gak boleh ngapa-ngapain sama bang Hen. Semuanyaa dikerjain sama bang Hen. Cuci piring, nyapu rumah, masak nasi, masak air (kalo ini mesti diingetin, hehe, namanya juga laki-laki, gak biasa kan sama rutinitas kaya gitu). Yang gak dikerjain sendiri cuma urusan baju kotor. Kalo ini, akhirnya kita nge-laundry lagi. Walaupun udah ada mesin cuci, soalnya abang gak sempet kalo emang bener-bener mesti handle semuanya, nyuci baju kan mesti ada acara jemurnya, acara ambil jemuran dan acara lipet2 baju dan nyetrika baju yg mau dipake kerja.
Memiliki Anak adalah Anugrah
Akhir-akhir ini, di saat berpayah-payah di trimester pertama, banyak hal-hal yang membuat aku “tersadar” untuk semakin bersyukur walaupun si abang juga tak henti-hentinya mengingatkan aku untuk bersyukur dengan anugrah kehamilan ketiga yang sampai sejauh ini baik-baik kondisinya alhamdulillah.
Insya Allah Pindah Rumah (Lagi?)
Proses keputusan, “Iyah, kita pindah aja”, gak semudah dan gak setiba-tiba ini kok. Proses berpikir dan gundah gulananya lama. Dan ketika sudah diputuskan pun, aku masih gelisah. Soalnya berkaitan dengan pengeluaran yang gak sedikit (bahkan pinjem2 : D) dengan harapan tentunya segala sesuatunya harus lebih baik dari kemarin.
Masih Malu Dikatakan Ibu-Ibu
Kemarin ada yang review website ini * jadi malu *. Tapi disitu banyak kata “ibu-ibu”nya. Hehehe…aslinya masih suka malu kalau dibilang ibu-ibu. Jujur juga masih belum ngerasa jadi ibu-ibu sihh…Kayanya si abang juga belum ngerasa jadi bapak-bapak. Maksud ibu-ibu dan bapak-bapak disini adalah orang yang sudah berumur dengan gaya tertawa ibu-ibu dan bapak-bapak yang khas dan nada bicara yang juga khas, berirama, berwibawa etc.
Makanya kalau kami sedang keluar bersama, kemudian ada yang manggil aku “Bu.” (maklum, gak kelihatan mukanya, cuma kelihatan bawa anak), biasanya abang langsung godain atau mesti dibahas di perjalanan. “Tadi adek dipanggil, Bu ya.” Hehehe…
Dulu waktu hamil Ziyad Syaikhan mulai besar, terus jalannya udah mulai lambat dan agak melebar, abang juga suka godain, “Kaya ibu-ibu…” Heheheh…tapi sekarang suka diterusin sih, “Lha emang udah jadi ibu-ibu kan?”
Suamiku yang Jayus tapi Lucu
😛
Abis becanda lagi sore ini. ALhamdulillah…alhamdulillah…canda gurau suami istri bukan sesuatu yang sia-sia ya di dunia ini.
Ceritanya, koneksi internet lagi luambat banget dari kemarin. Hari ini lebih parah lagi. Untuk domain-domain yang pakai server indonesia, semacam ekonomisyariat, detik, klikbca gak bisa dibuka blas.
Jual Sepeda Ontel Tahun 1959
Hari ini aku membulatkan tekad untuk menjual sepeda ontel yang sebenarnya baru kubeli sekitar 2 bulan yang lalu. Sebenarnya, waktu dari awal beli sudah senang, bahkan aku harus mengayuh perjalanan yang cukup panjang dari tempat pembelian sepeda ontel tersebut sampai ke rumah.