Kegiatan Belajar Anak: Pra Sekolah

Masih berkaitan dengan tulisan yang lalu, kegiatan belajar bersama anak usia pra sekolah sebenarnya masih ringan.

Kalau ada yang merasa masih ragu-ragu untuk memilih sekolah atau homeschooling, masa-masa ini malah masa yang bagus untuk latihan.

Usia ini belum ada tuntutan ijazah atau semacam itu. Orang tua atau keluarga di sekitar juga belum banyak yang mempertanyakan hal-hal yang berbau sekolah atau prestasi akademik.

Sebenarnya godaan terbesar biasanya justru dari orang tua itu sendiri. Godaan biar anak sosialisasi. Godaan supaya lebih ringan tugas di rumah karena anak sudah ke sekolah. Godaan ini dan itu.

Maka, kembali lagi ke hal yang sudah disampaikan di artikel pertama, yaitu visi orang tua untuk pendidikan anak. Perbaiki niat saat memutuskan anak akan dimasukkan ke sekolah apalagi di usia dini. Selami juga benar-benar tujuan sosialisasi sebenarnya itu apa dan bagaimana?

Anggaplah anak memang nantinya akan sekolah.
Maka, anggap saja ini masa-masa bonding sebelum mereka akhirnya sekolah.

Kalau ada pikiran untuk menyekolahkan anak karena merasa kerepotan karena ada adik yang baru lahir…maka…jangan terburu-buru. Sabar dulu. Justru ini momen berharga untuk membentuk hubungan yang lebih erat antara si kakak dan adik. Saat-saat kita mendidik si kakak, ada adik yang ikut melihat dan mendengar.

Ingat terus, bahwa dalam setiap langkah kita, kita butuh untuk minta pertolongan ke Allah. Kalau alasannya repot, maka minta tolong kepada Rabb yang bisa membuat segalanya jadi lebih mudah.

Untuk lanjut pembicaraan tentang kegiatan belajar anak pra sekolah, kalau ada yang belum membaca artikel tentang “Memahami Jenis Kegiatan Belajar Anak,” tolong dibaca dulu ya. Biar nyambung dengan paragraf setelah ini.

Kegiatan Bersama Anak Usia Pra Sekolah

Berbeda dengan anak-anak usia sekolah, dua jenis kegiatan belajar anak-anak di usia pra sekolah secara umum seakan lebur. Semua hal bisa saja menjadi menjadi momen kita mengajar anak (formal teaching) dan juga bisa menjadi kesempatan belajar anak (learning opportunity) .

Mulainya bisa kapan saja. Bisa dari bayi baru lahir.

Gak ada waktu khusus untuk memulainya. Kurang tepat jika ada yang mengatakan mau homechooling nih, tapi diundur-undur terus.

Mulai saja. Karena homeschooling itu bukan label yang kita harus nurut sama label tersebut. Tapi mari dibalik. Mari kita berusaha niat menjalankan pendidikan ke anak di rumah.

Jangan terjebak pada istilah yang kemudian malah menjadikan kita menunda kegiatan pendidikan yang sebenarnya bisa dijalankan kapan saja. Tidak perlu pendaftaran, tidak perlu mengisi formulir, tidak perlu bayar uang bangunan atau semacam itu.

Apa Saja yang Dipelajari?

Ibadah harian dari bangun tidur sampai tidur lagi bisa menjadi kesempatan formal teaching. Misal ketika anak bangun, kita bacakan doa bangun tidur. Masuk kamar mandi, baca doa masuk kamar mandi. Keluar kamar mandi baca doa. Mau makan, baca doa, Selesai makan baca doa. Daan seterusnya.

Hal-hal yang dikerjakan bersama kita sebenarnya merupakan kesempatan belajar. Bahkan hal yang dilakukannya sendiri atau bersama anggota keluarga yang lain juga merupakan kesempatan belajar.

Belajar untuk berbagi. Belajar untuk mengalah. Belajar untuk menahan emosi. Belajar untuk antri, daan seterusnya. Kita saja yang kadang merasa anak tidak belajar padahal mereka sebenarnya belajar sesuatu. Bukan dari kegiatan di balik meja. Tapi dari kegiatan sehari-hari.

Untuk membantu agar setiap momen bisa menjadi momen mengajar, semoga Allah mudahkan penulisan kurikulum kehidupan anak islam yaa.

Belajar Al-Qur’an

Mulai kapan belajar Al-Qur’an? Sejak masih bayi. Bisa dimulai dengan memperdengarkan bacaan murottal Al-Qur’an yang dipasang 1 juz/bulan.

Saat anak sudah mulai bisa berbicara, orang tua sudah bisa pelan-pelan intensif dan bertahap menalqin bacaan surat-surat pendek. Dimulai dari surat Al-Fatihah.

Pada awalnya memang bacaan mereka masih tidak sempurna. Lanjutkan saja.

Cara menerapkan kegiatan belajar Al-Qur’an insya Allah aku bahas di tulisan tersendiri juga ya.

Aktifitas Bersama Anak

Kegiatan homeschooling bersama anak tidak melulu berarti orang tua harus mempersiapkan aktifitas penuh rencana. Hal ini yang biasanya justru membuat orang tua terbebani.

Ketika kegiatan belajar formal dan learning opportunity masih lebur, kegiatan belajar bisa berlangsung kapan saja namun bukan dalam bentuk layaknya belajar di kelas. Bentuk-bentuk belajarnya lebih ke kegiatan bersama anak. Misalnya senandung hijaiyah, senandung alphabet, senandung hari, senandung angka. Atau bisa dalam bentuk percakapan yang ternyata diselipi berbagai hal “mendidik” untuk anak.

Saat orang tua sudah ingin menerapkan formal teaching secara lebih teratur, satu hal yang perlu diingat adalah lakukanlah secara bertahap. Terutama pada tahap awal, jangan langsung memberikan berbagai materi belajar membaca hijaiyah, membaca latin, berhitung langsung pada satu waktu.

Peralatan Kegiatan Bersama Anak

Stok peralatan ini sebenarnya sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan formal teaching. Tapi ada juga yang malah lebih ke permainan. Ah, lagi-lagi, jangan remehkan dunia bermain mereka. Yang bagi kita bermain, tapi ternyata di sana ada banyak manfaat yang dapat mereka ambil. Apalagi kalau ternyata kita ikut dalam permainan bersama mereka.

  • Balon,
  • Crayon,
  • Kertas,
  • Pensil warna,
  • Cat air,
  • Plastisin,
  • Jepit jemuran,
  • Klip kertas,
  • Gunting yang ujungnya tidak tajam,
  • Lem
  • Kancing besar dan kancing kecil
  • Buku aktifitas
  • dan lain-lain bisa kita sediakan di rumah.

Tidak Menggunakan Bahan Makanan untuk Permainan

Salah satu hal penting saat melakukan aktifitas bersama anak adalah kita tidak boleh menggunakan bahan makanan yang masih bisa dimakan. Misal menggunakan terigu untuk dijadikan plastisin, mewarnai beras untuk dibuat untuk permainan sensory atau kolase.

Karena Islam menghindari sikap tabdzir. Menggunakan bahan makanan sebagai mainan juga dikhawatirkan termasuk sikap menyia-nyiakan dan menghinakan nikmat Allah.

Salah satu contoh yang pernah Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan jika ada makanan yang jatuh, maka kita berusaha membersihkan bagian yang kotor dan tetap memakan yang masih bisa dimakan.

Sebagaimana sabda beliau shallallahu’alaihi wasallam

إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ ) ، وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ قَالَ : ( فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمْ الْبَرَكَةُ ) .

Jika sepotong makanan salah seorang diantara kalian terjatuh hendaknya ia membuang kotoran darinya kemudian memakannya. Dan janganlah membiarkannya untuk setan.” Beliau memerintahkan kami agar membersihkan makan yang tertinggal di piring (dengan tangan). Kemudian bersabda, “Sesungguhnya kalian tidaklah tahu, makanan mana yang mengandung berkah.” (HR. Muslim)

Penjelasan tentang mainan anak-anak dari makanan bisa dibaca di tautan di bawah ini ya.

Demikian semoga bermanfaat. Semoga Allah mudahkan lanjut ke bahasan lainnya di seri homeschooling ini.

cizkah
16 Oktober 2019

Leave a Reply