Lebaran 2025

Lebaran kali ini, tetap di Jogja aja, alhamdulillah. Dari pernikahan yang udah mau 19 tahun ini -alhamdulillah-, pernah mudik, lebaran di Jambi sekali, di Jakarta dua kali. Selain itu, kami lebaran di Jogja aja.

Karena bertahun-tahun lebaran di Jogja, ada hal yang kami udah tahu dan antisipasi. Misalnya warung-warung yang bisa dibilang 100% tutup. Jadi, semakin lebaran, semakin malah harus siap masak lauk. Karena kalau mau cari lauk matang di luar itu malah cape kelilingnya. Belum tentu yang didapat lauk yang memang sesuai harapan.

Di tulisan kali ini, aku mau catat berbagai hal terkait sebelum lebaran dan cerita lebaran insya Allah.

Antara Ramadhan dan Lebaran

Masing-masing keluarga, menjalankan aktivitas Ramadhan dan persiapan lebaran itu banyak faktor yang berpengaruh. Apakah merantau, apakah ada lebaran bersama keluarga besar, apakah masih kerja sampai hari terakhir Ramadan….daan masih banyak faktor lainnya yang bisa berpengaruh.

Baca selengkapnya Lebaran 2025

Resep Kuah Santan untuk Es

Buat bukaan puasa, kami suka selang-seling antara bukaan dengan blewah, bukaan dg kuah santan —yang diisi berbagai isian— atau dengan es buah (yang untuk tahun 2023 ini gak dilakuin karena berbagai hal).

Kenapa sih diselang-seling. Karena blewah gak selalu dalam kondisi matang. Juga untuk variasi.

Jadi, misal aku baru stok 3 blewah untuk 2 hari. Berarti hari itu aku udah ready dengan bukaan jenis pakai kuah santan, karena biasanya kondisi blewah yang sampai ke rumah belum matang (masih muda). Blewah itu cepat matang ya, jadi esoknya udah bakal pakai bukaan blewah lagi.

Baca selengkapnya Resep Kuah Santan untuk Es

Anak-Anak dan TPA Ramadhan

Mau cerita yang lain-lain. Tapi ternyata banyak hal yang terkait dengan TPA Ramadhan ini. Biar bisa fokus ketika cerita tiap bahasan, jadi aku mau cerita tentang TPA Ramadhan dulu.

Di Kampung kami ini, setiap Ramadhan, di masjid dekat rumah, diadakan TPA tiap sore. Semuanya senang karena anak bisa menghabiskan waktu di sore hari dengan kegiatan bermanfaat sambil menunggu waktu berbuka.

Di sana juga, jadinya semua anak di kampung ini benar-benar berkumpul. Lebih banyak dari hari-hari TPA di bulan lainnya.

Ada hal lain yang menarik buat mereka. Setiap pulang dari masjid, mereka akan mendapatkan kotak makan takjil untuk berbuka. Biasanya berisi nasi lauk pauk dan minuman.

Baca selengkapnya Anak-Anak dan TPA Ramadhan

Kembar Puasa

Alhamdulillah kemudahan dari Allah. Sampai hari ini, kembar ikut puasa Ramadhan. Full day langsung dari hari pertama.

Usia mereka sekarang 5,5 tahun.

Sebenarnya, keinginan mereka untuk puasa itu udah ada dari kemarin-kemarin. Karena hutang puasa aku lumayan banyak dan belum lunas, bulan Rajab aku mulai intensif ngejar menyelesaikan qodho puasa.

Setiap mereka tahu aku lagi puasa (bukan hanya ketika bulan Rajab kemarin), mereka juga pingin puasa. Aku bilang insya Allah nanti ya pas bulan Ramadhan. Aku pikir, insya Allah sepertinya mereka udah bisa diajarin pelan-pelan. Dalam arti, aku masih belum terlalu yakin. Alhamdulillah, Thoriq dan Luma juga mulai puasa full ketika mereka sudah usia 6 tahun.

Ketika sahur, biasanya masih ngantuk. Habis sahur, bakal main-main kaya biasa.

Hari Pertama

Waktu sahur hari pertama, karena sudah janji, aku bangunin mereka.

Ternyata mereka beneran mudah dibangunin karena sudah niat mau puasa itu. Padahal, mereka kan tidurnya malam banget. Alhamdulillah tetap cepat bangunnya, diajak pipis dan kumur-kumur dulu.

Sahur hari pertama itu masih gak terlalu yakin mereka bakal puasa beneran full apa engga. Yang penting aku penuhin janji untuk bangunin mereka sahur dan ngajak mereka puasa. Jadi, nyuapin dan nyuruh mereka minum ya masih yang santai.

Ternyata, besoknya, mereka beneran gak seperti kesulitan alhamdulillah. Paling mereka nanya dan ngomong ketika udah jam 5-an sore.

“Buka, Mi?”
“Masih lama, Mi?”

Hehe, karena udah jam 5, jadinya malah tambah aku dorong untuk sabar, sebentar lagi dan seterusnya. Alhamdulillah, walau mereka gak TPA, mereka kan berdua udah kaya sahabatan. Jadi, ngabisin waktu tersisa itu gak kerasa karena udah asyik main berdua. Ini kemudahan dari Allah.

kembar puasa usia 5 tahun

Asupan

Untuk anak-anak semisa Luma, Thoriq dan Kembar, aku beri VCO tiap sahur terutama ketika kemarin-kemarin masa corona. Kalau sekarang, Thoriq gak terlalu soalnya stok vconya juga udah tinggal dikit heheh. Belum beli lagi, jadi diutamakan untuk Luma dan kembar. Terutama bahkan Kholid yang ada kecenderungan batuk-batuk seperti Thoriq kalau kena dingin. Saat sahur segera dikasih VCO dan tolak angin anak. Alhamdulillah biasanya reda dan bisa tidur. Ketika bangun udah gak batuk lagi. Agak cemas kalau sudah batuk karena biasanya mesti macam-macam buat ngeredainnya.

Tahun ini, Abang agak kurang intensif bikin jamu homemade. Karena sudah lelah mengantar anak-anak bolak-balik ujian paket. Sedangkan aku memang biasanya gak handle bikin jamu karena masih ada tanggung jawab lainnya. Intinya sih, aku gak biasa bikin jamu hehe. Itu seperti jadi pembagian tugas yang tak terucap dan disadari masing-masing pihak :D.

Kemungkinan Abang gak bisa bikin jamu ini, jadi pembahasan kami sebelum puasa. Akhirnya alternatifnya, Abang beli ekstrak kunyit dan jahe merah. Ekstrak kunyit ketika diseduh rasanya lebih ke rasa temulawak dan kekurangannya serbuknya agak kurang nyaman untuk anak-anak. Jadinya, gak sering bikin untuk mereka.

Jadinya lebih ke vitamin anak-anak aja yang diminum ketika malam (bukan ketika sahur). Kadang-kadang juga kami beli Kiranti.

Hafalan di Sore Hari

Kalau sudah sore dan aku sedang masak, kakak-kakaknya sudah berangkat TPA, aku malah ajak mereka hafalan supaya mereka gak merasakan waktu berjalan panjang.

Alhamdulillah mereka juga mau dan gak kelihatan lemas atau gimana.

Kadang-kadang aja mereka goda-godain aku dan ngomong, “Buka, Mi?” beberapa kali.

Aku malah jawab, “Ummi gak mau maksa. Kalau kalian mau buka ya gpp. Nanti kalian rasain gimana rasanya buka di tengah jalan. ”

Jadinya malah mereka cengar-cengir ketawa dan ya gak mau buka. Nerusin main mereka.

Gak Ikut TPA

Mereka belum ikut TPA. Karena untuk usia mereka, memang kami gak melepas anak main atau beraktifitas sendirian di luar rumah tanpa pengawasan.

Walaupun ada Ziyad, Thoriq dan Luma, tetap aja bukan yang akan bisa mengawasi sebagaimana layaknya seorang ibu :).

Jadi, kalaupun mereka sesekali aku ajak ke TPA seperti kakak-kakaknya dulu, ya sekedar cuma mampir dan menengok aja. Bukan untuk beraktifitas sebagai santri TPA hehe. Karena mereka alhamdulillah juga udah belajar di rumah. Jadi lebih untuk selingan kegiatan mereka aja.

Selama 17 hari puasa, baru sekali mereka berhasil aku ajak ke TPA. Itu juga karena mereka minta. Kalau Handzolah pernah dengan bang Hen. Kholid gak mau keluar kalau bukan sama aku.

Kenapa gak bisa sering-sering. Karena aku biasanya masih masak dan berakifitas di rumah. Plus juga nunggu momen yang tepat. Gak mungkin kan ninggalin Abang di rumah sama H (yang bantu di rumah). Pilihannya, nyuruh H pulang lebih cepat, atau Abang ikut juga ke TPA hehehhe. Begitulah salah satu perjuangan aku untuk keluar dengan kembar.

Tapi alhamdulillah mereka juga gak pernah yang maksa-maksa atau merengek untuk ikut terus ke TPA. Karena insya Allah di rumah juga tetap bisa beraktifitas menyenangkan.

Hadiah?

Untuk hadiah puasa, dari dulu aku gak bilang ke anak-anak, “Kalau kalian puasa full, kalian akan dapat begini dan begitu.”

Gak seperti itu. Karena itu seperti jadi prasyarat. Jadi lebih ke kalimat lepas aja semisal, “Insya Allah nanti beli hadiah ya buat kalian. Nanti boleh dibuka pas lebaran insya Allah ya.”

Itupun setelah proses berjalan dan melihat prosesnya mereka. Bukan diomongi dari awal. Malah khawatir menganggu fitrah keinginan beribadah yang sudah muncul dari mereka.

Gak pernah juga kasih hadiah uang sesuai mereka full day atau half day puasanya. Alhamduilllah, Allah beri petunjuk untuk ikut berpuasa ke anak-anak tanpa perlu diiming-imingi ini. Benar-benar smooth tanpa tangisan atau rengekan karena memang keinginan untuk ikut berpuasa dari mereka alhamdulillah.

Semuanya karunia dari Allah.

Bisa ngebayangin aku bangunin 5 anak tiap sahur? ^^

cizkah
Ramadhan malam ke 18/20 April 2022

Kegiatan Ziyad Bulan Ramadhan; Libur Belajar Sekolah…Terus Ngapain?

Ziyad (9th) sudah mulai puasa penuh sejak umur 7 tahun alhamdulillah. Berarti ini puasa tahun ke-3 untuk dia. Momen dia belajar full puasa itu kan juga di tahun yang sama pas dia mulai homeschooling tingkat SD. Nah…berdasarkan pengalaman selama 2 tahun kemarin, proses belajar formal di rumah itu berkurang drastis kalo:

  1. Pas ada nenek kakek/oma opanya datang atau
  2. Pas bulan puasa, karena ketika puasa, waktunya jadi berasa sempiiit banget.

Kalau kedua sebab itu barengan ada, berarti lebih-lebih lagi kan hehe.  Karena 2 tahun kemarin ada mertua di sini pas lagi bulan puasa.

Ramadhan Kali ini

Nah, karena Ramadhan kali ini gak ada mertua, aku pikir bisa tetap belajar sedikit-sedikit. Jadi, pas hari-hari awal, masih sempat belajar sedikiiit. Kayanya cuma aku kasih soal-soal atau ngerjain tugas.

Baca selengkapnya Kegiatan Ziyad Bulan Ramadhan; Libur Belajar Sekolah…Terus Ngapain?

Video Doa Buka Puasa Sahih untuk Anak-Anak


Apa yang kita dengar sedari kecil belum tentu benar. Bisa karena ilmu pengetahuan kita yang terbatas, bisa juga karena ilmu pengetahuan itu sendiri yang berkembang berdasar penemuan terbaru.

Contohnya jumlah planet di Galaksi Bimasakti (Milky Way).

Dalam urusan syariat, seringkali doa yang kita ketahui lebih karena sering di dengar dan pada umumnya dibaca (ilmu pengetahuan kita terbatas). Kita jarang (atau tidak pernah) diperkenalkan dengan yang namanya hadits sahih atau palsu atau dhoif.

Alhamdulillah, sekarang, pengenalan dan pemahaman tentang pentingnya hadits sahih untuk beramal semakin dikenal. Sehingga kita bisa memperkenalkan doa-doa kepada anak kita, sesuai yang diajarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah satunya adalah doa berbuka puasa. Ternyata doa yang biasa kita lafalkan atau dengar di waktu kecil, yaitu doa “Allahumma lakasumtu…” bukan merupakan doa yang sahih dari Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun doa yang sahih dari Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Artinya:

“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.”

(HR. Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani).

Doa ini dibaca setelah berbuka. Adapun ketika berbuka, membaca doa sebelum makan seperti biasa, yaitu dengan bacaan “Bismillah”.

Nah, supaya anak-anak lebih mudah menghafal doa ini melalui audio dan visual, (sebagaimana kita juga dulu terbiasa mendengar doa ini dari televisi :)), yuk perdengarkan doa ini melalui video yang dibuat khusus untuk anak-anak ini.

Semoga bermanfaat.

cizkah
Jogja 21 Juni 2016/16 Ramadhan 1437

Artikel www.ummiummi.com

Tips Mengkhatamkan Al-Qur’an di Bulan Ramadhan untuk Ibu-Ibu; Spesial untuk Tips ke-5 (Disertai Video)

Alhamdulillah, Allah masih mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan kali ini. Bulan ini begitu spesial karena banyak hadits yang menunjukkan pahala yang berlipat ganda untuk amalan ibadah di bulan ini.

Salah satu amalan ibadah yang utama untuk dilakukan di bulan ini adalah membaca Al-Qur’an. Dari contoh teladan kita nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemimpinnya para malaikat yaitu Jibril ‘alaihissalam, menyetorkan bacaan Al-Qur’an di bulan ini (mengkhatamkannya). Contoh dari para generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat rodhiallahu ‘anhum dan orang-orang shalih yang datang sesudahnya pun menaruh perhatian khusus untuk membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan ini.

Lalu bagaimana dengan kita ibu-ibu? Apalagi yang anak-anaknya masih usia balita.
Yang pekerjaannya hampir tak pernah henti. Yang rasanya masih kurang 24 jam untuk menyelesaikan semua pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga dan keluarga? Apakah kita masih bisa meraih dan mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan yang penuh berkah ini?

Baca selengkapnya Tips Mengkhatamkan Al-Qur’an di Bulan Ramadhan untuk Ibu-Ibu; Spesial untuk Tips ke-5 (Disertai Video)

3 Pilihan Masjid untuk I’tikaf Keluarga di Jogja

Pas dipostingan tentang awal aku hamil, aku sempat tulis rencananya pingin hamil setelah lebaran. Salah satu sebabnya sebenarnya pinginn banget bisa i’tikaf bareng sama keluarga. Maksudnya, kalo memang gak sama anak-anak gak mungkin, berarti ya sama anak-anak. Udah ngomong sama abang juga jauh-jauh hari. Sebenarnya pingin juga dari kemarin-kemarin, tapi biasanya pas ada mertua di Jogja, atau pas aku mudik ke Jakarta, atauu…pas aku lagi hamil muda yang kondisi fisik aku pasti super weak hehe.

Nah, walaupun hamil, tetap menyimpan asa itu. Kemarin tanya ke teman-teman di whatsapp. Ada beberapa alternatif pilhan di Jogja. Ga tau nanti bisa terwujud apa engga, yang penting tau infonya dulu :D.

  1. Masjid Nurul Fikri di Deresan
  2. Masjid Syuhada
  3. Masjid UII di Kaliurang atas.

Baca selengkapnya 3 Pilihan Masjid untuk I’tikaf Keluarga di Jogja

Ramadhan Karim?

Kalau ada yang merhatiin, pas hari pertama puasa kemarin, logo Yufid.com berubah dan ada tulisannya Ramadhan Karim.

Alhamdulillah dapat koreksi dari ust. Aris dan jadi tambah ilmu baru. Sekarang tulisannya berubah jadi Marhaban ya Ramadhan. Udah pada tahu/sadar belum kalo…
Baca selengkapnya Ramadhan Karim?