Menjaga Takwa

Mungkin kita pernah melihat lontaran kalimat seperti ini,

“Biar tetap waras.”
“Menjaga kewarasan.”

Kalimat ini, seringkali diucapkan berkaitan dengan aktifitas seorang ibu dalam menghadapi keseharian kehidupan. Ibu perlu hiburan, biar tetap waras. Kira-kira seperti itu makna secara umum ketika kalimat ini diucapkan.

Baca selengkapnya Menjaga Takwa

Ketika Harga Ayam Naik

Harga ayam akhir-akhir ini naik. Kalau aku mengomentari hal semacam ini, biasanya Abang jawabnya sederhana aja, yang intinya ya udah gpp. Lha wong kita mo nernak sendiri juga belum tentu bisa. Ini kan enak, udah disembelihin, udah dibersihin, udah dipotongin. Tinggal beli aja. Kalau tentang makanan nanti jawabnya, “Adek kalo bikin mungkin jualnya lebih mahal lagi. ” Ngomong sambil ceringisan sama-sama.

Baca selengkapnya Ketika Harga Ayam Naik

Usia Kehamilan Si Kembar 27 Minggu (Laki-Laki atau Perempuan?)

Hidup orang muslim itu, memang harus penuh sabar dan syukur. Melenceng dikit aja, berarti jadi kurang sabar atau jadi kurang bersyukur. Akhirnya ngerasanya jadi yang paling susah sedunia.

Dari kemarin nahan diri untuk posting tentang kehamilan karena gak pingin isinya kok kaya keluh kesah aja hehe. Karena kehamilan ini memang bisa dibilang paling berat diantara kehamilan sebelumnya. Berat di fisik, berat di mental dan di lain-lainnya.

Dan diwaktu-waktu aku menahan diri itu, alhamdulillah banyak dapat pencerahan.

Aku jadi sadar aku memang masih belum kuat ketakwaannya. Aku masih belum bisa mengamalkan pencarian penghiburan diri dengan Al-Qur’an. Padahal di dalamnya ada jawaban bagi semua permasalahan. Ada sesuatu yang bakal bikin tenang jiwa. Sudah tahu ilmunya (tentang doa ketika di rundung duka dan minta dikaitkan hati dengan Al-Qur’an), tapi pas dapat kesedihan luar biasa – dari sisi aku –  kaya kemarin malah main hp. Hebat banget kan hehe. Gimana gak tambah negatif tu pikiran. Tapi ya gitu, ketika ujian melanda, memang fisik dan mental tuh capek banget ya. Pas hari-hari biasa aja kita butuh perjuangan untuk melawan hawa nafsu untuk bisa konsisten beribadah..

DOA MENGHILANGKAN SEDIH, GUNDAH, GALAU

Ada tiga jenis perasaan yang mengganggu jiwa seorang manusia;
1. huzn (kesedihan terhadap apa yang terjadi di masa lalu),
2. hamm (keresahan lantaran kekhawatiran akan masa depan)
3. ghamm (perasaan gundah saat menghadapi kenyataan yang sulit yang tengah dihadapi sekarang).

Tiga perasaan ini tak bisa lenyap dari jiwa seseorang kecuali melalui ketulusan penuh untuk kembali kepada Allah, kesempurnaan perasaan hina di hadapan-Nya, kerendahan hati kepada-Nya, ketundukan dan kepasrahan terhadap perintah-Nya, percaya akan ketentuan-Nya, mengenal-Nya dan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, percaya kepada kitab-Nya, selalu membaca dan merenungi serta mengamalkan segala kandungannya.

Dengan itu semua -bukan dengan yang lain – segala kekacauan hati itu akan sirna, dada menjadi lapang, dan kebahagiaan pun akan datang. Dalam Musnad Ahmad dan Shahih Ibni Hibban serta lainnya, ‘Abdullah bun Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan doa berikut (ini) tatkala ia didera keresahan atau kesedihan melainkan Allah pasti akan menghilangkan keresahannya dan akan menggantikan kesedihannya dengan kegembiraan.

Para Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sudah seharusnya kami mempelajari doa tersebut. Rasulullah menjawab, “Benar. Sudah seharusnya orang yang mendengarnya mau mempelajarinya”.(HR. Musnad Ahmad 1/391 (Ash-Shahihah no 199)

#doa #yufid #posterdakwah #picdakwah #picdoa #posterdoa #islam #quran #sunnah #hadits #muslim #picoftheday

A photo posted by Yufid Network (@yufid) on

Tadi sore, pas lagi muroja’ah hafalan sama Ziyad. Sampai di surat At-Taghobun. Pas bagian ayat ini

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

kan memang mirip banget sama surat Al-Hadid. Seperti biasa Ziyad masih suka ketuker dan terusan ayatnya suka kecampur sama ayat lain.

Baca selengkapnya Usia Kehamilan Si Kembar 27 Minggu (Laki-Laki atau Perempuan?)

Kisah Pembeli Bakso dan Penjual Bakso

Ini adalah dua kisah yang berbeda. Terjadi di tempat yang berbeda. Waktu yang berbeda. Satu yang sama, kedua kisah ini memberikan pelajaran yang sangat berarti bagi saya.

Pembeli Bakso

Sebut saja, namanya mba Ida (bukan nama sebenarnya). Saat masih sering bertemu dengannya, ia telah memiliki enam orang anak. Ia tinggal di rumah kontrakan yang terbuat dari kayu yang juga sangat tepat jika dikatakan gubuk. Bukan karena ingin kelihatan sederhana. Namun kenyataannya memang seperti itu. Rumahnya terbagi menjadi dua ruangan. Keduanya dijadikan ruangan tidur. Satu ruangan yang bersambung dengan pintu masuk bagian depan juga multifungsi sebagai tempat menerima tamu. Tak ada karpet permadani. Ataupun sofa empuk dan bangku berukir mahal. Yang ada adalah tikar dan bantal-bantal kapuk yang telah menyusut ukurannya tergeletak  di pinggir ruangan.

Terkadang, mba Ida mampir ke rumahku. Sekali ini, ia mampir sambil membawa satu bungkusan bakso. Bukan bakso daging urat dengan kuah berkaldu yang kental. Hanya sebungkus bakso seharga Rp 2.500. Bakso yang sarat campuran terigunya dengan kuah yang sedikit bening nampun tetap ada aroma kaldunya.  Ia meminjam mangkuk milikku. Bukan. Bakso itu bukan untukku. Ia sangat ingin menikmati bakso itu seorang diri.

“Sekali-sekali “,katanya.

Jika dimakan di rumah, maka ia harus berbagi dengan anak-anaknya. Atau juga dengan suaminya. Bakso seharga 2.500 yang sangat berharga.

Maka…nikmat mana lagi yang aku dustakan? Kecukupan apa lagi yang aku cari? Saat kejadian itu terjadi, aku rekam kuat-kuat, agar selalu kuingat manakala rasa “kurang” melanda.

Penjual Bakso

Sekitar tahun 2004, bapak penjual bakso ini sering lewat di depan kos-kosan yang aku tinggali. Biasanya, aku tak sembarangan membeli bakso. Khawatir dengan campuran yang ada pada bakso itu sendiri. Namun bapak yang satu ini insya Allah aku percaya. Penampilannya yang memakai celana di atas mata kaki. Jenggot yang tumbuh beberapa di sela-sela dagunya. Beberapa kali juga aku ketahui ia sholat di masjid yang ada di komplek perumahan yang aku tinggali tersebut.

Satu kali di tahun 2013, saat aku sudah menikah dan sudah memiliki 2 anak, maghrib berkumandang saat kami keluar dari  suatu mall karena suatu keperluan. Mall itu berseberangan dengan komplek perumahan dimana aku dulu ngekos. Karena tahu ada masjid terdekat, kami sekeluarga menuju masjid tersebut.

Biasanya aku bergantian sholat dengan suami karena harus menjaga anak-anak. Ada gerobak masjid di sisi selatan masjid tersebut. Aku hanya berpikir sekilas, teringat kebiasaanku membeli bakso di daerah tersebut.

Saat jama’ah sholat dari laki-laki selesai dan mulai berhamburan keluar, dengan rasa penasaran aku melihat gerobak bakso itu. Entah kenapa aku berpikir, apakah mungkin penjualnya adalah penjual uyang sama dengan saat aku masih belum menikah dulu? Saat melihat sang bapak menuju gerobak baksonya…maka tahulah aku.

Ini adalah penjual bakso yang sama.

Sama seperti 9 tahun yang lalu.

Masih berjualan bakso. Masih berkeliling

Mungkin aku harus melihat dari sisi, betapa si bapak tidak ada kemajuan. Tidak ada inovasi. Atau usahanya tidak berkembang. Tapi aku tak ingin melihat dari sisi itu. Aku ingin melihat dari sisi lainnya.

Maka akupun merenung. Betapa kebutuhan hidup semakin meiningkat. Betapa setiap orang – termasuk diriku – sangat ingin memperbaiki taraf hidup dari hari kehari. Mulai dari kebutuhan anak-anak, rumah, kendaraan dan kebutuhan dunia lainnya yang tak ada habisnya.

Tapi bapak penjual bakso ini masih dengan kondisi yang sama.

Maka apakah ketika kita menghadapi situasi yang sama  kemudian kita akan mengeluh dan berputus asa?
Aku berdoa semoga tidak. Semoga sang bapak penjual bakso pun tidak. Semoga anak istri keluarganya tidak. Semoga Allah memberikan rasa kecukupan dari apa yang Allah telah berikan  dan memberkahi apa yang kita miliki.

Satu catatan lagi yang sangat berharga adalah, sang penjual bakso tetap sholat berjama’ah di masjid.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.? Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.? (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3).

Penulis: cizkah ummu ziyad

Hellow…Alhamdulillah!

Apa kabar dunia? Hehe…baru berlalu beberapa hari ya perasaan dari tulisan kemarin. Rasanya gak lengkap kalo weekend gak sempat nulis blog huhu. Tahu sendiri (atau pada belum tahu), bagi aku, blog ini adalah wujud ekspresi, hiburan, alat refreshing, catatan, dan lain-lain yang pokoknya yah…aku banget.

Minggu ini…sibuk belajar beberapa tutorial dan membiasakan diri dengan Intuos baru! MasyaAllah. (Dan tentu saja kesibukan tak henti-henti lainnya :D).

Intuos, Inkling
Fasilitas dari Yufid. Alhamdulillah

Sebelumnya pake Genius versi apa itu ya…yang sama sekali susah dibuat sketch, brushing atau yang lainnya. Buat gambar mesti neken..Yang bikin aku lumayan desperate dan rasanya lebih lancar pakai mouse daripada pakai alat itu buat kerja. Dan bikin jadi ngerasa, “Bisa gak yah…kapan ya bisa lancar” dll,

Terus pake Genius yang versi lebih baik lagi…yang jauh lebih baik…bla bla bla.

Sudah terlalu lelah untuk menulis hik hik…

‘Ala kulli haal….Alhamdulillah!

“If we were truly the people of  ‘Alhamdulillah‘, we wouldn’t find the time, energy, or motivation to complain.” – Nouman Ali Khan

MasyaAllah…bener banget. Blum tahu Nouman Ali Khan? Search di youtube ^^. Aku juga pernah ngeshare ceramahnya beliau tentang surat Al-Fatihah kalo gak salah. Bagus!

Kata-kata di atas dapat dari salah satu akhwat bule yang aku follow di Instagram ^^.

SO Alhamdulillah!

 

 

Saat Turun Hujan

Hampir 10 bulan lamanya,  Yogyakarta tidak merasakan guyuran hujan. Itu berarti hampir sama dengan usia Thoriq. Saat terakhir hujan, Thoriq masih berusia 2-3 minggu. Maka saat kemarin turun hujan lumayan deras di daerah kami, suasana takjub, gembira mewarnai wajah Thoriq yang sangat suka dengan air. Mungkin dalam pikirannya, “Wih…ada air banyak banget!”

Baca selengkapnya Saat Turun Hujan

Doa Saat Orang Lain Tertimpa Musibah

Dunia dihebohkan dengan rekaman anak kecil perempuan bernama Wang Yue (yang kini telah meninggal), karena tertabrak van dan truk, namun tidak ada yang menolong walaupun ada 18 orang yang melewati jasadnya yang terkapar di tengah jalan. Kita tidak akan membahas siapa yang salah dalam insiden ini.

Baca selengkapnya Doa Saat Orang Lain Tertimpa Musibah