Jangan Mudah Tersilaukan

Anak-anak biasa bermain di sore hari. Kesempatan itu biasanya aku gunakan untuk melakukan pekerjaan di depan laptop. Suatu hari, Kholid pulang dan langsung masuk ke ruang kerjaku.

“Mi, biru tua campur biru emangnya merah?”

Aku heran dengan pertanyaannya. Mereka sudah sangat sering bermain dengan warna dan hafal campuran-campuran warna yang dihasilkan. Aku bilang, “Ya tetap biru.” Kholid tuh kaya masih ragu-ragu aku jawab seperti itu. Tambah lagi dia nanya,

Tambah lagi dia bertanya, “Kalau ungu campur merah nanti jadi hijau?”

Lho, kok makin aneh. Aku lupa bagaimana responku selanjutnya. Tapi akhirnya ketahuanlah bahwa ada anak kampung sini yang usianya lebih tua dari mereka yang mengatakan hal itu, merespons Kholid yang memberitahu bahwa, “Biru sama merah nanti jadi ungu.”

Perjalanan mereka mulai belajar bergaul dengan anak-anak di lingkungan kampung sini cukup intensif sekitar bulan Juli. Aku sudah mulai memberi batasan ketika melihat perkembangan proses pergaulan ini menunjukkan tanda-tanda SANGAT tidak bagus, bahkan sejak bulan Agustus.

Responku yang muncul dari kejadian di atas lebih karena aku sudah punya gambaran karakter anak, gaya pergaulannya, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu.

Baca selengkapnya Jangan Mudah Tersilaukan

Satu Jalur Waktu

Masih ingat tulisan singkat aku ketika menceritakan tentang keputusan supaya Thoriq kembali belajar di rumah? Waktu itu aku sedikit menyebut tentang satu jalur waktu. Aku perjelas di sini.

Mungkin ketika kita memahami dan menyadari bahwa kita hanya punya satu jalur waktu dalam kehidupan, akan memudahkan ketika kita mau memutuskan sesuatu atau menentukan skala prioritas.

Dalam satu jalur waktu, kita tahu gak semua bisa dijalankan berbarengan. Badan kita juga gak bisa berada di dua tempat. Ketika memutuskan langkah kehidupan, yang perlu kita lihat adalah tujuan di depan yang mau kita capai. Tujuan ini bisa tujuan jangka pendek atau jangka panjang.

Contoh Keputusan Thoriq Kembali ke Rumah

Untuk Thoriq, ada tujuan jangka pendek yang hendak dicapai. Tapi…Kalau Thoriq tetap di pondok, maka sekitar 6 hari dia melalui berbagai hal di pondok. Bertemu dengan aku hanya sekitar satu hari -karena dijemput Sabtu sore dan diantar Ahad sore-. Biasanya pun, karena sudah menghabiskan waktu yang lama di pondok, ketika di rumah lebih ingin digunakan untuk santai.

Baca selengkapnya Satu Jalur Waktu

Cerita Abang Ketemuan Ustadz Abdurrohim Setelah Sekian Tahun

Beberapa bulan lalu Abang seneng waktu dihubungi ust Abdurrohim via instagram. Waktu membalas Ust Abdurrohim, Abang memberi kabar perkembangan Ziyad sekarang.

Suatu siang di bulan Juli kemarin, Abang dihubungi ust Abdurrohim. Ternyata beliau lagi di Indonesia. Gak lama juga dihubungi ust Abdul Fatah paman dari ust Abdurrohim yang juga pernah ngajar Abang thifan. Ustadz Abdul Fatah ternyata sedang menemani ust Abdurrohim. Sebenarnya keduanya mau main ke rumah, tapi Abang bilang rumahnya gak kondusif. Pas tahu posisinya ternyata lagi main ke pondok dekat rumah, akhirnya direncanain sekalian aja ketemuan dan ngobrol di Cengkir sekalian ba’da ashar dengan Iqbal salah satu tim Yufid yang biasa mengkoordinir hal terkait syuting ustadz.

Pas makan siang di rumah, kami ngobrol-ngobrol dan aku bilang Thoriq juga sekalian ikut aja. Karena belum pernah ketemu ust Abdurrohim. Biar kenal dan tahu. Ziyad juga ikutan.

Pas ketemuan sore itu, Abang sempat minta Ziyad baca Al-Qur’an di depan ust Abdurrohim. Tapi Ziyadnya sungkan hehe. Mungkin karena pertemuan pertama jadi masih belum terbiasa atau juga karena waktu yang gak tepat.

Baca selengkapnya Cerita Abang Ketemuan Ustadz Abdurrohim Setelah Sekian Tahun

Tempat Tidur Anak-Anak

Perasaan aku lagi agak sedih tadi malam. Qodarullah wa masya a fa’al. Mau cerita tentang tempat tidur anak-anak, ceritanya bahkan belum ditulis, malah tadi malam akhirnya tempat tidur tingkatnya dibongkar. Tempat tidur Ziyad dan Thoriq udah duluan dibongkar bulan Januari lalu.

Aku rasa, sedihnya karena pengeluaran untuk beli tempat tidur ini cukup besar. Pertimbangannya waktu itu juga sudah cukup lama dan dari berbagai sisi. Udah istikhoroh juga. Qodarullah dari awal beli itu memang sudah cukup bermasalah dari sisi barangnya.

اللهُـمِّ اْجُـرْني في مُصـيبَتي، وَاخْلُـفْ لي خَيْـراً مِنْـها

Ya Allah, berilah ganjaran atas kesulitanku ini
dan berikan aku sesuatu yang lebih baik setelahnya. (HR. Muslim)

Tinggal kenangan

Flashback Pertimbangan

Aku cerita dulu ya kenapa sih beli tempat tidur. Anak-anak yang sudah mulai besar-besar, mulai ada hal-hal yang harus diubah karena berbagai pertimbangan. Kalau dulu bisa tidur dengan cara gelar kasur berjejer, cara ini gak bisa lagi.

Baca selengkapnya Tempat Tidur Anak-Anak

Mobil Dakwah

Alhamdulillah, Yufid punya mobil sejak tahun 2016. Belinya pakai uang donasi*.
Alhamdulillah, sampai saat ini hanya digunakan untuk keperluan produksi Yufid.
Ga boleh digunakan untuk kepentingan pribadi atau urusan pribadi seluruh tim.

Baca selengkapnya Mobil Dakwah

Sambal Tomat Matang

Berhubung ada yang request resep sambalnya dan sebenarnya memang ada fotonya, kita langsung aja ya.

Ini aku bikin nama sendiri sesuai bahan yang utama harus ada. Sebenarnya mau aku kasih judul sambal bawang tomat, tapi nanti bisa rancu dengan sambal bawang – yang itu biasanya pakai bawang putih, sedangkan sambal yang ini pakainya bawang merah.

Sambal-sambal ini, bisa dibilang penempatannya juga akan terasa lebih nikmat kalau kita bisa nge-pas-in dengan lauk-nya ya. Kalau di aku,

  • sambal tomat matang ini bisa dipasangin dengan lele bakar madu.
  • sambal tomat mentah dipasangin dengan ayam kecap sunda.
  • sambal jeruk nipis dipasangin dengan ikan gurami bakar.
  • sambal bawang dipasangin dengan ayam goren.

Dari list di atas, ketahuan mana resep yang belum aku catat di blog :D.

Baca selengkapnya Sambal Tomat Matang

Resep Lele Bakar Madu

Kenapa si aku kalau nyatet resep suka kaya “berat”. Waktu itu sampai ada yang dm pas aku share foto dari buku, “Pakai google lens aja, Mba.” Hmm, sebenarnya iya juga sih untuk kepraktisan tulisan. Terus aku jadi mikir sendiri, kenapa ya?

Sepertinya, mungkin karena biasanya ada hal lain yang aku mau catat. Misal terkait proses yang udah aku terapin yang mungkin ada gagal atau lebih enaknya dimananya. Begitu juga dengan resep yang ini :).

Kita lihat slide berikut ini ya.

Baca selengkapnya Resep Lele Bakar Madu

Tips Milih Buku Ujian Akhir

Kalau ada yang lihat story aku malam-malam ke toko buku berdua sama Abang bela-belain nyari buku latihan buat Ziyad dan Thoriq, nah ini salah satu buku yang dibeli.

Aku bahas buku buat Ziyad dulu ya, karena kemarin muncul di story, ada beberapa yang tanya.  Alhamdulillah jadi keinget emang mau share ttg ini.

Tips milih buku –terutama untuk anak yang mau ujian akhir– adalah pilih yang ada PEMBAHASAN walaupun soal abc atau soal teori.

Baca selengkapnya Tips Milih Buku Ujian Akhir

Sisi Kehidupan

Salah satu potongan lain yang ada di diskusi aku dan Abang saat membicarakan anak perempuan adalah kisah orang lain untuk dijadikan pelajaran. Kita melihatnya, orang-orang seperti tanpa masalah, seperti semuanya baik-baik saja. Tapi yang namanya kehidupan, ada sisi-sisi yang gak terlihat.

Aku teringat suatu cerita yang aku dengar dari seseorang. Cerita itu sebenarnya hanya selipan di antara obrolan sesama wanita. Cerita itu gak menyebut nama. Hanya menceritakan bahwa salah satu anak perempuan yang dia ajarkan, akhir-akhir itu sering menangis. Ketika diajak bicara, sang anak menceritakan kalau dia sedih dan gak ingin orang tuanya cerai. Dia takut banget orangtuanya bercerai. Ini berarti ada pembicaraan atau hal yang dia lihat dan dengar dari orang tuanya sampai bisa mengkhawatirkan hal tersebut. Walau masih kecil, anak bukan berarti gak paham apapun. Kesedihannya sampai terbawa ke waktu-waktu di luar rumah berarti sesuatu yang luar biasa yang sangat ia pikirkan.

Baca selengkapnya Sisi Kehidupan

Jawaban Sebenarnya

Masih inget tulisan aku kemarin waktu aku berpikir dan mempertanyakan, “Buat apa pakai cadar?” setelah hampir 20 tahun pakai cadar.

Di tulisan itu, Abang menjawab dengan, “Untuk dapat pahala” dan “Harus perbaharui niat setiap saat.”

Beberapa hari yang lalu, aku dapat jawaban yang lebih memantapkanku sekaligus bikin aku nangis banget. Hatiku rasanya bergetar sangat keras menahan campuran rasa yang muncul.

Kehidupan di Dunia Nyata

Aku mungkin terlihat cukup ceria di story-story atau cerita di feed instagram. Kenyataannya memang biasanya aku berbagi ketika hatiku sedang baik-baik saja insya Allah.

Momen banyak nangisnya, sedihnya, merenungnya tetap ada di dunia nyata. Ada beberapa yang aku ceritakan di sini, di blog ini. Karena aku menganggap blog ini seperti rumah dimana aku bisa bercerita, tanpa harus khawatir atau merasa ditonton oleh semua orang insya Allah. Karena gak semua orang mau baca tulisan panjang tanpa gambar apapun. Gak semua orang mau baca, cerita yang mungkin terlihat sepele tapi sebenarnya penting bagi aku.

Baca selengkapnya Jawaban Sebenarnya

Berlatih Sabar

Rasanya, pekan ini adalah pekan yang sangat intensif buat aku ngobrol, sharing, mentoring Ziyad. Hal yang jadi bahasan banyak banget dan momen dalam satu hari itu macem-macem. Ada yang model dimarahin, ada yang model dinasehatin, ada yang model ngobrol tapi dikasih insight-insight dan encourage. Padahal pingin dicatet, tapi ternyata udah terjadi obrolan baru.

Insya Allah mau aku catat yang masih bisa diingat sesuai topik obrolannya.

Salah satu obrolan terkait proses belajar Al-Qur’an yang masih berjalan sampai sekarang (masuk bulan keempat alhamdulillah). Namanya Ziyad juga masih belajar, perlu mentoring di sepanjang perjalanan ini dari berbagai sisi.

Makanya kalau seorang yang lulus SMA/pondok terus mengajar, tiba-tiba dipanggil “Ustadz” (atau “Ustadzah”) dan terbawa ke “feel” yang didapat orang sekitar seakan-akan dia orang yang berilmu dan harus disegani, ini yang harus hati-hati banget ya. Padahal sang anak muda ini juga masih perlu dimentoring, dinasehati dan diingatkan. Kenyataannya hal ini terjadi banget di sekitar kita. Yang lucunya kalau sang anak muda yang dipanggil ustadz dan ustadzah ini juga terkena feel ini dan jadi merasa “tinggi” karena dia merasa -dan terbiasa- “dihormati”. Tapi kali ini aku gak ingin berpanjang bahas ini.

Catatan: Ziyad dipanggil dengan panggilan “Bang Ziyad” saat mengajar. Yang ini memang sengaja kami sampaikan di awal dalam rangka menghindari rasa tinggi ini insya Allah.

Baca selengkapnya Berlatih Sabar

Kemampuan Baru

Kemarin-kemarin, waktu Jogja lagi dingin-dinginnya, anak-anak sempat akai jaket ketika tidur. Suatu malam menjelang tidur, Kholid lagi pakai jaket karena udara Jogja memang lagi dingin-dinginnya.
Dia pasang ritsleting sendiri. Pas selesai masang dia bilang,

“Mi, Kholid dulu pas bisa pasang ritsleting seneng.”

Aku jawab, “Iya dong..semua kemampuan baru gitu. Makanya disyukuri. Kaya waktu kalian baru bisa baca, kan semangat banget tuh baca apa aja.”

“Jangan sampai lupa sama nikmatnya yang udah Allah kasih. Malah nanti jadinya (misalnya) lebih sering nonton, main.”

Begitulah, kita dikasih kemampuan sama Allah banyak banget. Tapi berlalu waktu, mungkin jadi dianggap remeh atau jadi hal yang biasa. Padahal kalau diinget lagi gimana usahanya, gimana saat pertama bisa…itu nikmat banget insya Allah.

Jangan sampai nikmat itu dilupakan dan tidak dimanfaatkan dengan baik. Kita terus berdoa supaya nikmat itu tetap ada.

Di Al-Qur’an, kita sering dapati ayat-ayat yang menyuruh yang Allah sedang ceritakan untuk mengingat nikmat-nikmat yang Allah berikan. Bahkan Rasululllah ﷺ pun Allah ingatkan tentang nikmat yang Allah berikan.

cizkah
21 Juli 2024

Masih Kecil tapi Menyiksa Binatang

Baruu aja kemarin ngetik tentang pikiran atau kekhawatiran aku tentang sesuatu terjadi sama Shikaido (ini nama yang ngasih Luma, tapi aku seringnya sebut Skido karena aku lebih mudah melafalin). Ternyata sore ini dengar kabar tidak mengenakkan.

Sebenarnya, ceritanya ga mulai dari sini. Sebenarnya lagi, dari kemarin aku mau cerita tentang kembar dan Luma yang mulai bermain dengan anak-anak di kampung sini dengan lebih intensif. Biasanya ketika mereka main di sore hari, lebih ke mereka yang main bertiga dan kemudian sekadarnya aja bertemu sebentar-sebentar di antara anak-anak itu. Gak sampe intensif main bareng.

Insya Allah aku bahas di postingan lain. Semoga Allah mudahkan.

Di sini aku mau cerita khusus masalah ini karena beneran menyesakkan dada banget dan bikin waspada.

Alhamdulillah aku sempat cerita tentang kucing-kucing di rumah di postingan ini

Kalau dipikir-pikir, kenapa juga ya aku cerita tentang kucing. Tapi emang begitu, cerita tentang kucing itu bagian dari hal obrolan dan hal yang rutin muncul di kehidupan.

Kemarin, seharian Skido ga muncul. Aku udah langsung, “Kalau udah gak muncul gini biasanya mati.”

Masalahnya, yang bikin kepikiran adalah, mati kenapa? Karena dari kemarin baik-baik aja masih dikasih makan.

Baca selengkapnya Masih Kecil tapi Menyiksa Binatang

Pikiran yang Melompat-Lompat

Kemarin, seharian melelahkan buanget. Kurang tidur, tapi kalau ini kayanya emang dari kemarin juga gitu. Ya sebenarnya juga emang cape tiap hari juga hehe. Tapi kemarin itu lebih gak tenang karena ada amanah untuk kerjaan yang belum beres dan tentu saja belajar yang gak berhasil mencapai target dari kemarin.

Menjelang isya, aku sengaja rebahan di kasur anak-anak yang posisinya di depan meja Abang biasa kerja. Niatnya biar bisa ngilangin melayang ngantuk yang udah ditahan. Rencananya abis isya aku mau keluar bareng Abang supaya bisa nyelesein amanah kerjaannya bisa lebih kondusif.

Kalau di rumah biasanya aku diajak ngomoooong terus sama anak-anak hehe. Sampai-sampai udah hampir 6 bulan ini aku pindah laptop ke kamar walau dengan meja kecil. Biar pas mau konsen banget bisa tutup pintu. Tapi tetep, ada aja pokoknya selingan dan potongannya.

Baca selengkapnya Pikiran yang Melompat-Lompat

Buat Apa Pakai Cadar?

Akhir-akhir ini lagi banyak banget hal yang bikin merenung. Ada banyak hal yang seperti saling berdesakan di kepala dan butuh untuk diurai satu persatu. Seperti biasa, biasanya aku berusaha berkutat sendiri sebelum akhirnya melontarkan apa yang ada di pikiranku ke Abang.

Aku yang selama ini memakai cadar, entah kenapa -atau sebenarnya aku tahu kenapa- mempertanyakan kembali, “Kenapa aku pakai cadar?”

Syubhat apakah yang muncul saat ini kemudian aku mempertanyakan pertanyaan ini?

Baca selengkapnya Buat Apa Pakai Cadar?