Kapan Luma Bisa Baca?

Waktu itu pernah ada yang curhat, insecure karena baca di blog kalau Ziyad umur 5 th udah bisa baca. Padahal baru aja aku omongin kalau Luma baru aja bisa baca (pas hampir 7th).

Dibanding kakak atau adiknya, Luma termasuk yang paling lama baru bisa baca latin atau iqro-nya. Sebabnya banyak. Belum pernah dibahas tapi ^^. Yang mau aku sampaikan di sini, jangan khawatir insya Allah.

Alhamdulillah minat baca Luma besar bahkan sebelum bisa baca. Makanya pas udah bisa baca, banyaaak banget yang udah dia baca alhamdulillah.



Sebenarnya ini caption untuk salah postingan di instagram. Postingan yang ini tapi sudah aku edit supaya gak salah paham. Walau pada akhirnya, Luma sama Thoriq sempat baca juga buku ini, tapi bagian awalnya dilewat-lewatin.

Jadi, setelah aku cek lagi tanya ke Luma, apa dia sudah selesaikan buku yang ini, dia belum selesaikan atau baca.

Baca selengkapnya Kapan Luma Bisa Baca?

Kupas Nanas

Cerita tentang kupas nanas ini, bermula ketika aku share di story instagraam. Waktu itu sekilas aja karena abis ngupasin nanas buat kembar pas sahur di hari-hari terakhir Ramadhan.

Waktu itu aku ngupasin jam 3-an. Awalnya setengah nanas buat krucil. Akhirnya aku lanjutin ngupas setengah lagi buat yang lainnya.

Tapi bikin storynya agak salah kalimat, harusnya “Jangan dibawa beban kupas nanas,” kalimat yang aku bikin malah “Jangan dibawa beban potong nanas.” Hehehe…kalau cuma potong mungkin semua orang gak ada beban ya.

Nah…beberapa hari kemudian posting lagi ttg kupas nanas, ternyata ada beberapa dm yang bilang baru tahu dan pingin tahu kelanjutannya. Karena storynya memang aku sengaja hentikan dan cukupkan dengan satu gambar aja. Padahal udah foto kelanjutannya. Udah niat mau ditulis di blog aja.

Baca selengkapnya Kupas Nanas

Al-Qur’an dan Ramadhan 2023

Awal Ramadhan (28 Maret 2023)

Ada waktu yang diluangkan untuk mereka.Ga usah khawatir jatah waktu buat tilawah kita sendiri berkurang insya Allah.

Karena yang kita harapkan adalah keberkahan dari setiap aktivitas kita, maka lebih-lebih lagi kalau yang kita luangkan waktu buat mengajarkan Al-Qur’an.

Ke satu anak? Insya Allah lebih-lebih lagi bisa diluangkan ya.

Ke dua anak?
Gpp, semoga Allah mudahkan kita di urusan lainnya.

Tiga anak?
Alhamdulillah, sebenarnya ini sebentar ko.
Ga sampai 1 jam insya Allah.

Baca selengkapnya Al-Qur’an dan Ramadhan 2023

Resep Kuah Santan untuk Es

Buat bukaan puasa, kami suka selang-seling antara bukaan dengan blewah, bukaan dg kuah santan —yang diisi berbagai isian— atau dengan es buah (yang untuk tahun 2023 ini gak dilakuin karena berbagai hal).

Kenapa sih diselang-seling. Karena blewah gak selalu dalam kondisi matang. Juga untuk variasi.

Jadi, misal aku baru stok 3 blewah untuk 2 hari. Berarti hari itu aku udah ready dengan bukaan jenis pakai kuah santan, karena biasanya kondisi blewah yang sampai ke rumah belum matang (masih muda). Blewah itu cepat matang ya, jadi esoknya udah bakal pakai bukaan blewah lagi.

Baca selengkapnya Resep Kuah Santan untuk Es

Pertanyaan Tersembunyi Luma

Waktu makan siang kemarin (15 Maret 2023), kami ngobrol seperti biasa. Berganti-gantian siapa yang lagi mau ngomong. Aku lupa lagi bahas apa, tiba-tiba Luma ngomong,

“Mi, sebenarnya Luma ada pertanyaan yang Luma simpen tapi Luma udah tau jawabannya sekarang.”

Oh sebelum kita melanjutkan ceritanya, gambaran Luma sebagai anak perempuan di rumah bukanlah anak perempuan kalem jaim pendiam.

Dia justru anak yang aktif, sangat suka ngobrol, bertanya, bercerita, alhamdulillah.

Aku gak tau sebab dia gak nanya tentang hal ini karena biasanya dia nanya apapun. Sampai kadang-kadang hal yang kayanya gak usah ditanyain udah tahu deh. Eh tapi mungkin ini aku yang salah sangka. Kadang aku menganggap Luma itu sosok yang udah dewasa banget kaya kakak-kakaknya. Aku butuh perjuangan sebenarnya untuk memposisikan diri aku untuk berada di posisi orang tua dari anak yang masih baru lepas dari anak-anak menuju ke anak-anak yang lebih matang lagi.

Baca selengkapnya Pertanyaan Tersembunyi Luma

Kisah Ballpoint Jetstream dan Martabak

Akhir bulan November, masuk masa ujian Ziyad dan Thoriq di pondok. Ketika Thoriq pulang, dia sempat minta didoain supaya ujiannya lancar. Ternyata di Hamalatul Qur’an pun juga sama. Masa ujian.

Ternyata, hari Selasa di pekan terakhir bulan November, masuk pesan dari ust. Faiz, musyrif Ziyad. Pesan yang masuk, bukan pesan dari ustadz Faiz, tapi dari Ziyad.

Menyampaikan permintaannya untuk dibelikan ballpoin jetstream mitsubishi.
Permintaan kedua adalah minta dibelikan roti gembong atau martabak.

Kalo bisa.

Kalimat itu terselip di antara kalimat yang tertulis dari Ziyad.

Aku yang baca langsung jawab dan fokus di permintaan martabaknya.

Setelah 5 bulan di Hamalatul Qur’an, baru kali ini Ziyad minta dibelikan makanan tertentu. Itupun dia masih memberikan opsi “kalo bisa” yang bikin tambah kasihan hehe.

Baca selengkapnya Kisah Ballpoint Jetstream dan Martabak

Bukan Karena Dirimu Sendiri

Selama 13 tahun tinggal di kontrakan di kampung ini, ada salah satu kegiatan rutin pertemuan ibu-ibu RT untuk membahas berbagai hal. Kegiatan ini dilakukan bergiliran di beberapa rumah.

Bulan ini, giliran kelompok aku dan diadakan di rumah yang dekat sekali dengan kontrakan aku. Karena sistem pertemuan yang diubah sejak tahun 2022, yang datang hanya pengurus dan kelompok yang bertugas.

Secara gak sengaja, ternyata saat pertemuan ini, aku duduk dekat dengan pemilik rumah. Seorang ibu muda yang ketika aku duduk dekat dengannya sedang menghibur anaknya yang masih kecil.

Pada dasarnya, aku sudah mengenal sebagian besar ibu-ibu yang hadir. Sebagian besar adalah ibu-ibu yang sudah berusia dan penduduk asli kampung ini.

Tapi justru dengan pemilik rumah, baru kali ini aku bertemu dan tahu. Ini karena rumah tersebut termasuk baru ada beberapa tahun terakhir dan sistem pertemuan sebelumnya, biasanya satu RT berkumpul, jadi gak bisa terlalu intensif saing mengenal bahkan sesama anggota kelompok.

Setelah memperhatikan informasi dan pengumuman yang disampaikan bu Sita -bu RT- dan bu Heni – istri dari pengurus masjid, sampailah ke sesi pengumuman arisan bagi yang ikut arisan. Karena aku gak ikutan dan sudah ke acara akhir, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk kenalan dengan pemilik rumah dan menanyakan tentang anaknya yang ternyata baru berusia 18 bulan.

Awalnya, mba Ica yang ternyata dosen farmasi di UII ini memanggil aku bu. Mungkin karena melihat aku bawa 3 anak. Percakapan dari mba Ica pun dibuka dengan menanyakan si kembar.

Akhirnya sampai ke bagian aku bilang, “Panggil mba Siska aja :)….Mba Ica usianya berapa?”

“28,” jawabnya.

“Oh… ” aku lagi tersenyum dan otak aku reflek menghitung jarak usia.

Aku yang lagi terdiam sejenam, mendapatkan pertanyaan balik, “Mba Siska berapa usianya?”

“Saya 41…”

Mba Ica langsung kaget, “Masa sih, Mba?”

Baca selengkapnya Bukan Karena Dirimu Sendiri

Jadwal Sehari-Hari 3 Anak Usia Sekolah

Ini adalah update dari tulisan sebelumnya tentang jadwal sehari-hari.

Update catatan ini adalah kondisi terkini dari keseharian aku karena ada hal yang sangat berbeda dari kondisi sebelumnya.

  1. Gak ada asisten rumah tangga yang membantu pekerjaan aku.
  2. Kembar sudah mulai usia sekolah (SD).
  3. Thoriq udah di pondok.

Dari perubahan yang Thoriq udah di pondok, kesannya bakal lebih ringan. Soalnya kan kemarin-kemarin yang paling banyak tercurahkan waktunya ke Thoriq, baik dari hafalan, persiapan ujian (belajar pelajaran).

Walau dibarengi dengan gak ada yang bantuin lagi di rumah, tetap mikirnya udah lebih ringan insya allah.

Kenyataannya aku salah. Kenapa bisa salah? ceritanya juga lagi ditulis.

Jadi, kondisinya sekarang,

  • kewajiban ibu rumah tangga tanpa asisten yang bantuin.
  • homeschooling 3 anak sekolah dasar.
  • kerjaan remote yang sangat berkaitan dengan pekerjaan sama tim, jadi gak bisa santai semau-maunya aku kerja.
  • jualan lumalumi.
  • suatu kegiatan yang butuh konsentrasi dan ada target banget. update: yaitu kuliah :).

Ternyata aktifitaasnya malah tambah padaaaat masya Allah laa quwwata illa billah.

Sangat butuh pertolongan Allah setiap harinya.

cizkah
Jogja, Ahad, 29 Januari 2023

Imamah Kembar

Sebelum berlalu waktu, pingin catet tentang imamah kembar. Aku tahunya dari dulu ini namanya imamah. Sebenarnya, punya imamah ini udah lama banget. Bahkan yang warna hijau udah ada dari zaman Ziyad. Udah sampai lupa, masing-masing itu dapatnya dari mana.

Zaman Ziyad dulu, pernah mainan imamah ini sebentar. Bahkan ada videonya. Sampai ada orang yang ngirimin iqol karena ngeliat Ziyad pakai imamah tanpa iqol. Tapi iqolnya kecil dan sering lepas kalau dipakai. Jadinya jarang dipakai.

imamah ziyad
Ziyad kecil, tahun 2010 usia 3 tahun.
Ziyad tahun 2014. Baru masuk usia 7 tahun.
Ziyad tahun 2014. Baru masuk usia 7 tahun.
Baca selengkapnya Imamah Kembar

Damai

Lagi banyak merenung lagi.

Kemarin lihat-lihat google photos karena lagi ada yang dicari di sana.

Tapi aku jadi melihat satu sisi gimana perjalanan kami sebagai sebuah keluarga. Dari anak-anak kecil. Rumah yang berantakan dan hal-hal “biasa” yang pas dilihat itu semuanya bisa diingat berbagai perjuangan dan kenangan.

Kehidupan tanpa didonimasi social media – yang waktu dulu baru ada facebook, dan cuma sebentar akhirnya aku tinggalkan karena sangat merasa gak mendapat manfaat dari sana -.

Sampai aku berusaha ingat, kapan sih mulai ada story di instagram.

Yang jelas, waktu aku melalui perjuangan melahirkan kembar, bagaimana berjuang di ruang bayi untuk menyusui mereka yang masih di inkubator. Itu ga ada di story.

Yang kalau dipikir-pikir, mungkin kalau aku udah “rajin” bikin story kaya 3 tahun terakhir sejak pandemi, aku bakal bikin story di sana. Karena di sana ,rasanya akan ada banyak cerita yang dibagikan.

Tapi, kalau dipikir, pada saat itu aku gak bikin story, aku malah bersyukur. Aku bisa fokus pada apa yang aku lalui pada saat itu.

Mungkin kalau aku bikin story, aku akan mendapat teman ngobrol atau ucapan-ucapan yang mensupport atau bahkan pertanyaan-pertanyaan terkait kembar.

Tapi sebenarnya yang paling aku butuhkan adalah pertolongan Allah, kemudian fokus dengan para bayi dan istirahat yang cukup.

Ini cuma salah satu kejadian yang belum pernah aku bagikan baik di tulisan maupun di story.

Yang aku lihat dan aku simpulkan, kehidupan pada saat itu…damai insya Allah.

Aku jadi merenungi apa yang telah aku lalui selama tiga tahun terakhir ini. Apa yang harus aku perbaiki dan aku perlu kelola lagi. Walau rasanya sebenarnya aku sudah sangat berusaha mengelolanya insya Allah.

Semoga Allah memberi petunjuk ke hatiku.

cizkah
13 Januari 2023

Ular dan Kayu Bakar

Sore ini, anak-anak masuk ke rumah setelah bermain di halaman.

Di seberang jalan setapak di depan rumah kami, ada satu kuburan kecil yang sepertinya salah satu leluhur di kampung sini. Kampung ini terdiri dari keluarga besar yang beranak keturunan di sini. Sisanya adalah para kontraktor (orang-orang yang mengontrak rumah) seperti kami.

Luma bilang, Kholid mendengar suara mendesis seperti ular di tumpukan kayu.

Aku pikir, yang dimaksud tumpukan kayu jati belanda yang ada di sisi pintu depan. Aku perjelas lagi,

“Tumpukan kayu yang mana?”

Baca selengkapnya Ular dan Kayu Bakar

Jika Engkau Merasa Kurang Sopan…

Baru-baru ini, ada satu kejadian yang cukup menghentakkan hati.

Waktu itu, aku post foto Luma yang sedang membantu mengolah sayuran.
Sedari kecil, Luma aku biasakan memakai celana dalaman. Walaupun dia pakai rok panjang. Yang pembiasaan ini pun aku tuangkan dalam desain-desain poster lumalumi.

Celana dalaman yang berbahan katun, cenderung mudah robek karena posisi duduk dan aktivitas yang bermacam-macam. Bukannya gak dijahit. Sudah dijahit berkali-kali tetap sama karena memang dasar bahannya seperti itu.

Tampaklah di foto tersebut, celana Luma yang bolong. Alhamduilllah, aurat Luma gak kelihatan.

Yang mengejutkan, ada yang dm dan memberi pesan dengan diakhiri tiga tanda seru. Memberitahu atau sekaligus perintah supaya celananya disensor.

Waktu itu aku jawab jazakillahu khayron. Sekaligus menyatakan “kekagetan” aku karena kalimat yang dia nyatakan pakai tanda seru.

“Oh iya..hehe.. jazakillahu khayron..kaget pakai tanda seru”

Sebenarnya, kalimat ini sekaligus supaya bisa dijadikan untuk berpikir. Tapi ternyata jawaban berikutnya hanya berupa cengiran,

“:D”

Nas-alullahal ‘afiyah.

Ya Allah berikanlah aku dan Abang, serta anak-anakku dan keturunanku akhlak dan adab yang baik.

Kejadian tersebut, jadi mengingatkan aku satu bagian di buku Lathoif. Judul bagian itu adalah “Adab”.

Isinya,

إِذَا شَعَرْتَ أَنَّكَ قَلِيلُ اْلأَدَبِ
فَأَنْتَ مُؤَدِّبٌ لِأَنَّ قَلِيلِى اْلأَدَبِ لَا يَشْعُرُونَ

“Jika engkau merasa kurang sopan, berarti kamu sopan. Sebab orang-orang yang tak punya sopan, tak merasa dirinya tak sopan.” (Lathoif, hal 162)

Yang Baik Insya Allah

Aku juga jadi ingat satu kejadian akhlak yang baik dari seseorang saat mengingatkan. Waktu itu, aku sudah posting tentang perjalanan Ziyad menghafal Al-Qur’an.

Setelah dua hari-an, ada yang memberi pesan, memberi tahu dengan sangat sopan sekali masya Allah, bahwa sepertinya ada yang perlu diedit di video tersebut. Sudah dengan sopan memberitahu, dia pun masih merasa gak enak banget memberitahu aku dan minta maaf. Padahal gak ada yang perlu dimintamaafkan.

Ketika aku perlihatkan pesan tersebut ke Abang, bahkan Abang sampai juga memuji bahwa caranya bagus masya Allah.

Alhamdulillah, video tersebut akhirnya aku edit dan publish ulang.

Sepantaran

Salah satu yang jadi masalah di era sekarang, orang menganggap semua yang ditemui (apalagi di social media) sepantaran dengannya atau bahkan lebih rendah darinya.

Bayangkan orang zaman dulu. Semisal ketemu ibu-ibu, gak mungkin ngomong gak sopan apalagi dengan nada keras dan kalimat yang kurang sopan.

Waktu Ziyad lagi libur semester kemarin, ibu dari anak susuanku, Bu Erlina, menghubungi aku untuk membicarakan masalah mencari jodoh untuk anak pertamanya. Ziyad terheran-heran karena aku memanggil dengan panggilan “Bu.” Mungkin menurut dia, bedanya gak terlalu jauh, jadi aku bisa memanggil “Mba”.

Waktu aku menyusui Sofia, usiaku 30 tahun dan bu Erlina 40 tahun. Kami kenalan online, dan sejak awal, aku sudah memposisikan beliau sebagai orang yang dihormati. Ini cuma contoh aja.

Ini beda usianya 10 tahun.

Makanya, waktu sepupu Abang yang bedanya 17 tahun dengan aku, kerja di rumah, ada hal-hal terkait adab yang perlu diajarkan. Yang ini ternyata gak mudah.

Terutama lagi karena perawakan aku yang mungkin “gak terlalu ibu-ibu”.

Aku sampai harus menyampaikan, “Coba H, bayangin kalau ketemu sama ibunya Fulan (temannya Ziyad yang dia udah pernah lihat). Pasti sikap H akan beda kan. Karena tahu beliau sudah berumur.”

Atau juga sikap ke Abang yang perawakannya “gak terlalu bapak-bapak”. Biar paham sampai aku harus analogikan juga dengan sosok lain yang bisa dia bayangkan.

“Coba kalau lagi nengok N (adiknya). Ada sandal ustadz J di luar rumah. Pantas gak kalau kalian pakai? Gak bilang-bilang lagi.”

Yang ketemu langsung aja bisa bersikap kurang sesuai adab, apalagi di dunia maya yang ngetik tinggal ngetik. Semua dianggap sepantaran atau bahkan lebih rendah darinya.

Kata “tolong” sering diajarkan orang tua, tapi seringkali aku dapati orang dewasa pun melupakan kata ini.

Pernah ada orang yang mengambil poster untuk dijual, bolak-balik bikin janji mau ambil posternya. Pada akhirnya, dia ga bisa memastikan jam untuk ngambil dan melontarkan kalimat, “Nanti taruh di depan aja ya mba!”


Catatan Buatku

Akan lebih baik kalau dari awal, kita sudah menjaga adab tutur kata, walau dengan yang sepantaran sekalipun.

Pun jangan bersikap sekedar karena melihat fisiknya atau “kesan” yang tampak di benak kita (karena hanya menangkap dari kesan di dunia maya).

Kurangi pakai kata-kata yang menunjukkan kekurangsopanan. Ini berlaku umum ke semua orang. Ke penjual dagangan, ke tukang parkir, penjahit permak dekat rumah, ke anak-anak muda di sekitar kita.

Salah satu sikap yang perlu ditanamkan untuk bisa beradab dan berakhlak baik adalah sikap rendah hati. Dengan rendah hati, kita berinteraksi dengan hati-hati. Ngga menganggap orang lain menjadi lebih rendah atau sosok yang gpp kalau diremehkan.

Semoga Allah memberikan kita akhlak dan adab yang mulia.
.

Cizkah
Jogja 1 Januari 2023



Dari Kompos ke Pemuda

Kompos aku, bahannya dari sampah rumah tangga
(kulit buah, sisa sayuran ga dimasak, tisu bekas pilek, kulit-kulit apa aja) + daun kering. Untuk sampah basah dari wastafel atau sisa makanan, diberikan ke ayam.

Dulu awal ngompost, ga macem-macem ko.
Langsung aja pakai tanah dari halaman, isi sampah organik + daun kering (mesti balance biar ga asem/bau busuk).

Tetep berhasil insya Allah.
Konsep sederhananya kan, ini sampah organik yang kalau di tanah bakal hancur juga.

Baca selengkapnya Dari Kompos ke Pemuda