Waktu Ziyad masih di Ibnu Mas’ud, beberapa kali ada yang menawarkan supaya Ziyad sekalian aja pulang bareng sama keluarga mereka yang naik mobil karena searah dengan rumah kami.
Jawabannya sama yaitu berterimakasih atas tawarannya dan ga menerima tawaran tersebut karena Abang tetap ingin menjemput sendiri.
Maksud aku yang mengiringi anak ketika baca iqro, adalah:
Buku lain yang isinya sudah langsung keseluruhan hijaiyah
Poster harokat yang isinya juga sudah keseluruhan hijaiyah. Ini beneran memudahkan insya Allah karena anak tinggal tengok aja.
Buku iqro itu sendiri (misal yang sering lupa materi di iqro 3, berarti bawa iqro tersebut)
Jadi, kalau anak lupa, tinggal tunjuk si huruf. Atau ketika lupa materi, berarti dijelasin lagi.
Kadang, masih di iqro yang sama juga tetap harus dibolak-balik untuk mengingatkan materi yang mereka lupa.
Karena sebenarnya membaca hijaiyah ini, memang butuh latihan banyak, sedangkan satu materi di iqro, kadang cuma latihan 2 halaman sudah materi baru.
Misal:
Belajar fathahtain kalau diwaqof, maka ga dibaca tanwin, tapi dibaca mad ada di halaman awal iqro 5. Sampai akhir halaman iqro 5, anak-anak masih sering banget dijelasin ulang, lihat lagi ke halaman tsb.
Buat pengiring pengingat huruf, sebenarnya bisa buku apa aja. Cuma buat wasilah untuk bantuan anak mengingat. Dulu, waktu zaman Thoriq, pakai buku metode Asy-Syafi’ karya Abu Ya’la.
Nah, kalau buku yang di foto, ini buku klasik banget ya. Siapa yang masa kecilnya masih ketemu buku ini :)?
Buku turutan ukuran buku tulis besar, cover biru
Aku dulu sempat diajarin Mama, sekitar usia 7-8 tahun. Ujung-ujungnya mandeg cuma sampai halaman 2 hehe. Akhirnya belajarnya dari iqro, belajar dari guru TK aku – rohimahallah – yang buka kelas TPA di rumahnya.
Beli buku ini di Social Agency. Ke sana abis lebaran. Masih suasana libur, diajak Abang dadakan. Kita seneng banget di sana. Akhirnya kepegang buku ini, kirain buat nambah referensi aja di rumah. Ternyata kepakai alhamdulilah.
Aku pakai yang biru, karena lebih jelas.
Perbandingan ukuran buku turutan dan iqro.
Kebayang ya, buku-buku yang sederhana ini puluhan tahun bermanfaat buat orang belajar Al-Qur’an. Ga heboh-heboh atau dibranding “penulis best seller”, “buku best seller”.
Ga perlu.
Tapi pahalanya insyaAllah mengalir untuk orang yang membuat dan menyusunnya. Sederhana apapun manfaat dari ilmu yang diambil.
Iqro Cadangan
Tips lain buat ngajar anak iqro, sediakan iqro cadangan . Ini mungkin bisa beda-beda situasi di tiap keluarga.
Tapi, kalau di sini, selalu ada momen iqro-nya ketelingsut entaah dimana. Jadinya, nambah waktu buat nyari dulu. Akhirnya mutusin untuk beli lagi untuk cadangan.
Ternyata, cetakan terbaru Iqro Rasm Utsmani, ada perubahan.
Tulisan bertumpuk tetap ada, tapi ga sebanyak yang lama.
Tulisannya ga full padat seperti versi lama. Sebenarnya tulisannya ada yang terlihat jadi lebih kecil.
Seperti aku ceritakan sebelumnya, saat video terakhir yang aku bagikan tentang Kembar Muroja’ah Hafalan Lama, kembar sudah iqro 5. Jadinya, ketika perbaikan hafalan, alhamdulillah sudah bisa sambil melihat Al-Qur’an dan membaca dan melihat posisi ayat.
Tapi, ketika melihat kondisi seorang anak sudah iqro 5, gak usah merasa wah apalagi insecure hehe. Karena, prosesnya – di tiap anak – panjang dan maju mundur.
Ini foto bulan Juli 2022. Iqro berapakah itu yang ada di foto? Iya benar, iqro 1.
[Versi Instagram bisa diakses di postingan Kembar Hafalan; postingan tanggal 23 Agustus 2022]
Hafalan kembar banyak yang pretel. Tapi memang seperti itu juga dengan kakak-kakaknya. Setelah masuk juz 29, hafalan juz 30 nya setengah buyar hehe.
Sabar (aku pun berusaha sabar). Diulang lagi pelan-pelan. Alhamdulillah kali ini bisa sambil lihat Al-Quran. Karena mereka udah bisa sedikit-sedikit (mereka iqro 5 udah mau selesai alhamdulilah).
Makanya bisa dibilang, malah kembar yang paling butuh intensif dan waktu khusus buat diajar.
Karena mereka belum bisa hafalan sendiri dan belum bisa baca sendiri juga.
Kalau udah dibilang intensif itu, maksudnya aku harus meluangkan waktu khusus untuk ngajarinnya, dan gak terlalu bisa disambi-sambi.
Jangan dibayangin kaya gini terus prosesnya. Aku lagi bolak-balik memanfaatkan berbagai kesempatan dan cari celah. Karena ini dua anaak hehehe.
Kadang sambil masak (lihat situasi apakah masaknya agak selo). Ini biasanya pas nambah hafalan.
Jadi mereka di dapur. Ngulang 1 ayat ganti-gantian.
Kadang, pas yang satunya lagi baca iqro, yang satunya lagi di dekat aku, ngulang 1 ayat. Sebelumnya dipastikan yang dibaca udah bener.
Baca iqro, satu halaman itu bisa lamaa ya…hehe. Nguapnya aja bisa 5x. Apalagi karena ini udah iqro 5, satu halaman tuh panjang yang di baca. Jadi cocok kalau yang satunya dikasih kesibukan yang bermanfaat.
Untuk muroja’ah hafalan lama, sementara seperti di video ini.
Ga selalu berhasil juga tiap hari. Kadang cuma setoran (hafalan lama) tanpa ada Alqur’an di hadapan.
Entah berapa kali aku bilang, ya begini, rasanya kaya “berantakan”. Keep moving forward aja.
– Secara Masehi, Oktober ini insyaAllah kembar usia 6th.
Lulus dari saqu ibnu Mas’ud, Ziyad masih ada kesempatan libur sekitar 2,5 pekan sebelum masuk ke Hamalatul Qur’an insya Allah.
Yang lulus kelas 9 di Ibnu Mas’ud Yogyakarta (IMY) cuma Ziyad hehe. Teman lainnya yang dulu pernah hadir belajar bersama, punya cerita masing-masing sampai akhirnya mereka gak berada lagi di sana.
Jadi, bisa dibilang, teman-teman yang masih ada adalah yang usianya dan kelasnya di bawah Ziyad. Ada yang berharap bisa nyusul Ziyad ke Hamalatul Qur’an. Ada juga teman Ziyad yang malah baru masuk usia SMP tapi sudah menghafal 30 juz. Namanya Hafidz.
Hafidz ini, yang kemarin janjian main ke rumah (mainnya hari Selasa, tanggal 28 Juni 2022). Aku udah kenal juga dengan ibunya karena beberapa kali ketemuan. Termasuk di wisuda tahfidz bulan Maret lalu – yang belum aku catat di sini hehehe -.
Rumahnya jauh di Godean. Jadi, dia main ke sini diantar bapaknya yang ada pekerjaan di wilayah Palagan sini. Alhamdulillah, Thoriq juga udah kenalan. Karena Hafidz berarti akan jadi teman Thoriq insya Allah. Teman satu angkatan malah. Karena sama-sama masuk kelas 7. Cuma beda usia aja. Hafidz ini kelahiran 2009, sedangkan Thoriq kelahiran 2011.
Ketika wisuda, Hafidz termasuk yang paling banyak jawaban benarnya ketika ditest ustadz. Padahal dia kelihatan santai banget. Ziyad cerita udah muroja’ah sampai malam, Hafidznya udah tidur duluan. Malah dia yang banyak benarnya. Aku sama Abang sama-sama bilang, “Soalnya dia masih polos Ziyad. Belum banyak pikiran macem-macem.” Beda sama anak remaja yang udah banyak banget yang dipikirin :D.
Alhamdulillah sempat makan siang di rumah. Alhamdulillah aku udah masak sengaja dibanyakin sore sebelumnya dan memang masakan yang cocok dipanasin lagi (ayam bakar).
Hampir gak pernah nge-go fo*d. Karena kami pernah nge-fo*d… Sekali 🙂
Waktu itu, seingat aku, masih awal-awal muncul go fo*d. Abang masih ragu-ragu dengan hukumnya. Dalam arti -ragu- di sini adalah Abang gak meyakini bolehnya secara syariat berdasar ilmu yang sudah Abang pelajari.
Ketika akhirnya merasakan order bakso lewat go fo*d, – yang itu pakai uang drivernya dulu -, semakin yakinlah Abang untuk gak menggunakan “fitur” ini di kehidupan kami.
“Gpp, biar Abang yang beli (makanan yang dimau) keluar. Insya Allah gak masalah.”
Bukan sebuah rekaman yang super rapi. Tapi, kenyataannya, kadang pas setoran hafalan seperti ini ya.
Ini lagi setoran hafalan baru. Insya Allah untuk membantu menggambarkan realita gimana praktek hafalan buat anak-anak.
Dari rekaman ini, aku juga dapat poin bahasan tentang hafalan baru. Yaitu tentang momen cek dan setoran hafalan baru yang sudah dihafal. Ini bisa aja bebas kapan aja, gak mesti duduk. Apalagi kalau surat-suratnya masih pendek-pendek juz 30 bagian belakang.
Tapi untuk NAMBAH ayat baru, seperti pernah aku share di salah satu postingan ya. Mereka duduk dan lihat Al-Qur’an. Karena ayatnya sudah model ayat yang kompleks. Plus suratnya juga panjang.
Di suatu makan siang, kami lagi ngobrolin tentang hafalan dia dan tes yang sedah dilalui. Sampai akhirnya dia nanya ke aku,
“Ummi, udah hafal juz x belum?”
“Belum,” aku jawab.
Tapi, terus mikir sejenak dan baru nyadar lagi ngafalin surat apa dan itu juz berapa.
“Eh. udah ding. Ummi baru 4 halaman juz x. Ummi mau mulai halaman ke-5 lagi nguatin dulu yang 4 halaman. Hukum semua soalnya isinya. ” aku ralat jawaban sebelumnya.
“Hafalin aja dulu, Mi sampai 5 halaman. Baru nanti nguatin,” kata Ziyad.
Ini yang paling awal, Abang suka dengerin murottalnya Abdurrohman Mus’ad. Kalau aku agak kurang nangkap bacaan yang model seperti itu. Terus lanjut lagi jadi sering dengar murottal Ahmad Asy-Syafi’i ini. Malah sempat nawarin; godain Ziyad waktu pulang dari pondok pekan kemarin.
Mau gak direkam kaya gini? Abang sambil nunjukin salah satu video Ahmad Asy-Syafi’inya pas masih lebih muda lagi posisi di depan mic studio. Ziyad nolak mentah-mentah haha.
Aku tulis ulang di sini ya yang di story beberapa waktu yang lalu.
Jawaban untuk kapan dan bagaimana nambah hafalan sebenarnya ga bisa satu jawaban. Begitupun muroja’ah.
– Anak yang sudah lebih bagus ritme tubuhnya, sudah mulai sholat 5 waktu, menambah hafalan setelah Subuh.
– Yang belum bisa teratur sholat Subuh, bisa cari waktu di hari itu. Bebas. Kita sesuaikan dg diri kita.
Anak harus patuh saat kita minta untuk hafalan.
– Yang lebih kecil lagi, balita, lebih fleksibel lagi. Ajak aja ngulang- ngulang 1 ayat, 2 ayat, 3 ayat sambil kita masak atau aktifitas kita lainnya. Panggil mereka. “Sini hafalan sama, Ummi.”
Kalau sudah mulai nambah terus hafalannya, harus juga ada waktu muroja’ah. Silakan lihat di feed yang judulnya Murojaah ya
Tapi memang masalah muroja’ah ini juga mesti didetailkan lagi. Karena masih sering muncul pertanyaan terkait setoran.
Semoga Allah mudahkan dijadiin tulisan utuh biar lebih runtut ya.
—
Ini tadi pagi. Ternyata lagi pada bangun pagi semua. Langsung berubah planning aku hehe. Niatnya mau nyelesein kerjaan, berubah jadinya aktifitas sama krucil.
Makanya aku pernah tulis, ga bisa diceritain dari pagi sampai malam gimana. Karena menyesuaikan keadaan. Tapi yang jelas target-target utamanya insyaAllah udah tahu. Itu yang berusaha dikerjakan..
— Kholid dan Handzolah insyaAllah mau 5 tahun Luma 7,5 th
Mungkin kita pernah melihat lontaran kalimat seperti ini,
“Biar tetap waras.” “Menjaga kewarasan.”
Kalimat ini, seringkali diucapkan berkaitan dengan aktifitas seorang ibu dalam menghadapi keseharian kehidupan. Ibu perlu hiburan, biar tetap waras. Kira-kira seperti itu makna secara umum ketika kalimat ini diucapkan.
Sejak awal nikah, kalau lagi mau keluar rumah, Abang selalu nanya, “Pakai daleman kan?”
Maksudnya, aku pakai dobelan celana apa engga.
Alhamdulillah dari sebelum nikah, aku emang udah biasa pakai kemeja buat daleman dan celana sebelum gamis. Jadi, dapat pertanyaan yang sebenarnya adalah bentuk lain dari perintah; gak terasa aneh atau berat insya Allah.
Alhamdulillah kemarin ada yang nanya tentang ini. Di buku catatan haid, di akhir catatan di bulan tertentu memang selalu aku tulis perkiraan haid untuk bulan depannya. Ini berguna banget bagi kita supaya lebih sadar dengan berbagai hal terkait diri kita sendiri.
Ini pas salah hitung. Harusnya 26 – 9 = 17 🙂
Misal, kalau mau masuk masa haid kita jadi lebih sensitif, ya berarti jadi bisa lebih berusaha mengontrol diri dan gak kebawa sama perasaan. Atau bahkan terkait haid itu sendiri, misal biasanya ragu-ragu apakah sudah masuk masa haid atau belum. Nah, kalau memang sudah masuk masa perkiraan haid, insya Allah kemungkinan itu adalah haid.
Gimana cara memperkirakannya?
Yang pertama harus tahu siklus haidnya berapa hari. Siklusnya bisa ketahui dari kebiasaan tiap bulan.
Ada beberapa hal yang berubah seiring waktu dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari. Ini karena terkait banyak hal. Alhamdulillah praktek dengan speaker ini berjalan cukup lama, sampai kembar hampir usia 3 tahunan.