Baper…

Sebagai penjual…tentu punya prinsip. Sebagai pembeli…tentu juga punya prinsip. Sebaik-baik prinsip…adalah yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang sailng bermudah-mudahan dalam jual beli. Aku sendiri masih belajar. Sebagai perempuan yang biasanya memang lebih ketat dalam pengeluaran. Seringkali aku diingatkan oleh Abang, untuk masalah ini.

Secara kenyataan, masalah mudah memudahkan dalam jual-beli ini banyak tantangannya. Baik pas aku jadi penjual, maupun jadi pembeli.

Suatu hari kemarin, aku memutuskan untuk membeli baby walker tambahan. Karena sudah beberapa kali searching di salah satu media jual beli online, akhirnya ketemulah yang di Jogja. Ah, apalagi ada tulisan, “Gratis pengiriman untuk daerah Sleman dan Jogja bagian tertentu.”

Baca selengkapnya Baper…

Tips Cara Memperdengarkan Al-Qur’an; Agar Anak Mudah Menghafal Al-Qur’an (Dengan Speaker)

Kita mungkin sering mendengar tips-tips agark anak lebih mudah menghafal Al-Qur’an. Namun seringkali kita bingung menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu tips yang telah terbukti adalah memperdengarkan Al-Qur’an 1 juz/hari sebanyak 5 kali sejak mereka bayi. Satu juz yang sama ini diulang-ulang selama 1 bulan.  Hasilnya selama satu bulan berarti mereka telah mendengar satu  juz sebanyak 150 kali.  Dalam 2 ,5 tahun,berarti anak telah mendengar 30 juz Al-Qur’an.

Hal ini insya Allah akan memudahkan mereka di kemudian hari ketika menghafalkan Al-Qur’an. Syaikh Dr. Kamil Al Labudi telah mempraktekkannya kepada anak-anaknya. Semua anaknya hafal Al-Qur’an sebelum umur 5 tahun.

Merasa telat mempraktekkan ini? Jangan khawatir. Tak ada kata telat insya Allah. Mari kita praktekkan tips ini sesegera mungkin. Saya sudah mulai mempraktekkannya sekitar 6 bulan yang lalu. Baik kepada anak kembar saya yang masih bayi, maupun kepada kakak-kakaknya yang sudah berusia 3 tahun, 6 tahun dan 10 tahun. Alhamdulillah efeknya sangat terasa sekali. Apalagi ke anak saya yang berusia 6 tahun. Kelihatan sekali dia tipikal belajar audio. Dia bisa hafal ayat-ayat yang sedang dihafal kakaknya. Seringkali saat Ziyad (10 tahun) sedang menyetorkan hafalannya, Thoriq (6 tahun) tahu sambungan ayat selanjutnya. Barokallahu fiihim.

Bagaimana mempraktekkan tips memperdengarkan Al-Qur’an ini? Baca selengkapnya Tips Cara Memperdengarkan Al-Qur’an; Agar Anak Mudah Menghafal Al-Qur’an (Dengan Speaker)

Kegiatan Ziyad Bulan Ramadhan; Libur Belajar Sekolah…Terus Ngapain?

Ziyad (9th) sudah mulai puasa penuh sejak umur 7 tahun alhamdulillah. Berarti ini puasa tahun ke-3 untuk dia. Momen dia belajar full puasa itu kan juga di tahun yang sama pas dia mulai homeschooling tingkat SD. Nah…berdasarkan pengalaman selama 2 tahun kemarin, proses belajar formal di rumah itu berkurang drastis kalo:

  1. Pas ada nenek kakek/oma opanya datang atau
  2. Pas bulan puasa, karena ketika puasa, waktunya jadi berasa sempiiit banget.

Kalau kedua sebab itu barengan ada, berarti lebih-lebih lagi kan hehe.  Karena 2 tahun kemarin ada mertua di sini pas lagi bulan puasa.

Ramadhan Kali ini

Nah, karena Ramadhan kali ini gak ada mertua, aku pikir bisa tetap belajar sedikit-sedikit. Jadi, pas hari-hari awal, masih sempat belajar sedikiiit. Kayanya cuma aku kasih soal-soal atau ngerjain tugas.

Baca selengkapnya Kegiatan Ziyad Bulan Ramadhan; Libur Belajar Sekolah…Terus Ngapain?

Ketika Merasa Cucu tak Disayang Mertua

Perasaan ini bisa muncul kapan pun, dimanapun karena dengan sebab apapun. Pun juga tidak tidak mesti terjadi dari sisi mertua, bahkan orang tua sendiri pun bisa.

Si A misalnya, sebagai anak, ia sendiri merasa memang bukan anak kesayangan orang tua. Akhirnya ketika ia punya anak, ia merasa anaknya pun diperlakukan biasa-biasa saja.

Atau si B, yang mengharapkan anaknya ditimang-timang oleh sang mertua. Diberi hadiah berupa apapun. Tak mesti mahal, tapi cuma ingin tahu anakku diingat tidak oleh mertua, katanya. Tapi harapannya tak kunjung datang.

Dan masih banyak perasaan lain yang banyak jenisnya. Yang jelas intinya sama, mertua/orang tua tidak sayang cucu.

Lalu, bagaimanalah ini? Apakah perasaan ini salah? Kalau iya,  bagaimana cara menepisnya?

Kita sebagai Anak atau Menantu

Alhamdulillah, kita diberi tuntunan syari’at yang sangat jelas tentang kewajiban sebagai anak. Dan ini berlaku juga sebagai menantu.

Karena peran kita sebagai istri, adalah juga membantu suami untuk melakukan kewajibannya kepada orang tuanya.

Kita memang memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang. Tapi yakinlah, secara fitrah orang tua sudah mencurahkan segenap kasih sayangnya sejak kita kecil. Bahkan doa untuk orang tua yang kita amalkan adalah agar Allah menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kita di waktu kecil.

Maka, pada saat perasaan resah gelisah ingin agar cucu (anak kita) mendapat perhatian lebih dari mertua, cenderungkanlah hati untuk mengingat kewajiban kita sebagai anak, yaitu berbakti kepada orang tua.

cucu-tak-disayang-mertua

Akan lebih baik lagi jika kita memikirkan bagaimana kitalah yang menunjukkan kasih sayang dan perhatian itu kepada mertua atau orang tua.

Akan lebih baik lagi jika kitalah yang memberikan hadiah kepada mereka.

Akan lebih baik lagi jika kita berusaha mendapatkan surga dengan berbuat sebaik-baik apa yang bisa kita perbuat untuk mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ، أَحَدُ هُمَا أَوكِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]

Tips Menghilangkan Perasaan Sedih karena Merasa Cucu Tak Disayang Mertua/Orang tua

  • Ingat kewajiban utama kita, yaitu bakti kepada orang tua.
  • Ingatlah bahwa yang lebih pantas, kitalah yang memperhatikan mereka. Karena kita tidak mungkin membalas budi baik mereka. Aneh jika kita kemudian malah mengharapkan mendapat tambahan budi dari dari mereka.“Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.” (HR. Muslim no. 1510)
  • Biasakanlah diri kita untuk tidak mengharapkan balasan ketika melakukan kebaikan untuk orang lain. Baik itu hal yang sifatnya materi atau non materi. Apalagi ini adalah orang tua kita sendiri atau orang tua suami kita. Ingatlah apa yang kita harapkan adalah keridhoan Allah.
    “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al-Insan: 9).
  • Buang pikiran negatif (rasa was-was) dan biasakan berpikir positif. Was-was itu dari setan. Jika muncul perasaan ini, cobalah dengan membaca surat al-mua’awadzatain (surat Al-Falaq dan An-Naas).
  • Jangan “menularkan” perasaan negatif ini kepada pasangan atau bahkan ke anak kita sendiri.
  • Fokuslah untuk memberi perhatian kepada anak dan tidak mengharapkan orang lain yang memberi perhatian :).
  • Jadikan pikiran kita saat ini menjadi bekal kita bersikap di masa depan. Bukankah kita esok insya Allah juga akan menjadi nenek?

Semoga bermanfaat.

cizkah
Jogja, 5 Syawal 1437 H/11 Juli 2016

Artikel www.ummiummi.com

Judinya Anak-Anak

 

Sebenarnya, Ziyad (9th) udah pernah dijelasin tentang judi. Tapi memang jenis permainannya beda dengan yang terjadi kemarin. Judi yang aku jelasin lebih ke permainan tepok-tepokan, gundu. Semuanya itu gak pake uang. Tapi kalo main terus mereka nanti ada yang “ngambil” mainan temannya karena “menang”, maka itu judi. Wajar sih kalo Ziyad belum ngerti. Kadang, kita sendiri sebagai orang tua masih bertanya-tanya atau baru tahu kalau ternyata permainan yang ini atau yang itu haram.

Satu sore menjelang Ashar di bulan Ramadhan ini,  Ziyad ngasih tahu, “Mi, nanti minta 1000 ya. “H” mo ngadain kuis di rumahnya.”

“Kuis apa?”

Baca selengkapnya Judinya Anak-Anak

Video Doa Buka Puasa Sahih untuk Anak-Anak


Apa yang kita dengar sedari kecil belum tentu benar. Bisa karena ilmu pengetahuan kita yang terbatas, bisa juga karena ilmu pengetahuan itu sendiri yang berkembang berdasar penemuan terbaru.

Contohnya jumlah planet di Galaksi Bimasakti (Milky Way).

Dalam urusan syariat, seringkali doa yang kita ketahui lebih karena sering di dengar dan pada umumnya dibaca (ilmu pengetahuan kita terbatas). Kita jarang (atau tidak pernah) diperkenalkan dengan yang namanya hadits sahih atau palsu atau dhoif.

Alhamdulillah, sekarang, pengenalan dan pemahaman tentang pentingnya hadits sahih untuk beramal semakin dikenal. Sehingga kita bisa memperkenalkan doa-doa kepada anak kita, sesuai yang diajarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah satunya adalah doa berbuka puasa. Ternyata doa yang biasa kita lafalkan atau dengar di waktu kecil, yaitu doa “Allahumma lakasumtu…” bukan merupakan doa yang sahih dari Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun doa yang sahih dari Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Artinya:

“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.”

(HR. Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani).

Doa ini dibaca setelah berbuka. Adapun ketika berbuka, membaca doa sebelum makan seperti biasa, yaitu dengan bacaan “Bismillah”.

Nah, supaya anak-anak lebih mudah menghafal doa ini melalui audio dan visual, (sebagaimana kita juga dulu terbiasa mendengar doa ini dari televisi :)), yuk perdengarkan doa ini melalui video yang dibuat khusus untuk anak-anak ini.

Semoga bermanfaat.

cizkah
Jogja 21 Juni 2016/16 Ramadhan 1437

Artikel www.ummiummi.com

Tips Mengkhatamkan Al-Qur’an di Bulan Ramadhan untuk Ibu-Ibu; Spesial untuk Tips ke-5 (Disertai Video)

Alhamdulillah, Allah masih mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan kali ini. Bulan ini begitu spesial karena banyak hadits yang menunjukkan pahala yang berlipat ganda untuk amalan ibadah di bulan ini.

Salah satu amalan ibadah yang utama untuk dilakukan di bulan ini adalah membaca Al-Qur’an. Dari contoh teladan kita nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemimpinnya para malaikat yaitu Jibril ‘alaihissalam, menyetorkan bacaan Al-Qur’an di bulan ini (mengkhatamkannya). Contoh dari para generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat rodhiallahu ‘anhum dan orang-orang shalih yang datang sesudahnya pun menaruh perhatian khusus untuk membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan ini.

Lalu bagaimana dengan kita ibu-ibu? Apalagi yang anak-anaknya masih usia balita.
Yang pekerjaannya hampir tak pernah henti. Yang rasanya masih kurang 24 jam untuk menyelesaikan semua pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga dan keluarga? Apakah kita masih bisa meraih dan mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan yang penuh berkah ini?

Baca selengkapnya Tips Mengkhatamkan Al-Qur’an di Bulan Ramadhan untuk Ibu-Ibu; Spesial untuk Tips ke-5 (Disertai Video)

3 Pilihan Masjid untuk I’tikaf Keluarga di Jogja

Pas dipostingan tentang awal aku hamil, aku sempat tulis rencananya pingin hamil setelah lebaran. Salah satu sebabnya sebenarnya pinginn banget bisa i’tikaf bareng sama keluarga. Maksudnya, kalo memang gak sama anak-anak gak mungkin, berarti ya sama anak-anak. Udah ngomong sama abang juga jauh-jauh hari. Sebenarnya pingin juga dari kemarin-kemarin, tapi biasanya pas ada mertua di Jogja, atau pas aku mudik ke Jakarta, atauu…pas aku lagi hamil muda yang kondisi fisik aku pasti super weak hehe.

Nah, walaupun hamil, tetap menyimpan asa itu. Kemarin tanya ke teman-teman di whatsapp. Ada beberapa alternatif pilhan di Jogja. Ga tau nanti bisa terwujud apa engga, yang penting tau infonya dulu :D.

  1. Masjid Nurul Fikri di Deresan
  2. Masjid Syuhada
  3. Masjid UII di Kaliurang atas.

Baca selengkapnya 3 Pilihan Masjid untuk I’tikaf Keluarga di Jogja

Percakapan Ibu-Ibu dengan Aku yang Bercadar

Alhamdulillah bisa ikutan puasa kali ini. Yang lebih bersyukur lagi adalah bisa full masak, gak pake beli di luar. Buat bukaan, sahur, nyiapin minuman berbuka dan makanan tambahan pasca sholat tarawih sendiri. Seneng banget walaupun sajiannya sederhana tapi insyaallah lebih sehat dan bikin selera makan dibanding beli lauk di luar. Yang pasti lagi, ya lebih hemat.

Nah, tapi kan gerak aku terbatas banget untuk belanja. Padahal warung sayur dekat rumah ternyata stock selama bulan puasa ini lebih sedikit daripada bulan-bulan biasa. Plus lagi, banyak bahan makanan yang cuma bisa aku dapatin di swalayan. Misal daging giling atau gurami hidup.

Akhirnya ngajak abang Sabtu ini ke swalayan. Berangkat cuma ngajak Luma. Ziyad sama Thoriq – yang lagi kurang enak badan – ditinggal di rumah. Luma pakai rok batik warna merah hasil beli di Beringharjo. Plus jilbab Jersey warna coklat muda. Lucu banget masya Allah.

Baca selengkapnya Percakapan Ibu-Ibu dengan Aku yang Bercadar

Lusi, Iwan dan LGBT

Dakwah itu…pada dasarnya memang harus lembut. Karena dengan kelembutan, InsyaAllah akan lebih baik hasilnya. Pun menghiasi akhlak orang yang sedang berdakwah.

Dakwah kepada orang yang menderita LGBT pun begitu. Karena mereka juga ga semuanya bisa dipukul rata punya sifat yang sama. Tingkat keparahannya berbeda, penyebabnya berbeda dan seterusnya. Maka jika kemudian nasehat disampaikan kepada mereka tanpa nada emosional ataupun kebencian, InsyaAllah akan lebih baik lagi.

Kok aku bisa ngomong gini? Karena aku pernah hampir setahun kenal dengan orang seperti ini. Bertemu langsung. Bahkan – walaupun sedikit – berbicara dengan mereka. Ajaib ya.
Memang banyak yang belum aku ceritakan tentang hidupku. Salah satunya ya ini.

Waktu itu aku masih bekerja di warnet. Sudah pakai jilbab alhamdulillah. Tapi belum kenal sunnah seperti sekarang.

Warnet tempat aku bekerja cuma beberapa puluh langkah dari pasar Sumber Artha. Warnetku menempati blok keempat dari lima blok yang disewakan. Blok ketiga, dijadikan tempat usaha salon. Namanya, Salon Lusi.

Siapakah Lusi?

Sepertinya, dia adalah nama salah satu pendiri salon tersebut. Aku gak pernah tahu nama aslinya. Aku yakin Lusi bukan nama aslinya. Kecuali di dunia ini, ada orang tua yang kasih nama anak laki-lakinya Lusi.
Baca selengkapnya Lusi, Iwan dan LGBT

Syarif : Mutiara yang Ditemukan Itupun Berkilau

Ini adalah kisah nyata seorang anak di zaman kita. Yang tadinya perkembangan hafalannya terlihat biasa-biasa saja. Bahkan bisa dibilang lambat. Namun karena petunjuk dari Allah ta’ala, akhirnya kemampuannya bisa melejit sedemikian cepatnya. Kini ia telah hafal Al-Qur’an 30 juz, memiliki sanad qiro’ah, hafal 11.000 hadits. Insya Allah, kemampuan ini akan terus berkembang dengan izin Allah ta’ala.

Baca selengkapnya Syarif : Mutiara yang Ditemukan Itupun Berkilau

Palsu

Palsu…itu kalo seseorang menulis atau membahas tentang kebahagiaan, padahal dia jauh dari Allah. Jauh dari Islam. Jauh dari syari’atnya.

Palsu…seperti para komedian. Yang berbuat sesuatu untuk ditertawakan, padahal ternyata dirinya sendiri tak bisa tertawa bahagia.

Palsu…seperti para aktor komedian luar, yang sepanjang hidupnya dikenal sebagai seorang yang humoris, lugu atau terlihat tanpa beban. Namun ternyata mengalami bipolar disorder…atau bahkan mati bunuh diri karena depresi.

Palsu…
Aku sangat yakin itu palsu.

Sedang bersedih karena seorang penulis yang aku sempat mengikuti perkembangannya beberapa tahun terakhir, akhirnya buka jilbab.
Baca selengkapnya Palsu

Bacaan Murottal Juz 30 oleh Abdurrohim bin Syamsuri

Membiasakan anak mendengar bacaan Al-Qur’an dengan tajwid yang benar adalah bagian dari usaha yang perlu dilakukan oleh orang tua.

Berikut ini adalah salah satu bacaan anak bangsa yang bisa kita perdengarkan kepada buah hati.

Versi playlist dalam bentuk video bisa dilihat di sini:
https://www.youtube.com/playlist?list=PLUuYlj8dcEXY_h6a0CpmkeG49Xrn4bUp4

Untuk versi audio bisa Bunda dengarkan atau download lewat link berikut:

Jika ingin memasang di blog/website anda pribadi, bisa di embed kode di bawah ini:

Youtube:

<iframe src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/videoseries?list=PLUuYlj8dcEXY_h6a0CpmkeG49Xrn4bUp4&amp;showinfo=0" width="560" height="315" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe>

Tampilannya adalah seperti berikut ini:

soundcloud berikut ini:

[soundcloud url="https://api.soundcloud.com/playlists/159080683" params="auto_play=false&amp;amp; hide_related=false&amp;amp; show_comments=true&amp;amp; show_user=true&amp;amp; show_reposts=false&amp;amp; visual=true"width="100%" height="450" iframe="true" /]

Tampilannya adalah seperti berikut ini:

Semoga bermanfaat.

 

Catatan:

Beliau adalah Abdurrohim bin Syamsuri.
Beliau meraih juara 1 se-Asia  Pasifik  kategori 30 JUZ
Beliau juga meraih juara 4 pada lomba Dubai International Holy Qur’an Award ke-19 yang berlangsung di Dubai, Persatuan Emirat Arab (PEA)

Ketika Sang Ayah Geram dan Anak Bersikap Acuh

Perilaku orang tua dalam mendidik mencerminkan suatu porsi besar masalah pendidikan anak. Orang tua yang sukses dalam mendidik anak adalah para orang tua yang memperoleh pengalaman mendidik dari anak-anak mereka. Mereka memperolehnya dari anak-anak mereka melalui perkembangan reaksi-reaksi mereka yang mengingatkan agar menahan marah ketika menghadapi perilaku-perlaku buruk anak mereka dan memberinya petunjuk agar berlaku lemah lembut.

Ambillah contoh situasi berikut ini

  • Anak-anak bermain dengan gaduhnya.
  • Ayah mereka menyuruh mereka bermain dengan tenang.
  • Mereka mengacuhkan kata-katanya.
  • Sang Ayah membentak, “Bermainlah dengan tenang atau kalian harus masuk kamar!”
  • Anak-anak menampakkan kepatuhan, “Ya Ayah, kami akan main dengan tenang”, akan tetapi mereka masih saja bermain seperti itu.
  • Sang ayah naik pitam, “Jika kalian tidak tenang juga, ayah hajar kalian!”
  • Anak-anak diam seribu bahasa.

Tetapi, apa yang mereka pelajari? Mereka belajar bahwa ayah mereka sungguh-sungguh hanya ketika mengancam akan memukul.

Dan apa yang dipelajari sang ayah? Ia belajar bahwa anak-anaknya tidak menyimak nasihat; mereka hanya mengerti bahasa “hajar”.

Kedua belah pihak, sang ayah dan anak-anaknya, mempelajari hal yang keliru.

Ambillah contoh lain berikut ini;
Setiap kali Khalid (bocah 5 tahun) pergi bersama ayahnya ke warung sayur, ia meminta sekantong permen. Suatu kali, sang ayah menolak memberinya. Mulailah Khalid mendesak. Sang ayah tetap menolak.

“Tidak, Khalid, ayah tidak akan membelikanmu permen apapun.”

Tak ayal, si bocah mengamuk dan menendang-nendang lantai; mukanya memerah dan tangisnya pecah. Ayahnya mengancam akan memukulnya jika ia tidak berhenti mengamuk dan menangis. Tetapi, Khalid malah menangis semakin keras dan mengejang semakin kencang.

Setiap orang yang ada di tempat itu pun memandangi Khalid dan ayahnya. Akhirnya, sang ayah menyerah dan membelikan permen yang anaknya inginkan.

Nah, apa yang Khalid pelajari dari situasi ini?
Ia benar-benar belajar bahwa ucapan “tidak” sama sekali tidak berarti. Sang ayah telah mengucapkannya lebih dari satu kali, tetapi toh ia tetap membelikan apa yang Khalid inginkan.

Ia juga belajar, apabila menghendaki sesuatu, ia harus mendesak, merengek, menangis dan menendang-nendang lantai; semua perilaku inilah yang membuat sang ayah menyerah dan memenuhi permintannya.

Dan apa yang dipelajari ayahnya?

Ia benar-benar mempelajari bahwa sarana untuk menenangkan Khalid dan cara agar tidak berada dalam posisi sulit di tengah situasi rumit adalah membelikan apa yang Khalid inginkan, apapun itu.

Demikianlah, kebanyakan orang tua berkeyakinan bahwa pasrah dan memenuhi berbagai permintaan anak merupakan satu-satunya sarana untuk memadamkan amarah dan jeritan mereka. Tidak perlu diragukan lagi, ini adalah suatu kesalahan yang memperparah keadaan. Sebab, tatkala kita mengganjar amukan dan rengekan anak dengan hadiah, berarti kita mengajari mereka untuk bertambah marah di masa depan. Akibatnya, perilaku mereka malah memburuk.

 

Sumber: Sentuhan Jiwa Untuk Anak Kita,Dr. Muhammad Muhammad Badri