Cara Menasehati Anak ala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Orang tua, kalau sudah marah atau kesal dengan anaknya, memang mudahnya langsung saja melontarkan kekesalannya.

Apalagi jika si anak dirasa benar-benar keterlaluan melakukan kesalahan. Omelan-omelan yang dilontarkan mungkin dari si ibu yang sambil memasak atau sambil melakukan aktifitas rumah tangga lainnya. Lain lagi dari si ayah, nasehat bercampur amarah dilontarkan sambil menggebrak, melotot atau bahkan memukul. Na’udzu billah min dzalik.

Sabar pada hentakan pertama itu memang perlu dilakukan dimanapun dan ketika berhadapan dengan siapapun. Apalagi kepada anak kita, yang perasaannya juga halus sama dengan manusia dewasa, namun dengan tingkat akal yang masih berbeda. 

Maka, ketika orang tua kesal, sikap yang harus dilakukan pertama kali adalah sabar.

cara menasehati anak

Langkah selanjutnya, coba kita ambil pelajaran dari sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menghadapi pertanyaan seorang pemuda yang minta izin untuk berzina. Bayangkan! Minta izin berzina!

Kalau kita bayangkan ada anak kita atau anak lain minta izin,

“Ma, boleh gak aku berzina?” atau “Boleh gak saya berhubungan sama si Fulan?”

Mungkin yang langsung muncul di pikiran kita adalah si anak ini bersikap kelewat batas, kurang adab, atau bisa dibilang kurang ajar. Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun merasakan hal yang sama. Mereka langsung menyuruh si pemuda untuk diam dan menghardiknya.

Tapi bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi pemuda ini.

Rasûlullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, Mendekatlah”.

Pemuda itu pun mendekat lalu duduk.

Setelah itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memberi pertanyaan yang mudah dicerna dan dijawab dengan cara berpikir si pemuda.

Pertanyaan itu tentang apakah jika si pemuda rela jika ibunya dizinai. Atau ketika anak perempuannya esok hari dizinai. Atau ketika saudari perempuannya dizinai. Atau ketika bibinya dizinai. Dan tentu saja jawaban pemuda tersebut, “Tidak.” Ia tidak rela.

Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan sang pemuda sambil meletakkan tangan beliau di dada sang pemuda. (Hadits riwayat Ahmad, no. 22211; sanadnya dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Pelajaran apa yang bisa kita ambil ketika menasehati anak:

  1. Sabar. Tidak mudah terpancing emosi, bahkan ketika yang dilakukan anak secara akal orang dewasa adalah sesuatu yang luar biasa tidak beradab atau keterlaluan.
  2. Menasehati dengan posisi dekat dan kondisi tenang. Bukan menasehati sambil mengomel apalagi dilakukan sambil mondar-mandir ke sana kemari. Belum lagi disambi pekerjaan lainnya. Posisi dekat juga memungkinkan kita memandang wajah anak dan menatap matanya. Kondisi tenang agar anak lebih mudah mencerna yang kita katakan.
  3. Mengajaknya berpikir dan merenung sesuai tingkat akalnya. Tidak menggunakan bahasa yang tinggi atau sulit dipahami anak.
  4. Menyentuh badan anak. Hal ini berguna untuk menarik perhatian dan konsentrasinya. Pun juga si anak merasa kita tetap menyayanginya. Karena secara alami, saat orang merasa kesal atau tidak suka dengan sesuatu, tidak ingin bersentuhan dengannya. Dengan ini kita pun harus berusaha melawan ego dan rasa risih itu. Menyentuhnya bisa juga dengan cara memeluknya.
  5. Mendoakan kebaikan untuk si anak.  Dengan ini, anak insya Allah bertambah rasa cintanya kepada orang tua dan semakin menyadari bahwa orang tuanya memang mencintainya dan tetap menyayanginya walaupun ia telah melakukan kesalahan.

Semua ini terkesan mudah, tapi butuh perjuangan saat melakukannya. Semoga kita dimudahkan untuk mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari saat menghadapi anak ataupun orang lain yang melakukan kesalahan.

cizkah

Jogja, 13 Agustus 2016/10 Dzulqo’dah 1437 H

Artikel www.ummiummi.com

  • Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.’ Rasulullah bersabda,
    ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama.’ (HR. Bukhori I/430 no.1223, Muslim II/637 no.926 dan Abu Daud II/210 no.3124).

Referensi: 
Sentuhan Jiwa untuk Anak, Muhammad Muhammad Baderi

Wahai Rasulullah, Izinkan Aku Berzina


http://www.salamdakwah.com/baca-forum/lafazh-hadits—sabar-hanya-pada-awal-musibah—dan-maknanya.html

Uang Saku, Menabung dan Insiden Tabungan Ziyad

Uang

Ziyad mulai aku bisa amanahi membeli sesuatu sejak usia 5 tahunan. Dikasih catatan, dititipin uangnya, nanti bisa balik lagi insya Allah. Amanahinnya juga masih kecil-kecil nilainya. Paling beli bumbu dapur, tomat atau sayur mayur lain yang kadang suka ketinggalan pas belanja. Beda sama Thoriq yang sekarang juga usia 5 tahun lebih, ternyata belum bisa diamanahi itu. Pernah beberapa kali aku minta tolong beli benda-benda (nilainya gak lebih dari 8ribu), tapi ternyata dia belum sadar sepenuhnya. Bingung udah bayar apa belum, apa itu kembalian, mana kembalianya dll hehe. Akhirnya gak boleh berangkat sendiri kecuali cuma beli yang buat dia sendiri senilai seribu rupiah.

Uang Saku/Jajan

Ziyad mulai mengenal uang jajan/uang saku tepatnya bulan Agustus 2014. Ko bisa inget banget? Soalnya waktu itu masa-masa aku dan abang berusaha gimana keluarnya gak semotor berlima karena motornya masih satu. Salah satunya adalah dengan menggunakan waktu main Ziyad pas kami keluar. Dia main, kami keluar.

Baca selengkapnya Uang Saku, Menabung dan Insiden Tabungan Ziyad

Video Hijaiyah Harokat Fathah, Kasroh, Dhommah

Saat memperkenalkan anak dengan huruf-huruf hijaiyah, rasanya semua bisa berjalan menyenangkan. Anakpun – biasanya – menjalaninnya tanpa menyadari bahwa mereka sedang belajar.

Namun, ketika diarahkan mulai belajar secara formal dan mengarah kepada harokat, kemudian huruf bersambung dan seterusnya, akhirnya beberapa kendala pun mulai muncul.

Memang tidak semua anak. Luma, anak ketiga saya, dengan senang hati – bahkan meminta – untuk dibacakan flashcard berharokat. Dari harokat fathah sampai dhommah. Per huruf.

Sedangkan pengalaman belajar dengan Thoriq – anak kedua saya, ketika bertemu harokat kasroh dan dhommah cukup lama membiasakannya. Mulut dan lidahnya terkesan kagok. Saat memperkenalkan hijaiyah berharokat,  saya memang fokus saja dengan harokat fathah sampai akhirnya dia mulai belajar hijaiyah tahap lanjutan.

Dari berbagai latar belakang itulah, akhirnya saya mencoba membuat video huruf hijaiyah berharokat. Semoga bisa dilanjutkan ke tahapan belajar selanjutnya, yaitu mengenal huruf bersambung, mempelajari mad, tanwin, sukun dan materi lainnya dalam rangka anak menuju bisa baca Al-Qur’an.

Baca selengkapnya Video Hijaiyah Harokat Fathah, Kasroh, Dhommah

Cara Memilih Buku Pelajaran untuk Homeschooling

Alhamdulillah, memasuki tahun ke-4 kegiatan homeschooling tingkat SD untuk Ziyad. Seperti pada umumnya sesuatu, makin lama kita ngerjain sesuatu, insya Allah makin tahu mana yang baik mana yang paling enak, mana yang praktis dll. Nah, untuk buku pelajaran, kali ini pun aku milihnya lebih terarah. Gak kaya tahun-tahun sebelumnya yang agak tebak-tebak mana buku yang cocok. Kadang ada buku-buku yang gak terpakai karena kurang enak pas praktek di pengajarannya.

Contohnya pas Ziyad kelas 2. Lagi heboh kurikulum 2013. Materinya tematik. Buku-buku banyak yang disusun tematik. Akhirnya beli buku paket yang model tematik gini cetakan terbaru. Tapi pas belajar malah aku ngerasanya kurang terarah dan banyak yang kurang berbobot alias bisa di-skip. Contohnya pelajaran tentang gerakan olah raga dll gitu. Kan semua pelajaran masuk dalam satu tema tertentu. Padahal aku merasa harus lebih fokus ke matematika karena Ziyad memang butuh perhatian di situ. Akhirnya waktu itu beli buku baru yang pembahasannya per pelajaran seperti biasa.

Baca selengkapnya Cara Memilih Buku Pelajaran untuk Homeschooling

Resep Daging Sapi Lada Hitam (Seri Masakan Cina Lezat dan Praktis)

Resep ini adalah termasuk salah satu resep masakan Cina yang mudah saat pembuatannya dan tetap terasa lezat dan kaya rasa. Mudah bagi saya karena bahannya hampir sebagian besar tinggal cemplung-cemplung dengan menggunakan sendok makan.

Bahan:

  • 500 gr daging has dalam sapi, iris melintang serat tipis (Kalau saya kemarin pakai sekitar 250gr bagian sirloin yang sudah dicincang dari swalayannya, bumbu lain menyesuaikan)
  • 1 sdm tepung maizena
  • 2 sdm minyak sayur
  • 2 siung bawang putih (II)
  • 25 gr bawang bombay, cincang (untuk perut yang sensitif dengan bawang bombay seperti saya, bawang bombaynya hanya seujung saja, untuk cita rasa dan tidak menimbulkan gas di perut)
  • 100 ml air
  • 2 sdt merica hitam butiran, sangrai, memarkan

Baca selengkapnya Resep Daging Sapi Lada Hitam (Seri Masakan Cina Lezat dan Praktis)

Tired, Sad..and Worried…

Sedih

Gak tau apa karena aku terlalu capek jadi kesedihan itu jadi semakin menggugu, atau karena aku  yang terlalu sedih kemudian jadi berasa capek dengan semuanya.

Terus akhirnya pikiran kemana-mana, dan perenungan jadi kemana-mana terus ternyata muncul kesadaran akan masalah lain yaitu aku khawatir…

Malam ini banyak perenungan.
Abis periksa kehamilan minggu ke 24 lewat 5 hari.

Aku berusaha menahan diri dari semua keluh kesah yang mungkin bisa aku lontarkan kepada Abang. Aku juga berusaha menahan diri dari melampiaskan masalahku dalam bentuk kemarahan kepada anak-anak.

Baca selengkapnya Tired, Sad..and Worried…

Review Buku Parenting Islam, “Modern Islamic Parenting”

Membaca bab awal buku ini, saya pikir buku ini biasa saja. Bahkan cenderung terlalu klise. Tapi saya meneruskan membaca karena memang isi bukunya ringan dan kalimat-kalimatnya mudah dicerna.

Namun makin ke dalam saya menemukan berbagai ilmu tambahan tentang bagaimana bersikap kepada anak – dan semoga saya selalu ingat ketika harus mempraktekkannya 🙂 -.

Buku ini dari awal terkesan ringan di baca karena tidak terlalu tebal. Sampulnya soft cover. Dari awal sudah dapat dirasakan ringannya karena penulis selalu membagi bahasan dibatasi dengan judul yang hanya terdiri dari beberapa paragraf pendek atau membahas topik tertentu dengan poin-poin.

Baca selengkapnya Review Buku Parenting Islam, “Modern Islamic Parenting”

Antara Membentuk Kepercayaan Diri dan Mendidik Hal Lainnya…Yaitu..

Ada diskusi sama teman-teman, salah satunya tentang membentuk kepercayaan diri dengan cara membiarkan mereka melakukan pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Sumbernya dari buku Modern Islamic Parenting.

Masalahnya, kadang anak melakukan suatu pekerjaan tapi kitanya kan masih ragu-ragu ya. Apa bersih, apa bener, apa begini dan begitu.

Contohnya banyak, misal mandiri sendiri, cebok sendiri, ngepel, nyapu, cuci piring.

Kalo dari yang terjadi sehari-hari di rumah kami seperti ini. Contoh kasusnya: mandi.

Dilihat dulu apakah si anak sebelumnya udah pernah diajarin atau belum tata cara mandi yang bener hehe. Misal gosok giginya gimana, terus abis itu siram badan, gosok sabunnya gimana. Nyiram badannya gimana, mukanya gimana, nyiram telinga gimana, punggungnya gimana dst.

Kalau memang anaknya udah diajarin sebelumnya gimana mandi yang benar, maka untuk selanjutnya insya Allah gpp terkadang dimandiin lagi atau nanti satu saat diajarin lagi. Apalagi kalo masih baru-baru belajarnya dan usia si anak memang masih layak untuk diajarin.

Baca selengkapnya Antara Membentuk Kepercayaan Diri dan Mendidik Hal Lainnya…Yaitu..

Kegiatan Ziyad Bulan Ramadhan; Libur Belajar Sekolah…Terus Ngapain?

Ziyad (9th) sudah mulai puasa penuh sejak umur 7 tahun alhamdulillah. Berarti ini puasa tahun ke-3 untuk dia. Momen dia belajar full puasa itu kan juga di tahun yang sama pas dia mulai homeschooling tingkat SD. Nah…berdasarkan pengalaman selama 2 tahun kemarin, proses belajar formal di rumah itu berkurang drastis kalo:

  1. Pas ada nenek kakek/oma opanya datang atau
  2. Pas bulan puasa, karena ketika puasa, waktunya jadi berasa sempiiit banget.

Kalau kedua sebab itu barengan ada, berarti lebih-lebih lagi kan hehe.  Karena 2 tahun kemarin ada mertua di sini pas lagi bulan puasa.

Ramadhan Kali ini

Nah, karena Ramadhan kali ini gak ada mertua, aku pikir bisa tetap belajar sedikit-sedikit. Jadi, pas hari-hari awal, masih sempat belajar sedikiiit. Kayanya cuma aku kasih soal-soal atau ngerjain tugas.

Baca selengkapnya Kegiatan Ziyad Bulan Ramadhan; Libur Belajar Sekolah…Terus Ngapain?

Review Buku Bulan Juli ; 1111 Pertanyaan dan Jawaban National Geographic Kids dan lainnya)

Sudah lama, setiap habis beli buku, aku berencana untuk ngereview buku yang kami beli. Tapi sering ketunda karena aku nunggu mana sih buku yang recommended. Tapi karena ditunda dan kesannya nunggu sempurna, akhirnya malah gak jadi-jadi hehe.

Aku pikir, aku coba mulai bulan ini ngereview singkat buku-buku yang kami beli ya. Sekalian positif atau kurangnya dari si buku. Jadi gak mesti recommended. Semoga bermanfaat.

Toko Buku

Oh ya, kami biasanya beli buku ganti-ganti. Di Toga Mas, Gramedia atau Social Agency. Tapi paling sering di Toga Mas. Pertama karena buku-bukunya semuanya dapat diskon 10%-15%, kedua karena gak kalah lengkap dengan di Gramedia. Kalau di Social Agency, pilihan buku anaknya terbatas. Di Gramedia biasanya untuk mendapatkan buku yang gak ada di Toga Mas. Satu lagi yang kadang — tapi jarang kita kunjungi adalah toko buku Gema Insani Press.

Budget

Karena kami gak bayar SPP tiap bulan,  kami anggap pengeluaran untuk buku ini adalah SPP-nya anak-anak hehe. Pritilan beli pernak-pernik belajar bulanan juga masuk agenda, misal beli balon, plastisin, kertas, pena dll.

Ziyad sekarang udah bisa nentuin sendiri buku yang dia pingin beli. Thoriq juga kadang-kadang. Tinggal di-approve atau engga sama aku dan abang hehe. Biasanya aku tetap nyariin buku yang cocok buat mereka masing-masing.

Baca selengkapnya Review Buku Bulan Juli ; 1111 Pertanyaan dan Jawaban National Geographic Kids dan lainnya)

Ketika Merasa Cucu tak Disayang Mertua

Perasaan ini bisa muncul kapan pun, dimanapun karena dengan sebab apapun. Pun juga tidak tidak mesti terjadi dari sisi mertua, bahkan orang tua sendiri pun bisa.

Si A misalnya, sebagai anak, ia sendiri merasa memang bukan anak kesayangan orang tua. Akhirnya ketika ia punya anak, ia merasa anaknya pun diperlakukan biasa-biasa saja.

Atau si B, yang mengharapkan anaknya ditimang-timang oleh sang mertua. Diberi hadiah berupa apapun. Tak mesti mahal, tapi cuma ingin tahu anakku diingat tidak oleh mertua, katanya. Tapi harapannya tak kunjung datang.

Dan masih banyak perasaan lain yang banyak jenisnya. Yang jelas intinya sama, mertua/orang tua tidak sayang cucu.

Lalu, bagaimanalah ini? Apakah perasaan ini salah? Kalau iya,  bagaimana cara menepisnya?

Kita sebagai Anak atau Menantu

Alhamdulillah, kita diberi tuntunan syari’at yang sangat jelas tentang kewajiban sebagai anak. Dan ini berlaku juga sebagai menantu.

Karena peran kita sebagai istri, adalah juga membantu suami untuk melakukan kewajibannya kepada orang tuanya.

Kita memang memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang. Tapi yakinlah, secara fitrah orang tua sudah mencurahkan segenap kasih sayangnya sejak kita kecil. Bahkan doa untuk orang tua yang kita amalkan adalah agar Allah menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kita di waktu kecil.

Maka, pada saat perasaan resah gelisah ingin agar cucu (anak kita) mendapat perhatian lebih dari mertua, cenderungkanlah hati untuk mengingat kewajiban kita sebagai anak, yaitu berbakti kepada orang tua.

cucu-tak-disayang-mertua

Akan lebih baik lagi jika kita memikirkan bagaimana kitalah yang menunjukkan kasih sayang dan perhatian itu kepada mertua atau orang tua.

Akan lebih baik lagi jika kitalah yang memberikan hadiah kepada mereka.

Akan lebih baik lagi jika kita berusaha mendapatkan surga dengan berbuat sebaik-baik apa yang bisa kita perbuat untuk mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الكِبَرِ، أَحَدُ هُمَا أَوكِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga” [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]

Tips Menghilangkan Perasaan Sedih karena Merasa Cucu Tak Disayang Mertua/Orang tua

  • Ingat kewajiban utama kita, yaitu bakti kepada orang tua.
  • Ingatlah bahwa yang lebih pantas, kitalah yang memperhatikan mereka. Karena kita tidak mungkin membalas budi baik mereka. Aneh jika kita kemudian malah mengharapkan mendapat tambahan budi dari dari mereka.“Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.” (HR. Muslim no. 1510)
  • Biasakanlah diri kita untuk tidak mengharapkan balasan ketika melakukan kebaikan untuk orang lain. Baik itu hal yang sifatnya materi atau non materi. Apalagi ini adalah orang tua kita sendiri atau orang tua suami kita. Ingatlah apa yang kita harapkan adalah keridhoan Allah.
    “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al-Insan: 9).
  • Buang pikiran negatif (rasa was-was) dan biasakan berpikir positif. Was-was itu dari setan. Jika muncul perasaan ini, cobalah dengan membaca surat al-mua’awadzatain (surat Al-Falaq dan An-Naas).
  • Jangan “menularkan” perasaan negatif ini kepada pasangan atau bahkan ke anak kita sendiri.
  • Fokuslah untuk memberi perhatian kepada anak dan tidak mengharapkan orang lain yang memberi perhatian :).
  • Jadikan pikiran kita saat ini menjadi bekal kita bersikap di masa depan. Bukankah kita esok insya Allah juga akan menjadi nenek?

Semoga bermanfaat.

cizkah
Jogja, 5 Syawal 1437 H/11 Juli 2016

Artikel www.ummiummi.com

Judinya Anak-Anak

 

Sebenarnya, Ziyad (9th) udah pernah dijelasin tentang judi. Tapi memang jenis permainannya beda dengan yang terjadi kemarin. Judi yang aku jelasin lebih ke permainan tepok-tepokan, gundu. Semuanya itu gak pake uang. Tapi kalo main terus mereka nanti ada yang “ngambil” mainan temannya karena “menang”, maka itu judi. Wajar sih kalo Ziyad belum ngerti. Kadang, kita sendiri sebagai orang tua masih bertanya-tanya atau baru tahu kalau ternyata permainan yang ini atau yang itu haram.

Satu sore menjelang Ashar di bulan Ramadhan ini,  Ziyad ngasih tahu, “Mi, nanti minta 1000 ya. “H” mo ngadain kuis di rumahnya.”

“Kuis apa?”

Baca selengkapnya Judinya Anak-Anak

Karena Thoriq Suka Masak…

Tadinya, aku pikir, riwayat per-baking-an ku berakhir atau bakal terbengkalai sejak Ziyad homeschooling plus berbarengan dengan lahirnya Luma. Memasak pun lebih banyak beli lauknya setahun terakhir pas abang kuliah. Karena waktu makannya jadi diburu dan harus disesuaikan dengan waktu abang harus berangkat ke ma’had. Warung dekat rumah yang cuma beberapa langkah kaki jadi andalan.

Baca selengkapnya Karena Thoriq Suka Masak…

Video Doa Buka Puasa Sahih untuk Anak-Anak


Apa yang kita dengar sedari kecil belum tentu benar. Bisa karena ilmu pengetahuan kita yang terbatas, bisa juga karena ilmu pengetahuan itu sendiri yang berkembang berdasar penemuan terbaru.

Contohnya jumlah planet di Galaksi Bimasakti (Milky Way).

Dalam urusan syariat, seringkali doa yang kita ketahui lebih karena sering di dengar dan pada umumnya dibaca (ilmu pengetahuan kita terbatas). Kita jarang (atau tidak pernah) diperkenalkan dengan yang namanya hadits sahih atau palsu atau dhoif.

Alhamdulillah, sekarang, pengenalan dan pemahaman tentang pentingnya hadits sahih untuk beramal semakin dikenal. Sehingga kita bisa memperkenalkan doa-doa kepada anak kita, sesuai yang diajarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah satunya adalah doa berbuka puasa. Ternyata doa yang biasa kita lafalkan atau dengar di waktu kecil, yaitu doa “Allahumma lakasumtu…” bukan merupakan doa yang sahih dari Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun doa yang sahih dari Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Artinya:

“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.”

(HR. Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani).

Doa ini dibaca setelah berbuka. Adapun ketika berbuka, membaca doa sebelum makan seperti biasa, yaitu dengan bacaan “Bismillah”.

Nah, supaya anak-anak lebih mudah menghafal doa ini melalui audio dan visual, (sebagaimana kita juga dulu terbiasa mendengar doa ini dari televisi :)), yuk perdengarkan doa ini melalui video yang dibuat khusus untuk anak-anak ini.

Semoga bermanfaat.

cizkah
Jogja 21 Juni 2016/16 Ramadhan 1437

Artikel www.ummiummi.com