Masih lanjutan kemarin. Setelah kejadian hari Jumat, menghabiskan 2 malam yang sepi untuk kami berdiskusi. Malam sepi di sini artinya mendekati tengah malam dan lewat malam. Karena disitulah waktu kami bisa tenang mendikusikan segala sesuatu tentang keluarga yang kami bangun ini.
Malam Sabtu
Dari pembicaraan jarak jauh lewat whatsapp (aku di rumah dan Abang di kampus), tadinya Abang sudah bilang, “Ya sudah, anak-anak sekolahin saja.”
Tapi aku tahu, itu bukan solusi sebenarnya dari Abang. Itu cuma jawaban cepat dan keputusan cepat karena situasi yang sedang tidak bagus yang aku ceritakan lewat whatsapp.
Malamnya pun Abang masih mengatakan hal itu. Walau pada akhirnya, kami berdua tahu bahwa itu bukan solusi. Aku tak terlalu banyak bicara di malam ini. Abang yang terus merentetkan fakta yang terjadi. Saran yang bisa kami lakukan untuk memperbaiki keadaan.
Yes, homeschooling bukan perkara main-main. Ini tentang kehidupan kami. Tentang anak-anak. Tentang tanggung jawab. Bukan menakuti-nakuti. Tapi homeschooling, butuh kerjasama dari pasangan suami istri. Karena hampir selalu ada saat-saat jungkir balik ketika menjalankan homeschooling. Apalagi homeschooling mandiri seperti kami.
Aku melontarkan beberapa perasaan sesak di dada yang akhir-akhir ini aku rasakan karena kesibukan luar biasa bersama mereka dibarengi dengan tanggung jawab lainnya.
Baca selengkapnya Upside Down Homeschooling; “Anak-Anak Sekolahin Aja…”