Tips Melatih Gadis Kecil Kita Berjilbab

Dulu, saat masih gadis, melihat seorang ummahat membawa anaknya yang masih bayi dijilbabi rasanya aneh.

“Kan kasihan.”
“Kan gerah.”
“Kan sumuk.”

Tapi ternyata seiring waktu, akhirnya saya mulai mengerti. Penjagaan sejak dini dari orangtua sangat dibutuhkan. Memakai jilbab, adalah sebuah ujian keimanan bagi seorang wanita. Apalagi di masa kita. Masa dimana setiap jengkal langkah dan pandangan mata adalah  godaan keindahan dunia. Wanita yang pada dasarnya hatinya lemah, tanpa pijakan yang kokoh, akan mudah terombang-ambing.

Ketika akhirnya saya memiliki anak perempuan, alhamdulillah Allah lapangkan hati saya untuk mendidik sejak dini anak untuk berjilbab.  Sejak ia lahir, rasa yang diberikan ketika merawatnya memang berbeda. Akhirnya, ketika saya mencoba memasangkan jilbab kecil kepadanya, ternyata tidak “semenakutkan” yang saya sangka selama ini.

Baca selengkapnya Tips Melatih Gadis Kecil Kita Berjilbab

Video Kartun Lucu Binatang dan Dinosaurus dari “Big Noisy Book”

Video kartun binatang dan dinosaurus ini sangat menarik dan lain dari biasanya. Jangan tanya kenapa dinosaurus dibedakan dari binatang ;D. Mungkin karena memang dinosaurus spesies yang lain dari yang lain dan sudah punah. Jenisnya pun bermacam-macam, mulai dari yang di darat, udara dan air.

Video ini sebenarnya merupakan -semacam- trailer dari isi Big Noisy Book (Bisa didapatkan di amazon.com). Tapi isinya sudah sangat menghibur anak-anak. Penyajiannya juga sedikit berbeda dari kartun lainnya. Membuat anak betah melihatnya.

Video Kartun Binatang

Video Kartun Dinosaurus

Semoga bermanfaat dan memberi tontonan sehat untuk putra putri tercinta 🙂

cizkah
24 November 2015
.

Ketika Sang Ayah Geram dan Anak Bersikap Acuh

Perilaku orang tua dalam mendidik mencerminkan suatu porsi besar masalah pendidikan anak. Orang tua yang sukses dalam mendidik anak adalah para orang tua yang memperoleh pengalaman mendidik dari anak-anak mereka. Mereka memperolehnya dari anak-anak mereka melalui perkembangan reaksi-reaksi mereka yang mengingatkan agar menahan marah ketika menghadapi perilaku-perlaku buruk anak mereka dan memberinya petunjuk agar berlaku lemah lembut.

Ambillah contoh situasi berikut ini

  • Anak-anak bermain dengan gaduhnya.
  • Ayah mereka menyuruh mereka bermain dengan tenang.
  • Mereka mengacuhkan kata-katanya.
  • Sang Ayah membentak, “Bermainlah dengan tenang atau kalian harus masuk kamar!”
  • Anak-anak menampakkan kepatuhan, “Ya Ayah, kami akan main dengan tenang”, akan tetapi mereka masih saja bermain seperti itu.
  • Sang ayah naik pitam, “Jika kalian tidak tenang juga, ayah hajar kalian!”
  • Anak-anak diam seribu bahasa.

Tetapi, apa yang mereka pelajari? Mereka belajar bahwa ayah mereka sungguh-sungguh hanya ketika mengancam akan memukul.

Dan apa yang dipelajari sang ayah? Ia belajar bahwa anak-anaknya tidak menyimak nasihat; mereka hanya mengerti bahasa “hajar”.

Kedua belah pihak, sang ayah dan anak-anaknya, mempelajari hal yang keliru.

Ambillah contoh lain berikut ini;
Setiap kali Khalid (bocah 5 tahun) pergi bersama ayahnya ke warung sayur, ia meminta sekantong permen. Suatu kali, sang ayah menolak memberinya. Mulailah Khalid mendesak. Sang ayah tetap menolak.

“Tidak, Khalid, ayah tidak akan membelikanmu permen apapun.”

Tak ayal, si bocah mengamuk dan menendang-nendang lantai; mukanya memerah dan tangisnya pecah. Ayahnya mengancam akan memukulnya jika ia tidak berhenti mengamuk dan menangis. Tetapi, Khalid malah menangis semakin keras dan mengejang semakin kencang.

Setiap orang yang ada di tempat itu pun memandangi Khalid dan ayahnya. Akhirnya, sang ayah menyerah dan membelikan permen yang anaknya inginkan.

Nah, apa yang Khalid pelajari dari situasi ini?
Ia benar-benar belajar bahwa ucapan “tidak” sama sekali tidak berarti. Sang ayah telah mengucapkannya lebih dari satu kali, tetapi toh ia tetap membelikan apa yang Khalid inginkan.

Ia juga belajar, apabila menghendaki sesuatu, ia harus mendesak, merengek, menangis dan menendang-nendang lantai; semua perilaku inilah yang membuat sang ayah menyerah dan memenuhi permintannya.

Dan apa yang dipelajari ayahnya?

Ia benar-benar mempelajari bahwa sarana untuk menenangkan Khalid dan cara agar tidak berada dalam posisi sulit di tengah situasi rumit adalah membelikan apa yang Khalid inginkan, apapun itu.

Demikianlah, kebanyakan orang tua berkeyakinan bahwa pasrah dan memenuhi berbagai permintaan anak merupakan satu-satunya sarana untuk memadamkan amarah dan jeritan mereka. Tidak perlu diragukan lagi, ini adalah suatu kesalahan yang memperparah keadaan. Sebab, tatkala kita mengganjar amukan dan rengekan anak dengan hadiah, berarti kita mengajari mereka untuk bertambah marah di masa depan. Akibatnya, perilaku mereka malah memburuk.

 

Sumber: Sentuhan Jiwa Untuk Anak Kita,Dr. Muhammad Muhammad Badri

Siwak For Baby ^^

Sudah baca artikel terbaru di ummiummi? Yuk, baca terus praktekin bagi yang belum mraktekin hihi. Mudah-mudahan dapat pahala. Anaknya siwakan, ibu bapaknya juga dong ya. Kita hidupin sunnah Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam. Di artikel itu dibahas lengkap dari tips penyimpanan plus juga ada tips penggunaan/cara untuk menyiwaki bayi.

Ada videonya juga. Sebenarnya, videonya mo dimozaik di bagian wajah Luma.

Tapi akhirnya ketahuan, kalo mo gimanapun, itu video susah kalo mo dibikin mozaik di bagian wajah. Akhirnya dengan “bismillah”, kita upload video itu. Jangan lupa doakan keberkahan ya, say Masya Allah wa barokallahu fiihaa.

Siwakan for baby ini udah mulai dari pas zamannya Thoriq. Tapi waktu itu belum kepikiran bikin artikel. Pas ngejalanin ini lagi di Luma, baru kepikiran. Mudah-mudahan bermanfaat. Yuk siwakan. Biar dapat ridho dari Allah. Plus sehat bangetttt insya Allah.

Ohya, kalo ada yang mikir, “Kok itu tangan kiri sih”

Anak-anakku semuanya pas bayinya refleknya kiri banget loh. Apalagi Luma.  Alhamdulillah sekarang semuanya tetep pake tangan kanan^^. Kalau Luma masih proses. Tapi alhamdulillah udah mulai terbiasa kanan. Insya Allah kapan-kapan bikin tulisan tentang itu ya.

Hope

Seperti aku bilang kemarin…Ziyad sudah sampai surat An-Najm alhamdulillah. Dan sudah mulai proses menghafal surat Ath-Thur.

Ini berarti Ziyad sudah hampir hafal 4 juz. Prosesnya masih terbilang lambat dengan track record dia menghafal yang sudah cukup lama hehe. Hafalan lainnya masih banyak PR untuk diperkuat.

Dari semua yang telah terjadi selama ini, sebenarnya, aku menyimpan sebuah harapan.

Ziyad, Allah bukakan hatinya, dan tergerak, kemudian bisa seperti Syarif dalam video Musafirul Ma’al Qur’an Syaikh Fahd Al Kandari di episode yang ini hehe.

Kalau belum nonton, tonton dulu deh sejenak. Nanti baru nyambung sama tulisan aku berikutnya.

Baca selengkapnya Hope

Perkembangan Ziyad 8 Tahun

Fisik:

Ziyad udah tambah tinggiii banget masya Allah. Kalo aku sama abang  lihat foto dia sebelum sunat, 2 tahun lalu, itu dia masih kelihatan banget anak kecilnya. Kalau sekarang udah jadi anak-anak gede di masa tamyiz awal.

Giginya udah 5 yang ganti gigi permanen.

Tamyiz:

Ketamyizan Ziyad belum sempurna. Kami baru sadar beberapa hari ini. Banyak hal-hal yang dia belum paham bahwa itu sebenarnya gak baik. Itu membahayakan. Kadang dia seperti merasa bisa bijak. Padahal tindakannya itu juga gak bijak heheh. Contohnya ketika kita nasehatin berteman itu biasa aja. Yang penting kita berbuat baik. Bahkan sama orang yang berbuat gak baik. Kalau lagi gak akur sama teman, itu biasa. Kita gak bisa mengharapkan kesempurnaan dari semua orang. Karena kita gak sempurna. Dst..

E..ternyata di masjid dia ngomong sama salah satu anak (padahal usia si anak ya 6 tahunan, belum tamyiz juga wkwkwk). Pokoknya kurang nyambung sama yang kita maksud.

Hafalan:

Hafalan Ziyad baru aja selesai surat An-Najm. Menurut aku, prosesnya masih lambaat hehe. Tapi alhamdulillah lanjut terus. Siput aja jalan 1 jam/5m kan? Tapi dia jalan terus heheh. Semoga Allah mudahkan, beri keistiqomahan, beri kecerdasan. Alhamdulillah banyak orang-orang sekitar yang bisa dijadiin pelajaran. Mungkin Musa bisa menghafal di usia 6 tahun. Tapi ada ust Abudrrohim yang baru selesai hafal Quran 30 juz ketika usia 13 tahun. Tapi setelah itu hafalannya mantap bukan main masya Allah plus dengan makhroj yang sudah sempurna.

Baca selengkapnya Perkembangan Ziyad 8 Tahun

Upside Down Homeschooling; “Anak-Anak Sekolahin Aja…”

Masih lanjutan kemarin. Setelah kejadian hari Jumat, menghabiskan 2 malam yang sepi untuk kami berdiskusi. Malam sepi di sini artinya mendekati tengah malam dan lewat malam. Karena disitulah waktu kami bisa tenang mendikusikan segala sesuatu tentang keluarga yang kami bangun ini.

Malam Sabtu

Dari pembicaraan jarak jauh lewat whatsapp (aku di rumah dan Abang di kampus), tadinya Abang sudah bilang, “Ya sudah, anak-anak sekolahin saja.”

Tapi aku tahu, itu bukan solusi sebenarnya dari Abang. Itu cuma jawaban cepat dan keputusan cepat karena situasi yang sedang tidak bagus yang aku ceritakan lewat whatsapp.

Malamnya pun Abang masih mengatakan hal itu. Walau pada akhirnya, kami berdua tahu bahwa itu bukan solusi. Aku tak terlalu banyak bicara di malam ini. Abang yang terus merentetkan fakta yang terjadi. Saran yang bisa kami lakukan untuk memperbaiki keadaan.

Yes, homeschooling bukan perkara main-main. Ini tentang kehidupan kami. Tentang anak-anak. Tentang tanggung jawab. Bukan menakuti-nakuti. Tapi homeschooling, butuh kerjasama dari pasangan suami istri. Karena hampir selalu ada saat-saat jungkir balik ketika menjalankan homeschooling. Apalagi homeschooling mandiri seperti kami.

Aku melontarkan beberapa perasaan sesak di dada yang akhir-akhir ini aku rasakan karena kesibukan luar biasa bersama mereka dibarengi dengan tanggung jawab lainnya.

Baca selengkapnya Upside Down Homeschooling; “Anak-Anak Sekolahin Aja…”

Ngelonin Anak itu Berpahala

Pekan kemarin, bagi aku terasa sebagai pekan terberat sebagai seorang ibu. Keadaan berat itu diperparah dengan kondisi aku yang lagi haidh. Dzikir-dzikir jadi banyak yang lepas karena biasanya dzikir pagi dan sore ya setelah sholat. Waktu-waktu “rehat” terkena air wudhu tentu saja jadi gak ada. Hari Jumat kemarin adalah hari terberat dan tersedih.

Malamnya aku sampai berdiskusi dengan abang sampai pukul setengah dua pagi. Tentu saja diselingi tangis sesunggukan. Aku merasa begitu bersalah pada anak-anak karena kurang bisa sabar menghadapi mereka. Di sisi lain, keletihan yang sangat tak bisa dihindari karena mereka adalah anak-anak yang hampir tidak pernah tidur siang. Mereka juga hampir selalu tidur malam.

Baca selengkapnya Ngelonin Anak itu Berpahala

Belajar Masak Secara Bertahap

Segala sesuatu, enaknya belajar secara bertahap. From the basic.
Pun dalam hal memasak.
Dan aku pun mengajarkan anak-anak secara bertahap. Gak langsung disuruh masak yang tingkat kesulitannya, untuk seorang wanita baru menikah juga mungkin masih error error :D.
Untuk Ziyad, waktu itu dimulai dengan hal sederhana banget.

Belajar menyalakan dan mematikan kompor.

Sederhana banget ya. Ini tapi berasa banget manfaatnya buat aku, dan buat mereka tentunya hehe. Ketika aku lagi sibuk nenenin Luma atau aktifitas rumah tangga lainnya, aku bisa minta tolong dia matiin kompor.

Biasanya matiin pas bunyi ceret tanda air udah mendidih. Iya, sampai sekarang aku masih minum pakai air rebusan :). Gak tergantung sama galonan alhamdulillah. Alhamdulillah dimudahkan dengan air yang mengalir jernih (bukan PAM).

Baca selengkapnya Belajar Masak Secara Bertahap

Jangan Takut Anakku

Jangan takut anakku…

Setan itu lemah
Sama seperti kita yang lemah
Maka mintalah perlindungan kepada yang Maha Kuat…Allah

Jangan takut anakku…
Jika was-was tetap ada dalam hatimu…
Baca saja surat pendek yang telah ibu ajarkan untukmu
Surat An-Naas dan Surat Al-Falaq
Dua surat ini disebut surat Mu’awadzatain
Masih kau ingat isinya bukan?

Kita meminta perlindungan…
kepada Rabb manusia…
Raja Manusia..
Sesembahan manusia
Berlindung dari kejahatan setan…
Berlindung dari keburukan dari kegelapan malam
Berlindung dari tukang sihir
Berlindung dari kejahatan makhluk…baik dari manusia dan jin
Karena kejahatan bukan hanya dari setan wahai anakku..

Jangan takut anakku…
Jadilah manusia pemberani…
Seperti sahabat yang sangat dicintai nabi shallallahu’alaihi wa sallam,
yaitu Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu
Setan akan mencari jalan lain agar tidak bertemu dengan Umar bi Khattab radiallahu ‘anhu

Jangan takut anakku…
Lihatlah Khalid bin Walid
Yang diperintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghancurkan berhala ‘Uzza
Tanpa takut, ia  menusuk dan memusnahkan setan yang berwujud wanita berambut panjang yang bercokol di berhala tersebut…
Betapa gagah dan pemberaninya para sahabat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Jangan takut anakku..
Semoga Allah selalu melindungimu…jangan takut anakku
Karena Ayah dan Ibu..selalu mendoakanmu dengan doa perlindungan
Agar kau terhindar dari setan..
Terhindar dari bahaya binatang buas
dan dari keburukan pandangan mata yang jahat

 

Jangan takut anakku…
insyaAllah tak akan ada yang membahayakanmu…
Jangan lupakan dzikir yang Ayah dan Ibu ajarkan untukmu..
Agar kau baca di pagi dan petang…

Jangan takut anakku…
Semoga Allah melindungimu selalu…

 

cizkah
Artikel: www.ummiummi.com
.

Frequently Asked Question (FAQ) tentang Homeschooling SD

Pertanyaan yang biasa  muncul seputar homeschooling SD adalah: gimana ijazahnya, belajarnya gimana, jadwal belajarnya gimana….dan seterusnya. Di sini aku coba jawab satu persatu versi Ziyad ya dan versi yang aku ketahui ya. Artinya, aku sendiri masih terus belajar tentang homeschooling.

Ijazah

Ijazah untuk homeschooler – jika memang ingin mengambil ijazah – bisa melalui PKBM (pusat kegiatan belajar mengajar). Atau bisa juga ikut ujian di sekolah payung.  Ada juga yang tersedia secara internasional. Tapi aku sendiri masih belum “nyebur” untuk meneliti opsi yang terakhir.

Sebenarnya, dulu aku tahunya kalau orang yang ambil paket ini adalah orang yang putus sekolah atau gak lulus di sekolahnya hehehe. Konotatif banget ya. Tapi insya Allah seiring waktu, jadi bergeser ternyata keberadaan PKBM ini berarti untuk berbagai pihak. Banyak keluarga lain yang juga memilih homeschooling. Dan itu bukan berarti dari keluarga yang tak berpendidikan ataupun tak mampu. Jadi, tak usah khawatir. Insya Allah ijazah ini diterima untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Untuk saat ini, opsi yang kami pilih adalah dengan jalur PKBM. Opsi lain bukannya berarti gak ambil. Bisa jadi berubah dalam perjalanannya.

Baca selengkapnya Frequently Asked Question (FAQ) tentang Homeschooling SD

Busa

Percakapan lain dengan Thoriq yang menyadarkan aku tentang kata yang sama secara huruf dan fonetiknya tapi bedaaa banget artinya. Hayo apa istilah bahasa Indonesianya. Homofon, homograf atauu…?

Weekend kemarin aku sempat beli busa tipis berwarna putih. Niatnya sih untuk dalaman tas yang pingin aku jahit. Terus Thoriq pegang-pegang busa itu sambil tanya, “Ini apa Mi?”

“Busa”

“Busa?” dia mengerenyitkan alis.

“Yang kaya di kamar mandi itu?”

He? Langsung berpikir cepat. Ohhhh…langsung ketawa aku. “Ya ya…itu beda sayang busanya. Tapi namanya sama.”

*Thoriq 4 tahun 4 bulan

22 Rajab 1436/11 Mei 2015

Sayaaang Sama Uang

Sejak beberapa hari yang lalu, Ziyad lagi terobsesi sama mainan yang bisa berubah (transform) dari mobil ke robot. Padahal dulu dia udah punya pas masih hadiah hafal surat Al-Lail...berarti sekitar umur 6 tahun.

Oh ya, alhamdulillah sejak 2 minggu yang lalu Ziyad sudah selesai juz 28. Masuk ke juz 27, kita bikin perjanjian baru. Karena gak bisa kasih hadiah per surat karena kepanjangan, akhirnya hadiahnya per halaman. Uang. Nilainya 10 ribu ;D. Kita dorong dia untuk nabung. Tabungannya itu nanti bisa dia manfaatkan untuk beli yang dia inginin. Plus kita arahkan juga untuk mengalokasikan – beraat bahasanya ;D – untuk shodaqoh.

Baca selengkapnya Sayaaang Sama Uang

Playdate #4

Acara hari playdate kali ini beragendakan kreasi flanel, games anak tentang rukun iman dan sharing antara ibu tentang proses belajar apa yang telah berhasil dilalui bersama anak dan apa yang belum. Oh ya satu lagi, bapak-bapak yang ikutan nganter kali ini juga bisa ada kesibukan belajar panah :D.

bahan-kreasi-flanel-homeschooling-jogja
Bahan kreasi flanel

Baca selengkapnya Playdate #4

Proses Thoriq Belajar Menulis (4 tahun)

latihan menulis latin
Salah satu gambar thoriq, terinspirasi game piggy yang merakit-rakit berbagai komponen biar jadi kendaraan. Lihat berbagai garis yang bisa menjadi dasar untuk sebuah huruf 🙂

Pada dasarnya, aku masih menggunakan cara yang sama seperti pas ngajarin Ziyad dulu. Dalam arti, gak banyak materi (formal) yang diajarin. Fokus.

Menulis, adalah sebuah aktifitas yang membutuhkan effort yang cukup besar dari seorang anak. Apalagi di usia balita heheh.

Jadi, sampai saat ini, sebenarnya aku gak pernah “menugaskan” Thoriq untuk belajar menulis.

Model belajar kami di rumah – terutama untuk usia balita –  adalah unschooling. Unschooling itu secara mudah bisa dipahami proses belajar tanpa kurikulum tertentu – yang biasanya ada jadwal terstrukturnya setiap hari – .  Model unschooling, anak dibiarkan explore belajar. Tapi bukannya dibiarkan tanpa aturan dan tanpa arahan atau sampe sama sekali gak ada acara “dibimbing dan diajarkan” :). Aku merasa cocok dengan model ini, karena sejatinya, setiap hal bisa dijadikan pelajaran. Dan kita belajar itu untuk diamalkan dalam kehidupan.

Baca selengkapnya Proses Thoriq Belajar Menulis (4 tahun)

Proses Thoriq Belajar Baca Iqro dan Latin

Proses belajar latin Thoriq memang lebih cepat dari Ziyad. Karena proses belajar Iqro-nya dia juga lebih cepat dari Ziyad. Bukan aku yang nyepetin…tapi dianya alhamdulillah yang lebih mudah. Mungkin juga faktor sering ngelihat flashcard atau poster wkwkwk 😀 (yang ini advertorial banget :D).

Tapi beneran ko. Alhamdulillah karena proses pengenalan perhurufnya udah lancar, jadinya pas proses awal-awal belajar lebih mudah.

Tapi dalam perjalanannya, gak selancar di awal-awal hehe. Karena mungkin kerasa makin susah ya. Kalau misalnya rajin sebenarnya bisa baca latin atau Qur’an dalam 6 bulan. Tapi karena proses belajar itu banyak cobaannya, jadilah sedapat momentnya. Gimanapun kan soalnya anak gak bisa dipaksa ngeluarin huruf yang kita minta hehe.

Kalo Thoriq ini, akhir-akhir ini aku ngerasanya dia mulai ngerasa sulit di belajar iqro. Jadinya kaya beban kalo pas aku bilang baca iqro dulu ya. Biasanya berhasil/mau baca kalo emang dia dah pingin banget nonton. Padahal kalo dijalanin sebenarnya dia bisa-bisa aja kalo baca perhuruf. Akhirnya kemarin aku putusin untuk, “Ya udah Thoriq, kita ulang lagi dari awal ya iqro 5-nya.”

Terus kaya masih berat juga nih ngelihat materi di halaman pertama. Akhirnya aku bilang lagi, “Ah…kita ulang lagi aja dari Iqro 4 ya.”

Baca selengkapnya Proses Thoriq Belajar Baca Iqro dan Latin