Saling Memberi Hadiah

Salah satu saran untuk menumbuhkan kecintaan antara adik dan kakak baru *karena adeknya baru lahir* adalah saling memberikan hadiah. Hehe…ya walo sebenernya pada kenyataannya kedua hadiah itu yg beli ya ibu bapaknyah. Tapi kita mengajarkan mereka dan semoga membentuk keterikatan hati. Lagipula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kan juga mengajarkan untuk saling memberi hadiah ya…

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencinta.” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 594. Ibnu Hajar berkata,”Sanadnya shahih”)

Nah…dari kemaren mah insya Allah gampang buat milih hadiah dari Ziyad buat bujang #2, soalnya kan emang beberapa barang ada yg dibeli baru, kaya jaket, handuk, sepatu buatan aku sendiri huhu (blum jadi). Udah dari kemaren2 juga bilang ke Ziyad,” insya Allah nanti bungkus hadiah buat adek ya…”. “Insya Allah Ziyad juga dapet hadiah dari adek loh…”

Tapi sampe sekarang blum dapet barang yang tepat yang kira-kira bikin Ziyad sumringah ngedapetin hadiah itu “dari” adeknyah.  *Mikir*

Oh ya, kalo menurut salah satu buku sih, hadiah ini saling diberikan pas si kakak masuk ke kamar ibunya dan melihat adiknya untuk pertama kalinya. Tapi gak tau nih nanti prakteknya gimana insya Allah 😀

Bersyukurlah…dan Jangan Menyerah Saudariku…

Sebenernya…entah kenapa aku sedih sekali saat ini, walaupun apa yang aku sedihkan blum terjadi, tapi hal itu sudah terlontar, entah lewat sebuah lisan ataupun tulisan. Tapi aku juga jadi bisa merasakan apa yang Abang rasakan, waktu aku melontarkan hal yang hampir sama, setahunan yg lalu, tahun 2009, aku bicara di kamar di Jakarta tempat orangtuaku, “Bang…apa aku kerja aja ya…” (Maksudnya kerja kantoran).

Betapa sedihnya Abang waktu itu. Abang mengatakannya dan sekaligus ekspresi Abang juga menunjukkan hal itu. “Sedih Abang, Dek…”

Aku pernah menulis artikel ini “Jangan Menyerah Saudariku“, dan aku juga sangat berusaha mendalami artikel ini. Tapi ketahuilah, hampir saja setahun yang lalu aku menyerah…

Cerita runtutnya beginih…

Baca selengkapnya Bersyukurlah…dan Jangan Menyerah Saudariku…

Buku-Buku Pendidikan Anak

Aku…seorang lulusan Teknologi Pendidikan…hehe…agak sungkan deh kalo nulis aku seorang Teknolog Pendidikan (tanpa i), kesannya jadi profesi bgt kalo nulisnya gitu. Heheh…

Jadi, di jurusan ini, bisa aku katakan, kami mempelajari 3 ranah utama, teknologi, kurikulum, dan pendidikan itu sendiri. Di pendidikan itu sendiri terbagi lagi dan utamanya juga berkaitan dg orang, salah satunya peserta didik. Nah…dari semester pertama sampe akhir, ini pun bertahap. Pas awal-awal, kita dikasih psikologi umum, abis itu sanjutya psikologi perkembangan yg ngebahas tentang perkembangan anak/manusia, karakter peserta didik dan seterusnya berkembang terus, sambil itu mesti ada kaitannya sama teori-teori pendididikan yang dibikin tokoh-tokoh tertentu.

Dan aku bersyukur, banyak hal yang aku pelajari di kuliahan itu bermanfaat dalam keseharianku mendidik Ziyad (walo mgkn banyak orang menganggap ktk ilmu yg kita pelajari gak dipake di dunia kerja, kayanya sia-sia banget, padahal kenyataannya insya Allah tetep ada manfaatnya, termasuk dalam kasusku ini, alhamdulillah). 

Baca selengkapnya Buku-Buku Pendidikan Anak

Pengiriman Surat (Dakwah) ke Raja-Raja (Habasyah, Mesir, Persia)

Aku punya kbiasaan baca buku gak dari halaman awal, trutama kalo bukunya tebel. Biasanya bolak balik buku trus ketemu bab yang menarik, baru mulai baca, baru kalo mulai enak, bisa jadi mulai dari awal atau tetap acak. Kadang-kadang emang plek dari belakang.

Nah, kemaren baru beli buku Sirah Nabawiyah-nya Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. Pengennya sih baca dari awal, biar rentetan sejarahnya rada inget. Tapi akhirnya gak jadi, dan tertarik dengan bab pengeriman surat dari Rasulullah ke berbagai kerajaan dalam rangka mengajak ke Islam. Dan baru baca 3 bagian, banyak ilmu baruuuu. Alhamdulillah. Ini dia catatan ringkasnya yang pengen aku bagi di sini (kalo selengkapnya baca sendiri yaaa).

Baca selengkapnya Pengiriman Surat (Dakwah) ke Raja-Raja (Habasyah, Mesir, Persia)

Perkembangan Ziyad 3 Tahun (Hampir) 3 Bulan

Ini “hampir” soalnnya insya Allah Ziyad genap berusia 3 tahun 3 bulan tanggal 24 Oktober nanti.
Ini adalah catatan perkembangan yang aku mau serahin ke guru Ziyad di childcare supaya tahu apa perkembangan Ziyad saat ini (karena bulan puasa dan Syawal aku cutiin). Sekalian aja aku posting di sini ^^.

  1. Ziyad sudah mulai mau diajarkan/ditalqin hafalan Qur’an secara ayat per ayat.
  2. Ziyad sudah hafal Al-Fatihah, walau masih ketinggalan beberapa bagian dan ketuker2 akhir ayatnya, misalnya mustaqin, waladhoollim…
  3. Ziyad sudah hafal surat An-Naas, walau di bagian akhir (minal jinnati wannnas) masih suka lupa dan mesti masih dibimbing.
  4. Ziyad sudah hafal doa-doa:
    • Doa memakai baju (alhamdulillahilladzi kasani hadzats tsauba wa rozaqonii hi min ghoiri haulimminni wa laa quwwah), terkadang bagian alhamdulillah-nya ketingaglan.
    • Doa keluar kamar mandi (ghufronaka)
    • Doa mau tidur (bismika allahumma amuutu wa ahya). – lancar
    • Doa bangun tidur (alhamdulillahilladzi ahyaana ba’dama amaatana wa ilaihinnusyuur)
    • Doa sebelum makan (bismillah)
    • Doa kalau lupa membaca bismillah kalau makan (bismillah awwalahu wa aakhirohu)
    • Doa kalau ada bagian tubuh yang sakit (bismillah bismillah bismillah, a’udzubillahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir), tapi dia cuma baru tahu bagian bismilla3x.
    • Doa naik kendaraan masih blum lancar dan masih blum mau melafalkan, tapi sudah beberapa kali melafalkan bagian belakang doa tersebut (munqolibuun…)
    • Doa keluar rumah (bismillahi tawakaltu ‘alallahi laa haula wa laa quwwata illa billah), ini juga blum terlalu sering dilafalkan, tapi pernah 2-3 kali dia melafalkan doa tersebut saat asyik bermain walau dengan tidak lancar.

    Untuk doa-doa lain masih dalam proses dan dia tapi sudah mengetahui ada doa-doa di saat2     tertentu, misalnya:

    • Doa ketika mendengar geledek, karena belum bisa, biasanya dia yg mngingatkan saya dengan berkata, “Doa Mi.”
    • Doa turun hujan
    • Doa masuk kamar mandi
    • Dll
  5. Ziyad sudah bisa menggunakan gunting, walau belum bisa menggunting dengan lurus.
  6. Ziyad sudah bisa menulis huruf A (besar) sejak bulan Juli kemarin, dan ini saya tidak pernah mengajarkan secara khusus, tahu2 dia menulis huruf tersebut dan memperlihatkan kepada saya, “A”.
  7. Ziyad sudah bisa mulai menggambar. Karena saya mengajarkan gambar makhluk tanpa wajah dan biasanya kepalanya terpisah, gambarnya pun yang dia gambar lebih sederhana lagi. Yang sering dia gambar adalah ikan paus, saya sendiri “Ummi” katanya, kemudian dirinya dan Abinya, mobil, gurita dll.
  8. Ziyad biasa bermain cat air di rumah, dan juga memiliki penjelasan dari yang dia lukis. Terakhir dia bilang dia membuat “Ka’bah”.
  9. Ziyad sudah mulai merangkai kata dan menceritakan hal yg dialaminya.
  10. .Untuk perkembangan motoriknya, saya tidak menjelaskan satu persatu di sini ya Bu.
  11. Ziyad sudah tidak lagi memberi pertanyaan berulang2 seperti 2 bulan yg lalu. Sekarang dia lebih sering bertanya, “Apa namanya?” karena ingin mengetahui nama benda yang baru dilihatnya.
  12. Sekitar 2 bulan lalu dia senang skali bermain peran, menjadi tukang somay, tukang servis motor, dokter dll.

Hasil Diskusi Tentang Imunisasi

Alhamdulillah, setelah aku posting link tentang imunisasi di facebook (yg sayangnya dari segi konspirasi), setelah itu terjadi diskusi antara teman-teman yang mengimunisasi anaknya dan yang tidak. Kebetulan aku juga kmrn baru aja posting tentang itu, dan di postingan tsb, aku cuma nyebut sekilas tentang link tsb karena memang keputusan kami untuk gak mengimunsasi Ziyad 3th yang lalu bukan karena itu (konspirasi dsb). Namun, alhamdulillah hasil diskusi ini insya Allah tidak akan menyinggung hal-hal yang berkenaan dengan konspirasi dsb. Semoga dengan membaca artikel ini, yang masih bingung bisa menetapkan apakah dia memilih tetap mengimunisasi atau tidak.

Kesimpulan Ringkasnya:

Yang mengimunisi: yakin dengan kehalalan vaksin dan atau  ridho anaknya terinjeksi vaksin tsb secara kontinyu.

Yang tidak mengimunisasi: tidak yakin dengan kehalalan vaksin dan atau kurang ridho anaknya terinjeksi vaksin secara kontinyu.

Kenapa tidak aku cantumkan masalah darurat di sini? Kita perjelas satu persatu dibawah ya hasil kesimpulan tsb.

Oh ya, yang perlu diingat bahwa insya Allah ketika kita menemukan saudara kita memutuskan hal yang berbeda dengann kita, maka tidak perlu gundah gulana dan emosi ataupun memaksakan pendapat kita, karena masing-masing pihak insya Allah telah mempertimbangkan secara masak dan alasannya adalah berkisar di kesimpulanku di atas.

Baca selengkapnya Hasil Diskusi Tentang Imunisasi

Bukan Selalu Salah Istri

Sebenernya pingin posting tentang ini udah lama. Cuma waktu itu sengaja gak langsung dengan beberapa pertimbangan. Terus baca postingan di blognya Mutia, mo nulis komentar kok jadinya panjang huhu, ya uda deh sekalian bikin postingan aja.

Istri Antum Gimana Ini…

Antum dalam bahasa Arab artinya kalian, cuma utk afdholiyah (kalo ga salah ya), sering digunakan utk orang kedua tunggal (kamu). Nah, kalimat tersebut keluar dari seorang ustadz yang ketemu seorang laki-laki yang baru menikah, tapi pakaiannya kusut dan kurang tertata, ya bisa dibilang penampilannya lecek deh. (Oya, ini yang cerita abang karena ada di tempat kejadian).

Ustadz tersebut mengomentari, “Istri antum gimana ini?” Kebetulan waktu itu, ikhwan tersebut baru aja nikah.

SelanjutnyaUstadz tersebut bahkan sangat membanggakan istrinya, “Kalo istri ana (saya) , kalo ana keluar mesti licin semuanya.”

Baca selengkapnya Bukan Selalu Salah Istri

Anakku Tak Diimunisasi Alhamdulillah

Sebenernya gak sepenuhnya gak diimunisasi.

Ziyad pas baru lahir udah kena dua suntikan imunisasi (Hepatitis sama BCG kalo gak salah). Itu pun tahunya pas lihat kuitansi pembayaran rumah sakit. Abis itu kita masih ngimunisasi, tapi perasaan bang Hen udah gundah gulana. Ibaratnya, fase kami dalam memutuskan tidak mengimunisasi adalah:

Pertimbangan logika: si abang yang cerewet banget, “Ini mo sampe kapan disuntik terus?” “Masa tiap bulan mo disuntik?” Maksudnya kasihan buat anaknya gitu. Abang kan khawatiran banget juga orangnya.

Baca selengkapnya Anakku Tak Diimunisasi Alhamdulillah

Box Bayi dan “Ibo Ati”

Ini salah satu efek mikirin “adil” kemarin itu.

Intro:

1-2 minggu yang lalu, aku liat foto keponakanku Syifa Salsabila di akun FB adek tercinta si Ichad. Dia printscreen foto2nya Syifa pas lagi video call sama mas Lyno. Lucu2 masya Allah. Nah, dari foto itu, kelihatan di latarnya ada box bayi putih (yg sebenernya dari dulu naksir box yang kaya gitu hihi). Tapi pas Ziyad kan gak make dan gak ngerasa butuh make box bayi macam itu. Aku kasih lihat ke abang foto Syifa.

Trus lagi lihat2 gitu, aku bilang, “Butuh gak sih bang box bayi. Kan soalnya bayinya nanti juga nenen di samping, malah cape ongkat-angkat.”

Baca selengkapnya Box Bayi dan “Ibo Ati”

Berbuat Adil pada Anak

Ini adalah hal yg termasuk berat dan banyak perenungan dan tentu aja pengharapan pertolongan dari-Nya dalam menghadapi lahirnya anak kedua kami insya Allah.

Bener-bener berharap bisa bersikap adil dan berharap Ziyad (krn bujang satu ini kan dah mule punya perasaan dan akalnya juga dah jalan alhamdulillah),ga merasa bahwa kami orangtuanya bersikap ga adil ke dia.

Karena perasaan inilah yg menyebabkan saudara2 Yusuf ‘alahissalam sampe tega ‘menyingkirkannya’ bahkan sebenernya hampir oula membunuhnya.

Trimester Kedua Itu… (2)

Cobaan di trimester kedua blum selese sodara-sodara….

3 hari setelah cek di JIH, aku ngflek lagi siang-siang….dikit sih…cuma udah bikin hati gak enakkk….langsung moodnya berubah drastis, males ngapa2in…alhamdulillah tapi cuma dikit, trus gak keluar lagi. Akunya juga langsung bedrest aja sih abis itu.

Trus seminggu slanjutnya, aku disibukkan kerjaan desain aplikasi iPhone yang lumayan kejar tayang. Pertama karena ngejar momen Idul Fitri, yang kedua karena udah mepet mo pada libur kantor, jadinya banyak yang harus diselesein. Puasanya alhamdulillah masih lancar2 aja tuh pas minggu2 itu. Tapi terus tanggal 28-29-an aku disuruh gak usah puasa dulu sama si abang, waktu itu aku udah mule lesu2 kalo gak salah. Setiap bangun dari duduk juga mesti aku nunduk lagi, karena gelap. Abang smpet beli tambahan Sangobion malem2 soalnya aku ngrasa gak berdaya kaya waktu hamil Ziyad.

Baca selengkapnya Trimester Kedua Itu… (2)

Trimester Kedua Itu…(1)

Belum tentu lebih ringan dari trimester pertama….huhuhu….but don’t be afraid ya bumil muda yang baru ngerasain hamil…rata2 sih biasanya udah fine2 aja pas trimester kedua, qodarullah saya lagi kebagian yang beratnya…krn pas hamil Ziyad dulu ya udah lumayan enak walau masih capek2…

And here’s the story…

Baca selengkapnya Trimester Kedua Itu…(1)