Surat ini adalah yang akan dibaca seseorang sepanjang hidupnya insya Allah. Minimal 17 kali dalam sehari, yaitu dalam sholat-sholat wajib.
2 kali saat sholat Subuh
4 kali saat sholat Dzuhur
4 kali saat sholat Ashar
3 kali saat sholat Maghrib
4 kali saat sholat Isya
Bayangkan jika – dengan izin Allah -, anak bisa membaca surat ini melalui hasil didikan orang tua. Maka semoga ini termasuk amal yang tak terputus ketika sang orang tua telah meninggal karena menjadi ilmu yang bermanfaat yang diamalkan.
Masih berkaitan dengan tulisan yang lalu, kegiatan belajar bersama anak usia pra sekolah sebenarnya masih ringan.
Kalau ada yang merasa masih ragu-ragu untuk memilih sekolah atau homeschooling, masa-masa ini malah masa yang bagus untuk latihan.
Usia ini belum ada tuntutan ijazah atau semacam itu. Orang tua atau keluarga di sekitar juga belum banyak yang mempertanyakan hal-hal yang berbau sekolah atau prestasi akademik.
Sebenarnya godaan terbesar biasanya justru dari orang tua itu sendiri. Godaan biar anak sosialisasi. Godaan supaya lebih ringan tugas di rumah karena anak sudah ke sekolah. Godaan ini dan itu.
Sebagaimana telah disebutkan di artikel sebelumnya dengan judul “Mindset Mendidik Anak”, kegiatan belajar anak dan orang tua dalam praktek homeschooling bukanlah sekedar kegiatan mengajar (menyampaikan isi buku ke anak).
Untuk mudahnya, saya gunakan pembagian waktu homescooling yang terdapat dalam artikel “One Hour Homeschooling”.
Formal teaching/instruction, yaitu kegiatan kita mengajar anak.
Learning opportunities atau kesempatan belajar anak.
Kalau dengan bahasa mudahnya; kegiatan belajar anak di rumah adalah: kegiatan belajar pelajaran sekolah dan kegiatan belajar lainnya di luar pelajaran sekolah.
Lama Seperti di Sekolah?
Yang suka bikin maju mundur buat ngejalanin homeschooling adalah orang tua mengira formal teaching akan berlangsung berjam-jam/seharian seperti layaknya di sekolah.
Kalau seperti itu, homeschooling seperti jadi sesuatu yang mustahil dilakukan.
Padahal pada praktiknya, kegiatan formal teaching tuh sebentar. Jika ditotal, kegiatan belajar dua pelajaran yang dilakukan bersama orang tua sebenarnya hanya berlangsung 1/2-1 jam . Sisanya adalah anak belajar mandiri. Insya Allah akan lebih jelas di tulisan berikutnya tentang praktek kegiatan belajar anak SD.
Kok Sebentar?
Sebaliknya, yang baru melakukan homeschooling malah juga mikir. Ini kok anak belajar sebentar banget. Belajar gak sih? Terus dia mesti belajar apa lagi yah. Ini karena di pikiran orang tua, belajar masih terkait kegiatan baca buku, ngerjain soal dan hal-hal yang dilakukan di balik meja.
Padahal, sisa waktu di luar belajar pelajaran sekolah adalah kesempatan yang sangat besar untuk belajar hal lain . Bahkan dari hal-hal kecil. Semisal bantu ibu belanja ke warung, jaga adik, bercakap-cakap dengan ayah dan ibu.
Karena setiap hal yang terjadi bisa mengandung unsur pendidikan. Pendidikan yang ternyata akan bermanfaat dalam praktik kehidupannya.
Waktu yang Bermanfaat
Jangan khawatir. Kegiatan belajar homeschooling tidak sama dengan di sekolah insya Allah.
Dengan waktu luang yang lebih besar, ada hal yang perlu diwaspadai orang tua. Bukan berarti anak sibuk dicarikan kegiatan ini dan itu demi ketenangan hati dan prasangka bahwa mereka harus “sibuk” belajar sesuatu. Bahkan kadang karena kesibukan mengantar anak kegiatan ini itu dengan harapan mereka “sibuk” belajar sesuatu, waktu kita habis di jalan.
Fokus adalah hal yang seringkali dilupakan orang tua dalam pendidikan. Padahal fokus akan sangat bermanfaat dalam kehidupan.
Dalam hal ini, waktu luang dan tenaga anak bisa disalurkan untuk fokus pada kegiatan yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya insya Allah, yaitu Al-Qur’an. Orang tua pun bisa ikut mendapatkan berkah dengan terlibat dalam mendidik anak Al-Qur’an.
Coba praktikkan dan insya Allah Anda akan merasakan sendiri hasilnya dalam kehidupan.
Tiga Pembagian Waktu Kegiatan Homeschooling
Maka saya tambahkan pembagian waktu dalam homeschooling menjadi tiga, yaitu
Belajar Al-Qur’an,
Belajar pelajaran sekolah,
Belajar hal lainnya yang bermanfaat untuk kehidupan insya Allah.
Gimana dengan anak-anak yang masih usia pra SD? Insya Allah akan dibahas di tulisan selanjutnya.
Semoga penjelasan tentang pembagian waktu kegiatan homeschooling ini bermanfaat.
Dari hasil diskusi berdasarkan dua tulisan #serihomeschooling sebelumnya, saya merasa ada selipan lagi yang harus disampaikan sebelum bahas tentang kegiatan homeschooling.
Saya jadi tersadar bahwa ada yang sedikit disalahpahami dari tulisan sebelumnya.
Kesalahpahaman bahwa ketika seseorang memutuskan untuk menyekolahkan anaknya, seakan-akan itu adalah sebuah keputusan absolut sehingga meniadakan pendidikan orang tua untuk anak di rumah.
Kesalahpahaman bahwa ketika seseorang memutuskan homechooling maka tidak memikirkan alternatif pendidkan (sekolah) lainnya sepanjang melakukan kegiatan tersebut.
Sejujurnya, setiap kali menuliskan tentang kegiatan homeschooling, pikiranku tertelisik. Mau tidak mau, homeschooling akan lebih mudah dilakukan jika sang ibu tidak memiliki kewajiban lain yang terikat dalam waktu yang cukup panjang (bekerja di kantor atau semacam itu).
Maksudnya, ketika ada ibu yang bekerja karena memang keutamaan yang banyak ketika dia melakukan pekerjaan tersebut, karena tidak ada yang bisa menggantikannya dan hal-hal semacam itu, maka kemudian memang tidak memungkikan untuk melakukan kegiatan homeschooling.
Homeschooling tidak sama dengan mengejar kesempurnaan. Homeschooling tidak sama dengan anak steril Homeschooling bukan aktifitas antisosial atau meredam kemampuan bersosialisasi Homeschooling juga bukan suatu aktifitas yang harus dibenturkan dengan sekolah
Hal paling mendasar ketika memutuskan homeschooling adalah dari visi misi ini. Ketika visi misinya masih samar-samar, kemungkinan goyahnya akan lebih cepat. Ini bukan berarti yang sudah menentukan visi misi terus gak goyah ya. Saya sendiri juga melalui pasang surut sebelum akhirnya sampai di satu titik untuk lebih mantap dalam menjalankan homeschooling.
Dari beberapa waktu yang lalu, udah bikin beberapa tulisan tentang homeschooling yang lebih terstruktur dan sifatnya lebih fokus ke informasinya.
Sebenarnya ada berbagai hal yang udah aku bahas di tulisan-tulisan sebelumnya. Tapi memang mungkin nyampur dan didominasi sama ceritanya anak-anak. Jadi, infonya nyelip-nyelip :D.
Udah lamaaa banget mau nulis tentang buku. Entah kenapa kalau pas bisa nulis, malah nulis yang lain. Pagi ini menguatkan tekad untuk menulis tentang ini..
Mari kita mulai ngomongin buku dari berbagai sudut.
Pertama, ketika aku ngomongin masalah budget untuk buku, itu karena aku homeschooling ya. Jadi, memang dana pendidikan anak-anak, hampir sebagian besar (setiap bulan) itu ya ke buku dan peralatan tulis.
Pengeluaran tambahannya paling kalau ada hadiah hafalan mereka atau jalan-jalan.
Dulu, setelah nyoba sebulan IXL utk Thoriq, sempat ga lanjut lagi langganannya selama beberapa bulan. Ketika akhirnya mutusin langganan lagi, alhamdulillah kami memutuskan untuk berlangganan setahun sekalian untuk dua anak: Ziyad dan Thoriq. Bayar untuk 2 anak jatuhnya per anak sekitar 700ribuan/tahun. Mulai berlangganan awal Juli 2017.
Alhamdulillah ga nyesel insya Allah. Pengeluaran “besar” kaya gini, bagi kami yang homeschooling biasanya kami samakan dengan bayar uang gedung/pendaftaran ulang hehe. Tapi jauh lebih murah yang jelas. .
Tetap Jadi Guru untuk Mereka
Nge-ixl itu, bukan berarti aku bisa leha-leha nunggu beres mereka latihan. Tetap ada saat-saat aku harus ngajarin berulang-ulang sebelum akhirnya mereka paham dan ngerjain soal sampai selesai.
Ada saat harus terus motivasi bahwa mereka mesti teliti. Bahwa mereka bisa. Karena ada saat (sering malah) mereka ngerasa ngedown ngerjain soal IXL. Terutama karena ketika mereka salah jawab, nilai mereka bakal turun lagi.IXL itu kan target selesainya kalau sudah mencapai nilai 100. Bukan berarti ngerjain 100 soal ya. Ada alogaritmanya sendiri. Biasanya soalnya dibikin bertahap. Kalau sudah mencapai nilai 90 biasanya masuk ke tahap yang lebih harus teliti lagi dan lebih ke soal yang anak itu diyakini sudah paham konsep dasarnya baru bisa ngerjain. Kalau salah, turunnya kadang langsung jeglek jadi 80-an lagi. Dan itu yang suka bikin mereka kesal.
Kita bahas dikit-dikit lanjutan tentang fokus ke Al-Qur’an kemarin yah. Pingin ditulis secara keseluruhan kegiatan homeschooling terbaru kami, ko malah terasa berat.
Hafal Ayat dan Paham Arti Ayat?
Ada yang bilang, yang penting hafal dulu aja deh. Nanti biar reflek sendiri. Ada juga yang bilang, tetap harus tau artinya per ayat. Aku gak terlalu menjadikan salah satu dari dua pendapat tersebut sebagai patokan. Tapi lebih berdasarkan pengalaman dan kebutuhan yang dirasa selama belajar bersama anak-anak.
Salah satu yang terbayang-bayang di benakku ketika memikirkan perbaikan hafalan anak-anak adalah aku menunjuk secara perlahan ayat per ayat yang mereka hafal disertai terjemahan per ayat.
Alhamdulillah, sampai saat ini masih mantep insya Allah dengan homeschooling. Bahkan tahun ini, sebenarnya jadwalnya Thoriq masuk SD. Dan kita gak daftarin dia kemanapun juga. Alias dia juga homeschooling.
Tapi bukan keputusan itu yang mau aku ceritain di tulisan ini.
Alhamdulillah, memasuki tahun ke-4 kegiatan homeschooling tingkat SD untuk Ziyad. Seperti pada umumnya sesuatu, makin lama kita ngerjain sesuatu, insya Allah makin tahu mana yang baik mana yang paling enak, mana yang praktis dll. Nah, untuk buku pelajaran, kali ini pun aku milihnya lebih terarah. Gak kaya tahun-tahun sebelumnya yang agak tebak-tebak mana buku yang cocok. Kadang ada buku-buku yang gak terpakai karena kurang enak pas praktek di pengajarannya.
Contohnya pas Ziyad kelas 2. Lagi heboh kurikulum 2013. Materinya tematik. Buku-buku banyak yang disusun tematik. Akhirnya beli buku paket yang model tematik gini cetakan terbaru. Tapi pas belajar malah aku ngerasanya kurang terarah dan banyak yang kurang berbobot alias bisa di-skip. Contohnya pelajaran tentang gerakan olah raga dll gitu. Kan semua pelajaran masuk dalam satu tema tertentu. Padahal aku merasa harus lebih fokus ke matematika karena Ziyad memang butuh perhatian di situ. Akhirnya waktu itu beli buku baru yang pembahasannya per pelajaran seperti biasa.
Ziyad (9th) sudah mulai puasa penuh sejak umur 7 tahun alhamdulillah. Berarti ini puasa tahun ke-3 untuk dia. Momen dia belajar full puasa itu kan juga di tahun yang sama pas dia mulai homeschooling tingkat SD. Nah…berdasarkan pengalaman selama 2 tahun kemarin, proses belajar formal di rumah itu berkurang drastis kalo:
Pas ada nenek kakek/oma opanya datang atau
Pas bulan puasa, karena ketika puasa, waktunya jadi berasa sempiiit banget.
Kalau kedua sebab itu barengan ada, berarti lebih-lebih lagi kan hehe. Karena 2 tahun kemarin ada mertua di sini pas lagi bulan puasa.
Ramadhan Kali ini
Nah, karena Ramadhan kali ini gak ada mertua, aku pikir bisa tetap belajar sedikit-sedikit. Jadi, pas hari-hari awal, masih sempat belajar sedikiiit. Kayanya cuma aku kasih soal-soal atau ngerjain tugas.
Sebenarnya, kalau ada yang belum mencoba melakukan kegiatan homeschooling terus nanya pertanyaan terkait masa depan seperti, “Nanti kuliahnya gimana?” “Pakai ijazahnya bisa kepake untuk daftar kuliah?”
Itu jawabannya mudah banget. Coba dulu homeschooling SD-nya :). Tapi ya wajar pertanyaan itu muncul. Berarti memang sempurna gak tahu menahu tentang homeschooling. Karena homeschooling gak mesti terus menerus sampe SMA. Setiap tingkatan ada ijazah. SD dapat ijazah paket A, nanti saat SMP bisa beralih ke jalur sekolah. Begitupun nanti kalau pas SMA-nya.
Ngomong-ngomong coba dulu homeschooling SD. Soalnya disitu bakal berasa banget deh, semangat naik turun. Galau pudar dan menebal. Pokoknya butuh perjuangan dan gak melulu bisa “istiqomah”.
Jadi gak usah mikir jauh-jauh sampe SMA. Coba dulu, bisa gak melalui homeschooling tingkat SD. Ya karena homeschooling itu satu sisi pasti melelahkan. Sisi lain…terlihat “mencemaskan” atau “mengkhawatirkan” berkaitan dengan masa depan. Ah..tapi kan itu semua tergantung dari sisi mana atau siapa yang melihat.
Dan kami pun melalui masa-masa galau, pudar semangat dan ingin istirahat dari homeschooling.