Sebenarnya, dari tulisan-tulisan sebelumnya, terutama tentang homeschooling, seringkali aku tekankan tentang Al-Qur’an.
Fokus homeschooling ya Al-Qur’an.
Beberapa kali aku juga sebutkan satu ayat ini.
Allah ta’ala berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”(Q. S.Faathir: 29-30)
Walau kesannya berantakan, berusaha tetap istiqomah untuk pendidikan Al-Qur’an. Tiada hari terlewat tanpa belajar Al-Qur’an. Semuanya saling berkaitan.
Fokusnya ke ketakwaan yang seringkali terlalaikan.
Sholat, semua orang mungkin akan berusaha menjalankan. Karena itulah kewajiban sehari-hari.
Tapi Al-Qur’an…kadang bisa dibuat jadi hal yang “nanti-nanti.”
Berbagai pembenaran bisa juga dibuat, agar hal-hal terkait Al-Qur’an ini jadi terlihat jadi sesuatu yang wajar dan biasa saja untuk ditinggalkan.
Samar-samar aku mengingat bagaimana akhirnya aku menemukan buku ini di daftar buku yang muncul di halaman Google Play Books.
Selama ini, aku berusaha tetap baca buku insyaAllah. Buku apa aja. Biasanya aku selang-seling dari topik satu ke topik lainnya.
Waktu itu, aku sudah selesai membaca salah satu buku dengan topik yang lebih banyak membahas ke motivasi usaha atau manajemen. Bukunya ringan. Bisa aku selesaikan cukup cepat. Aku sudah membeli dua buku dari satu penulis ini. Akhirnya aku mulai membaca buku yang kedua.
Tapi rasa hati kurang nyaman kalau membaca dari jenis yang sama secara berurutan. Apalagi bukunya buku umum. Aku merasa harus membaca buku yang berkaitan dengan agama.
Zaman sekarang, kalau ada orang menulis sesuatu yang berkaitan semesta apalagi dengan kata-kata puitis, seakan-akan penuh makna, sebaiknya hati-hati. Contohnya seperti ini:
“Semesta mendukungmu.“ “Biarkan semesta bekerja.”
Belum pernah dengar tentang perkataan ini? Alhamdulillah.
Aku rasa hal yang paling sering bikin bingung perempuan adalah kapan berhenti haid. Karena memang samar-samar menipis, kadang lama seperti sudah berhenti, ternyata keluar darah lagi. Atau bahkan sudah memutuskan mandi, akhirnya ternyata keluar lagi.
Itu biasa. Apalagi pas masih kecil. Apalagi kalau setorannya sama Abang ☺️. Jangan khawatir insyaAllah. Karena Al-Qur’an itu penuh berkah. Jadi seharusnya Insya Allah bukan hal yang bikin stress. – Kemarin-kemarin, porsi terbesar untuk nyimak setoran hafalan di aku. Sampai beberapa waktu yang lalu, mereka masih merasa keberatan kalau diminta setoran sama Abang. Soalnya lebih ketat untuk sampai ke titik selesai setoran. Kalau salah bakal diulang-ulangnya sampai entahlah kapan selesainya 😁. Kalau setoran hafalan sama aku, sebenarnya kadang ya gitu, dan ya ada juga sih acara nangis-nangis. Tapi kesiapan mentalnya tetap beda ya ☺️. Masing-masing butuh adaptasi. Begitupun dengan Abang.
Sampai akhirnya mereka alhamdulillah mulai terbiasa setoran ke Abang. Abang juga akhirnya pakai cara minta mereka mempersiapkan maksimal hafalannya untuk disetorin. Alhamdulillah akhirnya sampai di titik mereka udah biasa dan emang bukan hal “eksklusif” lagi untuk setoran ke Abang. Yang terjadi sekarang malahan alhamdulillah mereka sudah bisa diminta nyimak hafalan Abang. Semuanya berproses. Ga langsung smooth jadi gitu aja. Jadi, keep moving forward. Sabar, Istiqomah..jangan lemah. – Bulan puasa ini, Ziyad mulai baligh alhamdulillah. Disusul suaranya yang mulai berubah. Alhamdulillah semua prosesnya bisa terjadi ketika di dekat aku dan Abang. Harapan Abang memang begitu. #limaanakhomeschooling #limaanakdirumah #alquran #islam #sunnah #parentingislam #homeschooling #homeschoolingislam
Setahun lebih sedikit ini, Abang belajar dengan seorang syaikh. Syaikh Labib hafidzahullah namanya. Tadinya beliau belajar hanya berdua dengan akh Agus teman sepenuntut ilmu. Yang dipelajari utamanya adalah berbagai hal terkait fikih madzhab Syafi’i.
Kita kadang suka gak sadar, kalau kita ilmunya masih cupu banget. Untuk sebatas nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah anaknya Abdullah dan kakeknya adalah Abdul Muththolib secara umum insya Allah semua tahu.
Tapi aku bicara dari sudut pandang penuntut ilmu yang mungkin sudah bertahun-tahun mempelajari ini itu. Kitab ini itu. Rasanya jadi jomplang ketika gak tahu atau gak berusaha untuk menghafal nasabnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Alhamdulillah Allah bukakan kesadaran ini. Benar-benar berasa selama ini masih banyaak lalainya.
Ada sebuah cerita nyata. Suatu ketika sekumpulan penuntut ilmu selesai membahas suatu kitab. Kemudian salah seorang di antara mereka bertanya yang intinya, sebenarnya cara baca nama kakek nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu “muthollib” atau “muththolib”. Tasydidnya pada huruf lam atau huruf tho.
Seorang ada yang langsung berusaha mencari tahu dari referensi online. Seorang diantaranya lagi berkomentar dan meyakini bahwa yang benar Abdul Muthollib (yang ditasydid huruf lam). Yang lainnya berkata bahwa selama ini ia mendengar dari berbagai kajian berbahasa Arab syaikh selalu membaca dengan lafal “muththolib” (yang ditasydid huruf tho). Yang lain mengomentari, mungkin kamu salah dengar.
Sampai di situ. Selesai cerita.
Kemudian sampailah ketika beberapa waktu lalu kami mulai menyadari apa yang tertinggal dari hal yang perlu kami pelajari.
Kemudian kami sama-sama mulai menghafal. Lalu aku teringat cerita ini. Jadilah aku merasa…ada yang kurang. Apakah berarti di antara penuntut ilmu itu semuanya belum hafal nasab nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Rasanya akan sangat lebih menyenangkan kalau setidaknya ada salah satu yang kemudian bisa memberikan ilmunya dan membacakan, insya Allah yang benar adalah “muththolib”, kemudian ia membacakan nasab nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
‘Ala kulli haal…kalau masih belum hafal…mari kita hafalkan. Gak wajib. Tapi setidaknya kita berusaha. Bukan untuk dapat nilai ujian. Tapi sebagai salah satu bentuk kecintaan kita.
Ini adalah nasab nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara runtut.
Ada video dari Syaikh Sa’id Al-Kamali yang membacakan secara langsung. Sebelumnya beliau bertana siapa yang hafal nasab nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.
Ini aku udah share juga di telegram tapi belum dalam bentuk file
Supaya mudah mengingatnya, ada nadzom yang insya Allah lebih memudahkan kita untuk mengingat urutan nasab nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kami mengikuti cara baca syaikh Amir Bahjat hafidzahullah. Syaikh Amir Bahjat masih ada keturunan Indonesia. Kakeknya dulu Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawy berasal dari Minangkabau yang hijrah ke Mekkah.
File ini sudah aku share di channel telegram cizkahcom ya (t.me/cizkahcom)
Ini Thoriq lagi ngafalin. Alhamdulillah Luma juga dari dengar-dengar juga sudah mulai hafal. Karena Ziyad juga tiap pekan pulang, alhamdulillah juga bisa segera ikutan menghafal nasab ini.
Buat yang belum yakin dengan masalah muththolib tadi, bisa lihat nadzom lainnya tentang keluarga nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku belum belajar yang ini. Jadi teksnya belum bisa aku share ya.
Ini screenshotnya di bagian Abdul Muththolib dan video bacaannya.
Kita belum akan bahas kitab-kitab atau hal-hal semacam itu.
Mungkin sudah ada yang lihat salah satu postingan aku di instagram tentang Mandzumah Abu Ishaq.
Ada kisah dan perjalanan untuk sampai ke kitab itu.
Dan ada perjalanan dan liku untuk aku sampai menyadari betapa banyak pelajaran dan semangat yang bisa muncul dari mendengarkan bacaannya doktor Abdul Aziz Ash-Shiiniy ini.
Sebelah kanan, syaikh Ukkasyah. Beliau yang juga mendidik Hamzah yang dulu menang juara 2 pas lomba Al-Qur’an di Dubai dan ust Abdurrohim juara 4. Sebelah kiri itu bapaknya Aisha. Disubscribe deh channelnya. Bagus-bagus isinya masya Allah.
Entah kenapa aku jatuh cinta banget dari awal lihat video ini dan jadi pingin banget ngafalin ini. Abang kasih lihat ke aku pas malam pertama dan akhirnya aku lihat terus di malam-malam lainnya selama kami di Jakarta.
Terakhir aku ke bank itu sekitar 4-5 tahun yang lalu. Pas bikin rekening bank sendiri. Alias abis itu ya udah gak pernah ke bank lagi. Tapi akhirnya, kemarin aku dan Abang mentekadkan diri untuk menyelesaikan urusan di bank. Salah satunya karena token aku ke block. Gak ada cara lain selain harus ngurus ke bank.
Perasaan akan meninggal. Pikiran akan kematian. Ternyata banyak yang mengalami. Karena ada tulisan aku tentang ini, jadi banyak yang menanyakan kelanjutan hal ini lewat email.
Biar gak penasaran atau mesti jawab berulang, aku tulis lebih jelas lagi ya penjelasan tentang ini.
Alhamdulillah, aku baik-baik saja saat menulis ini.
Dulu saya hafal urutan senandung bulan Hijriah dari video senandung bulan Hijriah yang saya mainkan untuk anak-anak. Kekurangan dari senandung tersebut adalah berbahasa Inggris dan ada bagian yang diulang-ulang dan bisa membuat bingung anak.
Karena kita muslim, cara berpikir juga harus dikuatin berpikir sebagai seorang muslim. Ketika mendapatkan sesuatu untuk diterapkan di kehidupan, mesti dipikir dan ditimbang lagi; ini gimana sih kalo dalam Islam? Sesuai gak sih sama syari’at? Atau malah jangan-jangan bisa bahaya buat agama kita. Baca selengkapnya Slow Living; Bagaimana Cara Menjalani Slow Living?
Kita bahas dikit-dikit lanjutan tentang fokus ke Al-Qur’an kemarin yah. Pingin ditulis secara keseluruhan kegiatan homeschooling terbaru kami, ko malah terasa berat.
Hafal Ayat dan Paham Arti Ayat?
Ada yang bilang, yang penting hafal dulu aja deh. Nanti biar reflek sendiri. Ada juga yang bilang, tetap harus tau artinya per ayat. Aku gak terlalu menjadikan salah satu dari dua pendapat tersebut sebagai patokan. Tapi lebih berdasarkan pengalaman dan kebutuhan yang dirasa selama belajar bersama anak-anak.
Salah satu yang terbayang-bayang di benakku ketika memikirkan perbaikan hafalan anak-anak adalah aku menunjuk secara perlahan ayat per ayat yang mereka hafal disertai terjemahan per ayat.