Strategi Nyimak Anak Setoran

Buat terima setoran hafalan anak-anak, terkadang butuh strategi. Supaya aku dan anak ga merasa berat.

Misalnya pas kemarin masih mutar juz 28, aku ga pararelin dengan hafalan hari di juz 27 karena yang namanya hafalan baru juga belum terlalu kuat. Sedangkan juz 28 juga emang juz yang perlu perjuangan hehe.

Pas lagi sakit gigi, tetap nyimak hafalan anak-anak, alhamdulilah pas udah ringan-ringan juz 29. Kemarin udah sampai Nuh, aku pararel sama hafalan juz 27.

Baca selengkapnya Strategi Nyimak Anak Setoran

Amanah untuk Ziyad

Ada beberapa yang gak tahu cerita Ziyad yang udah gak di pondok lagi. Biasanya sekilas-sekilas aku cerita Ziyad berangkat kuliah…tapi ternyata ada juga momen dia ujian semester dari PKBM. Aku rangkumkan secara ringkas milestone Ziyad di sini ya.

Keluar dari Pondok

Akhir bulan Mei 2023, kami mengeluarkan Ziyad dari pondoknya. Saat dikeluarkan, dia sedang menyelesaikan jenjang kelas 1 SMA. Faktor paling besar yang menjadi alasan kami mengeluarkannya adalah tujuan yang kami harapkan dari sisi Al-Qur’an tidak tercapai. Cerita lengkapnya ada di tulisan Keputusan Besar dan di tulisan Dua Hal Terkait Keputusan Besar.

Saat mengeluarkannya dari pondok, alhamdulillah kami juga langsung memikirkan rencana ke depan. Alhamdulillah rencana-rencana terkait pendidikannya, Allah mudahkan semuanya berjalan.

Paket C

Saat ini, Ziyad masih menempuh pembelajaran tingkat SMA-nya. Saat kami keluarkan dari pondok, kami langsung mendaftarkannya ke PKBM Al-Mustajab, dimana dulunya –saat SD dan SMP– Ziyad mendapatkan ijazah paket A dan paket B di sana.

Alhamdulillah, dengan mengikuti paket C, dia bisa mendapatkan pilihan jurusan IPS. Saat tulisan ini dibuat, Ziyad sedang menempuh kelas 2 SMA.

Setoran Hafalan

Alasan Ziyad kami keluarkan yang utama adalah terkait hafalannya. Jadi, hal ini tentu saja jadi perhatian banget. Kami gak ingin terjatuh pada kesalahan yang sama. Mencoba-coba sesuatu yang gak pasti.

Waktu awal aku beritakan tentang Ziyad mau aku keluarkan dari pondok ke Uminem, Uminem sempat menawarkan supaya Ziyad ambil sanad ke Ust. Umair anaknya yang saat itu sedang menyelesaikan s1 di UIM. Waktu itu ust. Umair akan pulang selama beberapa bulan karena mau melangsungkan pernikahan.

Aku bilang gak bisa. Hafalan Ziyad harus dikuatkan lagi setelah setahun babak belur kurang diperhatikan. Kami mencari alternatif setoran hafalan yang lebih serius. Beberapa opsi kami pertimbangkan tapi belum ada yang sreg di hati.

Abang bilang intinya sabar dulu. Semoga Allah beri jalan keluar. Sampai menemukan guru yang tepat, Ziyad setoran intensif ke Abang menguatkan lagi hafalannya.

Alhamdulillah, Allah kasih jalan kemudahan gak lama. Sebulan Ziyad ada di rumah, ada flyer penerimaan setoran khusus untuk pengajar ke syaikh Abdurrozzaq Limbarki. Beliau adalah pewaris sanad ke-28 Riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim. Sanad beliau tinggi masya Allah. Beliau menguasai 10 Qiro’at Shugro dan Kubro serta 4 Qiro’at tambahan dengan sanad yang bersambung sampai Nabi Muhammad ﷺ .

Baca selengkapnya Amanah untuk Ziyad

Selesai Kuliah Bridge to MA Arabic

Alhamdulillah, di semester ini, aku sudah menyelesaikan program akselerasi karena ga punya latar belakang S1 bahasa Arab.

Sebenarnya program ini bisa ditempuh dalam 1 tahun.

Yang namanya kehidupan apalagi dengan berbagai amanah, di semester 1; dari 6 mata kuliah yang aku ambil, aku drop 1 mata kuliah.

Di semester 2, karena aku pikir udah lebih paham strategi belajar efektifnya, aku tetap ambil full time, mata kuliah yang diambil totalnya 7 (karena ketambahan 1 mata kuliah yang aku drop di semester 1).

Baca selengkapnya Selesai Kuliah Bridge to MA Arabic

Cerita Kuliah Bahasa Arab

Mulai dari mana ya cerita ini. Karena udah satu setengah tahun berlalu dan kemarin-kemarin memang aku ngerasa belum waktunya untuk cerita tentang ini, jadinya sekarang sebenarnya udah bertumpuk ceritanya :).

Kita pelan-pelan aja bahasnya ya.

Pertama-tama, yang paling penting kenapa gak aku share tentang ini dari awal kuliah karena buat ngejalanin ini bukan perkara yang mudah. Yang paling dikhawatirkan adalah kalau kemudian ngejalaninnya malah lebih karena pressure udah gembar-gembor di awal. Atau sebaliknya, muncul perasaan udah “puas” diri karena ngehsare. Puas yang semu.

Padahal ngejalanin ini –kenyataannya– SANGAT butuh perjuangan.

Kedua, aku juga khawatir nantinya –seperti kebanyakan hal yang dipandang di social media– aku dianggap jago atau sudah ahli karena –sedang– menempuh kuliah bahasa Arab. Padahal aku sendiri masih sangat butuh belajar dan memperbaiki di berbagai sisi dari bahasa Arab ini.

Ketiga, karena aku juga seorang ibu rumah tangga, aku gak ingin nantinya ada yang tergerak untuk ikut jejak aku kuliah dengan alasan, “Mba Siska aja kuliah, aku juga jadi pingin.” Padahal keputusan ini bukan keputusan yang singkat. Keinginan ini bukan muncul tiba-tiba dan sampai di tahap ini juga lama sekali karena mempertimbangkan kewajiban aku yang utama.

Aku malah sedih kalau ada yang kemudian mengambil keputusan mengikuti “jejakku” sekedar karena emang pingin tanpa mikir faktor terbesar yang harus dipertimbangkan terutama untuk yang sudah memiliki suami dan anak.

Ada alasan lainnya, tapi yang tiga di atas insya Allah sudah cukup mewakili.

Abang Duluan

Kemarin aku sempat cari-cari tulisan berkaitan ini di blog. Ternyata gak aku tulis. Tepatnya kejadian ini setelah kejadian pengajuan beasiswa Brunei di bulan Desember 2014. Dari situ terjadilah perenungan dengan cita-cita kami dan langkah-langkah mewujudkannya.

Sebulan dari kejadian beasiswa Brunei, bulan Januari tahun 2015 bertepatan dengan penerimaan mahasiswa baru di Ma’had Aly Jogja. Sudah ada Luma di usia baru mau menginjak satu tahun. Aku udah tanya-tanya info berkaitan bolehnya membawa anak bayi saat kuiah. Dengan semangat gegap gempita, kami merasa langkah awal kuliah bahasa Arab perlu dilakukan. Aku dan Abang udah diskusi dan bersiap diri untuk daftar bareng. Menyiapkan mental untuk berpeluh bersama mengingat anak-anak yang masih kecil-kecil banget. Ziyad 8 tahun, Thoriq 4 tahun dan Luma yang baru mau berusia 1 tahun.

Baca selengkapnya Cerita Kuliah Bahasa Arab

Ini Rumah; Ini Keluarga

Kemarin, sebenarnya aku sengaja post yang memperlihatkan sisi berantakan dan ketidaksempurnaan.

Karena begitulah kehidupan.

Karena khawatir, di beberapa postigan –walaupun diceritakan untuk sampai tahap rapi penuh perjuangan–dianggap sebuah “kehebatan”.

Padahal engga.

Ada rapi di sini,
ada berantakan di sana.

Ada satu spot terfoto,
ada spot lainnya yang tak terfoto.

Satu hal yang terlupakan, kesan yang ditangkap adalah aku mengerjakannya sendirian.

Yang tentu saja engga.



Ini adalah rumah. Ini keluarga.

Ketika aku lagi ga sanggup masak, maka Abang dengan senang hati bergerak untuk beli lauk. Bahkan juga sering sampai menyarankan,
“Adek besok ga usah masak.”

Atau kadang Abang sendiri yang masak sekedar telur dadar atau goreng ayam.

Ketika aku mencuci wadah bekas masak kue, maka ada Abang dan Ziyad yang mencuci cucian piring lainnya (begitupun kalau Thoriq pulang dr pondok, langsung terlibat dengan pekerjaan di rumah).

Ketika hal mentata aku yang lebih bisa mengerjakan maka yang ada yang lain yang memang sudah bertugas membersihkan.

Ketika aku menyetrika, ada yang angkat dr mesin cuci, masukin ke dryer, balikin baju kering.

Ada komunikasi dan kerjasama.

Ada harapan dan ada juga saling pengertian.


Ada tanggung jawab dan kemandirian yang dididik ke masing-masing anak.

Hasilnya sempurna?
Tentu saja engga.

Dengan 5 orang laki-laki di rumah plus satu anak perempuan dgn karakter sangunis, alhamdulilah belajar untuk terus saling memahami.

Bukannya aku ga pernah nangis karena ngerasa rumahnya super berantakan…tapi biasanya Abang tau itu karena aku lagi capek banget atau karena pms atau haid 😄.

Karena pada umumnya, biasanya aku santai aja atau malah langsung aja gerak beresin insyaAllah. [Disertai ngasih intruksi ke anak-anak kalau yang kira-kira bisa mereka kerjakan 😄]

Alhamdulillah kita masih bisa berharap, bisa pelan-pelan merapikan dan pada akhirnya ada saat untuk rapi insyaAllah–walau nantinya kemungkinan besar akan berantakan lagi–.

fa-innama’al ‘usri yusro…inna ma’al ‘usri yusro..

* Pernah bercanda pas cuma ada satu handuk di jemuran handuk, aku tanya ke semuanya.

“Tebaak, cuma ada satu handuk di jemuran, handuk siapa hayoo?”

Baca selengkapnya Ini Rumah; Ini Keluarga

Ramalan Itu Apa, Mi?

Menjelang sore, Selasa, tanggal 9 Januari 2024. Kholid nanya, “Mi, ramalan itu apa, Mi?”

Ini momennya pas mereka udah pada selesai hafalan. Kembar lagi nunggu Abang siap-siap sholat ashar. Merekanya udah siap dengan jubahnya. Posisi aku masih nyetrika.

Aku jawab yang intinya,

Baca selengkapnya Ramalan Itu Apa, Mi?

Bikin Pencatat Kebiasaan (Habit Tracker)

Sekitar 2-3 hari yang lalu sempat post di story catatan keseharian yang lagi mau aku rutinkan insya Allah.(slide 2)

catatan harian
Catatan harian…

Detail tentang catatan harian, insya Allah aku bahas di tempat yang lain ya.

Kemarin, cuma sebentar ada di story terus aku hapus. Beberapa udah ada yang mulai tanya-tanya.

Baca selengkapnya Bikin Pencatat Kebiasaan (Habit Tracker)

Hadiah Hafalan Anak-Anak

Salah satu yang bikin semangat anak-anak dalam perjalanan menghafal adalah hadiah.

Suka ada pertanyaan, nanti ngerusak niat atau jadi hal negatif ga? Insya Allah engga. Orang dewasa aja suka ko kalau dijanjiin hadiah ketika berhasil sesuatu 😊.

Pemberian hadiahnya pun tetap dengan batasan dan aturan.

Baca selengkapnya Hadiah Hafalan Anak-Anak

Dunia Lagi —Sangat—Ga Baik-Baik Aja

Sedih campur aduk banget. Kaya dunia ini udah ancur banget. Sampai hal yang udah nyata super jahat ga bisa diapa-apain.

Sediih bangeeeet.

Hari ini gemes dengan berbagai hal terkait apa yang sekarang lagi terjadi di Indonesia. Pertanyaan kenapa dan gimana caranya yang ga ketemu jawabannya sama seperti kejadian Palestina.

Abang sering bilang ketika bahas hal lain, “Pertanyaan kenapa itu pertanyaan berat.”

Rasanya sesek aja di dada.

Abang udah ingetin emang kita nih mesti ngencengin doa, bantuin doa supaya bisa dapat pemimpin yang baik.

Kenapa bisa gitu? Kenapa orang ko bisa kerjasama dalam sesuatu yang buruk? Kenapa orang mau-maunya ikutan?

Gimana caranya biar ga gini?

Baca selengkapnya Dunia Lagi —Sangat—Ga Baik-Baik Aja

Kenapa Harus Bawa Al-Qur’an Saat Setoran Hafalan?

Setiap giliran setoran hafalan masing-masing anak, biasanya langsung aku ingatkan,

“Bawa Al-Qur’an-nya.”

Tujuannya kalau lupa, mereka harus lihat sendiri bagian yang lupa. Biar lebih paham dan ingat secara posisi dan bacaannya.

Ada saat-saat mereka mesti ngulang AYAT SEBELUM AYAT YANG TERLUPA, supaya bisa lebih paham titik sambungan mereka lupa. Yang itu akan lebih mudah ketika melihat Al-Qur’an. Karena ketika baca emang ga sadar bagian ayat mana yang lagi dibaca.

Baca selengkapnya Kenapa Harus Bawa Al-Qur’an Saat Setoran Hafalan?

Di Balik Layar

Di suatu kesempatan di akhir bulan Oktober, aku sengaja keluar bareng Abang ke suatu tempat untuk foto-foto untuk bahan banner untuk para agen buku Menata Hati.

Waktu itu, aku sempat minta Abang, “Bang, coba foto aku lagi baca buku ini, Bang.”

Sekedar nyoba aja sebenernya. Udah insecure duluan dari berbagai sisi. Ga terlalu juga pingin pakai hasilnya, apalagi pas foto pakai hp Abang. Biasanya Abang juga ngelarang kalau kelihatan sosok aku banget.

Waktu itu —tanpa melihat hasil foto di hp Abang—, “Ga bagus ya?”

Abis itu ya udah, dilupakan aja foto ini.

Baca selengkapnya Di Balik Layar