Dalam rumah tangga, lem super adalah termasuk barang yang sifatnya insidental dibutuhkan. Biasanya, saat dibutuhkan, kami membeli lem super yang umumnya ada di toko atau swalayan. Dan biasanya lagi…lem itu cuma bisa sekali dipakai walaupun isi yang digunakan hanya sedikit.
Author: cizkah
Hasil Proses Penyapihan Thoriq Ibrohim
Secara kalender Syamsiah, Thoriq lahir tanggal 5 Januari 2011. Ketika mendapat saran penyapihan dengan cara hypnoparenting bulan November akhir. Walau ga saklekin harus pas 2 tahun berhenti, kata-kata yang aku perdengarkan ke Thoriq berkisar ;
“Thoriq in sya Allah umur 2 tahun berhenti nenen ya. Soalnya udah besar.”
“Thoriq in sya Allah sebulan lagi umur 2 tahun. Berarti berhenti neneeenn…”
Ya…usaha aja, tapi sudah menyiapkan mental kalau-kalau satu bulan masih belum cukup untuk memberitahu dan mempersiapkan dia untuk menerima kenyataan lepas nenen itu hehe.
Pas udah mendekati harinya..aku ngomong ke Thoriq udah kaya menghitung hari. “Thoriq 5 hari lagi in sya Allah berhenti nenen ya..soalnya udah umur 2 tahun in sya Allah…”
“Thoriq, 3 hari lagi Thoriq udah 2 tahun. Berarti berhenti neneeenn…”
Begitu seterusnya sampe pas tinggal sehari lagi.
My Quran Clip [Updated]
Alhamdulillah, produk terbaru dari cizkah yang diberi nama My Qur’an Clip telah hadiir.
Ide produk ini sebenarnya dari kebutuhan pribadi. Sebagai seorang ibu, dengan berbagai kesibukannya, seringkali untuk mengulang hafalan Qur’an itu susah untuk menemukan waktu khusus. Susahnya lagi, pas lagi sibuk gitu, mo sambil mengulang hafalan juga jadi bingung sendiri.
Poster Perkalian
Alhamdulillah, hadir produk cizkah yang terbaru. Poster perkalian. Masih ingat postingan pas launching produk poster hijaiyah? Disitu disebut-sebut tentang poster perkalian dan keinginan tiba-tiba untuk bikin poster tersebut. Alhamdulillah terwujud juga.
Dalam matematika, ada beberapa hal yang akan memudahkan bagi seorang anak untuk ke depannya dengan cara di hafal. Salah satunya adalah perkalian. Aku masih ingat seorang teman yang begitu susah payah setiap menghadapi soal perkalian karena dia harus menambah secara manual satu persatu setiap angka (karena dia tidak hafal perkalian).
Misalnya soal: 63 x 5
Maka dia akan menyelesaikannya dengan cara 63 + 63 + 63 + 63 + 63
Banjir dan Banjir…
Waktu masih tinggal di Jakarta, aku pernah merasakan susahnya masa-masa Jakarta banjir seperti sekarang. Tepatnya waktu aku kerja sebagai desainer grafis di kawasan Bintaro awal tahun 2002.
Macet parah di tengah perjalanan ke tempat kerja. Harap cemas karena gak sampai-sampai. Akhirnya jalan jauuuuh sekali untuk sampai ke tempat kerja.
Pulang dari tempat kerja….rasanya lebih cemas lagi. Ada angkotkah? Bisa pulangkah? Gimana kalo gak ada angkot. Kan jauh banget Bintaro ke Andara.
Belajar Menulis Latin
Sekilas cerita lagi tentang cara Ziyad belajar menulis. Di awal-awal, gerakan tangannya masih banyak mengambang. Artinya masih harus mempersiapkan kesiapan belajar menulis itu sendiri.
Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan mencetak dari benda-benda berbentuk lingkaran. Misalnya tutup gelas. Secara gak langsung dia sudah belajar menekan dan membuat garis lengkung.
Pada Ziyad, kesiapan belajar menulis ini terbentuk secara alami alhamdulillah. Karena dia banyak menggambar. Panah, gambar orang berperang, mobil dstnya. Dia juga sudah menyelesaikan belajar menulis satu buku untuk belajar menulis dasar (semua huruf masih ada titik-titiknya). Lupa di usia berapa. Setelah itu belajar menulisnya sifatnya insidental. Gak pingin maksa karena usianya toh memang masih segitu.
Jarang-Jarang…
Salah satu kenikmatan hidup di Jogja adalah sering ada Islamic Book Fair. Gampang dijangkau dari rumah alhamdulillah. Cuma 15-30 menit bisa sampai, gak pakai macet :D.
Salah satu kenikmatan lagi pas Islamic Book Fair kali ini, si abang lagi dapat rezeki tambahan dari Allah.
Salah satu kenikmatan lainnya lagi adalah, suami yang juga ikut semangat melengkapi perlengkapan permainan edukatif di rumah sejak kejadian kemarin.
Jadi, berangkatlah kami Ahad ini ke Islamic Book Fair.Walau sempat salah tempat karena ternyata bukan di gedung Wanita Tama – dimana biasanya Book Fair di adakan di situ – tapi kali ini diadakan di GOR UNY. Walau hampir gak jadi karena hujan yang luar biasa lebat. Walau terjebak di Masjid Kampus UGM selama hampir 2 jam karena hujan itu.
Pendidikan Tauhid untuk Bayi
Masih ingat cerita “Nyetain Awwal” nya Ziyad hihi…
Kali ini giliran Thoriq. Alhamdulillah dia melafalkannya lebih mendekatai keb
naran :D. Masih pengenalan tauhid rububiyah Allah…
Sebenarnya ada video yang lebih terang dan jelas. Tapi masih di hp abang dan perlu sedikit pengeditan karena ada penampakan aurot.
Usia Thoriq secara kalender syamsiyah sudah mendekatai 24 bulan (2 tahun) dalam beberapa hari in sya Allah.
Surat Untukmu…
Assalamu’alaikum…ukhti…
Maaf…
Sejujurnya aku sedang sedih. Melihatmu yang kini tak seperti dulu.
Mungkin engkau malu padaku, ketika tak kau sangka tegur sapa datang dariku.
Teman Baik In sya Allah
Seperti pernah aku ceritakan, teman laki-laki Ziyad di lingkungan sini sedikit. Itupun usianya sudah lebih tua dari Ziyad. Beda usianya antara 2-3 tahun. Kami pindah ke kontrakan ini ketika Ziyad berumur 2 tahun 9 bulanan. Dan anak-anak sepermainan itu sudah masuk TK, bahkan ada yang sudah kelas 1 SD.
Hasilnya, saat mereka bermain bersama, pembicaraannya kurang nyambung. Dan sepertinya mereka malas berbicara dengan anak kecil yang belum “setaraf” dengan mereka.
Bullying & Unschooling
I don’t know where to start….
Perasaan berdebar dan gelisah berlangsung sejak kemarin. Menimpa kami berdua. Aku dan abang.
Beberapa hari yang lalu, aku membaca artikel tentang bullying di group Sunni Homeschooling. Artikel yang cukup panjang. Namun aku membacanya secara keseluruhan. Bukan tanpa alasan. Karena aku ibu dari Ziyad. Aku mengenal karakternya. Ziyad adalah tipe anak yang tidak suka main dengan hal-hal yang berbau kekerasan. Permainan yang sebenarnya tidak umum namun memang seringkali terjadi pada anak-anak. Kalaupun terjadi, Ziyad kemungkinan besar menjadi anak yang terkena bullying. Setelah membaca artikel itu, aku langsung mengirimkan lewat email ke abang.
Gak disangka, kalau itu memang benar-benar terjadi pada Ziyad. Sudah lama! 🙁
Hallo Blog

Hampir 2 weekend ini “sibuk”.
Weekend kemarinnya lagi, sibuk persiapan mo berangkat ke nikahan adik di Jakarta.
Weekend yang baru saja berlalu, acara nikahannya itu sendiri (dan tentu saja aku berharu biru menahan tangis huhu…love my lil brother so much!). Plus acara balik ke sini langsung malam hari itu juga. Capek.
Banyak banget yang mo diceritain.
“PR” postingan sebelum bepergian kemarin udah banyak. Tambah lagi cerita menarik pas kami di Jakarta masyaAllah.
Tambah lagi kejadian-kejadian yang baru aja…
Tapi gak tahu kapan bisa mostingnya.
Badan langsung ngedrop pulang dari Jakarta. Pusing gak ilang-ilang.
Stock dagangan poster pas abis. Pas lagi dapat sms pesenan yang alhamdulillah udah pada kenal semua, jadi bisa pengertian dengan kondisi ngedropkuh dan semoga bisa bersabar yah.
Kerjaan yang banyak. Bayangin 2 aplikasi, pake gambar2 semua. Belum interfacenya…
Mudah-mudahan pelan-pelan bisa diurai dan dibereskan satu persatu.
InsyaAllah.
Aamiin.
Ayam Bakar Bumbu PETIS
Sengaja tulisan petisnya di-UPPERCASE :D. Petis ini adalah bumbu tambahan yang sering digunakan untuk daerah tertentu, terutama Jawa Timur.
Alternatif Penyapihan (The Hypnoparenting Way)
MasyaAllah, aku sama abang baru dapat masukan dari seorang teman. Beliau bernama mas Abdulrachman, termasuk tim Yufid juga :D, istrinya bernama Vita. Mungkin yang tinggal di Purwokerto pernah ketemu ^^.
Beliau bercerita tentang teknik penyapihan yang digunakan untuk anak pertama. Tanpa konfrontasi, tanpa ribut-ribut. Beliau menjelaskan prosesnya, dan dikaitkan dengan penjelasan gelombang otak.
Pas baca ceritanya, masyaAllah. Baru ingat. Itu kan namanya hypnoparenting. Pernah baca di salah satu forum di TUM. Tapi waktu itu gak dikaitin sama proses penyapihan, jadi gak kepikiran sama sekali untuk nerapin untuk nyapih.
Proses yang beliau jalani seperti ini.
Baca selengkapnya Alternatif Penyapihan (The Hypnoparenting Way)
Belajar Berhitung
Alhamdulillah…sejak sekitar 4 mingguan yang lalu, Ziyad mulai belajar berhitung. Maksudnya sudah mulai masuk dalam ranah belajar yang lebih diseriuskan hehe. Sebelum-sebelumnya secara tidak langsung sudah belajar dasar-dasar. Dilakukan dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya ketika dia minta kertas, aku bilang “Lima ya, coba dihitung dulu benar 5 gak?” Terus hitung deh.
Mulai belajar berhitung juga karena aku lihat perkembangan belajar membaca latin dan arabnya alhamdulillah bagus. Proses belajar kedua materi itu sudah berjalan lebih ringan. Bahkan, untuk baca latin karena satu halaman sudah lancar dan cepat, bisa aku rapel 2-3 halaman. Walau baru AISM 4, Ziyad sudah sering buka buku dan berusaha baca karena menikmati dia sudah mulai bisa membaca. Alhamdulillah 🙂
Nah…sebelum mulai proses belajar berhitung ini, aku banyak melihat dan download dari youtube. Terutama cara belajar di Montessori. Proses belajar berhitung ini, aku lihat jadi lebih terlihat mudah. Salah satu video yang aku lihat ini:
Baca selengkapnya Belajar BerhitungAgar Anak Lebih Mudah Bicara
Berikut sepercik kutipan dari buku karangan Ibnul Qoyyim yang berjudul Tuhfatul Maudud bi Ahkaamil Mauluud.
Sekiranya sang bayi telah mendekati masa mulai dapat berbicara, untuk membantu melancarkan fase tersebut, hendaklah lidahnya diolesi madu dicampur dengan garam androni. Sebab keduanya dapat menghilangkan kelembaban dalam mulut yang menghalangi bayi untuk segera dapat berbicara.
Jika ia mulai dapat berbicara, maka kalimat yang pertama kali ditalkinkan kepadanya hendaklah “laa ilaha illallah muhammadur rasulullah”. Dan pelajaran pertama yang diperdengarkan kepadanya adalah ma’rifatullah (mengenal Allah) dan pentauhidan kepada-Nya. Di samping itu, ia juga ditalkini kalimat yang mengandung makna bahwa Allah ta’ala bersemayan di atas Arsy-Nya, Maha Mendengar atas segala pembicaraan para makhluk dan Dia selalu menyertai mereka dimanapun berada.
Selesai kutipan.
—
Update 12 Agustus 2022.
Karena aku nulis ini 10 tahun yang lalu, di mana Ziyad baru usia 5 tahun, Thoriq baru 1 tahun dan adik-adiknya belum lahir, jadi efek dan cerita dari tips ini belum banyak terkuak ^^ .
Alhamdulillah, kali ini baru ada kesempatan bahas ini lagi dan ternyata banyak sekali pertanyaan terkait garam, madu, prakteknya bagaimana, dst.
Garam dan Madu
Terkait garam, yang biasa aku praktekkan adalah garam dapur biasa. Jangan garam halus instan ya.

Alhamdulillah sudah Abang bantu cek di kitab aslinya. Ini aku kasih catatan langsung di bagian kalimatnya. Ibnul Qoyyim menuliskan garam androni. Kemudian ada ulama yang menjelaskan (di footnote) yang benar adalah garam dzar-ani. Maksudnya garam yang sangat putih.
Ini mungkin terkait tulisan asli yang biasanya dalam bentuk manuskrip. Jadi, terbacanya androni.
Madu tentu saja juga gak merk tertentu. Madu apa saja. Karena yang menulis ini ulama zaman dahulu, insya Allah sifatnya global. Bukan garam atau madu yang sulit dicari.
Waktu Menggosok
Praktek menggosok lidah anak dengan garam ini dilakukan tidak tiap hari. Karena biasanya anak kurang nyaman. Tapi untuk anak yang memang sedang diupayakan untuk mudah berbicara bisa dicoba supaya lebih “intensif”. Dalam arti, tidak berjarak sampai berpekan-pekan antara gosokan lidah yang satu dengan yang lainnya.
Aku mempraktekkan tips ini cukup sering ke Ziyad, karena dulu Ziyad belum bisa ngomong sampai usia 2 tahun. Alhamdulillah usia 2 tahun 3 bulan dia mulai ngomong dan setelah itu bisa banyak kosa katanya. Ternyata, setelah lahir adik-adiknya yang empat orang, terlihat bagaimana Ziyad yang paling fasih insya Allah.
Akhirnya tips ini pun aku coba terapkan ke keempat adik Ziyad walaupun mereka sudah besar.
Cerita Ziyad mulai bicara bisa di baca di tulisan Ziyad 2,5 tahun.
Kurang Nyaman
Pada prakteknya, anak-anak biasanya kurang nyaman saat diberikan ini. Wajar karena rasa antara madu dan garam itu kemudian digosok ke lidah cukup bikin sensasi aneh.
Setelah digosokkan ke lidah, biarkan anak kemudian berkumur-kumur untuk menghilangkan ketidaknyamanan.
Praktek Terkini
Aku masih praktek tips ini baru-baru ini. Dan sudah beberapa kali. Yang terakhir adalah tanggal 29 Juni 2022 (baru sekitar 1,5 bulan yang lalu). Aku terapkan ke Thoriq, Luma, Handzolah dan Kholid dengan harapan lidah mereka bisa fasih. Bisa melafalkan bacaan Al-Qur’an sesuai dengan makhorijul hurufnya. Bahkan, aku juga terapkan ke diri aku pribadi :).

Karena sudah mendidik 5 orang anak, aku merasa mendidik anak makhorijul huruf itu butuh kemampuan lidah. Mau kita ajarkan, kalau lidahnya kurang mampu, tetap terasa sulit buat anak. Ziyad sudah bisa aku ajarkan mengeluarkan huruf-huruf hijaiyah sesuai makhroj sejak usia 6 tahun alhamduilllah.
Tentang Huruf R atau Huruf lainny
Ga ada tips khusus dari aku untuk melatih huruf r. Alhamdulillah, saat praktek terakhir, kembar belum bisa melafalkan beberapa huruf. Ketika tulisan ini dibuat, kembar sudah mulai bisa melafalkan huruf r dan j.
Luma dan Thoriq juga sama, sekitar usia 6 tahun baru bisa melafalkan huruf r.
Kadang aku meminta anak yang sudah berusia 5 tahun untuk melafalkan kata yang mengandung huruf r. Tapi saat meminta mereka melafakan bukan dalam posisi ditekan atau dipaksa. Lebih ke kondisi santai, bercanda dan insya Allah gak ada unsur bully. Bully di sini maksudnya mereka direndahkan atau diejek karena belum bisa melafalkan huruf r.
Beberapa hari yang lalu, kembar coba-coba sendiri melafalkan beberapa kata yang mengandung huruf r di depan aku. Ternyata bisa alhamdulilah
Sebelum usia 5 tahun, aku belum mengajarkan mereka. Dalam arti membiarkan karena aku anggap belum mampu. Sama seperti mengajarkan huruf-huruf hijaiyah, masih banyak huruf yang belum bisa mereka lafalkan. Lanjut tapi sambil tetap diajarkan makhroj yang benar.
Praktek lain yang aku jalankan, ketika bicara ke anak-anak ga dicadel-cadelin.
cizkah
28 November 2012 – diupdate dengan cerita pengalaman pribadi 12 Agustus 2022.

