Beberapa waktu lalu, nyoba panggang ubi. Biasanya dulu-dulu kalau gak dikukus, dikolak.
Awalnya nyoba ubi utuh dipanggang. Lebih praktis dan tahunya kalau yang dijual kan juga utuh-utuh gitu ya. Sempat kepikiran itu wajib apa gimana panggang ubi utuh begitu hehehe. Tapi mungkin karena versi dijual ya. Karena kalau udah dipanggang, insya Allah bisa tahan gak cepat basi.
Alhamdulillah, bisa dapat resep ini di buku resep favorit. Makanan ini termasuk kesukaan keluarga Abang. Jadi, kalau bisa masak ini jadi sesuatu yang menyenangkan untuk semua orang.
Tapi mengingat kandungan ketan sebenarnya sudah mengandung index glikemik yang cukup tinggi dan pemakaian gula di sini, jadi aku sarankan ketika makan ini dikontrol ya hehe. Plus juga jangan sering-sering.
Di sini aku kasih resep sesuai di buku. Tapi aku kasih catatan dan tambahan ya. Seperti biasa aku kalau nulis resep.
Alhamdulillah, isian ini udah sering banget aku pakai. Maunya segera dicatat. Lebih bagus lagi kalau resep seperti ini dicatat di buku tulis ya. Sama seperti catatan lainnya juga usahain ada bentuk offlinenya. Semoga aku juga bisa susun tulisan-tulisan di sini dan ada versi offlinenya.
Bisa dibilang, hampir setiap orang yang ngerasain sambal ini bakal nanya, “Ini sambal apa?” Sambil nyocolin terus si sambel. Pedes tapi kaya nagih pingin nyocol. Apalagi kalau dimakan bareng sama ikan bakar.
Sebenarnya, urutan ceritanya gak langsung ke kue ini. Setiap hal ada sebab. Sebab yang dianggap sebab pertama sampai akhirnya jadi bikin kue wortel sebenarnya adalah akibat dari sebab lainnya lagi. Semuanya connected. Tapi mau merangkai dari awal untuk sampai ke resep ini kok khawatir malah akhirnya gak ketulis resep ini seperti yang sudah-sudah.
Aku suka brownies dan kue lainnya yang berbau coklat. Tapi jaraang sekali bikin brownies sendiri. Walau begitu, di rumah hampir selalu sedia coklat batangan. Yang namanya kue tuh kan ada aja saat-saat butuh coklat ya. Sampai akhirnya kemarin didorong-dorong si kembar untuk bikin kue, bikin kue, bikin kue. Kok ya kepikiran pingin banget bikin brownies. Padahal sebenarnya agak lebih ribet dibandingkan bolu yang cuma tinggal timbang dan tuang :D.
Dipilihlah resep Ibu Malka di Cookpad. Hasilnya sesuai harapan banget alhamdulillah. Padat, kokoh, crispy outside dan chewy inside, hasilnya juga shiny crust, huhui. Ngunyahnya pas. Jadi, mari dicatat sebelum kelupaan.
Resep asli yang digunakan sebenarnya menyertakan baking powder dan soda kue. Aku memilih tidak menggunakannya. Sama seperti Ibu Malka. Karena khawatir hasilnya terdistraksi dengan baking powder dan soda kue. Bahkan jika tidak tepat penggunaan malah bikin rasa anyep dan pahit.
Resep yang aku catat di sini sudah disesuaikan dengan bahan yang ada di rumah (di beri catatan tambahan dari resep asli). Misalnya, di resep asli menggunakan gula palem, namun di rumah adanya gula merah. Alhamdulillah hasilnya tetap enak dan cita rasa coklatnya tetap kuat.
Bahan Brownies Shiny Crust:
3 butir telur
200 gr gula pasir (aku 125-150gr, kalau 2x resep, jadinya malah bisa cuma 200gr aja)
125 gr gula palem (aku 100gr)
aku pakai gula merah diiris-iris sampai cenderung halus sehingga mudah tercampur saat dimixer.
1-2 sdt vanila bubuk
200 gr tepung serbaguna
25 gr coklat bubuk
untuk warna yang lebih gelap bisa pakai merk bensdorp
warna coklat bubuk van houten lebih muda daripada bensdorp.
100 gr coklat blok, lelehkan (aku pakai merk Collata DCC)
Langkah-langkahnya aku sesuaikan supaya lebih enak secara penyiapan dan proses pembuatannya. Tidak loncat-loncat. Tahap awal persiapan.
Tahap Persiapan
Cairkan coklat blok 100gr sambil siapkan minyak 115ml.
Timbang gula pasir 125gr (atau 150gr) dan iris-iris gula merah 100gr (atau 125gr).
Timbang tepung 200gr dan coklat bubuk 25gr. Campur dan ayak.
Siapkan minyak goreng 115ml.
Siapkan loyang dengan alas kertas roti 22 x 22 x 5. Diolesin minyak + margarin+ terigu juga bisa insyaAllah.
Tahap pencampuran
Pecahkan telur 3 buah di wadah.
Kocok telor, gula pasir, gula palem (aku pernah gula merah) dan vanili dengan kecepatan rendah sekitar 2-3 menit. Kocok dengan arah tidak memutar supaya hasilnya tidak mengembang seperti membuat bolu. Artinya, disarankan tidak menggunakan stand mixer supaya bisa membolak-balik wadah saat dikocok.
Masukkan campuran tepung dan coklat bubuk. Aduk dengan spatula sampai rata.
Masukkan coklat leleh. Sisakan 2 sdm untuk membuat guratan. Aduk rata.
Masukkan minyak goreng dan chocochips. Sisakan secukupnya chochochip untuk topping. Aduk rata.
Panaskan oven supaya saat adonan siap dituang ke loyang, oven sudah panas.
Tuang ke dalam loyang 20 x 20 x 5 (cm) yang telah dialasi kertas roti. Kalau ga ada, diolesi minyak, alhamdulillah tetap ga lengket.
Tuang sisa coklat leleh dan bentuk seperti aliran sungai. Taburi sisa chochochips
Panggang di suhu 190’C selama 20 menit. Kemudian turunkan suhu menjadi 150’C. Kemudian panggang lagi selama 15-20 menit.
Selesai.
Alhamdulillah, jadilah brownies yang padat dan menggiurkan. Dipotong kecil-kecil dan disimpan di kulkas. Cocok sekali dimakan bersama kopi pahit.
Semoga resep kue brownies sungai coklat ini bermanfaat ya.
Alhamdulillah. Membuat bubur sumsum insyaallah mudah dan cepat.
Yang mudah ini tetap butuh NIAT untuk membuatnya. Untuk resep ini, biar gak bingung, kita akan jelasin prinsip dasar perbandingan antara tepung dan santannya.
Bahan bubur sumsum:
Tepung beras 100 gr
Santan 800-1000 ml (bisa memakai 1 bungkus kara kecil campur air)
Sebenarnya ini resep super sederhana. Tapi berdasar pengalaman dulu waktu baru nikah, yang super sederhana bisa jadi benar-benar gak ada di bayangan atau di pikiran :D. Semoga bisa membantu yang baru belajar masak ya.
Resep ini bisa menggunakan daging giling atau sosis. Tapi jika bisa diupayakan daging giling, maka saya lebih suka membuat topping ini menggunakan daging.
Alhamdulillah saya sudah mencoba tips ini berkali-kali sejak tahun 2017. Apalagi di waktu sahur. Jadi terasa lebih mudah karena cukup 5 menit, kompor bisa dipakai yang lain. Sebelum berpanjang-panjang, kita langsung masuk dulu ke tipsnya.
Ini adalah tampilan telur ketika direbus. Saya buka tutupnya sebentar untuk mendokumentasikan tips merebus telur 5 menit ini
Punya anak kembar, kan harus rajin makan. Makannya pun yang ngenyangin dan bergizi. Stoknya mesti bisa ada dan gak terlalu mikir basi atau nganget-ngangetin. Yang kalo tengah malem bisa langsung ambil. Apalagi jawabannya kalo bukan roti. Kalo pas pengen manis, bisa dimakan pake mesis, selai dll. Tapi kalo pas pengen yang asin-asin dibikin jadi burger telor.
Tapi lama-lama mikir. Ini sehat gak yah. Mikirin pengawet, pemutih (kalo pake), pelembut dllnya. Apalagi harganya kalo dipikir-pikir buat keluarga besar jatohnya sebulan banyak banget. Akhirnya suatu sore, kepikiran dan langsung eksekusi bikin roti tawar. Alhamdulillah kalo alat perbakingan udah lumayan lengkap dikumpulin dari zaman Ziyad.
Dulu ngiranya bikin roti tawar tuh butuh banyak telor gula kaya bolu. Ga kepikiran sama sekali untuk ngelirik resepnya. Karena udah terlalu kuat di “ngiranya” tadi.
Resep ini adalah termasuk salah satu resep masakan Cina yang mudah saat pembuatannya dan tetap terasa lezat dan kaya rasa. Mudah bagi saya karena bahannya hampir sebagian besar tinggal cemplung-cemplung dengan menggunakan sendok makan.
Bahan:
500 gr daging has dalam sapi, iris melintang serat tipis (Kalau saya kemarin pakai sekitar 250gr bagian sirloin yang sudah dicincang dari swalayannya, bumbu lain menyesuaikan)
1 sdm tepung maizena
2 sdm minyak sayur
2 siung bawang putih (II)
25 gr bawang bombay, cincang (untuk perut yang sensitif dengan bawang bombay seperti saya, bawang bombaynya hanya seujung saja, untuk cita rasa dan tidak menimbulkan gas di perut)
Alhamdulillah, kita ketemu lagi dengan resep makanan yang dikukus!
Resep di bawah ini adalah resep yang bagi saya udah sesuai rasanya sesuai lidah setelah beberapa kali mencoba. Misal, jinten saya kurangi supaya rasa rempahnya tidak terlalu berlebihan.
Tadinya, aku pikir, riwayat per-baking-an ku berakhir atau bakal terbengkalai sejak Ziyad homeschooling plus berbarengan dengan lahirnya Luma. Memasak pun lebih banyak beli lauknya setahun terakhir pas abang kuliah. Karena waktu makannya jadi diburu dan harus disesuaikan dengan waktu abang harus berangkat ke ma’had. Warung dekat rumah yang cuma beberapa langkah kaki jadi andalan.
Sejak menyadari pentingnya menjaga kesehatan dari segi makanan. Saat memasak saya berusaha meminimalisir hasil masakan yang digoreng. Tidak sempurna, hanya meminimalisir.
Misalnya untuk olahan yang butuh dua kali proses masak, digoreng baru kemudian diolah lagi seperti ayam cabai hijau bumbu padang, atau balado terong, Maka saya lebih memilih mengukus ayam/terong dibandingkan menggorengnya terlebih dahulu.
Maka saat mendapatkan resep olahan masakan yang tidak digoreng, itu menjadi satu kebahagiaan bagi saya. Salah satunya adalah resep ini.
Bahan:
½ kg ayam (bagian sayap atau paha atas)
2 cm jahe, iris tipis
1½ sendok teh kecap ikan
¼ sendok teh garam
3 tangkai daun ketumbar (karena tidak selalu bisa mendapatkannya, saya ganti dengan daun seledri. Insya Allah kandungannya juga bagus).
Cara membuat:
Lumuri ayam dengan kecap ikan dan garam. Diamkan 15 menit.
Tata sebagian jahe di dasar pinggan tahan panas.
Tata ayam di atasnya.
Taburkan sisa jahe di atas ayam. Taruh daun ketumbar/daun seledri.
Kukus 45 menit di dalam pengukus yang sudah dipanaskan di atas api sedang sampai matang.
Selesai…mudah dan praktis insya Allah.
Saat awal dikukus, tidak perlu khawatir bila terlihat kering tak berkuah. Hasil akhirnya akan berkuah insya Allah.
Dimodifikasi dari resep di buku Sedap Khusus Pemula edisi 61/XII/2011.
* Foto di atas diambil saat baru setengah matang :).