Agar Buahnya Tak Rusak

Hama dan penyakit sering menyerang  jahe merah, kudu alias wajib kita ketahui pada saat kita memutuskan mencoba budidaya tanaman ini.  Serangan hama dan penyakit sedapat mungkin kita cegah, karena ini adalah cara yang terbaik.  Namun apabila serangan terhadap tanaman sudah terlanjur terjadi, setidaknya ada usaha dan cara untuk menanggulanginya.


Ini adalah kutipan yang saya dapat dari sebuah website tentang tanam-menanam. Lihatlah ungkapan yang saya cetak tebal. Betapa seorang yang bergelut di bidang tanam menanan sangat memperhatikan tanamannya. Kata-kata itu sebenarnya segaris dengan hal yang perlu kita lakukan saat kita sedang membimbing buah hati.

Bagaimana maksudnya?

***

Mendidik anak adalah perjuangan. Apalagi jika menginginkan anak itu menjadi anak yang salih. Anak yang bisa menjaga ketakwaan dirinya. Bahkan setelah kita tak ada lagi di dunia ini. Menjadi bekal bagi kedua orang tua.

Belum lagi jika kita sebagai orang tua ingin menghantarkan anak kita ke tingkatan tertinggi di dalam surga. Rasanya memang tak mungkin jika badan ini kemudian mendapatkan itu dengan bersantai-santai. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang dijadikan dunia dan isinya indah namun terhempas dalam nestapa di akhirat nanti?

Tingkatan tinggi yang saya maksud tadi adalah apa yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, bahwa seorang penghafal Qur’an, akan menaiki tangga sesuai bacaan (hafalan) yang dimilikinya*. Semakin banyak hafalannya tentu semakin tinggi tingkatannya. Bahkan bagi yang telah sempurna menghafalkannya, dapat memberikan mahkota kepada kedua orangtuanya.

Antara Asa dan Realita

Harapan tinggi itu, harus dihadapkan dengan segala apa yang ada pada seorang anak. Rasa malas, rasa ingin bermain terus, rasa ingin bersenang-senang. Jika membiarkannya, tentu saja mudah. Hidup mungkin jadi lebih santai.

Saat saya sedang terpuruk dengan rasa ketidakberdayaan, saya terus berpikir, bagaimana dan bagaimana. Namun saya tidak ingin kehilangan asa itu. Saya tidak ingin kalah. Apakah saya sudah cukup berdoa? Apakah saya sudah berusaha semaksimal mungkin? Apakah saya sudah bertawakal dengan baik kepada Allah?

Tiba-tiba saja, entah kenapa saya teringat kepada pak petani.

Lalu saya tersadar bahwa saya masih jauh dari pak petani. Saya salah ketika mengharapkan “tanaman” itu tumbuh dalam semalam. Saya sedang dalam masa merawat dan menjaga. Agar hasil dan buahnya nanti baik dan tidak rusak.

Belajar dari Pak Tani

Pak petani, tentu berusaha dengan sepenuh hati. Agar tanamannya tumbuh dengan baik. Diberi pupuk, dijauhkan dari hama. Di sisi lain, tak ada yang dapat tahu apa yang terjadi besok dengan tanaman yang ia tanam. Maka ia bertawakal kepada Allah sepenuhnya. Bukankah Allah sudah berjanji, siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan cukupkan baginya?

Perenungan itu menghibur dan menyadarkan saya. Bahkan saya sampaikan dari hati ke hati kepada anak saya yang telah berusia 8 tahun itu.

Kita ingin menjadi salih, maka harus berusaha. Dirawat, di siram, diberi pupuk, dijaga dari gangguan, dijauhkan dari sesuatu yang menyakiti dan berbahaya.

Pak petani, akan menghilangkan rumput-rumput di sekitar tanamannya. Ia kecil-kecil, tapi biasanya banyak. Ini membahayakan. Menyerap sari-sari yang seharusnya bisa diserap oleh tanaman utama. Bisa merusak hasilnya sebagiannya atau bahkan seluruhnya.

Ia akan menjaga tanamannya dari hama. Diusirnya jauh-jauh.

Maka jika diterapkan kepada anak kita, semua usaha tersebut bisa kita terjemahkan seperti ini.  Gangguan tentu akan selalu ada, bahkan banyak (rumput-rumput kecil). Maka kita harus sabar menguranginya, satu persatu, agar hasilnya nanti tak sampai rusak. Bahkan jika ada gangguan besar yang membahayakan dan berpengaruh besar, semisal kawan yang buruk, lingkungan yang buruk, maka kita harus segera menjauhkan anak kita dari hal tersebut. Ini demi kebaikan mereka sendiri di masa mendatang.

Maka mari Bunda salihah, kita bersabar, berdoa dan terus menjaga buah hati kita. Jangan menyerah dan jangan putus asa. Yang kita inginkan adalah anak salih. Buah yang baik. Semoga Allah selalu menjaga anak-anak kita dan kita dimudahkan untuk menjaga anak kita. Aamiin ya robbal ‘alamiin.

Oleh: cizkah ummu ziyad
Artikel: ummiummi.com

 

 

Thoriq Ibrohim (3th) Sebulan Lulus Iqro 1

Alhamdulillah…bulan Juli kemarin…Thoriq aku coba mulai tawarkan belajar Iqro. Sebelum-sebelumnya, aku lihat video dia yang lama dimana dia udah hafal banyak huruf. Terus mikir, kok aku gak maksimalin sih. Cuma karena dia cadel – banget – padahal. Akhirnya aku mulai lebih rajin  nyodorin flashcard hijaiyah.

Lagi proses kaya gitu, terus mulai ada berita tentang Musa (usia 6 tahun) udah hafal AL-Qur’an. Masya Allah. Salah satu cara awal Musa itu dengan ditempelkan hijaiyah. Kalau yang ini kan udah dari bayi banget Thoriq juga ngerasain. Cuma ya gitu. Aku merasa aku kurang maksimalin. Atau karena terlalu banyak was-was dari setan yang bikin pikiran “Jangan di forsir”, “Belum waktunya”, “Gak usah terlalu bergegas”.  Barokallahu fihim untuk keluarga Musa yang telah menginspirasi banyak orang. Aku sampai diskusi panjang lebar di sebuah grup tentang ini. Apakah kita termasuk akan terlalu bergegas kalau melakukan seperti apa yang Abu Musa dan Musa lakukan? Apakah kita akan mewujudkan superkids versi Islam?

Baca selengkapnya Thoriq Ibrohim (3th) Sebulan Lulus Iqro 1

Kabar Homeschooling Ziyad

Lama tak jumpa.^^
Bagaimana kehidupan kalian. Kehidupanku sama seperti kemarin. Hanya semakin crowded :D. Homeschooling, pekerjaan rumah tangga, ngurus 1 balita dan 1 bayi, kerjaan desain web, jualan dll dll dll.

Homeschooling? Jadinya masih homeschooling (HS)?
Alhamdulillah, sampai saat ini jawabannya “Yap. Semoga Allah mudahkan kami dalam perjalannya.”

Kenapa tetap homeschooling?
Baca selengkapnya Kabar Homeschooling Ziyad

Produk Baru: Poster Alphabet Huruf Kecil

Jual Poster Alphabet Huruf Kecil

Jual Poster Alphabet Huruf Kecil
Penampakan setelah dicetak…
Suka sendiri sama hasilnya alhamdulillah ^^

Alhamdulillah, hadir lagi produk baru yang in sya Allah lebih sesuai dengan perkembangan anak. Sebenarnya bikin ini udah lama loh. Tapi masih kurang puas dengan font yang ada waktu itu. Alhamdulillah yang ini in sya Allah mudah ditangkap anak, dan juga mudah diikuti pula alurnya. Ini juga baca-baca karena anak lebih baik diperkenalkan satu jenis huruf dulu (yaitu huruf kecil/smallcase). Supaya gak bingung.

Baca selengkapnya Produk Baru: Poster Alphabet Huruf Kecil

“Double U…”

Ceritanya, aku gak terlalu ngoyo dan gak pingin ngoyo ngajarin Thoriq berkaitan dengan baca-bacaan. Kegiatan belajar flashcard juga akhirnya gak tiap hari heheh… (semoodnya aja pokoknya).

Pengalaman belajar dari mengajar Ziyad, hasil baca-baca sana sini…kalau memang belum waktunya kayanya memang sebaiknya gak usah dipaksakan.

Nah. buat Thoriq…proses belajar ini seringkali terjadi secara alami.

Dia kan suka juga nonton Youtube. Yang dibuka kadang iklan-iklan mainan. Ini menurut aku masih mending dibanding film-film kartun yang penuh kekerasan kaya Tom & Jerry (ini termasuk dalam list film yang Ziyad udah tahu gak boleh ditonton heheh). Sering juga buka channel yang berkaitan sama bayi/anak-anak gitu. Tentang warna, kendaraan-kendaraan yang nanti ada suara-suaranya, plus juga tentang alphabet.

Baca selengkapnya “Double U…”

Curiousity

Masih ingat cerita tentang proses belajar jam?

Beberapa hari yang lalu Ziyad bertanya, “Mi…ko itu pindahnya gak ketahuan. Kapan pindahnya jamnya?”

“Maksudnya?”aku masih belum paham arah pertanyaannya.

“Itu..pindah jamnya kapan..gak kelihatan. Gimana caranya”

“Oohh…” Mulai ngeh. Maksudnya, kapan gerakan jam (jarum pendek) dari arah jam 2 ke jam 3, atau yang semisal itu.

Beberapa kali kami memang berusaha membetulkan jam dinding yang tiba-tiba mati. Ganti baterai, kemudian mencocokan dengan jam yang masih hidup. Terjadi beberapa kali kemudian kami sadar kalau jamnya yang bermasalah.

Sempat juga dua kali mengganti baterai jam dinding di kamar Ziyad dan Thoriq.

Biasanya aku memutar jam sampai mendapatkan posisi yang tepat.

Ah..entah dari mana keingintahuan itu. Yang jelas, Ziyad tahunya kalau pindah jam biasanya mesti diputar-putar. Jadinya sebuah misteri sebuah jam bisa bergerak dan berubah dari angka 2 ke 3.

Kesempatan bagus!

Baca selengkapnya Curiousity

“Banyak Temannya…”

Percakapan dengan Ziyad beberapa hari yang lalu. Pas abang lagi sibuk workshop, 5 hari udah kaya ditinggal pergi ke luar kota. Ngurusin 2 bujang padahal perut udah membuncit yang bikin berat banget rasanya kalo mesti bongan-bangun :D.

Percakapan terjadi di kamar, ZIyad sambil asyik gambar.

Aku (A): “Ziyad…Ziyad pingin masuk sekolah po?”

Ziyad (Z): “Iya”

A: “Kenapa emangnya pingin masuk sekolah?”

Z: “Yah…soalnya banyak temennya.”  (Nada khas Ziyad kalo ngomong, masih sering seperti terbata-bata)

A: “Kalo nanti Ziyad masuk sekolah…Ziyad mesti hati-hati ya. Gak semua orang baik. Gak semua yang ada mesti ditiru. Kalau misalnya yang baik gpp Ziyad ikutin. Ziyad kan udah lama belajar sama ummi.”

Masih ngelanjutin wejangan…

A: “Kaya misalnya yang diomongin S (salah satu teman main Ziyad di rumah). Pacaran. Ziyad tahu gak apa itu pacaran?”

Baca selengkapnya “Banyak Temannya…”

Ziyad 6 tahun 3 bulan/6 tahun 5 bulan – Mulai Mandiri In sya Alllah

Gak yakin bener ngitung umur Ziyad kalo secara hijriah :D.

Hafalan

Alhamdulillah Ziyad masih ngulang juz 30nya aja sama surat al-mursalat. Belum nambah-nambah dari kemarin. Masih suka lupa dan ketuker-tuker ayat-ayat yang dia hafal.

Sholat

cd sholat
Hadiah dari Eka Rohmah Ummu Ahmad di Karawang

Karena sudah umur 6 tahun, Ziyad pelan-pelan kadang aku minta sholat di masjid. Aku juga minta abang untuk mulai sering mengajak Ziyad ke masjid. Sama-sama sambil membiasakan. Sebelum itu menjadi sesuatu yang harus diperintahkan. Kadang (gak setiap hari) aku minta dia sholat 1 rokaat aja untuk memperlancar bacaan-bacaan sholatnya. Aku juga membenarkan gerakan-gerakan sholat yang masih salah. Walau sudah belajar wudhu di rumah, biasanya kalau wudhu di masjid seluruh bajunya basah kuyup. Jadi aku minta abang juga mengajarkan mengambil wudhu ketika di masjid.

Saat kondisinya aku sedang berada di masjid juga (mampir saat/dari perjalanan), kesempatan bagiku melihat hal-hal yang masih perlu diberitahu (kalo abang kan belum tentu bisa lihat karena sholat). Misalnya harus mengisi shaf yang kosong.

Sebenarnya ini juga sudah belajar dari buku belajar sholat yang terbitan Perisai Quran. Tapi yang namanya praktek kan memang lebih bagus ya. Kadang yang udah dibaca belum tentu ingat pas prakteknya hehe. Alhamdulillah kemarin juga dapat hadiah dari Eka. CD sifat sholat nabi untuk anak-anak. Masya Allah. Barokallahu fiha..bermanfaat banget soalnya. Ziyad suka banget nontonnya.

Baca selengkapnya Ziyad 6 tahun 3 bulan/6 tahun 5 bulan – Mulai Mandiri In sya Alllah

Tahukah Anda Tentang Sandpaper Letter atau Soundbook?

Yep…ini adalah salah satu metode yang digunakan dalam pendidikan Montessori untuk anak mengenal huruf.

Sandpaper Letter

Untuk sandpaper letter, intinya, pada bagian huruf itu dibuat dibahan kertas sandpaper (ini kurang tahu kalo di indonesia ada gak. Intinya kertasnya memiliki tekstur ya kertas amplas). Biasanya huruf-huruf yang bertekstur itu berada di tengah kotak yang kokoh. Bisa digunakan anak yang right-handed atau kidal. Hurufnya pun dibuat sederhana, bukan tipikal hururf serif semacam times new roman yang punya kaki-kaki.

Sandpaper letter ini dikenalkan setelah anak mengenal suara dari setiap huruf tersebut (jadi gak diberikan bareng).

Sambil anak menyuarakan huruf tersebut, si anak meraba huruf tersebut sesuai arah menulis huruf tersebut. Ini video gimana seharusnya guru mengajarkan dengan metode ini.

Baca selengkapnya Tahukah Anda Tentang Sandpaper Letter atau Soundbook?

Perbaikan Mindset saat Homeschooling

Waktu pertama masuk daycare tahun 2009, Ziyad mesti membayar uang sumbangan awal hampir sekitar 2 juta. SPP perbulan selalu > 350 ribu. Per semester ada daftar ulang Rp 175.000. Kemudian juga ada wisata edukatif yang ikut gak ikut mesti bayar ,biaya sekitar Rp 75.000. Pas masuk TK gak jauh beda. Uang sumbangan awal sekitar 1 juta (ini yang versi menengah. TK lain bisa sampai 2-5 juta masuknya :D). SPP perbulan sekitar Rp 235.000. Persemester ada daftar ulang dan untuk biaya wisata sekitar Rp 175.000 *lupa tepatnya.

Hmm…lumayan ya, untuk ukuran aku ini juga mesti perjuangan. Lucunya, kalau udah berurusan sama sekolah gini kan, mo ada gak ada, uangnya ya mesti diada-adain. Salah satu upaya untuk memperingan biaya-biaya tersebut adalah NYICIL.

Senyicil-nyicilnya, setiap bulan tetap harus menguras uang sekitar Rp 500 ribu untuk bayar SPP dan cicilan. Terus lagi, waktu cicilan udah selesai, masih ada tanggungan lagi bayar daftar ulang. Jadinya gak selesai-selesai mengeluarkan uang sekitar Rp 300.00 – Rp 500.000 setiap bulan.

Ini di Jogja ya. Kalau yang di Jakarta, aku gak tau deh. Kemarin sempat lihat blog orang gak sengaja. SPP anak SD kisarannya > Rp. 500 ribu. Uang masuknya antara 11 juta – 18 juta. Wiiiiiyy….

Sekarang coba jawab pertanyaan di bawah ini secara jujur.

Kalau anak kita minta dibeliin Quran yang ukuran besar seharga Rp 250 ribu, mikir gak?

  • Bakal diusahain ga?
  • Berapa jatah beli buku sebulan di rumah untuk anak-anak?
  • Mau gak ngeluarin setiap bulan sekitar Rp 150 ribu – 200ribu untuk beli buku untuk anak-anak?
  • Ada jatah untuk beli mainan edukatif atau non edukatif gak?

TIAP BULAN loh hehe. Seperti laiknya kalau kita ngusahain bayar SPP+cicilan sekolah.

Angka-angka yang aku sebut sebenarnya cuma buat pelecut aku pribadi dan sebagai pembanding dengan biaya yang kami keluarkan pas Ziyad dulu sekolah. Bukan berarti teman-teman harus mengeluarkan dana segitu atau lebih banyak lagi untuk membuktikan kecintaan pada pendidikan anak yah.

Baca selengkapnya Perbaikan Mindset saat Homeschooling

Gaya Belajar Montessori

Montessori adalah salah satu tokoh pendidikan. Itu jawaban simpel buat temen-temen yang mungkin belum tahu.

Waktu zaman kuliah dulu, kedapetan tugas bikin presentasi tentang beliau. Dan ketika membaca informasi yang ada, aku merasa cocok dengan cara yang digunakan. Bahkan dengan bekal pengetahuan tentang gaya pendidikan Montessori, waktu itu jadi sedikit berpengaruh pada  tulisanku tentang mendidik tanggung jawab pada anak :).

Yang paling aku ingat tentang sistem pendidikan Montessori adalah bagaimana menyediakan “lingkungan” yang sesuai dengan fisik dan perkembangan si anak.  Misalnya, naro gambar ya yang sejajar dengan jarak pandang matanya.

Jadi kalo menempelkan poster untuk anak jangan tinggi-tinggi yah :).

Coba dibayangkan- misalnya – kita melihat suatu pameran suatu karya dan karya tersebut diletakkan tinggi jauh di atas kepala kita. Ga bakal asyik lagi kan?

Atau misalnya menyiapkan gantungan baju sesuai jangkauan anak. Jadi jangan mengharapkan anak disiplin meletakkan barang-barang sesuai tempatnya, kalau tempatnya itu gak disediakan (kalau tinggi kan gak bisa ya). Dan hal-hal lain di sekitar rumah yang kita kadang mesti jeli dan berpikir dengan cara pikir mereka.

Dari artikel yang pernah aku baca pas zaman kuliah juga dikasih beberapa contoh kejadian. Misalnya saat anak memegang trotoar. Mungkin orang tua akan bereaksi, “Awas! Kotor. Aduh itu kotor” dll. Padahal dari situ dia bisa belajar tentang permukaan yang kasar, permukaan yang halus dsb. Atau ketika misalnya si anak pingin banget bantu orang tuanya dalam kegiatan rumah tangga, semisal cuci piring, pel. Maka kita dukung saja, sesuai kemampuan mereka. Kegiatan belajar juga lebih untuk ke praktek kehidupan sehari-hari.

The main premises of Montessori education are:

  • Children are to be respected as different from adults and as individuals who differ from each other.
  • Children possess an unusual sensitivity and intellectual ability to absorb and learn from their environment that are unlike those of the adult both in quality and capacity.
  • The most important years of childrens growth are the first six years of life when unconscious learning is gradually brought to the conscious level.

Ini beberapa contoh cara belajar Montessori (niatnya mo posting video-video Montessori…tapi…apa daya..masih di akhir2 trimester 1 :P) . I have lots video about this. Kalo ada yang mo copy, monggo. Lebih enak lagi kalo flashdisk ukuran besar ya.  Kayanya perlu diposting per bahasan sendiri kalo memang mo didownload.

 

Catatan:

Sekarang tanggal 25 Agustus 2013. Tulisan ini aku tulis tanggal 20 Desember 2012, kemudian beberapa kali mengalami pengeditan walaupun akhirnya tetap menjadi draft.

Learning is a Journey

Pertama…kalo dalam proses belajar ada yang merasa stress…kemungkinan besar ada yang perlu diperbaiki. Mungkin metodenya yang salah, prakteknya yang kurang tepat, waktunya yang belum tepat dst.

Kedua…no no no..Jangan sampai kesan awal yang ditangkap anak saat menghafal Quran adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, tidak menyenangkan dll.

Ketiga bertahap.

Keempat…sesuaikan dengan perkembangannya.

Kelima…learning is a journeeey…it’s not a race hehe..

Prakteknya gimana nih maksudnya?

Baca selengkapnya Learning is a Journey

Bahagia Bisa Membaca

Ini adalah Lanjutan postingan 2,5 Tahun ber-Homeschooling…

Kemarin diskusi dengan seorang ibu. Tentang kemampuan baca, tulis, hitung seorang anak. Kebetulan si ibu ini baru mulai menerapkan homeschooling di rumahnya.  Timbul pertanyaan,  “Apakah baca tulis hitung ini menjadi tolak ukur keberhasilan belajar seorang anak?

Jawabannya: enggaaaa…in sya Allah.

Jangan khawatir ya ibu-ibu yang anaknya masih dalam tahap belajar membaca atau menulis. Apalagi yang masih umur di bawah 7 tahun hehe.

Aku sendiri pernah terperangkap dengan perasaan ini. Waktu itu Ziyad baru tahap-tahap awal baca latin. Rasanya pas dengar anak lain seumuran dia udah bisa baca tuh jadi gimanaaaa gitu. Terus bawaannya jadi senewen, trus berasa banget jadinya ngajar Ziyad juga jadi senewen. Ah kasihan.

Baca selengkapnya Bahagia Bisa Membaca

2,5 Tahun ber-Homeschooling

Cuma ingin menuliskan yang dari kemarin berpendar-pendar di kepala. Alhamdulillah, rasanya bahagiaaaa banget bisa menjalankan homeschooling bersama anak-anak. Udah 2,5tahunan ya proses belajar ber-homeschooling ria ini (6 bulanan waktu Ziyad nyicipin sekolah proses belajar di rumah alhamdulillah tetap berjalan terus). Dua setengah tahun itu berarti emang seumuran sama Thoriq, karena mulainya justru pas Thoriq baru lahir hehe. Alhamdulillah…

Apa yang aku baca di artikel ini juga emang berasa banget masya Allah. Terutama bagian yang ini nih,

Perkenalan dengan unschooling juga mengajariku bahwa yang terpenting di usia dini justru menumbuhkan rasa nyaman dan betah tinggal dirumah (dengan tidak keluar rumah terlalu dini) dan memberi kesempatan lebih panjang untuk saling mengenal (get connected) dengan anggota keluarga sendiri. Saya mempercayai pendapat yang bilang, setelah itu, kebutuhan ke luar rumah akan tumbuh secara alami dan dengan sendirinya, datang dari anak itu sendiri, dimana kapan kebutuhan tersebut muncul, akan bervariasi tiap anak.

Banyak banget sisi positif in sya Allah. Dan gak semuanya bisa tertuang di tulisan.

Ziyad alhamdulillah in sya Allah mulai terbiasa dengan saat-saat untuk formal education. Formal education yang paling utama bagi aku adalah hafalan. Hehe. Ini berlaku sejak awal. Aku juga bisa ngerasain tahapan dia belajar dari tadinya susah diajak duduk sampai seperti sekarang.

Dulu proses hafalan nyambi-nyambi. Sambil aku jemur baju sambil ziyad main-main, sambil aku masak, sambil ini sambil itu. Sekarang udah gak bisa lagi kaya gitu. Karena surat yang dihafal sudah panjang-panjang dan banyak yang mirip-mirip. Alhamdulillahnya, pas saat-saat seperti ini Ziyad udah bisa diajak duduk bersama (ya walau tetap keselip-selip dia lompat-lompat di kasur atau mesti diingatkan supaya gak sambil pegang mainan hehe) plus udah bisa baca Quran alhamdulilah. Dan karena hafalan surat baru ditambah muroja;ah hafalan sebelumnya. Biasanya prosesnya maksimal bisa sampai 1 jam.

Baca selengkapnya 2,5 Tahun ber-Homeschooling

Belajar Menulis Latin

Sekilas cerita lagi tentang cara Ziyad belajar menulis. Di awal-awal, gerakan tangannya masih banyak mengambang. Artinya masih harus mempersiapkan kesiapan belajar menulis itu sendiri.

Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan mencetak dari benda-benda berbentuk lingkaran. Misalnya tutup gelas. Secara gak langsung dia sudah belajar menekan dan membuat garis lengkung.

Pada Ziyad, kesiapan belajar menulis ini terbentuk secara alami alhamdulillah. Karena dia banyak menggambar. Panah, gambar orang berperang, mobil dstnya. Dia juga sudah menyelesaikan belajar menulis satu buku untuk belajar menulis dasar (semua huruf masih ada titik-titiknya).  Lupa di usia berapa. Setelah itu belajar menulisnya sifatnya insidental. Gak pingin maksa karena usianya toh memang masih segitu.

Baca selengkapnya Belajar Menulis Latin

Bullying & Unschooling

I don’t know where to start….
Perasaan berdebar dan gelisah berlangsung sejak kemarin. Menimpa kami berdua. Aku dan abang.

Beberapa hari yang lalu, aku membaca artikel tentang bullying di group Sunni Homeschooling. Artikel yang cukup panjang. Namun aku membacanya secara keseluruhan. Bukan tanpa alasan. Karena aku ibu dari Ziyad. Aku mengenal karakternya. Ziyad adalah tipe anak yang tidak suka main dengan hal-hal yang berbau kekerasan. Permainan yang sebenarnya tidak umum namun memang seringkali terjadi pada anak-anak. Kalaupun terjadi, Ziyad kemungkinan besar menjadi anak yang terkena bullying. Setelah membaca artikel itu, aku langsung mengirimkan lewat email ke abang.

Gak disangka, kalau itu memang benar-benar terjadi pada Ziyad. Sudah lama! 🙁

Baca selengkapnya Bullying & Unschooling