Ramalan Itu Apa, Mi?

Menjelang sore, Selasa, tanggal 9 Januari 2024. Kholid nanya, “Mi, ramalan itu apa, Mi?”

Ini momennya pas mereka udah pada selesai hafalan. Kembar lagi nunggu Abang siap-siap sholat ashar. Merekanya udah siap dengan jubahnya. Posisi aku masih nyetrika.

Aku jawab yang intinya,

Baca selengkapnya Ramalan Itu Apa, Mi?

Hadiah Hafalan Anak-Anak

Salah satu yang bikin semangat anak-anak dalam perjalanan menghafal adalah hadiah.

Suka ada pertanyaan, nanti ngerusak niat atau jadi hal negatif ga? Insya Allah engga. Orang dewasa aja suka ko kalau dijanjiin hadiah ketika berhasil sesuatu 😊.

Pemberian hadiahnya pun tetap dengan batasan dan aturan.

Baca selengkapnya Hadiah Hafalan Anak-Anak

Membersamai Pemuda

Waktu Ziyad masih di Ibnu Mas’ud, beberapa kali ada yang menawarkan supaya Ziyad sekalian aja pulang bareng sama keluarga mereka yang naik mobil karena searah dengan rumah kami.

Jawabannya sama yaitu berterimakasih atas tawarannya dan ga menerima tawaran tersebut karena Abang tetap ingin menjemput sendiri.

Baca selengkapnya Membersamai Pemuda

Ngerasain Pelit

Alhamdulillah tahun ini, TPA Ramadhan ada lagi di masjid kampung ini.

Kali ini, Luma udah ikutan secara mandiri ❤️. Alhamdulillah.

Setiap pulang, anak-anak TPA bawa kotak makan takjil.

Luma selalu makan bertiga sama adik kembar, Masya Allah tabarokallah.



Kemarin, ujian untuk berbagi — yang sebenarnya lebih mudah — terjadi ke semua anak kecuali Ziyad karena dia masih di masjid.

Baca selengkapnya Ngerasain Pelit

Wadi, Madzi dan Mani

Lagi dijelasin tentang wadi dan madzi. Ga kerekam dari awal tapi :). Ini juga aku ngerekamnya berusaha gak ganggu dan mutus Abang yang lagi nerangin.

Penjelasan penting untuk anggota keluarga karena berkaitan dengan najis.⁣
Najis yang kemungkinan menempel di pakaian dan ga disadari.⁣⁣
Kalau najis di kaki atau tangan, biasanya masih kelihatan dan disadari untuk dibersihkan. ⁣


Tapi kalau wadi dan madzi bisa jadi ga disadari kalau belum punya pengetahuan tentang ini. ⁣⁣
Kita muroja’ah sedikit pengetahuan tentang ini ya :).⁣⁣
⁣⁣

WADI⁣⁣

adalah cairan putih keruh yang muncul tanpa syahwat. Biasa keluar sebelum atau setelah kencing, pup, mengangkat beban berat atau kelelahan.⁣⁣


Wadi itu najis dan wajib dibersihkan. Amannya kalau perempuan misal ga sadar, ganti aja celana dalam misal dalam kondisi lelah (safar dll).⁣⁣


MADZI⁣⁣

adalah cairan bening, lengket, mirip air liur yang tanpa buih. Madzi keluar karena syahwat. ⁣⁣

Madzi itu najis dan wajib dibersihkan. ⁣⁣

>>⁣

Konteks membersihkan najis wadi dan madzi ini terutama ketika akan melakukan ibadah seperti sholat atau membaca Al-Quran ya. ⁣⁣

Karena wudhu tapi kalau masih ada najis yang melekat ini maka tetap perlu dihilangkan najisnya. ⁣⁣

MANI⁣⁣

Kalau ini cairan berwarna putih kental. Keluar karena syahwat. Biasanya disertai rasa lemas setelah keluar.⁣⁣
⁣⁣
Mani tidak najis.⁣⁣
⁣⁣
TAPI…⁣⁣
Untuk pasangan suami istri, biasanya mani akan keluar setelah berhubungan⁣.⁣
Dan saat berhubungan, pasti diawali adanya madzi.⁣⁣
⁣⁣
Jadi, amannya, seluruh area dan pakaian ⁣
saat itu dibersihkan agar bersih dari najis madzi ☺️.⁣⁣
⁣⁣
Semoga bermanfaat.⁣⁣
@cizkah⁣⁣
⁣⁣
#wadi #madzi #mani #najis #islam #sunnah #catatancizkah⁣⁣ #limaanakhomeschooling #parentingislam
⁣⁣
⁣⁣
⁣⁣- Versi Instagram

Tips Meperdengarkan Murottal untuk Hafalan Anak dengan Cara Lebih Mudah Insya Allah

Masih ingat tulisan memperdengarkan audio yang pernah aku tulis? Kalau belum, bisa dibaca di tulisan yang judulnya Tips Mendengarkan Memperdengarkan Audio Al-Qur’an Agar Anak mudah Menghafal Al-Qur’an

Ada beberapa hal yang berubah seiring waktu dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari. Ini karena terkait banyak hal. Alhamdulillah praktek dengan speaker ini berjalan cukup lama, sampai kembar hampir usia 3 tahunan.

Baca selengkapnya Tips Meperdengarkan Murottal untuk Hafalan Anak dengan Cara Lebih Mudah Insya Allah

Sensitif dengan Kata “Untung”

Alhamdulillah, dari kegiatan edit sensor buku, anak-anak itu menangkap banyak hal lainnya. Hal yang itu jadi praktek di kehidupan sehari-hari.

Edit sensor buku itu kan mengedit gambar, aurot, dan kata-kata yang kurang tepat. Ternyata kalau mereka mendapati hal yang diedit itu di luar perbukuan, mereka langsung cepat menangkap.

Baca selengkapnya Sensitif dengan Kata “Untung”

Anak Gadis Usia 7 Tahun

Secara Masehi, Luma lahir bulan Februari tahun 2014. Tapi karena memang ada selisih hari di tahun Masehi dengan Hijriah, aku udah mulai waspada dan memperkirakan bahwa Luma sudah mendekati masa usia 7 tahun secara Hijriah. Selisih hari ini, kalau di”rapel” bakal jadi selisih bulan yang lumayan banyak.

Bukan waspada dalam arti negatif hehe. Cuma bagian dari usaha memulai sesuatu yang diperintahkan dalam agama Islam supaya gak sampai kelewat banget. Yaitu perintah dari syariat untuk memerintahkan anak sholat di usia 7 tahun.

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ ، وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika telah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia.” (Shahih: HR. Abu Dawud)

Baca selengkapnya Anak Gadis Usia 7 Tahun

Nangis Waktu Setoran Hafalan?⁣



⁣Itu biasa.⁣
Apalagi pas masih kecil.⁣
Apalagi kalau setorannya sama Abang ☺️.⁣

Jangan khawatir insyaAllah. Karena Al-Qur’an itu penuh berkah. Jadi seharusnya Insya Allah bukan hal yang bikin stress. ⁣

–⁣

Kemarin-kemarin, porsi terbesar untuk nyimak setoran hafalan di aku.⁣

Sampai beberapa waktu yang lalu, mereka masih merasa keberatan kalau diminta setoran sama Abang. ⁣

Soalnya lebih ketat untuk sampai ke titik selesai setoran. Kalau salah bakal diulang-ulangnya sampai entahlah kapan selesainya 😁.⁣

Kalau setoran hafalan sama aku, sebenarnya kadang ya gitu, dan ya ada juga sih acara nangis-nangis. ⁣

Tapi kesiapan mentalnya tetap beda ya ☺️.⁣

Masing-masing butuh adaptasi. Begitupun dengan Abang. ⁣



Sampai akhirnya mereka alhamdulillah mulai terbiasa setoran ke Abang. Abang juga akhirnya pakai cara minta mereka mempersiapkan maksimal hafalannya untuk disetorin. ⁣

Alhamdulillah akhirnya sampai di titik mereka udah biasa dan emang bukan hal “eksklusif” lagi untuk setoran ke Abang.⁣

Yang terjadi sekarang malahan alhamdulillah mereka sudah bisa diminta nyimak hafalan Abang.⁣

Semuanya berproses. Ga langsung smooth jadi gitu aja.⁣

Jadi, keep moving forward.⁣
Sabar, Istiqomah..jangan lemah.⁣

–⁣

Bulan puasa ini, Ziyad mulai baligh alhamdulillah. ⁣
Disusul suaranya yang mulai berubah. ⁣
Alhamdulillah semua prosesnya bisa terjadi ketika di dekat aku dan Abang. Harapan Abang memang begitu.⁣

#limaanakhomeschooling #limaanakdirumah ⁣
#alquran #islam #sunnah #parentingislam #homeschooling #homeschoolingislam ⁣

Jalankan Amanah = Bersyukur

Masih nyambung dengan bahasan jalankan prioritas sama saja dengan menjalankan amanah.

Walau kemarin bahasannya lebih banyak ke ibu-ibu, tapi sebenarnya usaha menjalankan prioritas yang berarti menjalankan amanah ini berlaku untuk semua orang.

Termasuk anak-anak.

Biasanya, saat keluar bersama di waktu weekend, aku kebagian memboncengi Ziyad dan Handzolah.

Obrolan biasa terjadi saat kami berada di perjalanan.

Salah satunya ya pesan tentang menjalankan prioritas ini.

Pesan Ummi:

Ziyad, Ziyad itu sudah dapat nikmat banyak. Bisa sekolah di situ. Alhamdulillah dapat guru yang insya Allah baik. Teman-teman yang baik. Bisa pulang Sabtu Ahad. Alhamdulillah Allah mudahkan Abi dan Ummi untuk bisa bayar biaya di pondok.

Semua fasilitas sudah ada buat Ziyad.

Tugas Ziyad cuma menghafal AL-Qur’an

Tolong jalanin tugas itu sebaik-baiknya.

Prioritas Ziyad ya menghafal Al-Qur’an.

Ziyad gak perlu cari-cari kesibukan-kesibukan lainnya.

Coba bayangin, ada orang sudah dapat fasilitas macam-macam, kemudian ketika dia diminta untuk menjalankan kewajibannya dengan fasilitas itu, dia merasa berat dan malah mencari kesibukan lainnya.

Itu gimana?

Aneh gak?

Itu hubungan antar manusia. Makanya jangan heran kalau Allah sudah kasih nikmat, tapi ga bersyukur. Kemungkinan nikmat itu akan Allah cabut. Na’udzu billah min dzalik.

Jadi menjalankan prioritas itu sebenarnya ya berarti bagian dari wujud rasa syukur.

Ziyad udah melihat sendiri bahkan yang sudah ada di pondok, ternyata Allah bisa cabut nikmat tersebut. Ternyata dia gak ada di pondok itu lagi. Gak bisa dapat guru lagi. Gak bisa bertemu dengan teman-teman yang insya Allah baik.

Jadi jangan merasa aman.

Kalau Ziyad mau cari kesibukan lain, itu nanti. Setelah Ziyad menjalankan prioritas dengan baik.

Tentu saja percakapan aslinya terjadi dua arah. Dia paham dengan apa yang aku maksud.

Jadi, yuk bersyukur dengan menjalankan apa yang menjadi tugas utama kita saat ini sebaik-baiknya.

Semoga Allah mudahkan semua urusan kita. Aamiin.

cizkah
Yogyakarta, 17 November 2019

Video Hijaiyah Harokat Fathah, Kasroh, Dhommah

Saat memperkenalkan anak dengan huruf-huruf hijaiyah, rasanya semua bisa berjalan menyenangkan. Anakpun – biasanya – menjalaninnya tanpa menyadari bahwa mereka sedang belajar.

Namun, ketika diarahkan mulai belajar secara formal dan mengarah kepada harokat, kemudian huruf bersambung dan seterusnya, akhirnya beberapa kendala pun mulai muncul.

Memang tidak semua anak. Luma, anak ketiga saya, dengan senang hati – bahkan meminta – untuk dibacakan flashcard berharokat. Dari harokat fathah sampai dhommah. Per huruf.

Sedangkan pengalaman belajar dengan Thoriq – anak kedua saya, ketika bertemu harokat kasroh dan dhommah cukup lama membiasakannya. Mulut dan lidahnya terkesan kagok. Saat memperkenalkan hijaiyah berharokat,  saya memang fokus saja dengan harokat fathah sampai akhirnya dia mulai belajar hijaiyah tahap lanjutan.

Dari berbagai latar belakang itulah, akhirnya saya mencoba membuat video huruf hijaiyah berharokat. Semoga bisa dilanjutkan ke tahapan belajar selanjutnya, yaitu mengenal huruf bersambung, mempelajari mad, tanwin, sukun dan materi lainnya dalam rangka anak menuju bisa baca Al-Qur’an.

Baca selengkapnya Video Hijaiyah Harokat Fathah, Kasroh, Dhommah

Kegiatan Ziyad Bulan Ramadhan; Libur Belajar Sekolah…Terus Ngapain?

Ziyad (9th) sudah mulai puasa penuh sejak umur 7 tahun alhamdulillah. Berarti ini puasa tahun ke-3 untuk dia. Momen dia belajar full puasa itu kan juga di tahun yang sama pas dia mulai homeschooling tingkat SD. Nah…berdasarkan pengalaman selama 2 tahun kemarin, proses belajar formal di rumah itu berkurang drastis kalo:

  1. Pas ada nenek kakek/oma opanya datang atau
  2. Pas bulan puasa, karena ketika puasa, waktunya jadi berasa sempiiit banget.

Kalau kedua sebab itu barengan ada, berarti lebih-lebih lagi kan hehe.  Karena 2 tahun kemarin ada mertua di sini pas lagi bulan puasa.

Ramadhan Kali ini

Nah, karena Ramadhan kali ini gak ada mertua, aku pikir bisa tetap belajar sedikit-sedikit. Jadi, pas hari-hari awal, masih sempat belajar sedikiiit. Kayanya cuma aku kasih soal-soal atau ngerjain tugas.

Baca selengkapnya Kegiatan Ziyad Bulan Ramadhan; Libur Belajar Sekolah…Terus Ngapain?

Tips Melatih Gadis Kecil Kita Berjilbab

Dulu, saat masih gadis, melihat seorang ummahat membawa anaknya yang masih bayi dijilbabi rasanya aneh.

“Kan kasihan.”
“Kan gerah.”
“Kan sumuk.”

Tapi ternyata seiring waktu, akhirnya saya mulai mengerti. Penjagaan sejak dini dari orangtua sangat dibutuhkan. Memakai jilbab, adalah sebuah ujian keimanan bagi seorang wanita. Apalagi di masa kita. Masa dimana setiap jengkal langkah dan pandangan mata adalah  godaan keindahan dunia. Wanita yang pada dasarnya hatinya lemah, tanpa pijakan yang kokoh, akan mudah terombang-ambing.

Ketika akhirnya saya memiliki anak perempuan, alhamdulillah Allah lapangkan hati saya untuk mendidik sejak dini anak untuk berjilbab.  Sejak ia lahir, rasa yang diberikan ketika merawatnya memang berbeda. Akhirnya, ketika saya mencoba memasangkan jilbab kecil kepadanya, ternyata tidak “semenakutkan” yang saya sangka selama ini.

Baca selengkapnya Tips Melatih Gadis Kecil Kita Berjilbab

Ketika Sang Ayah Geram dan Anak Bersikap Acuh

Perilaku orang tua dalam mendidik mencerminkan suatu porsi besar masalah pendidikan anak. Orang tua yang sukses dalam mendidik anak adalah para orang tua yang memperoleh pengalaman mendidik dari anak-anak mereka. Mereka memperolehnya dari anak-anak mereka melalui perkembangan reaksi-reaksi mereka yang mengingatkan agar menahan marah ketika menghadapi perilaku-perlaku buruk anak mereka dan memberinya petunjuk agar berlaku lemah lembut.

Ambillah contoh situasi berikut ini

  • Anak-anak bermain dengan gaduhnya.
  • Ayah mereka menyuruh mereka bermain dengan tenang.
  • Mereka mengacuhkan kata-katanya.
  • Sang Ayah membentak, “Bermainlah dengan tenang atau kalian harus masuk kamar!”
  • Anak-anak menampakkan kepatuhan, “Ya Ayah, kami akan main dengan tenang”, akan tetapi mereka masih saja bermain seperti itu.
  • Sang ayah naik pitam, “Jika kalian tidak tenang juga, ayah hajar kalian!”
  • Anak-anak diam seribu bahasa.

Tetapi, apa yang mereka pelajari? Mereka belajar bahwa ayah mereka sungguh-sungguh hanya ketika mengancam akan memukul.

Dan apa yang dipelajari sang ayah? Ia belajar bahwa anak-anaknya tidak menyimak nasihat; mereka hanya mengerti bahasa “hajar”.

Kedua belah pihak, sang ayah dan anak-anaknya, mempelajari hal yang keliru.

Ambillah contoh lain berikut ini;
Setiap kali Khalid (bocah 5 tahun) pergi bersama ayahnya ke warung sayur, ia meminta sekantong permen. Suatu kali, sang ayah menolak memberinya. Mulailah Khalid mendesak. Sang ayah tetap menolak.

“Tidak, Khalid, ayah tidak akan membelikanmu permen apapun.”

Tak ayal, si bocah mengamuk dan menendang-nendang lantai; mukanya memerah dan tangisnya pecah. Ayahnya mengancam akan memukulnya jika ia tidak berhenti mengamuk dan menangis. Tetapi, Khalid malah menangis semakin keras dan mengejang semakin kencang.

Setiap orang yang ada di tempat itu pun memandangi Khalid dan ayahnya. Akhirnya, sang ayah menyerah dan membelikan permen yang anaknya inginkan.

Nah, apa yang Khalid pelajari dari situasi ini?
Ia benar-benar belajar bahwa ucapan “tidak” sama sekali tidak berarti. Sang ayah telah mengucapkannya lebih dari satu kali, tetapi toh ia tetap membelikan apa yang Khalid inginkan.

Ia juga belajar, apabila menghendaki sesuatu, ia harus mendesak, merengek, menangis dan menendang-nendang lantai; semua perilaku inilah yang membuat sang ayah menyerah dan memenuhi permintannya.

Dan apa yang dipelajari ayahnya?

Ia benar-benar mempelajari bahwa sarana untuk menenangkan Khalid dan cara agar tidak berada dalam posisi sulit di tengah situasi rumit adalah membelikan apa yang Khalid inginkan, apapun itu.

Demikianlah, kebanyakan orang tua berkeyakinan bahwa pasrah dan memenuhi berbagai permintaan anak merupakan satu-satunya sarana untuk memadamkan amarah dan jeritan mereka. Tidak perlu diragukan lagi, ini adalah suatu kesalahan yang memperparah keadaan. Sebab, tatkala kita mengganjar amukan dan rengekan anak dengan hadiah, berarti kita mengajari mereka untuk bertambah marah di masa depan. Akibatnya, perilaku mereka malah memburuk.

 

Sumber: Sentuhan Jiwa Untuk Anak Kita,Dr. Muhammad Muhammad Badri

Siwak For Baby ^^

Sudah baca artikel terbaru di ummiummi? Yuk, baca terus praktekin bagi yang belum mraktekin hihi. Mudah-mudahan dapat pahala. Anaknya siwakan, ibu bapaknya juga dong ya. Kita hidupin sunnah Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam. Di artikel itu dibahas lengkap dari tips penyimpanan plus juga ada tips penggunaan/cara untuk menyiwaki bayi.

Ada videonya juga. Sebenarnya, videonya mo dimozaik di bagian wajah Luma.

Tapi akhirnya ketahuan, kalo mo gimanapun, itu video susah kalo mo dibikin mozaik di bagian wajah. Akhirnya dengan “bismillah”, kita upload video itu. Jangan lupa doakan keberkahan ya, say Masya Allah wa barokallahu fiihaa.

Siwakan for baby ini udah mulai dari pas zamannya Thoriq. Tapi waktu itu belum kepikiran bikin artikel. Pas ngejalanin ini lagi di Luma, baru kepikiran. Mudah-mudahan bermanfaat. Yuk siwakan. Biar dapat ridho dari Allah. Plus sehat bangetttt insya Allah.

Ohya, kalo ada yang mikir, “Kok itu tangan kiri sih”

Anak-anakku semuanya pas bayinya refleknya kiri banget loh. Apalagi Luma.  Alhamdulillah sekarang semuanya tetep pake tangan kanan^^. Kalau Luma masih proses. Tapi alhamdulillah udah mulai terbiasa kanan. Insya Allah kapan-kapan bikin tulisan tentang itu ya.

Agar Buahnya Tak Rusak

Hama dan penyakit sering menyerang  jahe merah, kudu alias wajib kita ketahui pada saat kita memutuskan mencoba budidaya tanaman ini.  Serangan hama dan penyakit sedapat mungkin kita cegah, karena ini adalah cara yang terbaik.  Namun apabila serangan terhadap tanaman sudah terlanjur terjadi, setidaknya ada usaha dan cara untuk menanggulanginya.


Ini adalah kutipan yang saya dapat dari sebuah website tentang tanam-menanam. Lihatlah ungkapan yang saya cetak tebal. Betapa seorang yang bergelut di bidang tanam menanan sangat memperhatikan tanamannya. Kata-kata itu sebenarnya segaris dengan hal yang perlu kita lakukan saat kita sedang membimbing buah hati.

Bagaimana maksudnya?

***

Mendidik anak adalah perjuangan. Apalagi jika menginginkan anak itu menjadi anak yang salih. Anak yang bisa menjaga ketakwaan dirinya. Bahkan setelah kita tak ada lagi di dunia ini. Menjadi bekal bagi kedua orang tua.

Belum lagi jika kita sebagai orang tua ingin menghantarkan anak kita ke tingkatan tertinggi di dalam surga. Rasanya memang tak mungkin jika badan ini kemudian mendapatkan itu dengan bersantai-santai. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang dijadikan dunia dan isinya indah namun terhempas dalam nestapa di akhirat nanti?

Tingkatan tinggi yang saya maksud tadi adalah apa yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita, bahwa seorang penghafal Qur’an, akan menaiki tangga sesuai bacaan (hafalan) yang dimilikinya*. Semakin banyak hafalannya tentu semakin tinggi tingkatannya. Bahkan bagi yang telah sempurna menghafalkannya, dapat memberikan mahkota kepada kedua orangtuanya.

Antara Asa dan Realita

Harapan tinggi itu, harus dihadapkan dengan segala apa yang ada pada seorang anak. Rasa malas, rasa ingin bermain terus, rasa ingin bersenang-senang. Jika membiarkannya, tentu saja mudah. Hidup mungkin jadi lebih santai.

Saat saya sedang terpuruk dengan rasa ketidakberdayaan, saya terus berpikir, bagaimana dan bagaimana. Namun saya tidak ingin kehilangan asa itu. Saya tidak ingin kalah. Apakah saya sudah cukup berdoa? Apakah saya sudah berusaha semaksimal mungkin? Apakah saya sudah bertawakal dengan baik kepada Allah?

Tiba-tiba saja, entah kenapa saya teringat kepada pak petani.

Lalu saya tersadar bahwa saya masih jauh dari pak petani. Saya salah ketika mengharapkan “tanaman” itu tumbuh dalam semalam. Saya sedang dalam masa merawat dan menjaga. Agar hasil dan buahnya nanti baik dan tidak rusak.

Belajar dari Pak Tani

Pak petani, tentu berusaha dengan sepenuh hati. Agar tanamannya tumbuh dengan baik. Diberi pupuk, dijauhkan dari hama. Di sisi lain, tak ada yang dapat tahu apa yang terjadi besok dengan tanaman yang ia tanam. Maka ia bertawakal kepada Allah sepenuhnya. Bukankah Allah sudah berjanji, siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan cukupkan baginya?

Perenungan itu menghibur dan menyadarkan saya. Bahkan saya sampaikan dari hati ke hati kepada anak saya yang telah berusia 8 tahun itu.

Kita ingin menjadi salih, maka harus berusaha. Dirawat, di siram, diberi pupuk, dijaga dari gangguan, dijauhkan dari sesuatu yang menyakiti dan berbahaya.

Pak petani, akan menghilangkan rumput-rumput di sekitar tanamannya. Ia kecil-kecil, tapi biasanya banyak. Ini membahayakan. Menyerap sari-sari yang seharusnya bisa diserap oleh tanaman utama. Bisa merusak hasilnya sebagiannya atau bahkan seluruhnya.

Ia akan menjaga tanamannya dari hama. Diusirnya jauh-jauh.

Maka jika diterapkan kepada anak kita, semua usaha tersebut bisa kita terjemahkan seperti ini.  Gangguan tentu akan selalu ada, bahkan banyak (rumput-rumput kecil). Maka kita harus sabar menguranginya, satu persatu, agar hasilnya nanti tak sampai rusak. Bahkan jika ada gangguan besar yang membahayakan dan berpengaruh besar, semisal kawan yang buruk, lingkungan yang buruk, maka kita harus segera menjauhkan anak kita dari hal tersebut. Ini demi kebaikan mereka sendiri di masa mendatang.

Maka mari Bunda salihah, kita bersabar, berdoa dan terus menjaga buah hati kita. Jangan menyerah dan jangan putus asa. Yang kita inginkan adalah anak salih. Buah yang baik. Semoga Allah selalu menjaga anak-anak kita dan kita dimudahkan untuk menjaga anak kita. Aamiin ya robbal ‘alamiin.

Oleh: cizkah ummu ziyad
Artikel: ummiummi.com