Kalau ada yang ngikutin cerita tentang bercocok tanam ini, sebenarnya aku mulai dari mencoba segala hal. Mulainya juga udah lamaaa. Dan baru mulai nyadar lagi dapat hidayah taufik untuk nanam yang lainnya akhir tahun 2019 kemarin.
Baca selengkapnya Memulai BerkebunAuthor: cizkah
Hobi dan Kreatifitas
Hobi dan kreatifitas itu menyesuaikan masing-masing anak.
Ada yang sukanya masak…dukung. Ada yang sukanya gambar, dukung juga dengan diwanti-wanti supaya tidak melanggar syari’at (karena ancamannya keras dalam syariat). Ada yang sukanya eksperimen, dukung juga.
Semuanya tetap harus BUKAN prioritas. Gimana sih?
Karena yang penting itu bertakwa. Al-Qur’an nya didahulukan. Kewajibannya didahulukan. Wah, bisa panjang lebar nasehatin ini ke anak-anak.
Gpp mereka mungkin sampai “bosan” dengarnya. Sampai hafal. Sampai mungkin suatu hari nanti insyaAllah mereka bisa obrolin dan becandain kalau Ummi dan Abi udah ngomong masalah ini, mungkin bisa mereka tiruin isinya.
Tapi jangan salah paham.
Ini bukan berarti dibayangin isinya seharian bakal baca Qur’an terus. Atau belajar terus. Cuma kalau ga diingat-ingat mana yang tugas utama kita sebagai manusia – apalagi anak-anak; walau ga cuma anak-anak aja sebenarnya -, akhirnya yang utama malah nanti-nanti atau porsinya malah yang belakangan.
Di sini Thoriq usia 9,5 th
Beberapa karya bikinan Thoriq.
Kapal yang seru banget dimainin adik-adiknya karena desainnya bisa dibuka tutup.
Slide ke-5 adalah lem tembak yang akhirnya paling bertahan di rumah alhamdulillah. Merk v-tec. Kalau lem tembak yang warna biru kayanya udah abis berapa. Gampang rusak.
cizkah
Tulisan asli dipost di instagram tanggal 22 Juli 2020 (sesuai embed instagram di atas).
Dipublish di blog dengan tanggal yang sama agar tetap sesuai milestone.
Dilakukan tanggal 3 Agustus 2026
Memulai Homeschooling
Tulisan ini terutama konteksnya adalah memulai homeschooling di usia pra sekolah (SD).
Waktu pertama kali hendak memutuskan “homeschooling”; dalam arti anak akan belajar bersama aku di rumah, tentu saja aku juga mencari-cari tahu informasi terlebih dahulu.
Baca selengkapnya Memulai HomeschoolingSimpan Dulu
Tak semua kejadian – yang mungkin bagi kita tidak mengenakkan – harus diceritakan saat ini. Walau mungkin kita telah mengambil banyak pelajaran dari kejadian tersebut.
Baca selengkapnya Simpan DuluWadah Sealware untuk Menyimpan Buku Belajar
Salah satu hal yang mungkin terlihat sederhana. Tapi, untuk menuju ke sini, cukup berliku-liku. Inti masalah dalam perjalanan belajar adalah terkadang buku-buku yang sedang dipelajari ketelingsut entah dimana.

Ini biasanya utamanya terjadi usia pra sekolah. Karena buku-bukunya yang dipelajari hanya beberapa. Kadang, setelah belajar sudah berusaha diingat untuk diletakkan di tempatnya lagi. Tapi ya kadang tetap terlupa. Akhirnya sewaktu mau belajar lagi harus mencari-cari dulu.
Dulu akhirnya, mengumpulkan buku yang dipelajari di map berbahan plastik yang beritsleting. Masalahnya tetap sama. Sudah ditaruh di map plastik. Map plastiknya terselip entah dimana.

Sampai akhirnya, aku merasa butuh suatu wadah yang berisi buku-buku yang sedang aku pelajari atau sering aku akses. Aku ingin semua dalam kesatuan dan sekali duduk gak perlu cari-cari yang lainnya. Akhirnya aku pakai wadah sealware yang biasa digunakan orang-orang untuk menjual donat. Di rumah awalnya ada dua buah dan sudah berganti-ganti fungsi.

Enaknya lagi, aku bisa sekalian menulis di sini. Karena bisa difungsikan juga sebagai meja. Kalau mau lebih nyaman supaya semua bagian rata, bisa ditambah cutting matt.
Karena gak terlalu besar dan ringkas, bisa di bawa ke kasur dan mengakses buku yang mau digunakan sebelum tidur bersama anak-anak. Biasanya anak-anak jadi ikutan mencorat-coret atau menggunakan pena yang aku pakai.
Ketika menyimak anak-anak membaca Al-Qur’an juga bisa langsung meletakkan di atas wadah. Supaya Al-Qur’an tidak sampai ditaruh di lantai.
Melihat kefleskbelan tersebut, ternyata Thoriq juga mau. Abang juga mau. Akhirnya alhamdulillah masing-masing anak punya. Untuk krucil masih dalam satu wadah, karena buku yang digunakan masih sedikit. Kalau Thoriq untuk buku-buku tertentu yang sering diakses semisa buku latihan yang tebal. Buku-buku pelajaran lainnya tetap berada di rak.
Tapi kalau Abang, ujung-ujungnya masih agak sama seperti yang kemarin-kemarin sih. Jadinya numpuk buku yang sedang dipelajari di situ hehe. Lumayan deh. Kalau dulu bertumpuk penuh di meja. Sampai akhirnya aku sediakan laci khusus di samping meja Abang untuk meletakkan buku atau kitab lainnya sering digunakan. Nah, yang di wadah ini khusus yang lebih sering lagi atau yang lagi aktif dipelajari.

Saran aku, jika ingin membeli wadah sejenis ini, beli di tempat-tempat yang memang menjual dengan harga grosir. Kalau di Jogja bisa di Progo atau Fortuna. Karena perbedaannya cukup jauh. Bisa juga kalau di Jakarta, mencari di Tokopedia. Biasanya akses ke toko-toko online yang menjual barang murah lebih banyak.
Semoga bermanfaat.
cizkah
12 Juli 2020
Catatan Salah Satu Kondisi Berhenti Haid
Sering Bingung
Aku rasa hal yang paling sering bikin bingung perempuan adalah kapan berhenti haid. Karena memang samar-samar menipis, kadang lama seperti sudah berhenti, ternyata keluar darah lagi. Atau bahkan sudah memutuskan mandi, akhirnya ternyata keluar lagi.
Baca selengkapnya Catatan Salah Satu Kondisi Berhenti HaidCerita tentang Bibit Tanaman
Beberapa kali posting tentang bibit tanaman, beberapa kali juga ditanya biasa beli bibit dimana.
Tapi belum bisa aku jawab. Karena…aku gak bisa merekomendasikan tempat aku beli bibit pertama kalii. Bukan ditipu sih. Tapi aku merasa “tertipu”.
Baca selengkapnya Cerita tentang Bibit TanamanPerkembangan Kembar 3 Tahun 4 Bulan
Tulisan ini udah ditulis dari aku tulis tanggal di awal tulisan, yaitu bulan Februari. Cuma karena fokusnya tercurahkan ke pembuatan poster baru plus sambil ngadapin situasi Corona, terlupakanlah tulisan ini. Padahal niatnya mau dilengkapi.
Sekarang padahal udah ada beberapa perkembangan terbaru. Jadi, aku mau publish aja catatan yang ini.
Baca selengkapnya Perkembangan Kembar 3 Tahun 4 BulanNangis Waktu Setoran Hafalan?
Itu biasa.
Apalagi pas masih kecil.
Apalagi kalau setorannya sama Abang ☺️.
Jangan khawatir insyaAllah. Karena Al-Qur’an itu penuh berkah. Jadi seharusnya Insya Allah bukan hal yang bikin stress.
–
Kemarin-kemarin, porsi terbesar untuk nyimak setoran hafalan di aku.
Sampai beberapa waktu yang lalu, mereka masih merasa keberatan kalau diminta setoran sama Abang.
Soalnya lebih ketat untuk sampai ke titik selesai setoran. Kalau salah bakal diulang-ulangnya sampai entahlah kapan selesainya 😁.
Kalau setoran hafalan sama aku, sebenarnya kadang ya gitu, dan ya ada juga sih acara nangis-nangis.
Tapi kesiapan mentalnya tetap beda ya ☺️.
Masing-masing butuh adaptasi. Begitupun dengan Abang.
Sampai akhirnya mereka alhamdulillah mulai terbiasa setoran ke Abang. Abang juga akhirnya pakai cara minta mereka mempersiapkan maksimal hafalannya untuk disetorin.
Alhamdulillah akhirnya sampai di titik mereka udah biasa dan emang bukan hal “eksklusif” lagi untuk setoran ke Abang.
Yang terjadi sekarang malahan alhamdulillah mereka sudah bisa diminta nyimak hafalan Abang.
Semuanya berproses. Ga langsung smooth jadi gitu aja.
Jadi, keep moving forward.
Sabar, Istiqomah..jangan lemah.
–
Bulan puasa ini, Ziyad mulai baligh alhamdulillah.
Disusul suaranya yang mulai berubah.
Alhamdulillah semua prosesnya bisa terjadi ketika di dekat aku dan Abang. Harapan Abang memang begitu.
#limaanakhomeschooling #limaanakdirumah
#alquran #islam #sunnah #parentingislam #homeschooling #homeschoolingislam
Ruang
Anak Belajar di Rumah Berat?
Selama ini, mungkin sulit dibayangkan bagi teman-teman yang belum pernah menjalankan homeschooling, praktek sehari-harinya tuh seperti apa.
Jika dikaitkan dengan pendidikan jarak jauh yang kemudian diartikan belajar dari rumah dikarenakan pandemi Corona ini, maka praktek homeschooling tidak seperti itu.
Homeschooling memang bisa terasa berat untuk beberapa hal. Tapi, praktek belajar di rumah bukanlah kegiatan padat terstruktur untuk anak sebagaimana yang diterapkan di belajar di rumah saat pandemi berlangsung.
Kalau proses belajar di rumah seperti itu, mungkin banyak yang langsung “nyerah” karena membayangkan bertahun-tahun harus menjalankan aktifitas bersama anak seperti itu.
Di sisi lain, memang belajar di rumah juga bukan hal yang mudah karena pastinya butuh keterlibatan orang tua.
Lalu, sisi ruangnya dimana?
Dalam praktek homeschooling, seperti aku pernah sebut di tulisan serihomeschooling sebelumnya, belajar tuh gak padat dalam arti seperti di sekolah harus dari pagi sampai siang atau bahkan sampai sore.
Kalau belum tahu tentang jenis kegiatan belajar anak, bisa-bisa dikira anak gak belajar. Atau hati orangtua jadi gak tenang karena merasa anak belajar sebentar dan sedikit.
Kalau seperti itu, berarti mindset proses belajar dan tentang belajar itu sendiri masih dengan mindset sistem belajar di sekolah. Anak dianggap belajar kalau baca buku, duduk diam, ngerjain soal, dapat tugas-tugas, dikasih instruksi untuk melakukan suatu kegiatan untuk kemudian dilaporkan, atau hal-hal sejenis itu.
Insya Allah, ini sekedar untuk mengingat tentang mindset belajar ya. Tapi tulisan kita kali ini sebenarnya bukan mau fokus di situ.
Baca selengkapnya RuangKeletihan Sangat dan Corona – Nas’alullahal Aafiyah
Kalau aku kelihatan ceria dan baik-baik aja 2 harian ini di wa atau ig, aslinya aku di keletihan maksimal. Sampai pas lagi sholat rasanya mau pingsan…siap jatuh. Campur aduk perasaan. Sedih.
Tapi alhamdulillah aku belum pernah pingsan. Biasanya kalo udah kaya gini, pingsannya di mimpi.
Baca selengkapnya Keletihan Sangat dan Corona – Nas’alullahal AafiyahCatatan Masa Wabah Corona
Alhamdulillah ‘ala kulli haal…
Udah hampir sebulan di rumah aja dan melakukan berbagai hal yang berkaitan dengan apa yang terjadi saat ini di SELURUH DUNIA. Wabah Corona atau covid-19.
Aku merasa, ada bagian dari perjalanan melalui ini yang perlu untuk dicatat.
Baca selengkapnya Catatan Masa Wabah CoronaCatatan Haid
Setahun lebih sedikit ini, Abang belajar dengan seorang syaikh. Syaikh Labib hafidzahullah namanya. Tadinya beliau belajar hanya berdua dengan akh Agus teman sepenuntut ilmu. Yang dipelajari utamanya adalah berbagai hal terkait fikih madzhab Syafi’i.
Baca selengkapnya Catatan HaidDesain Kereta Thoriq Usia 9 Tahun
Alhamdulillah, salah satu enaknya homeschooling adalah adanya ruang. Ruang untuk mundur sejenak ketika anak butuh intensif perbaikan. Ruang untuk cari kegiatan yang anak-anak minati. Dan ruang-ruang lainnya…
Ini Thoriq (9th) lagi semangat presentasi desain kereta dia. Umminya setengah paham namun berusaha tetap menjadi penyimak yang baik insyaAllah 😋.
Tadinya selembar. Trus nambah jadi 2 lembar A3.
Kemarin pagi, aku lihat udah ditempel lagi kertas A3nya, jadi 4 lembar.
Kemarin sempat aku ajarin nanti nyimpannya digulung. Jadi, gulungannya hari ini tambah panjang.
Jadi begitulah. Minatnya Thoriq ke hal-hal berbau mesin, teknis dan yang sejenis itu. Kemarin pesawat, hari ini kereta.
Beda-beda karakter dan minat. Dia masih sering bertanya kata-kata sederhana yang didapat dari bacaannya. InsyaAllah seiring waktu aku yakin dia bisa nangkep berbagai kata-kata itu sebenarnya.
Tapi, untuk saat ini, kalau istilah-istilah rumit teknis untuk bagian-bagian pesawat dan kereta… Monggo ngobrol sama dia kalau yang seminat.
Barokallahu fiihim
Tadi malam keingat salah satu catatan di blog. Thoriq usia 11 bulan memainkan pesawat kecil disuarakan dan diaksikan lagi landing. Masya Allah. Sebenarnya samar-samar sudah terlihat arah bakat dan minat anak-anak.
Makin besar insyaAllah makin kelihatan. Yang penting tetap semuanya diiringi ketakwaan.
cizkah
Tulisan asli dipost di instagram tanggal 13 Maret 2020 (sesuai embed instagram di atas).
Dipublish di blog dengan tanggal yang sama agar tetap sesuai milestone.
Dilakukan tanggal 3 Agustus 2026
Kain Alas Haid
Kain alas yang aku pakai di sini kain biasa aja. Aku udah pernah coba beli 1 mens pad. Aku pikir tapi kayanya sayang-sayang kain yang ada di rumah.
Baca selengkapnya Kain Alas HaidPelajaran dari Sebuah Boneka
Dari sebuah boneka, banyak hal ternyata bisa dijadikan pelajaran.
Ini adalah boneka bikinan aku buat Luma. Aku bikin ini waktu hamil Luma. Artinya sekitar 6,5 tahun yang lalu.

Saat ini, boneka ini Handzolah anggap sebagai boneka miliknya. Yang dibawa kemana-mana.
Ada pelajaran yang aku anggap dari kejadian ini:
Pertama, Sesuatu yang kita buat hari ini, bisa jadi dimanfaatkan bukan pada hari ini atau hari yang dekat. Tapi dimanfaatkan oleh orang yang bahkan belum ada di pikiran kita saat membuatnya.
Jadi, berkarya saja.
Ini gak cuma bukan masalah boneka atau bikin sesuatu untuk anak-anak ya. Tapi juga ke hal berkaitan dengan ilmu atau hal lainnya yang bermanfaat.
Tapi dalam bahasan kita kali ini, kalau ada yang bisa kita bikin untuk anak-anak kita, maka luangkanlah waktu. Gak harus jadi dalam waktu sehari dua hari tiga hari. Nikmati setiap proses dari sebuah proses yang insya Allah hasilnya nanti akan berguna.

Kedua. Apakah teman-teman melihat kalau boneka ini terlihat dekil, cacat dan tidak sempurna?
Dari berbagai kejadian dengan anak-anak yang berkaitan dengan mainan-mainan mereka, mereka tidak mengenal yang namanya kesempurnaan seperti yang di benak orang dewasa.
Mereka adalah orang yang penuh penghargaan insya Allah.
Mereka gak merasa kurang yang bikin gak hepi dengan wujud boneka ini.
Kayanya sedih ya kalo ada yang bikin sesuatu kemudian dibilang jelek. Ada yang mau aku bahas juga berkaitan sama ini. Insya Allah di tulisan lain.

Sayang dan Super Ego (Posesif?)
Ini adalah catatan lanjutan dari proses yang kita lakukan untuk anak-anak kita. Aku gak tahu istilah yang tepat untuk hal ini.
Pelajaran ini aku dapati dari satu kejadian.
Waktu itu kami lagi pergi ke toko merah. Sebelumnya beli jaket untuk Ziyad dan Thoriq karena jaket mereka udah pada kekecilan. Kalo krucil masih cukup. Jadi kami putuskan untuk krucil dibelikan barang yang lain. Kami bolehkan membeli yang mereka inginkan di Toko Merah.
Sampailah sudah di waktu-waktu terakhir, Luma belum menemukan yang benar-benar dia inginkan.
Di lantai 3, ternyata ada satu sudut boneka. Ada boneka perempuan dari bahan kain yang menarik perhatiannya. Karena wujudnya bukan boneka seksi seperti barbie, aku goyah. Antara ingin membolehkan atau tidak.
Tau gak salah satu perasaan yang muncul pada saat itu apa? Aku sedih dan khawatir, bahwa boneka yang aku bikin yang biasa jadi kesayangannya Luma akan tersingkirkan.
Tapi aku berusaha bersikap “bijak”. Aku berusaha (keras) berpikir tanpa ada pengaruh dari pikiran itu. Akhirnya, Abang yang ambil keputusan untuk membolehkan membeli boneka itu.
Waktu baru pulang dari toko Merah, sesampainya di kamar ada perasaan gelisah, sedih dan rasanya ingin marah. Campur aduk juga ingin menangis.
Mungkin marah ternyata aku bukan yang paling spesial. Sedih juga karena aku merasa ditinggalkan. Ya ampun, rumit dan jadi hiperbolik banget kan. Tapi ini perasaan manusia yang justru sering malah menang dan bikin ribut dunia sebenarnya.
Akhirnya seperti biasa aku ceritakan kegundahan aku ke Abang.
“Abang…aku sedih.”
Aku ceritakan perasaan aku. Tapi aku juga cerita bahwa sebenarnya aku sudah tahu jawaban dari pikiran aku. Bahwa aku gak sepatutnya seperti itu. Kenapa aku harus egois merasa harus cuma bikinin aku yang bisa membahagiakan Luma?
Padahal Luma senang dengan bonekanya yang baru. Padahal bukan berarti aku kehilangan Luma atau Luma menjadi sosok yang meninggalkan aku.
Cuma super ego saja. Merasa harus yang paling paling untuk Luma. Padahal kalau aku relakan, tetap Luma insya Allah sayang sama aku. Gak ada hubungannya boneka ini sama hubungan antara aku dan Luma. Jadi kompleks banget karena kerumitan pikiran orang dewasa saja.
Setelah aku cerita kesedihanku dan dengan segala pemikiran itu ke Abang. Cukup bikin aku lega. Alhamdulillah aku bisa bersikap biasa menghadapi hasil dari beli boneka perempuan tadi.
Seperti dapat diduga, boneka perempuan itu menggantikan hari-hari Luma bersama boneka yang aku buat.
Bukan berarti boneka yang aku buat ditinggalkan seluruhnya. Tapi dia bukan lagi boneka favorit yang selalu dibawa kemana-mana.

Tetap Seorang Anak, Anakku
Aku lega banget karena aku bisa segera menetralisir pikiran negatif super ego yang bisa malah berujung marah-marah dan padahal gak ada yang diuntungkan selain rasa “menang” yang sebenarnya gak bikin bahagia siapapun.
Hari-hari Luma seperti biasa. Selanjutnya dia masih minta dibikinkan boneka kain yang dari kemarin belum berhasil aku buat. Aku merasa masih belum ketemu yang cocok dengan boneka yang dia inginkan. Antara ingin bikin yang lebih baik dari sebelumnya tapi juga lebih praktis supaya bisa ada berbagai pritilan yang diharapkan Luma.
Satu lagi ganjalannya adalah, aku ingin hasilnya “sempurna”. Yes…overthinking, sempurna, berhasil, bagus. Mindset orang dewasa.
Sampai suatu hari, aku bebikinan boneka kertas sama Luma. Simpel aja. Cuma dari kertas setengah lingkaran yang dibikin kaya rok. Kemudian ditambah bagian atasnya dll. Ngikutin petunjuk salah satu buku yang kami punya untuk prakarya bersama anak.
Hasilnya…mau dibilang apa? Dari kacamata siapa? 🙂
Boneka hasil bebikinan itu dipegang Luma selama beberapa hari. Dicari ketika bangun tidur. Sampai akhirnya rusak karena memang bahan dasarnya hanya kertas. Sampai akhirnya aku bilang, insya Allah nanti kita bikin lagi.
Dari situ, dan kejadian boneka Handzolah di atas, aku akhirnya sadar, mereka tidak minta kesempurnaan. Kesempurnaan sebagaimana yang aku pikirkan. Bagi mereka, dibuatkan sesuatu sesuai yang mereka harapkan adalah sebuah kebahagiaan.
Saat Ingin Membuat Sesuatu untuk Anak
Akhirnya kami berusaha memilih bersama boneka yang akan aku buatkan. Alhamdulillah akhirnya ketemulah contoh boneka yang diharapkan Luma. Yang sebenarnya kalau dikerjakan buanyak banget.
Tapi…belajar lagi dari kejadian boneka Handzolah, ada satu lagi yang perlu ditanamkan selain mindset kesempurnaan yang tidak ada. Bahwa apa yang kita buat itu juga tidak harus terburu-buru. Sambil menyepakati boneka yang akan aku buat untuk Luma, aku sebenarnya juga sedang membuatkan boneka rajutan untuk Kholid.

Sebenarnya ada boneka lain di rumah yang bukan homemade. Salah satu boneka yang dia pilih adalah boneka dinosaurus dan babi. Aku tawarkan boneka lainnya yang pernah aku buat dia gak mau.
Karena aku mengenali karakter Kholid insya Allah, aku carikan pattern boneka baru yang kira-kira sesuai dengan dia. Aku bilang insya Allah aku bikinkan untuk Kholid. Karena ada perasaan aku ingin berusaha biar adil, ada boneka bikinan aku yang dipegang anak-anak.
Dari rajutan ini aku belajar, bahwa proses itu gak harus cepat. Sabar karena kita gak sedang lomba dengan siapapun alhamdulillah. “Klien” kita ini bukan yang ngasih deadline juga.
Berproses saja secara istiqomah. Dan ini sebenarnya berlaku untuk semua hal yang kita lakukan.
Berproses saja secara istiqomah.

Untuk rajutan, kadang sehari dapat 4 baris rajutan. Kadang bisa dapat 10 baris. Dalam 4 pekan, alhamdulillah rajutan boneka untuk Kholid udah sampai tahap badan. Sempat selama sepekan aku gak terlalu dapat banyak hasil karena ada prioritas-prioritas lain yang bikin gak bisa kepegang. Satu kaki aku kerjakan dalam 1 pekan.
Untuk Luma, dengan berprinsip seperti itu, akhirnya kami mulai project bikin boneka dari kain felt.
Mulai saja. Jangan anggap susah. Semuanya butuh proses.
Alhamdulillah jadilah sosok boneka datar dari kain felt. Sudah dengan bajunya. Semoga dimudahkan untuk tambahan lainnya.
Dunia anak, memang gak lepas dari boneka. Apalagi anak perempuan.
Sama seperti hadits Aisyah yang sedang memainkan boneka dan ditanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
مَا هَذَا يَا عَائِشَة , قَالَتْ : بَنَاتِي . قَالَتْ : وَرَأَى فِيهَا فَرَسًا مَرْبُوطًا لَهُ جَنَاحَانِ فَقَالَ : مَا هَذَا ؟ قُلْت فَرَس . قَالَ فَرَس لَهُ جَنَاحَانِ ؟ قُلْت : أَلَمْ تَسْمَع أَنَّهُ كَانَ لِسُلَيْمَان خَيْل لَهَا أَجْنِحَة ؟ فَضَحِكَ “
“Apa ini wahai Aisyah ?, ia menjawab: “Boneka saya”, beliau melihat ada seekor kuda (mainan) yang terikat dan mempunyai dua sayap, beliau bertanya: “apa ini ?”, saya menjawab: “kuda”, beliau menjawab: “kuda mempunyai dua sayap ?”, saya menjawab: “Tidakkah anda mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai seekor kuda yang bersayap ?, maka beliau tertawa”.
Riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Hajar adalah riwayat Abu Daud: 22813, dan di shahihkan oleh al Baani dalam Ghayatul Maram: 129. (https://islamqa.info/id/answers/119056/hukum-berbisnis-boneka-dan-bentuk-hadiah-yang-lainnya)
Semoga bermanfaat.
cizkah
27 Februari 2020
Ditulis weekend kemarin. Diselesaikan hari ini alhamdulilllah.