Lomba Al-Qur’an Pertama Ziyad

Pertengahan bulan Oktober yang lalu, aku dapat kabar dari Avie kalau ada lomba hafalan Qur’an juz 29-30 . Acaranya hari Sabtu tanggal 1 November. Masya Allah. Seneeng banget pas dengar kabar itu. Alhamdulillah Ziyad juga pas selesai hafalan juz 29-nya.

Di rumah kan memang alhamdulillah lumayan sering nonton tentang lomba-lomba Al-Qur’an atau tes Al-Qur’an ke anak-anak ataupun orang dewasa. Pingin banget Ziyad merasakan itu hehe. Pingin dia merasakan lebih nyata bahwa ada teman-teman di luar sana yang juga menghafal Al-Qur’an. Pas dengar ada lombanya itu, bayangan kita juga nanti perlombaannya gak jauh-jauh beda. Di tes ayat, disuruh terusin. Ditesnya terbuka.

lomba hifdzul quranPendaftarannya di UMY. Mesti kasih foto. Kita foto pake kamera HP hehe. Aku edit di Photoshop. Beli kertas foto di toko merah. Print, potong-potong sendiri :D. Sekitar 10 hari sebelum lomba, Ziyad (atau lebih tepatnya hampir sekeluarga) kena flu lumayan berat. Sama abang gak boleh main-main pas sore. Pokoknya sayang-sayaaang banget kalau misalnya sampai gak jadi. Jarang-jarang ada lomba kaya gini lagi (yang pas kami tahu :D).

Gak ada persiapan khusus berkenaan lomba ini. Karena tujuannya memang bukan untuk menang. Lagipula ini (hafalan Qur’an) bukan sesuatu yang bisa dibikin sistem kebut semalam terus langsung bisa kuat hafalannya ;D. Hafalan juz 29 Ziyad juga masih “kemana-mana”. Apalagi surat Jin sama surat Nuh. Aku muroja’ah seperti biasa aja berusaha muter seminggu terakhir itu hafalan juz 29-30-nya.

Pas technical meeting yang dihadiri abang, dibilang mesti kumpul jam 7. Dikasih tahu susunan acaranya. Intinya selesainya ba’da Ashar. Wawww…kebayang deh bawa rombongan, ada bayinya, mesti diluar dari pagi sampe sore gitu. Mesti bawa bekal banyak-banyak. Abang sampe bercanda, “Bawa bantal dek. ” 😀

Baca selengkapnya Lomba Al-Qur’an Pertama Ziyad

Kisah Pembeli Bakso dan Penjual Bakso

Ini adalah dua kisah yang berbeda. Terjadi di tempat yang berbeda. Waktu yang berbeda. Satu yang sama, kedua kisah ini memberikan pelajaran yang sangat berarti bagi saya.

Pembeli Bakso

Sebut saja, namanya mba Ida (bukan nama sebenarnya). Saat masih sering bertemu dengannya, ia telah memiliki enam orang anak. Ia tinggal di rumah kontrakan yang terbuat dari kayu yang juga sangat tepat jika dikatakan gubuk. Bukan karena ingin kelihatan sederhana. Namun kenyataannya memang seperti itu. Rumahnya terbagi menjadi dua ruangan. Keduanya dijadikan ruangan tidur. Satu ruangan yang bersambung dengan pintu masuk bagian depan juga multifungsi sebagai tempat menerima tamu. Tak ada karpet permadani. Ataupun sofa empuk dan bangku berukir mahal. Yang ada adalah tikar dan bantal-bantal kapuk yang telah menyusut ukurannya tergeletak  di pinggir ruangan.

Terkadang, mba Ida mampir ke rumahku. Sekali ini, ia mampir sambil membawa satu bungkusan bakso. Bukan bakso daging urat dengan kuah berkaldu yang kental. Hanya sebungkus bakso seharga Rp 2.500. Bakso yang sarat campuran terigunya dengan kuah yang sedikit bening nampun tetap ada aroma kaldunya.  Ia meminjam mangkuk milikku. Bukan. Bakso itu bukan untukku. Ia sangat ingin menikmati bakso itu seorang diri.

“Sekali-sekali “,katanya.

Jika dimakan di rumah, maka ia harus berbagi dengan anak-anaknya. Atau juga dengan suaminya. Bakso seharga 2.500 yang sangat berharga.

Maka…nikmat mana lagi yang aku dustakan? Kecukupan apa lagi yang aku cari? Saat kejadian itu terjadi, aku rekam kuat-kuat, agar selalu kuingat manakala rasa “kurang” melanda.

Penjual Bakso

Sekitar tahun 2004, bapak penjual bakso ini sering lewat di depan kos-kosan yang aku tinggali. Biasanya, aku tak sembarangan membeli bakso. Khawatir dengan campuran yang ada pada bakso itu sendiri. Namun bapak yang satu ini insya Allah aku percaya. Penampilannya yang memakai celana di atas mata kaki. Jenggot yang tumbuh beberapa di sela-sela dagunya. Beberapa kali juga aku ketahui ia sholat di masjid yang ada di komplek perumahan yang aku tinggali tersebut.

Satu kali di tahun 2013, saat aku sudah menikah dan sudah memiliki 2 anak, maghrib berkumandang saat kami keluar dari  suatu mall karena suatu keperluan. Mall itu berseberangan dengan komplek perumahan dimana aku dulu ngekos. Karena tahu ada masjid terdekat, kami sekeluarga menuju masjid tersebut.

Biasanya aku bergantian sholat dengan suami karena harus menjaga anak-anak. Ada gerobak masjid di sisi selatan masjid tersebut. Aku hanya berpikir sekilas, teringat kebiasaanku membeli bakso di daerah tersebut.

Saat jama’ah sholat dari laki-laki selesai dan mulai berhamburan keluar, dengan rasa penasaran aku melihat gerobak bakso itu. Entah kenapa aku berpikir, apakah mungkin penjualnya adalah penjual uyang sama dengan saat aku masih belum menikah dulu? Saat melihat sang bapak menuju gerobak baksonya…maka tahulah aku.

Ini adalah penjual bakso yang sama.

Sama seperti 9 tahun yang lalu.

Masih berjualan bakso. Masih berkeliling

Mungkin aku harus melihat dari sisi, betapa si bapak tidak ada kemajuan. Tidak ada inovasi. Atau usahanya tidak berkembang. Tapi aku tak ingin melihat dari sisi itu. Aku ingin melihat dari sisi lainnya.

Maka akupun merenung. Betapa kebutuhan hidup semakin meiningkat. Betapa setiap orang – termasuk diriku – sangat ingin memperbaiki taraf hidup dari hari kehari. Mulai dari kebutuhan anak-anak, rumah, kendaraan dan kebutuhan dunia lainnya yang tak ada habisnya.

Tapi bapak penjual bakso ini masih dengan kondisi yang sama.

Maka apakah ketika kita menghadapi situasi yang sama  kemudian kita akan mengeluh dan berputus asa?
Aku berdoa semoga tidak. Semoga sang bapak penjual bakso pun tidak. Semoga anak istri keluarganya tidak. Semoga Allah memberikan rasa kecukupan dari apa yang Allah telah berikan  dan memberkahi apa yang kita miliki.

Satu catatan lagi yang sangat berharga adalah, sang penjual bakso tetap sholat berjama’ah di masjid.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.? Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.? (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3).

Penulis: cizkah ummu ziyad

Agen-Agen Baru (Malaysia dan Singpore Jugaaa)

1. Singapura
Masih agen yang kemarin hehe. Ini nomor kontaknya. Untuk soundbook bisa kontak ke Nur di instagram (www.instagram.com/runayrus) atau di nomor berikut +65 90616560

agen flashcard hijaiyah singapore

2. Malaysia di nomor yang ada di pic di bawah ini ya. Lokasinya di Kuala Lumpur.

agen flashcard hijaiyah malaysia

3. Lampung dengan mba Ari di nomor 0823-7717-8786

4. Bekasi dengan mba Yuli di nomor 0821-1232-4545 atau Mutia di nomor (sepertinya stock terbatas tapi)

5. Bandung dengan bapak Hisyam di nomor 0857-2292-1241

Ada yang ketinggalan gak yah..kalo ada in sya Allah diupdate lagi.

Selamat Bercengkerama dengan…

Kehidupan saat ini memang sudah sangat jauuh berubah. Bercengkerama kini menjadi sesuatu yang hening.

Kehidupan sepasang suami istri pun kini juga jadi jauuh berubah. Bercengkerama dengan kekasih, tidak lagi seperti yang didambakan. Bukan lagi sesuatu yang dirindukan.

Berbagai fenomena seperti di bawah ini mungkin kita temukan dalam kehidupan rumah tangga.

Sang suami yang pulang kerja, dalam letihnya lebih menyukai membuka facebook, whatsapp, twitter, – atau apapun itu yang dinamanya media SOSIAL -. Seakan-akan, baginya semua media itu lebih bisa menghilangkan penatnya.

Tak beda pula dengan sang istri, yang dalam letihnya masih menyempatkan diri mengetikkan berbagai pesan canda dan tawa kepada temannya. Namun tidak ada pesan mesra kepada  suami tergcintanya.

Kadang yang terjadi juga bagai lingkaran setan yang tak berhenti.

Si suami yang lebih memilih bercengkerama dengan teman-temannya di ruang social.  Saling melempar komentar di sebuah status. Bercanda dalam percakapan dengan teman-teman di grup. Membaca berita-berita yang katanya ringan namun menghibur.

Si istri yang kecewa dengan perlakuan suami. Obrolan hangat yang didambakan sudah pupus. Akhirnya ia juga mulai melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan suami. Menghabiskan “waktu rebahan” di kesenyapan malam setelah anak-anak tidur untuk melakukan “me time” berselancar ke social media.

Waktu untuk bercakap-cakap bagi  suami dan istri menjadi waktu sisa-sisa. Rangkaian cerita pasangannya menjadi remah-remah yang begitu berat untuk ditelan. Sampai kiranya salah satu pasangannya harus menelan lagi cerita yang sedang ingin dicurahkannya karena mata sang kekasih telah terpejam.

Hingga akhirnya  masing-masing pihak sangat ingin mengatakan,

“Selamat bercengkerama dengan facebook..”

“Selamat bercengkerama dengan twitter…”

“Selamat bercengkerama dengan whatsapp…”

“Selamat bercengkerama dengan instagram…”

Selamat bercengkerama dengan apapun itu yang membuatmu lebih bahagia bercakap-cakap dengannya dibandingkan dengan pasangan hidupmu.

Haruskah ini terjadi?

Bisakah ini dihindari?

Coba kita lihat contoh pasangan rumah tangga terfavorit. Siapa lagi kalau bukan rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُوْنَةَ فَتَحَدَّثَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ

“Aku menginap di rumah bibiku Maimunah (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan istrinya (Maimunah) beberapa lama kemudian beliau tidur”. ( HR Al-Bukhari IV/1665 no 4293, VI/2712 no 7014 dan Muslim I/530 no 763)

Padahal hukum asal berbincang-bincang setelah ‘Isya adalah dibenci.

Bisakah kita bayangkan, bahwa kita lebih memilih bercengkerama bersama teman-teman yang ia pun sebenarnya lebih dibutuhkan bercengkerama dengan pasangan hidupnya?

Bisakah kita bayangkan, bahwa kita lebih memilih melakukan sesuatu yang sia-sia? Padahal di sana ada sesuatu yang sebenarnya mudah dan menyenangkan untuk dilakukan.

Canda seseorang bersama keluarganya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

كُلُّ شَيْئٍ يَلْهُو بِهِ ابْن آدَمَ فَهُوَ بَاطِلٌ إِلاَّ ثَلاَثًا رَمْيُهُ عَىْ قَوْسِهِ وَ تَأْدِيْبُهُ فَرْسَهُ و  مُلاَعَبَتُهُ أَهْلَهُ فَإِنَّهُنَّ مِنَ الْحَقِّ

 ”Segala sesuatu yang dijadikan permainan oleh anak Adam adalah bathil, kecuali tiga perkara, melepaskan panah dari busurnya, latihan berkuda, dan senda gurau (mula’abah) bersama keluarganya, karena itu adalah hak bagi mereka.” ( HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir , Silsilah As-Shahihah no. 309)

Jadi….mari kita memilih. Bercengkerama dengan siapakah yang kita dahulukan saat bersama keluarga? 🙂

***

Penulis: cizkah ummu ziyad
Artikel: ummiummi.com

Buku-Buku Percobaan (Review Buku)

percobaan-airPernah cerita kan ya beberapa kali kalo kami di rumah terkadang melakukan percobaan-percobaan. Ini sifatnya gak mesti melulu ko. Selingan…yang penting asyik. Pas awal-awal aku gak terlalu yakin mereka paham. Soalnya seringkali tujuan percobaan kan menjelaskan suatu hal yang secara materi mungkin belum saatnya bagi mereka (Ziyad dan Thoriq). Misalnya tentang molekul air yang saling terkait – sah…dengar istilahnya aja rumit banget kesannya hihi…

Baca selengkapnya Buku-Buku Percobaan (Review Buku)

Rekomendasi Optik Kacamata Murah Jogja

Sekitar 9 tahun yang lalu…pas masih kuliah..pernah periksa mata.
Hasilnya waktu itu si katanya -0,25. Periksanya masih tradisional banget. Tapi berhubung waktu itu pusing-pusing, akhirnya dibelilah kacamata – pake uang kakak -. Warna pink. Bahannya ringaan banget sampe kaya gak pake kacamata. Tapi kemudian nikah, rusak, udah beset-beset. Ganti kacamata, terus pecah karena pakai bahan yang kaca. Abis itu gak pernah pakai kacamata lagi. Pernah periksa di optik lagi malah dibilang normal. Katanya kalau pusing kemungkinan cuma butuh vitamin aja. Okay…so life goes on hehe.

Baca selengkapnya Rekomendasi Optik Kacamata Murah Jogja

Thoriq Ibrohim (3th) Sebulan Lulus Iqro 1

Alhamdulillah…bulan Juli kemarin…Thoriq aku coba mulai tawarkan belajar Iqro. Sebelum-sebelumnya, aku lihat video dia yang lama dimana dia udah hafal banyak huruf. Terus mikir, kok aku gak maksimalin sih. Cuma karena dia cadel – banget – padahal. Akhirnya aku mulai lebih rajin  nyodorin flashcard hijaiyah.

Lagi proses kaya gitu, terus mulai ada berita tentang Musa (usia 6 tahun) udah hafal AL-Qur’an. Masya Allah. Salah satu cara awal Musa itu dengan ditempelkan hijaiyah. Kalau yang ini kan udah dari bayi banget Thoriq juga ngerasain. Cuma ya gitu. Aku merasa aku kurang maksimalin. Atau karena terlalu banyak was-was dari setan yang bikin pikiran “Jangan di forsir”, “Belum waktunya”, “Gak usah terlalu bergegas”.  Barokallahu fihim untuk keluarga Musa yang telah menginspirasi banyak orang. Aku sampai diskusi panjang lebar di sebuah grup tentang ini. Apakah kita termasuk akan terlalu bergegas kalau melakukan seperti apa yang Abu Musa dan Musa lakukan? Apakah kita akan mewujudkan superkids versi Islam?

Baca selengkapnya Thoriq Ibrohim (3th) Sebulan Lulus Iqro 1

Playdate Homeschooler Muslim Jogja

play clay taman pintar

Alhamdulillah…bahagiaa banget bisa ikutan playdate kali ini. Terwujud playdate kali ini juga scene-per-scene takdir Allah yang tentu saja sangat menakjubkan. Dimulai dari seperti biasa chat ringan di whatsapp dengan Icha tentang homeschooling. Terus dibentuknya group HS di whatsapp. Tadinya mau lintas daerah (dengan luar jogja). Cuma ko kayanya bakal lebih banyak jadi tempat komunikasi ke teman-teman di Jogja. Akhirnya sementara isinya yang di Jogja aja. Terus seperti biasa, ide kegiatan playdate muncul dari Icha atau Noli. Ternyata HS Al-Ishlah ( Avie dkk) memang ada rencana ke Taman Pintar. Waktu pada janjian, aku masih ragu bisa ikut apa engga.

Pertama, karena hari kerja, hari Jumat (hari kerja untukku, kalo abang mah tiap hari kerjanya).
Kedua, musykilah transportasi gimana bisa ke sananya (insya Allah ada postingan lain nih tentang ini).

Setelah bujukan rayuan ala istri  selama beberapa hari :D, sampai pagi hari-H (Jumat, 29 Agustus 2014), so kewl nanya ke abang,

“Jadi gimana nih kita? (Ikut apa ngga gitu?).

Baca selengkapnya Playdate Homeschooler Muslim Jogja

Gak Pa Pa

Wahai anakku…

Di dunia ini, sikap mengejek, merendahkan (untuk ortu bisa dibaca: bullying) itu bisa terjadi di mana saja, dari siapa saja.

Itu bisa terjadi padamu, pada ummi, abi.
Pada semuanya.

Ketika itu terjadi, ingat selalu pesan ummi.

Katakan pada dirinya yang melukai hatimu.
Katakan pada dirimu sendiri.

“Gak Pa Pa.”

***

Suatu kali, akhirnya ketahuan kenapa Ziyad gak mau pakai beberapa bajunya lagi. Dari yang aku lihat, yang dia gak mau itu baju yang model-model piyama.

Baca selengkapnya Gak Pa Pa

Share Kegiatan Homeschooling Ziyad

Sabtu kemarin (31 Mei 2014), ceritanya aku ma Siwi diminta untuk berbagi kegiatan homeschooling masing-masing di rumah. Pertamanya ragu, bisa gak yah. Bisa ngeshare materinya…sama bisa waktunya. Soalnya Luma pas lagi gak teratur ritme tidurnya…eh terus juga habis demam 5 hari. Alhamdulillah pas hari H-nya, malamnya aku dapat tidur 3,5 jam. Pagi-pagi sms Icha, ngasih tahu insyaAllah bisa berangkat.

Baca selengkapnya Share Kegiatan Homeschooling Ziyad

Sunset di Madinah

Ada yang suka sunset? Walaupun sekedar melihat foto?
Ada yang “suka” dengan Madinah? Walaupun sekedar melihat foto?

Mari kita gabungkan keduanya…

Sunset kali ini spesial. Karena bukan di pantai. Tapi di Madinah.

Oh ya, ini bukan hasil jepretan saya.
Saya masih seperti beberapa orang lain di Indonesia yang belum menjejakkan kaki di sana :).
Saya masih seperti beberapa orang lainnya yang berharap bisa ke sana :).

sunset-at-madinah

Sumber:destinationjannah

cizkah
28 Rajab 1435 / 28 Mei 2014

 

Apakah yang Anda Lakukan ketika Anak Anda Menangis?

Tahukah Anda kisah batang pohon kurma yang menangis?
Bukan, ini bukan kisah fiktif atau sekedar dongeng pengantar tidur. Kisah ini benar-benar terjadi di zaman nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diceritakan oleh banyak sahabat sehingga mencapai derajaat hadits mutawattir.

Baca selengkapnya Apakah yang Anda Lakukan ketika Anak Anda Menangis?

Doa Itu Terkabulkan…

Ketika saya merasakan lambatnya Ziyad – anak pertama saya –  menghafal Qur’an, saya berpikir mungkinkah ia menjadi penghafal Qur’an? Bagaimanakah cara agar dia bisa menjadi penghafal Qur’an? Bagaimana agar dia cinta dengan Al-Qur’an? Teknik apa yang mesti saya perbaiki ketika mengajarkannya. Dan seterusnya…Pikiran-pikiran penuh kecemasan, yang  bisa berujung keputusasaan. Na’udzu billah min dzalik.
Baca selengkapnya Doa Itu Terkabulkan…

Minggu 39 Lewat 3 Hari…

Tulisan ini dibuat sekitar 1 jam sebelum aku cek ke Sakina Idaman…hari Jumat, 28 Februari 2014/27 Rabi Ats-Tsani 1435 H, sekitar pukula 13.00 – 13.30 wib.

***

 

وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُو

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)

 

Supik* belum lahir…

Masih kenceng-kenceng aja dari kemarin…Kenceng yang udah lumayan sakit. Malah pas hari Rabu malam udah 10 menitan sekali. Udah sampe mikir, ke rumah sakit gak ya. Ah…tapi kenceng-kenceng dari jam 7 sampai jam 11 malam kok tetep 10 menit. Tidur aja deh…kumpulin tenaga. Ternyata sampai subuh malah mulai berhenti kontraksinya.

Selesai sholat…lagi mikir betapa malam tadi melelahkan karena nahan sakit kontraksi, tapi ternyata pagi ini belum lahir…mata mulai berkaca-kaca. Gak lama kedengeran abang ngobrol dengan akh Minan, tetangga sebelah rumah. Ternyata ada titipan dari Satria. Abang masuk, bilang ada titipan dari Satria. “Ko Satria ngasih abang coklat ya dek..” 😀

Abang belum nyadar kalau aku tuh lagi berkaca-kaca, soalnya sholat di ruangan depan yang gak aku nyalain lampunya.

Baca selengkapnya Minggu 39 Lewat 3 Hari…

Tutorial Cara Membuat Sprei

Membuat sprei sendiri sebenarnya sangat mudah in sya Allah.

Keuntungannya kita bisa membeli bahan yang kita inginkan dan tentu saja harganya jadi jauh lebih murah dibandingkan membeli jadi.

Hanya butuh 6 langkah untuk membuat sprei sendiri

Baca selengkapnya Tutorial Cara Membuat Sprei