Manfaat Bed Time Story atau Bed Time Hadits

Waktu generasi Ziyad Thoriq, pernah nulis tentang bed time story dan bed time hadits.

Karena generasinya udah beda, aku bahas lagi tentang ini ya.

Manfaat menceritakan kisah/hadits atau bahkan pengetahuan umum dari buku ke anak-anak tuh banyak banget.

Sebenarnya sama aja kita menyampaikan syariat, adab, akhlak atau pengetahuan yang berguna untuk pendidikan umum anak.

Tambahannya adalah, dengan dibacakan buku, anak akan mendapatkan tambahan kosa kata. Kalau bisa baca sendiri kemudian rajin baca buku apalagi ya.

Karena kosa kata percakapan sehari-hari itu terbataaas. Yang keluar kan kisarannya itu-itu aja. Apalagi ke anak-anak.

Baca selengkapnya Manfaat Bed Time Story atau Bed Time Hadits

Masih Hal yang Sama

Masih di sini.

Masih melakukan aktifitas yang sama alhamdulillah.

Fokus itu, kadang kelihatannya biasa-biasa aja. Kelihatannya…mungkin membosankan. Nothing special.

Tapi gpp insyaAllah. Karena yang kita lakukan, tujuannya insyaAllah bukan untuk impress siapa-siapa ya.

Baca selengkapnya Masih Hal yang Sama

Mengajarkan Anak Surat Al-Fatihah

Surat ini adalah yang akan dibaca seseorang sepanjang hidupnya insya Allah. Minimal 17 kali dalam sehari, yaitu dalam sholat-sholat wajib.

  • 2 kali saat sholat Subuh
  • 4 kali saat sholat Dzuhur
  • 4 kali saat sholat Ashar
  • 3 kali saat sholat Maghrib
  • 4 kali saat sholat Isya

Bayangkan jika – dengan izin Allah -, anak bisa membaca surat ini melalui hasil didikan orang tua. Maka semoga ini termasuk amal yang tak terputus ketika sang orang tua telah meninggal karena menjadi ilmu yang bermanfaat yang diamalkan.

Baca selengkapnya Mengajarkan Anak Surat Al-Fatihah

​Thoriq Belajar Bilangan Romawi

Tadi pas lihat next exercise tentang Romawi, rasanya mau skip aja. Tapi cobalah.  Karena aku pikir cuma I, V sama X.

Terus aku kasih catatan di yellow notes paper di meja sambil ngajarin dia.

I : 1 (Nilainya lho.. Aku bilang. Maksudnya bukan berarti angka 1)
V: 5
X: 10

Trus aku jelasin dikit. Tiga tuh begini, sambil nulisin i tiga kali.  Kalo v dikanan i nambah jadi 6. V kalo dikiri i berarti berkurang 1 jd 4. Terus aku ke kamar, ninggalin dia, krn nenenin sambil nyimak Ziyad setoran hafalan.

Baca selengkapnya ​Thoriq Belajar Bilangan Romawi

Cara Menasehati Anak ala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Orang tua, kalau sudah marah atau kesal dengan anaknya, memang mudahnya langsung saja melontarkan kekesalannya.

Apalagi jika si anak dirasa benar-benar keterlaluan melakukan kesalahan. Omelan-omelan yang dilontarkan mungkin dari si ibu yang sambil memasak atau sambil melakukan aktifitas rumah tangga lainnya. Lain lagi dari si ayah, nasehat bercampur amarah dilontarkan sambil menggebrak, melotot atau bahkan memukul. Na’udzu billah min dzalik.

Sabar pada hentakan pertama itu memang perlu dilakukan dimanapun dan ketika berhadapan dengan siapapun. Apalagi kepada anak kita, yang perasaannya juga halus sama dengan manusia dewasa, namun dengan tingkat akal yang masih berbeda. 

Maka, ketika orang tua kesal, sikap yang harus dilakukan pertama kali adalah sabar.

cara menasehati anak

Langkah selanjutnya, coba kita ambil pelajaran dari sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menghadapi pertanyaan seorang pemuda yang minta izin untuk berzina. Bayangkan! Minta izin berzina!

Kalau kita bayangkan ada anak kita atau anak lain minta izin,

“Ma, boleh gak aku berzina?” atau “Boleh gak saya berhubungan sama si Fulan?”

Mungkin yang langsung muncul di pikiran kita adalah si anak ini bersikap kelewat batas, kurang adab, atau bisa dibilang kurang ajar. Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun merasakan hal yang sama. Mereka langsung menyuruh si pemuda untuk diam dan menghardiknya.

Tapi bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi pemuda ini.

Rasûlullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, Mendekatlah”.

Pemuda itu pun mendekat lalu duduk.

Setelah itu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memberi pertanyaan yang mudah dicerna dan dijawab dengan cara berpikir si pemuda.

Pertanyaan itu tentang apakah jika si pemuda rela jika ibunya dizinai. Atau ketika anak perempuannya esok hari dizinai. Atau ketika saudari perempuannya dizinai. Atau ketika bibinya dizinai. Dan tentu saja jawaban pemuda tersebut, “Tidak.” Ia tidak rela.

Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan sang pemuda sambil meletakkan tangan beliau di dada sang pemuda. (Hadits riwayat Ahmad, no. 22211; sanadnya dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Pelajaran apa yang bisa kita ambil ketika menasehati anak:

  1. Sabar. Tidak mudah terpancing emosi, bahkan ketika yang dilakukan anak secara akal orang dewasa adalah sesuatu yang luar biasa tidak beradab atau keterlaluan.
  2. Menasehati dengan posisi dekat dan kondisi tenang. Bukan menasehati sambil mengomel apalagi dilakukan sambil mondar-mandir ke sana kemari. Belum lagi disambi pekerjaan lainnya. Posisi dekat juga memungkinkan kita memandang wajah anak dan menatap matanya. Kondisi tenang agar anak lebih mudah mencerna yang kita katakan.
  3. Mengajaknya berpikir dan merenung sesuai tingkat akalnya. Tidak menggunakan bahasa yang tinggi atau sulit dipahami anak.
  4. Menyentuh badan anak. Hal ini berguna untuk menarik perhatian dan konsentrasinya. Pun juga si anak merasa kita tetap menyayanginya. Karena secara alami, saat orang merasa kesal atau tidak suka dengan sesuatu, tidak ingin bersentuhan dengannya. Dengan ini kita pun harus berusaha melawan ego dan rasa risih itu. Menyentuhnya bisa juga dengan cara memeluknya.
  5. Mendoakan kebaikan untuk si anak.  Dengan ini, anak insya Allah bertambah rasa cintanya kepada orang tua dan semakin menyadari bahwa orang tuanya memang mencintainya dan tetap menyayanginya walaupun ia telah melakukan kesalahan.

Semua ini terkesan mudah, tapi butuh perjuangan saat melakukannya. Semoga kita dimudahkan untuk mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari saat menghadapi anak ataupun orang lain yang melakukan kesalahan.

cizkah

Jogja, 13 Agustus 2016/10 Dzulqo’dah 1437 H

Artikel www.ummiummi.com

  • Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.’ Rasulullah bersabda,
    ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama.’ (HR. Bukhori I/430 no.1223, Muslim II/637 no.926 dan Abu Daud II/210 no.3124).

Referensi: 
Sentuhan Jiwa untuk Anak, Muhammad Muhammad Baderi

Wahai Rasulullah, Izinkan Aku Berzina


http://www.salamdakwah.com/baca-forum/lafazh-hadits—sabar-hanya-pada-awal-musibah—dan-maknanya.html

Uang Saku, Menabung dan Insiden Tabungan Ziyad

Uang

Ziyad mulai aku bisa amanahi membeli sesuatu sejak usia 5 tahunan. Dikasih catatan, dititipin uangnya, nanti bisa balik lagi insya Allah. Amanahinnya juga masih kecil-kecil nilainya. Paling beli bumbu dapur, tomat atau sayur mayur lain yang kadang suka ketinggalan pas belanja. Beda sama Thoriq yang sekarang juga usia 5 tahun lebih, ternyata belum bisa diamanahi itu. Pernah beberapa kali aku minta tolong beli benda-benda (nilainya gak lebih dari 8ribu), tapi ternyata dia belum sadar sepenuhnya. Bingung udah bayar apa belum, apa itu kembalian, mana kembalianya dll hehe. Akhirnya gak boleh berangkat sendiri kecuali cuma beli yang buat dia sendiri senilai seribu rupiah.

Uang Saku/Jajan

Ziyad mulai mengenal uang jajan/uang saku tepatnya bulan Agustus 2014. Ko bisa inget banget? Soalnya waktu itu masa-masa aku dan abang berusaha gimana keluarnya gak semotor berlima karena motornya masih satu. Salah satunya adalah dengan menggunakan waktu main Ziyad pas kami keluar. Dia main, kami keluar.

Baca selengkapnya Uang Saku, Menabung dan Insiden Tabungan Ziyad

Antara Membentuk Kepercayaan Diri dan Mendidik Hal Lainnya…Yaitu..

Ada diskusi sama teman-teman, salah satunya tentang membentuk kepercayaan diri dengan cara membiarkan mereka melakukan pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Sumbernya dari buku Modern Islamic Parenting.

Masalahnya, kadang anak melakukan suatu pekerjaan tapi kitanya kan masih ragu-ragu ya. Apa bersih, apa bener, apa begini dan begitu.

Contohnya banyak, misal mandiri sendiri, cebok sendiri, ngepel, nyapu, cuci piring.

Kalo dari yang terjadi sehari-hari di rumah kami seperti ini. Contoh kasusnya: mandi.

Dilihat dulu apakah si anak sebelumnya udah pernah diajarin atau belum tata cara mandi yang bener hehe. Misal gosok giginya gimana, terus abis itu siram badan, gosok sabunnya gimana. Nyiram badannya gimana, mukanya gimana, nyiram telinga gimana, punggungnya gimana dst.

Kalau memang anaknya udah diajarin sebelumnya gimana mandi yang benar, maka untuk selanjutnya insya Allah gpp terkadang dimandiin lagi atau nanti satu saat diajarin lagi. Apalagi kalo masih baru-baru belajarnya dan usia si anak memang masih layak untuk diajarin.

Baca selengkapnya Antara Membentuk Kepercayaan Diri dan Mendidik Hal Lainnya…Yaitu..

DIY: Membuat Counting Beads, Based on Montessori Method

Emas = > 10, Pink => 3
Emas = > 10, Pink => 3

Alhamdulillah, akhirnya terwujud juga bikin bead bars (manik bersusun) model montessori ini. Walaupun masih terbatas 2 warna hihi. Soalnya pas beli beadsnya belum kepikiran banget buat ngewujudin ini. Padahal pinginnya udah dari zaman Ziyad masih preschool. Lama amat ketundanya haha. Soalnya kalo pas ke toko 96 nyari ko gak ada yang pas. Mau beli beads yang dalam bentuk lingkaran kalung ko jatohnya mahal.

Baca selengkapnya DIY: Membuat Counting Beads, Based on Montessori Method

Tips Melatih Gadis Kecil Kita Berjilbab

Dulu, saat masih gadis, melihat seorang ummahat membawa anaknya yang masih bayi dijilbabi rasanya aneh.

“Kan kasihan.”
“Kan gerah.”
“Kan sumuk.”

Tapi ternyata seiring waktu, akhirnya saya mulai mengerti. Penjagaan sejak dini dari orangtua sangat dibutuhkan. Memakai jilbab, adalah sebuah ujian keimanan bagi seorang wanita. Apalagi di masa kita. Masa dimana setiap jengkal langkah dan pandangan mata adalah  godaan keindahan dunia. Wanita yang pada dasarnya hatinya lemah, tanpa pijakan yang kokoh, akan mudah terombang-ambing.

Ketika akhirnya saya memiliki anak perempuan, alhamdulillah Allah lapangkan hati saya untuk mendidik sejak dini anak untuk berjilbab.  Sejak ia lahir, rasa yang diberikan ketika merawatnya memang berbeda. Akhirnya, ketika saya mencoba memasangkan jilbab kecil kepadanya, ternyata tidak “semenakutkan” yang saya sangka selama ini.

Baca selengkapnya Tips Melatih Gadis Kecil Kita Berjilbab

Ketika Sang Ayah Geram dan Anak Bersikap Acuh

Perilaku orang tua dalam mendidik mencerminkan suatu porsi besar masalah pendidikan anak. Orang tua yang sukses dalam mendidik anak adalah para orang tua yang memperoleh pengalaman mendidik dari anak-anak mereka. Mereka memperolehnya dari anak-anak mereka melalui perkembangan reaksi-reaksi mereka yang mengingatkan agar menahan marah ketika menghadapi perilaku-perlaku buruk anak mereka dan memberinya petunjuk agar berlaku lemah lembut.

Ambillah contoh situasi berikut ini

  • Anak-anak bermain dengan gaduhnya.
  • Ayah mereka menyuruh mereka bermain dengan tenang.
  • Mereka mengacuhkan kata-katanya.
  • Sang Ayah membentak, “Bermainlah dengan tenang atau kalian harus masuk kamar!”
  • Anak-anak menampakkan kepatuhan, “Ya Ayah, kami akan main dengan tenang”, akan tetapi mereka masih saja bermain seperti itu.
  • Sang ayah naik pitam, “Jika kalian tidak tenang juga, ayah hajar kalian!”
  • Anak-anak diam seribu bahasa.

Tetapi, apa yang mereka pelajari? Mereka belajar bahwa ayah mereka sungguh-sungguh hanya ketika mengancam akan memukul.

Dan apa yang dipelajari sang ayah? Ia belajar bahwa anak-anaknya tidak menyimak nasihat; mereka hanya mengerti bahasa “hajar”.

Kedua belah pihak, sang ayah dan anak-anaknya, mempelajari hal yang keliru.

Ambillah contoh lain berikut ini;
Setiap kali Khalid (bocah 5 tahun) pergi bersama ayahnya ke warung sayur, ia meminta sekantong permen. Suatu kali, sang ayah menolak memberinya. Mulailah Khalid mendesak. Sang ayah tetap menolak.

“Tidak, Khalid, ayah tidak akan membelikanmu permen apapun.”

Tak ayal, si bocah mengamuk dan menendang-nendang lantai; mukanya memerah dan tangisnya pecah. Ayahnya mengancam akan memukulnya jika ia tidak berhenti mengamuk dan menangis. Tetapi, Khalid malah menangis semakin keras dan mengejang semakin kencang.

Setiap orang yang ada di tempat itu pun memandangi Khalid dan ayahnya. Akhirnya, sang ayah menyerah dan membelikan permen yang anaknya inginkan.

Nah, apa yang Khalid pelajari dari situasi ini?
Ia benar-benar belajar bahwa ucapan “tidak” sama sekali tidak berarti. Sang ayah telah mengucapkannya lebih dari satu kali, tetapi toh ia tetap membelikan apa yang Khalid inginkan.

Ia juga belajar, apabila menghendaki sesuatu, ia harus mendesak, merengek, menangis dan menendang-nendang lantai; semua perilaku inilah yang membuat sang ayah menyerah dan memenuhi permintannya.

Dan apa yang dipelajari ayahnya?

Ia benar-benar mempelajari bahwa sarana untuk menenangkan Khalid dan cara agar tidak berada dalam posisi sulit di tengah situasi rumit adalah membelikan apa yang Khalid inginkan, apapun itu.

Demikianlah, kebanyakan orang tua berkeyakinan bahwa pasrah dan memenuhi berbagai permintaan anak merupakan satu-satunya sarana untuk memadamkan amarah dan jeritan mereka. Tidak perlu diragukan lagi, ini adalah suatu kesalahan yang memperparah keadaan. Sebab, tatkala kita mengganjar amukan dan rengekan anak dengan hadiah, berarti kita mengajari mereka untuk bertambah marah di masa depan. Akibatnya, perilaku mereka malah memburuk.

 

Sumber: Sentuhan Jiwa Untuk Anak Kita,Dr. Muhammad Muhammad Badri

Siwak For Baby ^^

Sudah baca artikel terbaru di ummiummi? Yuk, baca terus praktekin bagi yang belum mraktekin hihi. Mudah-mudahan dapat pahala. Anaknya siwakan, ibu bapaknya juga dong ya. Kita hidupin sunnah Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam. Di artikel itu dibahas lengkap dari tips penyimpanan plus juga ada tips penggunaan/cara untuk menyiwaki bayi.

Ada videonya juga. Sebenarnya, videonya mo dimozaik di bagian wajah Luma.

Tapi akhirnya ketahuan, kalo mo gimanapun, itu video susah kalo mo dibikin mozaik di bagian wajah. Akhirnya dengan “bismillah”, kita upload video itu. Jangan lupa doakan keberkahan ya, say Masya Allah wa barokallahu fiihaa.

Siwakan for baby ini udah mulai dari pas zamannya Thoriq. Tapi waktu itu belum kepikiran bikin artikel. Pas ngejalanin ini lagi di Luma, baru kepikiran. Mudah-mudahan bermanfaat. Yuk siwakan. Biar dapat ridho dari Allah. Plus sehat bangetttt insya Allah.

Ohya, kalo ada yang mikir, “Kok itu tangan kiri sih”

Anak-anakku semuanya pas bayinya refleknya kiri banget loh. Apalagi Luma.  Alhamdulillah sekarang semuanya tetep pake tangan kanan^^. Kalau Luma masih proses. Tapi alhamdulillah udah mulai terbiasa kanan. Insya Allah kapan-kapan bikin tulisan tentang itu ya.

Jangan Takut Anakku

Jangan takut anakku…

Setan itu lemah
Sama seperti kita yang lemah
Maka mintalah perlindungan kepada yang Maha Kuat…Allah

Jangan takut anakku…
Jika was-was tetap ada dalam hatimu…
Baca saja surat pendek yang telah ibu ajarkan untukmu
Surat An-Naas dan Surat Al-Falaq
Dua surat ini disebut surat Mu’awadzatain
Masih kau ingat isinya bukan?

Kita meminta perlindungan…
kepada Rabb manusia…
Raja Manusia..
Sesembahan manusia
Berlindung dari kejahatan setan…
Berlindung dari keburukan dari kegelapan malam
Berlindung dari tukang sihir
Berlindung dari kejahatan makhluk…baik dari manusia dan jin
Karena kejahatan bukan hanya dari setan wahai anakku..

Jangan takut anakku…
Jadilah manusia pemberani…
Seperti sahabat yang sangat dicintai nabi shallallahu’alaihi wa sallam,
yaitu Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu
Setan akan mencari jalan lain agar tidak bertemu dengan Umar bi Khattab radiallahu ‘anhu

Jangan takut anakku…
Lihatlah Khalid bin Walid
Yang diperintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghancurkan berhala ‘Uzza
Tanpa takut, ia  menusuk dan memusnahkan setan yang berwujud wanita berambut panjang yang bercokol di berhala tersebut…
Betapa gagah dan pemberaninya para sahabat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Jangan takut anakku..
Semoga Allah selalu melindungimu…jangan takut anakku
Karena Ayah dan Ibu..selalu mendoakanmu dengan doa perlindungan
Agar kau terhindar dari setan..
Terhindar dari bahaya binatang buas
dan dari keburukan pandangan mata yang jahat

 

Jangan takut anakku…
insyaAllah tak akan ada yang membahayakanmu…
Jangan lupakan dzikir yang Ayah dan Ibu ajarkan untukmu..
Agar kau baca di pagi dan petang…

Jangan takut anakku…
Semoga Allah melindungimu selalu…

 

cizkah
Artikel: www.ummiummi.com
.

Frequently Asked Question (FAQ) tentang Homeschooling SD

Pertanyaan yang biasa  muncul seputar homeschooling SD adalah: gimana ijazahnya, belajarnya gimana, jadwal belajarnya gimana….dan seterusnya. Di sini aku coba jawab satu persatu versi Ziyad ya dan versi yang aku ketahui ya. Artinya, aku sendiri masih terus belajar tentang homeschooling.

Ijazah

Ijazah untuk homeschooler – jika memang ingin mengambil ijazah – bisa melalui PKBM (pusat kegiatan belajar mengajar). Atau bisa juga ikut ujian di sekolah payung.  Ada juga yang tersedia secara internasional. Tapi aku sendiri masih belum “nyebur” untuk meneliti opsi yang terakhir.

Sebenarnya, dulu aku tahunya kalau orang yang ambil paket ini adalah orang yang putus sekolah atau gak lulus di sekolahnya hehehe. Konotatif banget ya. Tapi insya Allah seiring waktu, jadi bergeser ternyata keberadaan PKBM ini berarti untuk berbagai pihak. Banyak keluarga lain yang juga memilih homeschooling. Dan itu bukan berarti dari keluarga yang tak berpendidikan ataupun tak mampu. Jadi, tak usah khawatir. Insya Allah ijazah ini diterima untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Untuk saat ini, opsi yang kami pilih adalah dengan jalur PKBM. Opsi lain bukannya berarti gak ambil. Bisa jadi berubah dalam perjalanannya.

Baca selengkapnya Frequently Asked Question (FAQ) tentang Homeschooling SD

Proses Thoriq Belajar Menulis (4 tahun)

latihan menulis latin
Salah satu gambar thoriq, terinspirasi game piggy yang merakit-rakit berbagai komponen biar jadi kendaraan. Lihat berbagai garis yang bisa menjadi dasar untuk sebuah huruf 🙂

Pada dasarnya, aku masih menggunakan cara yang sama seperti pas ngajarin Ziyad dulu. Dalam arti, gak banyak materi (formal) yang diajarin. Fokus.

Menulis, adalah sebuah aktifitas yang membutuhkan effort yang cukup besar dari seorang anak. Apalagi di usia balita heheh.

Jadi, sampai saat ini, sebenarnya aku gak pernah “menugaskan” Thoriq untuk belajar menulis.

Model belajar kami di rumah – terutama untuk usia balita –  adalah unschooling. Unschooling itu secara mudah bisa dipahami proses belajar tanpa kurikulum tertentu – yang biasanya ada jadwal terstrukturnya setiap hari – .  Model unschooling, anak dibiarkan explore belajar. Tapi bukannya dibiarkan tanpa aturan dan tanpa arahan atau sampe sama sekali gak ada acara “dibimbing dan diajarkan” :). Aku merasa cocok dengan model ini, karena sejatinya, setiap hal bisa dijadikan pelajaran. Dan kita belajar itu untuk diamalkan dalam kehidupan.

Baca selengkapnya Proses Thoriq Belajar Menulis (4 tahun)

Proses Thoriq Belajar Baca Iqro dan Latin

Proses belajar latin Thoriq memang lebih cepat dari Ziyad. Karena proses belajar Iqro-nya dia juga lebih cepat dari Ziyad. Bukan aku yang nyepetin…tapi dianya alhamdulillah yang lebih mudah. Mungkin juga faktor sering ngelihat flashcard atau poster wkwkwk 😀 (yang ini advertorial banget :D).

Tapi beneran ko. Alhamdulillah karena proses pengenalan perhurufnya udah lancar, jadinya pas proses awal-awal belajar lebih mudah.

Tapi dalam perjalanannya, gak selancar di awal-awal hehe. Karena mungkin kerasa makin susah ya. Kalau misalnya rajin sebenarnya bisa baca latin atau Qur’an dalam 6 bulan. Tapi karena proses belajar itu banyak cobaannya, jadilah sedapat momentnya. Gimanapun kan soalnya anak gak bisa dipaksa ngeluarin huruf yang kita minta hehe.

Kalo Thoriq ini, akhir-akhir ini aku ngerasanya dia mulai ngerasa sulit di belajar iqro. Jadinya kaya beban kalo pas aku bilang baca iqro dulu ya. Biasanya berhasil/mau baca kalo emang dia dah pingin banget nonton. Padahal kalo dijalanin sebenarnya dia bisa-bisa aja kalo baca perhuruf. Akhirnya kemarin aku putusin untuk, “Ya udah Thoriq, kita ulang lagi dari awal ya iqro 5-nya.”

Terus kaya masih berat juga nih ngelihat materi di halaman pertama. Akhirnya aku bilang lagi, “Ah…kita ulang lagi aja dari Iqro 4 ya.”

Baca selengkapnya Proses Thoriq Belajar Baca Iqro dan Latin