Kehidupan

Sejak kejadian Palestina, sepertinya ada cara pandang aku terkait sosial media yang bergeser lagi.

Sebenarnya ini udah yang kesekian kalinya. Tapi, kali ini dibarengi dengan lebih intensifnya logout dari instagram baik karena kejadian Palestina atau karena memang aku yang lagi butuh konsentrasi dengan urusan di dunia nyata (kuliah, kerjaan, dan kehidupan).

Dengan logout (tadinya uninstall malah), aku hanya mengecek sesekali instagram lewat browser dan itu sangat membantu untuk membatasi diri insya Allah. Karena menu dan fiturnya jadi lebih terbatas.

Ada sebuah kesimpulan kecil yang lebih kuat dan lebih aku ingin ambil aksinya dibandingkan aku ceritakan detilnya di sini.

Baca selengkapnya Kehidupan

Syair Saat Perang Khandaq

Video ini, aku dapati dari salah satunya channel tentang syair berbahasa Arab.

Judulnya dibilang Nasheed Sahaba. Pas Abang cek, ternyata syair yang ada di senandung ini ada bagian dari potongan dari syair yang dibaca Rasulullah ﷺ saat perang Khandaq.

Waktu tau isi dan makna syairnya, dengernya jadi ngebayangin pas kejadian saat Rasulullah ﷺ dan para sahabat gali parit hampir 5km sedalam >3m.

Kebayaaang perjuangannya ga pakai traktor atau apapun.

https://youtube.com/shorts/ysJM92BiObU?si=7FeVWOxNKkIxfMZ1

Sebenarnya buat ngadepin siapa di perang Khandaq?



Siapa lagi kalau bukan Yahudi yang ngajakin kaum musyrikin Quraisy dan kabilah-kabilah Arab buat nyerang Madinah (kaya familiar banget kan ya?).

Gimana Yahudi selalluuu bakal ngajak-ngajak sekutu buat ngancurin Islam.

Kisah perang ini akan berlanjut ke kisah berkaitan sama Yahudi dari Bani Quraizhah yang berada di kota Madinah.

Karena laki-laki dikerahkan untuk perang Khandaq, Rasulullah ﷺ menempatkan anak-anak dan perempuan di suatu benteng.

Ada Yahudi Bani Quraizhah yang udah mulai ngeliat-liat benteng anak-anak dan perempuan. Alhamdulillah si Y4hud1 dibunuh sama Shofiyah bintu Abdul Muththalib dan akhirnya mereka ngira benteng anak dan perempuan ini dijaga ketat.

Panjaaang ceritanya…emang mereka ngincernya tuh dari dulu ke anak-anak dan perempuan kan :(.

Coba baca bab dua perang ini yah. Berharap bisa dijalanin yang terjadi di perang Bani Quraizhah ya Allah.

Baca selengkapnya Syair Saat Perang Khandaq

Palestina #2

Sebagai pengingat…bahwa kepunyaan Allah-lah yang ada di langit dan di bumi.

Allah menetapkan sifat rahmah bagi Diri-Nya.
Allah juga menetapkan sifat hakiim bagi Diri-Nya.

Terus berprasangka baik kepada Allah.

Jangan malah terus berprasangka buruk bahkan berani bilang Allah tega, Allah diam aja, Allah apa ga cape ngeliat semua ini. Na’udzubillah min dzalik.

https://youtube.com/shorts/emBQi4V_mSY?si=A3QeQkqN8_mqPrpJ

Mari kita ingat lagi bagaimana Fir’aun membunuhi anak bayi yang baru lahir supaya kekuasaannya tetap bertahan.

Ternyata bayi yang diincar dan ditakuti Fir’aun —yaitu nabi Musa ‘alaihissalam— malah dia sendiri yang merawat melalui wasilah istrinya yang shalihah.

Manusia itu akal dan logikanya terbatas.
Maka perbanyak doa agar Allah memberi pertolongan kepada rakyat Palestina.

Doa bukan senjata terakhir.
Bahkan doa adalah senjata dari awal dan yang seterusnya dipanjatkan.

Mari perkuat iman dan takwa. Perbanyak ilmu, agar saat Dajjal keluar dimana Yahudi yang jadi pasukannya; anak keturunan kita termasuk yang kuat imannya.

Palestina #1

Akhir-akhir ini, merasa perlu untuk menyendiri dan banyak merenung lagi.

Terus terang, hatiku rasanya luluh lantak. Serba salah dan merasa bersalah. Gak tega. Gak bisa berpikir untuk gimana baiknya untuk menepis rasa sedih ini.

Waktu melihat salah satu video rekaman dari Palestina, seorang ibu yang sebenarnya juga terluka menghampiri jenazah anak perempuannya, kemudian memanggil “Habibati…habibati…”

Kemudian meminta agar ia bisa memeluk anak perempuannya yang telah meninggal itu, aku rasanya gak ingin melihat video itu lagi.

Kenyataannya, aku melihat lagi.

Dengan seksama.

Melihat dari ujung rambut, luka-luka, sampai ujung kaki jenazah sang anak.
Merasakan kepedihan sang ibu yang memeluk anaknya.

Hatiku terganggu. Tapi gak berdaya.

Baca selengkapnya Palestina #1

Narasi #1

Suatu hari, ada seorang ibu A berusia ±40 yang baru keluar dari rumah hendak ke warung. Suaminya juga sedang berada di luar rumah, sudah siap di atas motor, menunggu anaknya yang berusia 16 yang akan berangkat kuliah.

Ibu A sempat merekam kejadian tersebut karena itu adalah momen pertama kali anaknya berangkat kuliah. Sebuah momen yang membahagiakan.

Seorang perempuan muda yang berusia ±25 melewati keluarga tersebut.

Ternyata Ibu A bertemu dengan perempuan muda di warung yang tidak berada jauh dari situ. Sang perempuan membuka percakapan.

“Wah, ternyata trend celana pensil dipakai mamas.”

Ibu A yang tidak mengenal sosok perempuan muda ini berusaha menjelaskan dengan ramah. Karena merasa pembicaraan itu mengarah ke celana yang dipakai anaknya, ibu A menjelaskan kalau itu bukan celana pensil. Tapi celana biasa, celana blackhawk yang umum dipakai orang.

Ibu A kira hanya cukup sampai di situ.

Ternyata perempuan muda melanjutkan percakapan tersebut,

“Oh…Karena kurang suka lihat celana ketat pada lelaki.. kasihan ke testisnya. Katanya ngaruh ke kesuburan.”

Mendengar itu, ibu A cukup terkejut namun berusaha bersikap tenang. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Setelah diam sejenak, ibu A menjawab singkat untuk menghentikan percakapan yang terasa kurang menyenangkan ini, “Oo semoga Allah mudahkan supaya kamu bisa mendapatkan yang kamu sukai.”

Sang perempuan ternyata masih menjawab sambil tertawa, “Saya sudah punya suami, Bu. Maaf.”

Saat pulang kembali ke rumah, ibu A berusaha merenung, melihat ke hpnya. Melihat kemungkinan celana tersebut menjadi celana pensil.”

Saat melihat rekaman yang ia buat saat suami dan anaknya akan berangkat, semakin terkejutlah dia, karena sebenarnya sepertinya yang dimaksud dengan “Mamas” adalah celana suami ya.

Astaghfirullah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Padahal celana suaminya justru dari sebuah merk yang insyaAllah memperhatikan sunnah dalam berpakaian.

Semoga Allah memperbaiki adab dan akhlak perempuan tersebut. Semoga Allah memudahkannya menjaga pandangannya.

Ibu A berdoa semoga tidak dipertemukan lagi dengan perempuan muda tersebut.

Selesai narasi.

Batasan Celana Ketat

Sekitar tahun 2005-2007 sering terjadi ribut-ribut manhaj salah satunya karena masalah celana.
Abang mengingat salah satu yang pernah disampaikan ust Zaen, bahwa batasan celana ketat itu ketika dipakai posisi normal.
Adapun saat posisi rukuk, sujud (apalagi lagi mengendarai motor), bukan jadi ukuran.
Sarung yang super longgar aja, kalau lagi rukuk/sujud bisa jadi ketat :).
“Makanya Abang suka ngelarang Adek kalau di tempat umum posisinya yang jadi terlihat lekuk tubuhnya.”
Misal posisi mengambil barang di swalayan jangan rukuk, tapi jongkok aja.

cizkah

12 September 2023

Masih berkaitan dengan hal ini, Ketika Engkau Merasa Tidak Sopan

Pohon Bidara dan Haid

Punya pohon bidara sejak Corona kemarin. Tapi suka lupa kalau pas mau mandi haid.

Akhirnya setahun terakhir pas mulai ada matahari yang cukup panjang jadinya kering terus mati.

Mungkin ada yang ga nyadar, tiap tahun 2022 itu sepanjang tahun gelaaap, menduuung. Aku udah sampai di tahap ga semangat kerja pas di bagian teras gelap terus. Akhirnya alhamdulillah mutusin beli lampu meja, bener-bener emang wujud nyata dari “jangan cela kegelapan tapi nyalakan lampunya” hehe.

Tapi waktu itu, aku membutuhkan peyakinan dari Abang untuk “Gpp beli lampu yang aku suka untuk di meja kerja, karena itu lebih berharga daripada nilai harga lampu itu sendiri –yang menurut aku cukup mahal–.

Alhamdulillah nurut Abang dan happy.

Balik lagi ke masalah Bidara, tahun 2022 yang dominan mendung dan hujan dengan sesekali panas, bidara-nya masih bertahan hidup.

Baca selengkapnya Pohon Bidara dan Haid

Angka 1-100, Outlined Siap Print di Kertas Berwarna (Potong per Angka)

File ini dibuat saat hamil kembar dan diupload di lumalumi.com. Jadi, bahasa awal yang dipakai memang umum, bukan seperti tulisan di cizkah.com ^^. Aku salah hitung berarti pas share di story hari ini, ternyata 7 tahun yang lalu. Karena ingatnya saat hamil kembar, sedangkan kembar udah mau 7 tahun. Berarti mundur lagi setahun. Ternyata hamil dan lahirnya kembar terjadi di tahun yang sama tahun 2016.

angka 1-100 cizkah
Ini salah hitung, harusnya 7 tahun yang lalu

File ini dapat di print di kertas HVS berwarna.
Sengaja aku pisahkan antara bilangan ganjil dan genap untuk memudahkan orang tua yang ingin memprintnya di kertas berbeda warna seperti yang kami lakukan.

File ini berisi:

Angka genap 1-100.

ganjil-outline 1-100

Angka ganjil 1-100.

genap-outline 1-100

Setelah diprint, orangtua/anak dapat menggunting angka-angka ini. Agar lebih efektif, berikut tips yang kami lakukan saat memotong hasil print angka 1-100 ini. Sebenarnya angka ini tidak banyak, karena total hanya 4 halaman :). Jadi, tetap semangat dari awal ya!

Baca selengkapnya Angka 1-100, Outlined Siap Print di Kertas Berwarna (Potong per Angka)

Jus Wortel

Sabtu kemarin jadwal ke dokter gigi, dan lagi dibahas tentang gigi bagian geraham yang masih agak goyang. Alhamdulillah yang depan udah bagus .

Keinget lagi tujuan beli slow juicer 3 th lalu kan utamanya untuk kesehatan gusi gigi ini.

Akhirnya meniatkan ngejus wortel lagi tapi nunggu Thoriq pulang. Karena ngejus ini butuh effort nyucinya biar sekalian dan biar Thoriq juga dapat manfaatnya.





Pas masa corona, aku pernah sakit gigi parah (yang waktu itu sakitnya bukan karena gigi bolong, malah secara dilihat biasa ya ga ada yang bolong).

Baca selengkapnya Jus Wortel

Protes atas Kemudahan Orang Lain

Kalau melihat judulnya, semua orang udah bakal tau bahwa ini adalah hal yang kurang bagus.

Kalau dibalik dan dikaitkan dengan akhlak baik adalah:

  • Ikut bahagia dengan kemudahan atau kenikmatan yang orang lain dapatkan.
  • Kalau bisa ada yang bisa dibantu dari kesulitan orang lain, maka dibantu.
  • Kalau gak bisa bantu langsung, bantu dengan mendoakan. Ini mesti dibiasakan, bahkan ke orang yang gak kita kenal. Mendengar kesulitan yang sesama muslim lainnya miliki, kita segera mendoakan mereka dan kemudian berlindung agar gak ditimpa musibah yang sama.

Kenyataannya, praktek akhlak itu GAK SEMUDAH ketika membaca pesan-pesan untuk berakhlak baik seperti di atas.

Kejadiannya, akhirnya malah seperti di judul: PROTES dan gak seneng atas kemudahan orang lain :).

Contohnya yang paling gampang dalam masalah harta. Ada orang lain bisa dengan mudah bangun rumah, punya mobil. Mulai timbul rasa gak seneng. Iya, ini sebenarnya bibit-bibit iri atau bahkan memang iri itu sendiri. Kalau sudah berwujud, iri itu seperti protes; protes karena orang itu bisa punya ini itu, kenapa dirinya gak punya.

Selain protes atas harta yang dilimpahkan ke orang lain, ada juga bentuk protes lainnya.

Yang pernah aku ketahui di kehidupan nyataku, itu cukup mengejutkan. Bahkan untuk hal yang itu gak menyangkut harta atau keberhasilan yang gimana-gimana.

Baca selengkapnya Protes atas Kemudahan Orang Lain

Ujian Bertubi-Tubi; Nasehat Berkali-Kali

Bisa dibilang, kesedihan-kesedihan kemarin, itu sebenarnya karena hal yang berbeda-beda. Berkecamuk. Yang sulit dijelaskan dan sepertinya gak tau apakah bisa aku ceritakan. Tapi, ada beberapa hal yang paling bikin sedih yang itu berkisar pada Ziyad.

Sungguh, dia sakit cacar ini, yang terbaik dari Allah. Banyak hal, seperti jadi terbuka dan lebih jelas lagi setelah dia lebih enakan dan tinggal menunggu cacarnya kering (yang sampai gak tahap menularkan orang lain). Waktu libur Ramadhan ini, hal ini sama sekali gak terlihat.

Puncaknya adalah malam ini.

Baca selengkapnya Ujian Bertubi-Tubi; Nasehat Berkali-Kali

Al-Qur’an dan Ramadhan 2023

Awal Ramadhan (28 Maret 2023)

Ada waktu yang diluangkan untuk mereka.Ga usah khawatir jatah waktu buat tilawah kita sendiri berkurang insya Allah.

Karena yang kita harapkan adalah keberkahan dari setiap aktivitas kita, maka lebih-lebih lagi kalau yang kita luangkan waktu buat mengajarkan Al-Qur’an.

Ke satu anak? Insya Allah lebih-lebih lagi bisa diluangkan ya.

Ke dua anak?
Gpp, semoga Allah mudahkan kita di urusan lainnya.

Tiga anak?
Alhamdulillah, sebenarnya ini sebentar ko.
Ga sampai 1 jam insya Allah.

Baca selengkapnya Al-Qur’an dan Ramadhan 2023

Bukan Karena Dirimu Sendiri

Selama 13 tahun tinggal di kontrakan di kampung ini, ada salah satu kegiatan rutin pertemuan ibu-ibu RT untuk membahas berbagai hal. Kegiatan ini dilakukan bergiliran di beberapa rumah.

Bulan ini, giliran kelompok aku dan diadakan di rumah yang dekat sekali dengan kontrakan aku. Karena sistem pertemuan yang diubah sejak tahun 2022, yang datang hanya pengurus dan kelompok yang bertugas.

Secara gak sengaja, ternyata saat pertemuan ini, aku duduk dekat dengan pemilik rumah. Seorang ibu muda yang ketika aku duduk dekat dengannya sedang menghibur anaknya yang masih kecil.

Pada dasarnya, aku sudah mengenal sebagian besar ibu-ibu yang hadir. Sebagian besar adalah ibu-ibu yang sudah berusia dan penduduk asli kampung ini.

Tapi justru dengan pemilik rumah, baru kali ini aku bertemu dan tahu. Ini karena rumah tersebut termasuk baru ada beberapa tahun terakhir dan sistem pertemuan sebelumnya, biasanya satu RT berkumpul, jadi gak bisa terlalu intensif saing mengenal bahkan sesama anggota kelompok.

Setelah memperhatikan informasi dan pengumuman yang disampaikan bu Sita -bu RT- dan bu Heni – istri dari pengurus masjid, sampailah ke sesi pengumuman arisan bagi yang ikut arisan. Karena aku gak ikutan dan sudah ke acara akhir, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk kenalan dengan pemilik rumah dan menanyakan tentang anaknya yang ternyata baru berusia 18 bulan.

Awalnya, mba Ica yang ternyata dosen farmasi di UII ini memanggil aku bu. Mungkin karena melihat aku bawa 3 anak. Percakapan dari mba Ica pun dibuka dengan menanyakan si kembar.

Akhirnya sampai ke bagian aku bilang, “Panggil mba Siska aja :)….Mba Ica usianya berapa?”

“28,” jawabnya.

“Oh… ” aku lagi tersenyum dan otak aku reflek menghitung jarak usia.

Aku yang lagi terdiam sejenam, mendapatkan pertanyaan balik, “Mba Siska berapa usianya?”

“Saya 41…”

Mba Ica langsung kaget, “Masa sih, Mba?”

Baca selengkapnya Bukan Karena Dirimu Sendiri

Damai

Lagi banyak merenung lagi.

Kemarin lihat-lihat google photos karena lagi ada yang dicari di sana.

Tapi aku jadi melihat satu sisi gimana perjalanan kami sebagai sebuah keluarga. Dari anak-anak kecil. Rumah yang berantakan dan hal-hal “biasa” yang pas dilihat itu semuanya bisa diingat berbagai perjuangan dan kenangan.

Kehidupan tanpa didonimasi social media – yang waktu dulu baru ada facebook, dan cuma sebentar akhirnya aku tinggalkan karena sangat merasa gak mendapat manfaat dari sana -.

Sampai aku berusaha ingat, kapan sih mulai ada story di instagram.

Yang jelas, waktu aku melalui perjuangan melahirkan kembar, bagaimana berjuang di ruang bayi untuk menyusui mereka yang masih di inkubator. Itu ga ada di story.

Yang kalau dipikir-pikir, mungkin kalau aku udah “rajin” bikin story kaya 3 tahun terakhir sejak pandemi, aku bakal bikin story di sana. Karena di sana ,rasanya akan ada banyak cerita yang dibagikan.

Tapi, kalau dipikir, pada saat itu aku gak bikin story, aku malah bersyukur. Aku bisa fokus pada apa yang aku lalui pada saat itu.

Mungkin kalau aku bikin story, aku akan mendapat teman ngobrol atau ucapan-ucapan yang mensupport atau bahkan pertanyaan-pertanyaan terkait kembar.

Tapi sebenarnya yang paling aku butuhkan adalah pertolongan Allah, kemudian fokus dengan para bayi dan istirahat yang cukup.

Ini cuma salah satu kejadian yang belum pernah aku bagikan baik di tulisan maupun di story.

Yang aku lihat dan aku simpulkan, kehidupan pada saat itu…damai insya Allah.

Aku jadi merenungi apa yang telah aku lalui selama tiga tahun terakhir ini. Apa yang harus aku perbaiki dan aku perlu kelola lagi. Walau rasanya sebenarnya aku sudah sangat berusaha mengelolanya insya Allah.

Semoga Allah memberi petunjuk ke hatiku.

cizkah
13 Januari 2023

Jika Engkau Merasa Kurang Sopan…

Baru-baru ini, ada satu kejadian yang cukup menghentakkan hati.

Waktu itu, aku post foto Luma yang sedang membantu mengolah sayuran.
Sedari kecil, Luma aku biasakan memakai celana dalaman. Walaupun dia pakai rok panjang. Yang pembiasaan ini pun aku tuangkan dalam desain-desain poster lumalumi.

Celana dalaman yang berbahan katun, cenderung mudah robek karena posisi duduk dan aktivitas yang bermacam-macam. Bukannya gak dijahit. Sudah dijahit berkali-kali tetap sama karena memang dasar bahannya seperti itu.

Tampaklah di foto tersebut, celana Luma yang bolong. Alhamduilllah, aurat Luma gak kelihatan.

Yang mengejutkan, ada yang dm dan memberi pesan dengan diakhiri tiga tanda seru. Memberitahu atau sekaligus perintah supaya celananya disensor.

Waktu itu aku jawab jazakillahu khayron. Sekaligus menyatakan “kekagetan” aku karena kalimat yang dia nyatakan pakai tanda seru.

“Oh iya..hehe.. jazakillahu khayron..kaget pakai tanda seru”

Sebenarnya, kalimat ini sekaligus supaya bisa dijadikan untuk berpikir. Tapi ternyata jawaban berikutnya hanya berupa cengiran,

“:D”

Nas-alullahal ‘afiyah.

Ya Allah berikanlah aku dan Abang, serta anak-anakku dan keturunanku akhlak dan adab yang baik.

Kejadian tersebut, jadi mengingatkan aku satu bagian di buku Lathoif. Judul bagian itu adalah “Adab”.

Isinya,

إِذَا شَعَرْتَ أَنَّكَ قَلِيلُ اْلأَدَبِ
فَأَنْتَ مُؤَدِّبٌ لِأَنَّ قَلِيلِى اْلأَدَبِ لَا يَشْعُرُونَ

“Jika engkau merasa kurang sopan, berarti kamu sopan. Sebab orang-orang yang tak punya sopan, tak merasa dirinya tak sopan.” (Lathoif, hal 162)

Yang Baik Insya Allah

Aku juga jadi ingat satu kejadian akhlak yang baik dari seseorang saat mengingatkan. Waktu itu, aku sudah posting tentang perjalanan Ziyad menghafal Al-Qur’an.

Setelah dua hari-an, ada yang memberi pesan, memberi tahu dengan sangat sopan sekali masya Allah, bahwa sepertinya ada yang perlu diedit di video tersebut. Sudah dengan sopan memberitahu, dia pun masih merasa gak enak banget memberitahu aku dan minta maaf. Padahal gak ada yang perlu dimintamaafkan.

Ketika aku perlihatkan pesan tersebut ke Abang, bahkan Abang sampai juga memuji bahwa caranya bagus masya Allah.

Alhamdulillah, video tersebut akhirnya aku edit dan publish ulang.

Sepantaran

Salah satu yang jadi masalah di era sekarang, orang menganggap semua yang ditemui (apalagi di social media) sepantaran dengannya atau bahkan lebih rendah darinya.

Bayangkan orang zaman dulu. Semisal ketemu ibu-ibu, gak mungkin ngomong gak sopan apalagi dengan nada keras dan kalimat yang kurang sopan.

Waktu Ziyad lagi libur semester kemarin, ibu dari anak susuanku, Bu Erlina, menghubungi aku untuk membicarakan masalah mencari jodoh untuk anak pertamanya. Ziyad terheran-heran karena aku memanggil dengan panggilan “Bu.” Mungkin menurut dia, bedanya gak terlalu jauh, jadi aku bisa memanggil “Mba”.

Waktu aku menyusui Sofia, usiaku 30 tahun dan bu Erlina 40 tahun. Kami kenalan online, dan sejak awal, aku sudah memposisikan beliau sebagai orang yang dihormati. Ini cuma contoh aja.

Ini beda usianya 10 tahun.

Makanya, waktu sepupu Abang yang bedanya 17 tahun dengan aku, kerja di rumah, ada hal-hal terkait adab yang perlu diajarkan. Yang ini ternyata gak mudah.

Terutama lagi karena perawakan aku yang mungkin “gak terlalu ibu-ibu”.

Aku sampai harus menyampaikan, “Coba H, bayangin kalau ketemu sama ibunya Fulan (temannya Ziyad yang dia udah pernah lihat). Pasti sikap H akan beda kan. Karena tahu beliau sudah berumur.”

Atau juga sikap ke Abang yang perawakannya “gak terlalu bapak-bapak”. Biar paham sampai aku harus analogikan juga dengan sosok lain yang bisa dia bayangkan.

“Coba kalau lagi nengok N (adiknya). Ada sandal ustadz J di luar rumah. Pantas gak kalau kalian pakai? Gak bilang-bilang lagi.”

Yang ketemu langsung aja bisa bersikap kurang sesuai adab, apalagi di dunia maya yang ngetik tinggal ngetik. Semua dianggap sepantaran atau bahkan lebih rendah darinya.

Kata “tolong” sering diajarkan orang tua, tapi seringkali aku dapati orang dewasa pun melupakan kata ini.

Pernah ada orang yang mengambil poster untuk dijual, bolak-balik bikin janji mau ambil posternya. Pada akhirnya, dia ga bisa memastikan jam untuk ngambil dan melontarkan kalimat, “Nanti taruh di depan aja ya mba!”


Catatan Buatku

Akan lebih baik kalau dari awal, kita sudah menjaga adab tutur kata, walau dengan yang sepantaran sekalipun.

Pun jangan bersikap sekedar karena melihat fisiknya atau “kesan” yang tampak di benak kita (karena hanya menangkap dari kesan di dunia maya).

Kurangi pakai kata-kata yang menunjukkan kekurangsopanan. Ini berlaku umum ke semua orang. Ke penjual dagangan, ke tukang parkir, penjahit permak dekat rumah, ke anak-anak muda di sekitar kita.

Salah satu sikap yang perlu ditanamkan untuk bisa beradab dan berakhlak baik adalah sikap rendah hati. Dengan rendah hati, kita berinteraksi dengan hati-hati. Ngga menganggap orang lain menjadi lebih rendah atau sosok yang gpp kalau diremehkan.

Semoga Allah memberikan kita akhlak dan adab yang mulia.
.

Cizkah
Jogja 1 Januari 2023