Ular dan Kayu Bakar

Sore ini, anak-anak masuk ke rumah setelah bermain di halaman.

Di seberang jalan setapak di depan rumah kami, ada satu kuburan kecil yang sepertinya salah satu leluhur di kampung sini. Kampung ini terdiri dari keluarga besar yang beranak keturunan di sini. Sisanya adalah para kontraktor (orang-orang yang mengontrak rumah) seperti kami.

Luma bilang, Kholid mendengar suara mendesis seperti ular di tumpukan kayu.

Aku pikir, yang dimaksud tumpukan kayu jati belanda yang ada di sisi pintu depan. Aku perjelas lagi,

“Tumpukan kayu yang mana?”

Baca selengkapnya Ular dan Kayu Bakar

Jika Engkau Merasa Kurang Sopan…

Baru-baru ini, ada satu kejadian yang cukup menghentakkan hati.

Waktu itu, aku post foto Luma yang sedang membantu mengolah sayuran.
Sedari kecil, Luma aku biasakan memakai celana dalaman. Walaupun dia pakai rok panjang. Yang pembiasaan ini pun aku tuangkan dalam desain-desain poster lumalumi.

Celana dalaman yang berbahan katun, cenderung mudah robek karena posisi duduk dan aktivitas yang bermacam-macam. Bukannya gak dijahit. Sudah dijahit berkali-kali tetap sama karena memang dasar bahannya seperti itu.

Tampaklah di foto tersebut, celana Luma yang bolong. Alhamduilllah, aurat Luma gak kelihatan.

Yang mengejutkan, ada yang dm dan memberi pesan dengan diakhiri tiga tanda seru. Memberitahu atau sekaligus perintah supaya celananya disensor.

Waktu itu aku jawab jazakillahu khayron. Sekaligus menyatakan “kekagetan” aku karena kalimat yang dia nyatakan pakai tanda seru.

“Oh iya..hehe.. jazakillahu khayron..kaget pakai tanda seru”

Sebenarnya, kalimat ini sekaligus supaya bisa dijadikan untuk berpikir. Tapi ternyata jawaban berikutnya hanya berupa cengiran,

“:D”

Nas-alullahal ‘afiyah.

Ya Allah berikanlah aku dan Abang, serta anak-anakku dan keturunanku akhlak dan adab yang baik.

Kejadian tersebut, jadi mengingatkan aku satu bagian di buku Lathoif. Judul bagian itu adalah “Adab”.

Isinya,

إِذَا شَعَرْتَ أَنَّكَ قَلِيلُ اْلأَدَبِ
فَأَنْتَ مُؤَدِّبٌ لِأَنَّ قَلِيلِى اْلأَدَبِ لَا يَشْعُرُونَ

“Jika engkau merasa kurang sopan, berarti kamu sopan. Sebab orang-orang yang tak punya sopan, tak merasa dirinya tak sopan.” (Lathoif, hal 162)

Yang Baik Insya Allah

Aku juga jadi ingat satu kejadian akhlak yang baik dari seseorang saat mengingatkan. Waktu itu, aku sudah posting tentang perjalanan Ziyad menghafal Al-Qur’an.

Setelah dua hari-an, ada yang memberi pesan, memberi tahu dengan sangat sopan sekali masya Allah, bahwa sepertinya ada yang perlu diedit di video tersebut. Sudah dengan sopan memberitahu, dia pun masih merasa gak enak banget memberitahu aku dan minta maaf. Padahal gak ada yang perlu dimintamaafkan.

Ketika aku perlihatkan pesan tersebut ke Abang, bahkan Abang sampai juga memuji bahwa caranya bagus masya Allah.

Alhamdulillah, video tersebut akhirnya aku edit dan publish ulang.

Sepantaran

Salah satu yang jadi masalah di era sekarang, orang menganggap semua yang ditemui (apalagi di social media) sepantaran dengannya atau bahkan lebih rendah darinya.

Bayangkan orang zaman dulu. Semisal ketemu ibu-ibu, gak mungkin ngomong gak sopan apalagi dengan nada keras dan kalimat yang kurang sopan.

Waktu Ziyad lagi libur semester kemarin, ibu dari anak susuanku, Bu Erlina, menghubungi aku untuk membicarakan masalah mencari jodoh untuk anak pertamanya. Ziyad terheran-heran karena aku memanggil dengan panggilan “Bu.” Mungkin menurut dia, bedanya gak terlalu jauh, jadi aku bisa memanggil “Mba”.

Waktu aku menyusui Sofia, usiaku 30 tahun dan bu Erlina 40 tahun. Kami kenalan online, dan sejak awal, aku sudah memposisikan beliau sebagai orang yang dihormati. Ini cuma contoh aja.

Ini beda usianya 10 tahun.

Makanya, waktu sepupu Abang yang bedanya 17 tahun dengan aku, kerja di rumah, ada hal-hal terkait adab yang perlu diajarkan. Yang ini ternyata gak mudah.

Terutama lagi karena perawakan aku yang mungkin “gak terlalu ibu-ibu”.

Aku sampai harus menyampaikan, “Coba H, bayangin kalau ketemu sama ibunya Fulan (temannya Ziyad yang dia udah pernah lihat). Pasti sikap H akan beda kan. Karena tahu beliau sudah berumur.”

Atau juga sikap ke Abang yang perawakannya “gak terlalu bapak-bapak”. Biar paham sampai aku harus analogikan juga dengan sosok lain yang bisa dia bayangkan.

“Coba kalau lagi nengok N (adiknya). Ada sandal ustadz J di luar rumah. Pantas gak kalau kalian pakai? Gak bilang-bilang lagi.”

Yang ketemu langsung aja bisa bersikap kurang sesuai adab, apalagi di dunia maya yang ngetik tinggal ngetik. Semua dianggap sepantaran atau bahkan lebih rendah darinya.

Kata “tolong” sering diajarkan orang tua, tapi seringkali aku dapati orang dewasa pun melupakan kata ini.

Pernah ada orang yang mengambil poster untuk dijual, bolak-balik bikin janji mau ambil posternya. Pada akhirnya, dia ga bisa memastikan jam untuk ngambil dan melontarkan kalimat, “Nanti taruh di depan aja ya mba!”


Catatan Buatku

Akan lebih baik kalau dari awal, kita sudah menjaga adab tutur kata, walau dengan yang sepantaran sekalipun.

Pun jangan bersikap sekedar karena melihat fisiknya atau “kesan” yang tampak di benak kita (karena hanya menangkap dari kesan di dunia maya).

Kurangi pakai kata-kata yang menunjukkan kekurangsopanan. Ini berlaku umum ke semua orang. Ke penjual dagangan, ke tukang parkir, penjahit permak dekat rumah, ke anak-anak muda di sekitar kita.

Salah satu sikap yang perlu ditanamkan untuk bisa beradab dan berakhlak baik adalah sikap rendah hati. Dengan rendah hati, kita berinteraksi dengan hati-hati. Ngga menganggap orang lain menjadi lebih rendah atau sosok yang gpp kalau diremehkan.

Semoga Allah memberikan kita akhlak dan adab yang mulia.
.

Cizkah
Jogja 1 Januari 2023



Dari Kompos ke Pemuda

Kompos aku, bahannya dari sampah rumah tangga
(kulit buah, sisa sayuran ga dimasak, tisu bekas pilek, kulit-kulit apa aja) + daun kering. Untuk sampah basah dari wastafel atau sisa makanan, diberikan ke ayam.

Dulu awal ngompost, ga macem-macem ko.
Langsung aja pakai tanah dari halaman, isi sampah organik + daun kering (mesti balance biar ga asem/bau busuk).

Tetep berhasil insya Allah.
Konsep sederhananya kan, ini sampah organik yang kalau di tanah bakal hancur juga.

Baca selengkapnya Dari Kompos ke Pemuda

Kembar Mulai Sholat di Masjid

Waktu Ziyad dan Thoriq baru masuk pondok, aku sempat langsung tersadar kalau untuk selanjutnya, Abang bakal sendirian saat pergi ke masjid.

Buat yang udah punya anak yang biasa bareng berangkat ke masjid, mesti tau gimana terkadang persiapan ke sholat tuh mesti diatur supaya kamar mandinya bisa dipakai bergantian.

Ada momen berangkat bareng ke masjid dan pulang bareng dari masjid.

Aku pikir, Abang bakal mendapati momen itu bersama kembar, nanti ketika mereka usia 7 tahun insya Allah.

Kembar baru masuk usia 6 tahun Oktober 2022 ini.

Aku juga mengira, karena akan ada jeda yang cukup panjang sampai kembar usia 7 tahun, Abang mungkin butuh adaptasinya lebih-lebih lagi, karena mungkin udah lupa rasanya berangkat sholat yang diiringi harus mengingatkan anak-anaknya yang masih belajar sholat untuk persiapan. Apalagi ini yang perlu dididik dan dibiasakan 2 orang anak kecil.

Itu logika aku dan perkiraan aku.

Baca selengkapnya Kembar Mulai Sholat di Masjid

Futur

Kita perlu tahu tentang SYIRIK agar kita dapat terhindar dari dosa yang Allah tidak akan mengampuni kecuali orang tersebut bertaubat.

Kita juga perlu tahu tentang FUTUR, supaya kita tahu, setan akan berusaha dengan cara yang sangat lembut menjauhkan kita dari jalan kebenaran yang kita tempuh.

Perlahan-lahan…tanpa disadari.

Dengan tahu, insyaAllah kita akan SANGAT berhati-hati dengan segala hal, kegiatan, ucapan, pertemanan yang bisa jadi menggelincirkan.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا

Ya Allah, janganlah Engkau beri musibah pada agama kami.

وَ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمّنَا

Jangan pula Engkau jadikan dunia obsesi terbesar kami.

Aamiin

syirik dan futur

cizkah
Jogja, 3 Desember 2022

Santai?

Pertanyaan Luma malam ini.

“Mi, Ummi ko gak kaya keluarga lain, Mi. Nonton tv sambil santai-santai?”

Aku sama Abang langsung ketawa.

Aku lagi “belepotan” bawa laptop, buku, tablet, lampu duduk, ke area ruang tengah dimana kasur buat tidur anak-anak dan aku berada. Aku lagi mau ngerjain sesuatu dekat kembar. Maksudnya biar mereka tetap ngerasa dikelonin, hehe.

Baca selengkapnya Santai?

Momen Perbaikan Hafalan ; “Berkorban Waktu”

Ini adalah salah satu momen perbaikan hafalan saat anak-anak dalam proses muroja’ah.

Kemarin, nyimak kembar sampai At-Takwir. Udah dikasih tau bolak-balik, ternyata tetep salah terus urutannya. Okee, stop dulu kalau gitu.

Langsung fokus keduanya harus di samping aku.
Jelasin dulu per bagian per ayat.

Dengerin bacaan beberapa syaikh yang mereka suka.

Baca selengkapnya Momen Perbaikan Hafalan ; “Berkorban Waktu”

Blush Off

Kemarin siang, aku lagi siap-siap ke dokter gigi dan lagi pakai bedak tipis.

Ga pakai pelembab apa-apa karena emang lagi abis.

Luma yang lihat nanya, “Ummi ko pakai bedak?”

“Iya. Kan tiap hari juga biasanya pakai.”

Masih nanya lagi, “Kan, Ummi mau ke dokter gigi?”

Maksudnya, biasanya aku pakai kan cuma di rumah aja gitu :).



Tapi aku udah tau arah pertanyaannya.
Jadi aku jawab lengkap sambil nerusin pakai blush on tipis.

“Iya, Ummi pakai biar ga kelihatan kusem lesu. Kan ketemunya nanti dokter gigi. Bukan Ummi dandan terus sampai luar di buka terus dilihat laki-laki.”

Terus aku juga keingat kejadian bulan Agustus yang lalu.

Luma dan anak-anak ikut aku ke pertemuan ibu-ibu RT. Sampai halaman, aku baru nyadar kalau Luma pakai blush on.

Waktu itu, aku langsung nasehatin supaya ga pakai blush on ketika keluar rumah. Apalagi Luma masih anak-anak.

Baca selengkapnya Blush Off

Hafalan Luma dan Kembar

Beberapa waktu yang lalu, ada yang mengomentari salah satu story yang aku buat di instagram. Berkaitan tentang balance-nya aku dalam berkegiatan bisa di dunia maya dan bermedia sosial.

Jawaban aku :)?

Itu kemungkinan karena “kelihatannya”. Padahal sebenarnya, saat aku bikin story di instagram itu, setelah hampir 10 harian aku gak bikin story atau bikin postingan di feed.

Bahkan kalau dibilang balance berbagai hal di kehidupan nyata ya bisa dibilang “nggak juga”. Yang jelas berusaha menjalankan prioritas.

Utamanya kalau untuk aku, dalam pendidikan anak, prioritas paling utama adalah mendidik Al-Qur’an.

balance kehidupan
Baca selengkapnya Hafalan Luma dan Kembar

Abu Bakar dan Julaibib

Tadi malam, aku dapati kembar lagi pegang buku yang bisa dibilang buku favorit mereka hehe.

Aku tanya lagi baca siapa?
Handzolah baca Abu Bakar.
Kholid baca tentang Kholid.

Kemudian Handzolah nanya, “Emang Abu Bakar nemenin Nabi pas ke Madinah?”

Aku jawab, “Iya dong. Abu Bakar tuh yang selalu nemenin nabi. Yang langsung beriman sama nabi. Makanya Abu Bakar tuh sahabat yang paling disayangin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Handzolah langsung nyahut, “Kalau Julaibib?”

Baca selengkapnya Abu Bakar dan Julaibib

Buku Latihan Berhitung Gasing

Ini ya yang aku maksud buku latihan dari prof. Yohanes.

Alhamdulillah sekarang lebih mudah aksesnya, ga terkesan eksklusif kaya pas zaman Ziyad.

buku latihan gasing prof. yohanes
buku latihan gasing prof. yohanes

Ini cetakan 2021. Artinya cetakan baru.

Sempat sebelum-sebelum itu, aku cari di marketplace. Adanya keluaran lama dan ga lengkap plus mahal. Ga sreg jadi ga pernah jadi beli.

Baca selengkapnya Buku Latihan Berhitung Gasing

Sistem Backup Tulisan dari Instagram

Sekian tulisan sebelumnya, sebenarnya backup dari instagram. Ini aku lakuin karena instagram dari awal udah kurang bagus di sistem pencarian. Kita gak bisa search konten kita sendiri. Harus scroll. Dia juga gak muncul di pencarian google. Cuma ada sistem tag. yang kalau tag itu umum dan dipakai orang, bakal muncul jugalah postingan orang yang pakai tag yang sama.

Jadi, tulisan kita di caption, foto, atau apalagi story, itu gak akan bisa disearch.

Dulu aku pikir, ya udah posting cepat, pendek sesuai video atau foto yang tersedia sesuai dengan hal yang mau aku ceritain. Ada beberapa bahasan yang rencananya mau aku satuin dan bahas secara keseluruhan dalam satu tulisan. Tapi ternyata gak terwujud setelah sekian lama.

Baca selengkapnya Sistem Backup Tulisan dari Instagram