Homeschooling dari SD-SMA, Alhamdulillah Ziyad Lulus SNBT

Menulis potongan cerita dalam satu foto itu lebih mudah. Makanya kalau cerita di story Instagram, bisa cepat. Apalagi kalau memang cerita pada saat itu juga. Yang bikin cerita ini berat adalah karena sebenarnya ada banyak sekali kejadian sebelum sampai di pengumuman kelulusan SNBT. Kita mulai dari perjalanan homeschooling Ziyad ya.

Homeschooling dari SD-SMA

Kadang aku lupa, ada hal yang jadi momok dari orang tua sehingga menghindari jalan homechooling untuk pendidikan anaknya. Ini terjadi bukan sekarang aja. Memang dari dulu. Yang paling dikhawatirkan adalah gimana masa depannya? Gimana ijazahnya? Gimana nanti kalau mau meneruskan kuliah?

Aku ingat ada “suara” yang sampai ke aku dari seorang yang sebenarnya ada kepikiran untuk menjalankan homeschooling, tapi suaminya meragukan proses pendidikan ini.

Aku hampir lupa kalau ada kekhawatiran ini, sampai ketika pengumuman kelulusan Ziyad kemarin ada yang memberi selamat dan ikut terharu karena, “Sesama homeschooler.”

Alhamdulillah, Ziyad sudah melalui ujian kelulusan di 3 level pendididikan, SD, SMP dan SMA dengan mengikuti ujian paket A, paket B dan paket C. Begini cerita ringkas setiap tahapannya.

Baca selengkapnya Homeschooling dari SD-SMA, Alhamdulillah Ziyad Lulus SNBT

Meniru Syaikh Abdur Rashid Sufi

Kembar punya Syaikh kesukaan yang didengar ketika nambah hafalan⠀

Tapi ini juga ga saklek. Ga selalu semua surat kemudian mendengarkan satu syaikh aja.⠀

Pas nambah hafalan surat Adz Dzariyat, mereka mendengarkan Syaikh Abdur Rashid Sufi (ini bukan sufi dengan arti nisbah ke pemahaman Sufi ya).⠀

Beliau ada salah satu muqri yang ada di zaman kita dan masih hidup alhamdulillah.⠀

Mendengarkan bacaan Syaikh ketika nambah hafalan untuk mencegah atau meminimalisir mereka salah dalam bacaan.



Di akhir video, bisa kedengaran nanti bacaan syaikh gimana. Mendengarkan bacaan Syaikh Abdur Rashid bisa lewat:⠀

Baca selengkapnya Meniru Syaikh Abdur Rashid Sufi

Antara Al-Qur’an dan Ujian-Ujian Ziyad

Menjelang akhir bulan Maret berbarengan dengan berakhir bulan Ramadhan, aku dan Abang mempertimbangkan hal yang akan Ziyad hadapi di bulan April nantinya setelah Ramadhan.

Ziyad akan menghadapi ujian akhir SMA-nya dari tanggal 14 April selama hampir sepekan. Ternyata, ujian UTBK-SNBT waktunya berdekatan banget, yaitu tanggal 24 April. Gak sampe sebulan jaraknya.

UTBK-SNBT ini kalau zaman aku dulu namanya UMPTN. Dari segi soal sepertinya juga ada perbedaan.

Baca selengkapnya Antara Al-Qur’an dan Ujian-Ujian Ziyad

Jadwal Nambah Hafalan dan Muroja’ah Thoriq

Waktu memutuskan mengeluarkan Thoriq dari pondok, salah satu yang dipikirkan tentu saja terkait hafalannya.

Ketika Thoriq masuk ke pondok, jumlah hafalannya lebih banyak daripada ketika Ziyad masuk pertama kali ke pondok. Secara kemampuan menghafal, aku pikir berarti dia bisa cepat dan biasanya insya Allah juga kuat. Ini dari pengalamanku menyimak dia sampai lulus SD.

Hafalan Thoriq terakhir dari belakang itu sampai surat Az-Zumar (± 8 juz). Dari depan sampai Ali Imron (± 4-5 juz). Total hafalan Thoriq yang di bawa dari rumah berarti sekitar ± 12 juz.

Baca selengkapnya Jadwal Nambah Hafalan dan Muroja’ah Thoriq

Berentet Sakit Gondongan

Kalau dipikir-pikir, tiap bulan kayanya berasa “Capek banget, ya Allah….” Apalagi kalau anak-anak sakit yang sampai harus butuh ekstra energi dikeluarin. Ya Allah..mudahkanlah…

Dan itulah yang terjadi bulan November-Desember kemarin.

Rutinitas kehidupan yang akhir-akhir ini lebih bikin pressure udah bikin badan dan pikiran kayanya remuk redam tiap hari. Akhir November malah beneran aku yang kena flu yang agak berat karena sampe demam dan lemes. Pas mulai enakan Sabtunya, hari Ahadnya, pagi ba’da Subuh…Thoriq sakit gondongan yang disertai demam. Lehernya udah langsung bengkak pagi itu.

Baca selengkapnya Berentet Sakit Gondongan

“Cintanya Boni”

Setelah -ternyata- hampir sebulan gak post apapun di instagram, postingan pertama aku bahas yang “ringan” dulu.

View this post on Instagram

Kalau di instagram, cerita ini mungkin jadi cerita ringan yang kesannya fokusnya tentang Boni semata. Walau adanya Boni dan kucing-kucing lainnya yang ada di kehidupan kami memang selalu punya cerita dan perhatian tersendiri. Tapi kenapa sampai aku catat di buku catatan tentang anak-anak adalah tentang fokus ke kalimat yang dipilih Handzolah.

Baca selengkapnya “Cintanya Boni”

Surat dari Ziyad

Surat dari Ziyad 10 tahun yang lalu (2014)

Waktu masih polos dan lebih banyak meluangkan waktu bareng aku. Belum banyak pengaruh pertemanan macem-macem.

Yang sering nulis romantis tentang aku –tanpa aku ketahui–.
Yang kalau disebut sekarang dia malah ngeles atau malah mengalihkan seakan-akan itu cuma iseng atau apa.

Walau… rasanya akan manis kalau dia masih bisa sesweet ini pas udah gede, tapi ya memang masa, cara berpikir dan bersikapnya juga memang udah beda.

Baca selengkapnya Surat dari Ziyad

Cerita ke Toko Buku

Kemarin Sabtu 19 Oktober 2024, kami ke toko buku. Kata kami di sini sebenarnya perlu didetailin lagi. Banyak hal yang mau aku ceritain termasuk tentang “kami” di sini.

Buat mutusin “berangkat” dan “jadi” ke toko buku itu sebenarnya macem-macem pertimbangannya. Termasuk masalah biaya. Alhamdulillah baru-baru ini mereka dapat hadiah THR yang tertunda dari seorang sahabat. Aku tawarin ke anak-anak uangnya buat beli buku aja.

Mereka yang udah mulai besar dan udah milih-milih buku sendiri udah tahu kisaran harga buku berapa. Rezeki yang baru mereka dapat jadi penguat buat menjalankan rencana ke toko buku yang dari kemarin belum terwujudkan.

Aku sama Abang kalau bikin rencana tuh gak mau yang terlalu saklek banget. Diniatin tapi sama-sama “kita lihat situasi”. Hehehe. Jadi, yang berencana secara waktunya aku sama Abang aja. Gak disampaikan ke anak-anak. Biar kalau gak jadi ya gak kecewa, kalau jadi ya alhamdulillah.

Alhamdulillah, abis sholat ashar, Abang nanya, “Jadi gak ke toko buku?” “Ya ayo.” Tiga sekawan -Luma dan kembar- langsung seneng dengernya.

Dua Motor

Ya Allah, ternyata mau cerita ke toko buku aja, ada hal-hal yang perlu diceritakan supaya dapat gambaran di baliknya. Begitulah…Dalam hidup banyak faktor yang berpengaruh ke aktivitas hidup lainnya. Ini padahal baru satu kegiatan yang harapannya dilakukan bersama-sama.

Di rumah ada 2 motor alhamdulillah. Satu motor tua yang usianya udah >20 tahun, motor Karisma milik mertua dan satu motor Revo yang…ah ini ada ceritanya sendiri juga.

Kemungkinan untuk momen kaya gini, formasinya aku bonceng salah satu dari kembar dan Thoriq sedangkan Abang bonceng Luma dan salah satu dari kembar.

Tapi kalau gitu kan baru 3 + 3 = 6. Sedangkan kami bertujuh. Jadi gimana? 🙂

Dua Anak Bujang

Sebenarnya, aku berharap Ziyad ikut. Sama seperti dulu-dulu. Lagian kan buat variasi kegiatan dia.

Memori ke toko buku Toga Mas Januari tahun 2019

Memori ke toko buku Toga Mas Juli 2019

Pernah sekali berhasil dia ikut, dan itu dia naik gojek. Tapi dia gak tergerak. Karena dulu kami pernah ke toko buku Toga Mas pakai sepeda – karena sebenarnya ini memang cukup dekat ± 3,5 km-, aku motivasi Ziyad untuk naik sepeda. Tapi udah ketebak kalau dia kurang tertarik.

Ini sebenarnya bukan berarti dia gak suka ke toko buku. Tapi kalau ke toko bukunya harus effort naik sepedanya itu yang dia kurang tertarik. Akhir Agustus kemarin, karena ada buku yang pingin aku beli, aku nitip ke dia untuk beli di toko buku. Dia ke sana naik motor bareng Thoriq. Di sana dia malah beli buku bagus buat dia sendiri pakai duit dia sendiri, judulnya Psychology of Money.

Bukan juga dia gak suka naik sepeda. Karena ada momen lain dimana dia mau susah payah naik sepeda untuk bisa olahraga di lapangan Pemda yang lokasinya lebih jauh dari toko buku. Kompleks yaaa hehehe. Gitu yah ngadepin anak yang udah gede dan udah punya pertimbangan sendiri.

Baca selengkapnya Cerita ke Toko Buku

Jangan Mudah Tersilaukan

Anak-anak biasa bermain di sore hari. Kesempatan itu biasanya aku gunakan untuk melakukan pekerjaan di depan laptop. Suatu hari, Kholid pulang dan langsung masuk ke ruang kerjaku.

“Mi, biru tua campur biru emangnya merah?”

Aku heran dengan pertanyaannya. Mereka sudah sangat sering bermain dengan warna dan hafal campuran-campuran warna yang dihasilkan. Aku bilang, “Ya tetap biru.” Kholid tuh kaya masih ragu-ragu aku jawab seperti itu. Tambah lagi dia nanya,

Tambah lagi dia bertanya, “Kalau ungu campur merah nanti jadi hijau?”

Lho, kok makin aneh. Aku lupa bagaimana responku selanjutnya. Tapi akhirnya ketahuanlah bahwa ada anak kampung sini yang usianya lebih tua dari mereka yang mengatakan hal itu, merespons Kholid yang memberitahu bahwa, “Biru sama merah nanti jadi ungu.”

Perjalanan mereka mulai belajar bergaul dengan anak-anak di lingkungan kampung sini cukup intensif sekitar bulan Juli. Aku sudah mulai memberi batasan ketika melihat perkembangan proses pergaulan ini menunjukkan tanda-tanda SANGAT tidak bagus, bahkan sejak bulan Agustus.

Responku yang muncul dari kejadian di atas lebih karena aku sudah punya gambaran karakter anak, gaya pergaulannya, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu.

Baca selengkapnya Jangan Mudah Tersilaukan

Satu Jalur Waktu

Masih ingat tulisan singkat aku ketika menceritakan tentang keputusan supaya Thoriq kembali belajar di rumah? Waktu itu aku sedikit menyebut tentang satu jalur waktu. Aku perjelas di sini.

Mungkin ketika kita memahami dan menyadari bahwa kita hanya punya satu jalur waktu dalam kehidupan, akan memudahkan ketika kita mau memutuskan sesuatu atau menentukan skala prioritas.

Dalam satu jalur waktu, kita tahu gak semua bisa dijalankan berbarengan. Badan kita juga gak bisa berada di dua tempat. Ketika memutuskan langkah kehidupan, yang perlu kita lihat adalah tujuan di depan yang mau kita capai. Tujuan ini bisa tujuan jangka pendek atau jangka panjang.

Contoh Keputusan Thoriq Kembali ke Rumah

Untuk Thoriq, ada tujuan jangka pendek yang hendak dicapai. Tapi…Kalau Thoriq tetap di pondok, maka sekitar 6 hari dia melalui berbagai hal di pondok. Bertemu dengan aku hanya sekitar satu hari -karena dijemput Sabtu sore dan diantar Ahad sore-. Biasanya pun, karena sudah menghabiskan waktu yang lama di pondok, ketika di rumah lebih ingin digunakan untuk santai.

Baca selengkapnya Satu Jalur Waktu

Tempat Tidur Anak-Anak

Perasaan aku lagi agak sedih tadi malam. Qodarullah wa masya a fa’al. Mau cerita tentang tempat tidur anak-anak, ceritanya bahkan belum ditulis, malah tadi malam akhirnya tempat tidur tingkatnya dibongkar. Tempat tidur Ziyad dan Thoriq udah duluan dibongkar bulan Januari lalu.

Aku rasa, sedihnya karena pengeluaran untuk beli tempat tidur ini cukup besar. Pertimbangannya waktu itu juga sudah cukup lama dan dari berbagai sisi. Udah istikhoroh juga. Qodarullah dari awal beli itu memang sudah cukup bermasalah dari sisi barangnya.

اللهُـمِّ اْجُـرْني في مُصـيبَتي، وَاخْلُـفْ لي خَيْـراً مِنْـها

Ya Allah, berilah ganjaran atas kesulitanku ini
dan berikan aku sesuatu yang lebih baik setelahnya. (HR. Muslim)

Tinggal kenangan

Flashback Pertimbangan

Aku cerita dulu ya kenapa sih beli tempat tidur. Anak-anak yang sudah mulai besar-besar, mulai ada hal-hal yang harus diubah karena berbagai pertimbangan. Kalau dulu bisa tidur dengan cara gelar kasur berjejer, cara ini gak bisa lagi.

Baca selengkapnya Tempat Tidur Anak-Anak

Nasehat untuk Anak Perempuan

Sama seperti ketika aku bercerita tentang Thoriq saat hamil si kembar. Maka aku harus sampaikan juga ketika aku bercerita tentang Luma dengan karakter perempuannya, bukan berarti dia anak yang tidak baik. Masya Allah, malah banyak kelebihan-kelebihan lainnya yang Abang juga sering ingatkan aku.

Masing-masing anak tentu saja ada lika-likunya sendiri. Mendidik anak perempuan – yang ada kebengkokan di dirinya – dan dididik oleh aku yang juga perempuan – yang juga ada kebengkokan di diriku -, mungkin membuat suatu hal yang sederhana jadi bisa kompleks dari kedua belah pihak.

Alhamdulillah, Allah memberi petunjuk dan penguatan dalam mendidik anak Al-Qur’an. Kemudian Abang juga membantu mengarahkan aku untuk bersikap bagaimana menghadapi Luma. Tentu saja, di berbagai kesempatan, Abang juga ikut menasehati Luma. Biasanya tapi ketika momen ketika Luma sedang belajar sama aku, Abang gak ikut nyahut-nyahut saat aku memberi nasehat. Biasanya setelah selesai menasehati kemudian aku menghampiri Abang yang sedang kerja, Abang menguatkan aku dan mengingatkan aku untuk terus mendoakan dan sabar.

Baca selengkapnya Nasehat untuk Anak Perempuan

Salah Satu Momen Setoran; Sambil Rebahan di Kasur

Ga ada foto dan rekaman aktivitas yang lagi mau diceritain, jadi pakai foto September 2022.

Mau catat salah satu kondisi hafalan anak-anak.

Hari ini agak meriang jadi sambil nunggu Abang beli lauk, aku rebahan. Aku ajak kembar duluan yang setoran supaya terasa lebih ringan karena mereka lagi setoran di juz 30, setoran surat Al-Balad, Asy-Syams, Al-Lail, Adh-Dhuha.

Setorannya alhamdulilah berjalan dengan smooth. Mereka sambil duduk dekat aku, aku peluk-peluk atau mereka yang dusel-dusel di sekitarku. Sebelumnya juga bisa cium-cium dulu pipi mereka.

Ini sekalian buat meluruskan kesalahpahaman bahwa setoran hafalan itu harus dengan kondisi yang strict banget.

Di beberapa postingan saat kembar masih bayi, bisa dibilang setoran kakak-kakaknya hampir selalu di kamar karena harus menyusui mereka.

Tadi yang setoran, giliran pertama Handzolah baru Kholid.

Pas Handzolah udah selesai, aku bilang ke dia untuk ngelancarin 1 ayat baru yang masih agak kelibet di surat Al-Qolam (kemarin aku tes).

Dia kelihatan keberatan – karena baru aja setoran 3 halaman. Alhamdulillah bisa dibilangin, “Itu cuma 10x Han, Handzolah udah hafal kok. Cuma perlu dibenerin biar ga kelibet.”

Biar dia merasa itu bukan hal yang berat banget.

Yang namanya anak-anak berat ketika ibadah itu wajar, yang dewasa aja gitu kan. Tugas kita bimbing dan didik.

Ada satu syubhat yang aku lihat bersliweran ttg mendidik anak menghafal Al-Qur’an kemudian diidentikkan dengan sekedar mendidik kognitif anak atau hal-hal “negatif” karena anak dipaksa menghafal.

Akhirnya jadi pembenaran untuk “Iya ya, ga usah didik anak hafal Al-Qur’an.”

Semoga Allah mudahkan buat meluruskan pola pikir ini ya.

Disclaimer:
Sendal Handzolah pas lagi rusak terus pakai sendal lama bang Thoriq-nya 😊

13 Juli 2023
Jogja
cizkah

Dua Hal Terkait Keputusan Besar

Makasi banyak buat semua yang sudah memberi perhatian atau mendoakan kami setelah membaca tulisan Keputusan Besar.

Ada yang ngira aku masih sedih banget karena kejadian itu.

Alhamdulillah semua baik-baik aja. Kami baik-baik aja. Bahkan sejak keputusan itu kami buat, kami yakin ini yang terbaik dari Allah dan dengan itu insya Allah malah sangat bersyukur, alhamdulillah.

Ada yang kurang bisa memahami cerita yang kemarin. Tapi ada juga yang jeli dengan memperhatikan sebab utamanya yang kemudian tentu saja ada hal-hal yang menyertai kenapa hal itu bisa terjadi.

Iya, memang gak ada sekolah yang sempurna untuk anak-anak kita. Mungkin ada yang menganggap kami terlalu perfeksionis karena mengeluarkan Ziyad dari pondoknya. Tapi sebenarnya anggapan itu karena prasangka atau menilai dengan sudut pandang yang berbeda karena tidak merasakan atau belum mengetahui hal mendalam yang ada di balik keputusan kemarin.

Baca selengkapnya Dua Hal Terkait Keputusan Besar

Keputusan Besar

Nasehat-nasehat yang muncul selama hari-hari terakhir Ziyad izin sakit cacar di rumah sebenarnya gak ada hubungannya sama hal yang terjadi kemudian. Cuma kalau dipikir-pikir sebenarnya bisa saja akarnya adalah hal besar yang baru kami ketahui kemudian.

Rabu, 17 Mei 2023

Ziyad diantar kembali ke pondok hari Rabu sore. Waktu menyiapkan kembalinya dia ke pondok gak ada pikiran apa-apa. Memang sudah disiapkan kemungkinan akan lama karena libur panjang lagi itu ya sekitar bulan Desember.

Sore itu juga, aku mengabarkan ke musyrif Ziyad. Ziyad diantar sore itu ke pondok.

Sampailah malamnya dimana aku melihat percakapan di grup ummahat pondok yang membuat aku berpikir ulang tentang hafalan Ziyad. Ada sesuatu yang sepertinya “aneh” kalau dikaitkan dengan hafalan Ziyad yang menurut aku ko seperti gak jelas sebenarnya sekarang sampai di tahap apa. Walaupun sepanjang dia di sana, yang sering kami tanyakan ya hafalannya gimana.

Akhirnya mulailah aku membuka lagi percakapan dengan musyrif Ziyad. Menanyakan sebenarnya bagaimana proses dan tahapan di pondok untuk menguatkan sampai ke arah tasmi 30 juz. Ini baru target minimal ya. Belum ke arah sanad.

Aku gak bisa cerita detil banget ya. Musyrif Ziyad ini ustadz pengabdian. Jadi beliau memang sekedar menjalankan tugasnya sesuai batasan yang diarahkan. Kalau secara sistem, aturan, pembagian halaqoh bukan wewenangnya.

Berbarengan dengan proses aku menanyakan ke musyrif Ziyad, aku juga menanyakan ke grup ummahat bagaimana proses di pondok. Maklumlah. Ziyad kan santri baru. Aku masih merasa meraba-raba berbagai hal.

Aku menyampaikan kondisi hafalan Ziyad ketika proses penerimaan —yang ini terjadi di bulan November 2021— sedangkan sekarang sudah bulan Mei 2023.

Ziyad sudah hafal 30 juz di bulan Agustus 2021. Sudah melalui proses mengulang setoran dari juz 1-30 dan sudah ke setoran putaran kedua. Di putaran kedua ini, kondisi hafalan Ziyad sudah mutqin (hafalannya kuat) 15 juz. Ust Izzudin dari pondoknya saat SMP waktu itu memperkirakan beberapa bulan lagi akan selesai 30 juz penguatannya.

Setahun telah berlalu di pondok SMA. Hal itu gak terjadi.

Aku punya catatan tentang jawaban ust Izzudin saat proses tes Ziyad bulan November 2021 itu di unggahan instagram yang ini:

Percakapan-percakapan selanjutnya dengan musyrif-lah yang membuat hatiku hancur.

Bahkan ada hal-hal lain dari info yang aku dapatkan yang bikin sedih. Waktu mendapat jawaban musyrif Ziyad ada satu jawaban yang paling bikin sedih berkaitan dengan pembagian halaqoh, aku cuma jawab, “Sedih saya ustadz. Qodarullah wa masya a fa’al.”

Baca selengkapnya Keputusan Besar