Pelajaran dari Sebuah Boneka

Dari sebuah boneka, banyak hal ternyata bisa dijadikan pelajaran. 

Ini adalah boneka bikinan aku buat Luma. Aku bikin ini waktu hamil Luma. Artinya sekitar 6,5 tahun yang lalu. 

Saat ini, boneka ini Handzolah anggap sebagai boneka miliknya. Yang dibawa kemana-mana. 

Ada pelajaran yang aku anggap dari kejadian ini:

Pertama, Sesuatu yang kita buat hari ini, bisa jadi dimanfaatkan bukan pada hari ini atau hari yang dekat. Tapi dimanfaatkan oleh orang yang bahkan belum ada di pikiran kita saat membuatnya. 

Jadi, berkarya saja. 

Ini gak cuma bukan masalah boneka atau bikin sesuatu untuk anak-anak ya. Tapi juga ke hal berkaitan dengan ilmu atau hal lainnya yang bermanfaat. 

Tapi dalam bahasan kita kali ini, kalau ada yang bisa kita bikin untuk anak-anak kita, maka luangkanlah waktu. Gak harus jadi dalam waktu sehari dua hari tiga hari. Nikmati setiap proses dari sebuah proses yang insya Allah hasilnya nanti akan berguna. 

Kedua. Apakah teman-teman melihat kalau boneka ini terlihat dekil, cacat dan tidak sempurna?

Dari berbagai kejadian dengan anak-anak yang berkaitan dengan mainan-mainan mereka, mereka tidak mengenal yang namanya kesempurnaan seperti yang di benak orang dewasa. 

Mereka adalah orang yang penuh penghargaan insya Allah. 

Mereka gak merasa kurang yang bikin gak hepi dengan wujud boneka ini.

Kayanya sedih ya kalo ada yang bikin sesuatu kemudian dibilang jelek. Ada yang mau aku bahas juga berkaitan sama ini. Insya Allah di tulisan lain. 

Jangan over expectation. Yang dibawa-bawa juga bisa ditinggalkan begitu saja. Ini dilempar karena asyik main yang lain. Lokasi foto di Mika Coffee Jogja

Sayang dan Super Ego (Posesif?)

Ini adalah catatan lanjutan dari proses yang kita lakukan untuk anak-anak kita. Aku gak tahu istilah yang tepat untuk hal ini. 

Pelajaran ini aku dapati dari satu kejadian.

Waktu itu kami lagi pergi ke toko merah. Sebelumnya beli jaket untuk Ziyad dan Thoriq karena jaket mereka udah pada kekecilan. Kalo krucil masih cukup. Jadi kami putuskan untuk krucil dibelikan barang yang lain. Kami bolehkan membeli yang mereka inginkan di Toko Merah.

Sampailah sudah di waktu-waktu terakhir, Luma belum menemukan yang benar-benar dia inginkan.  

Di lantai 3, ternyata ada satu sudut boneka.  Ada boneka perempuan dari bahan kain yang menarik perhatiannya. Karena wujudnya bukan boneka seksi seperti barbie, aku goyah. Antara ingin membolehkan atau tidak.

Tau gak salah satu perasaan yang muncul pada saat itu apa? Aku sedih dan khawatir, bahwa boneka yang aku bikin yang biasa jadi kesayangannya Luma akan tersingkirkan.

Tapi aku berusaha bersikap “bijak”. Aku berusaha (keras) berpikir tanpa ada pengaruh dari pikiran itu. Akhirnya, Abang yang ambil keputusan untuk membolehkan membeli boneka itu.

Waktu baru pulang dari toko Merah, sesampainya di kamar ada perasaan gelisah, sedih dan rasanya ingin marah. Campur aduk juga ingin menangis.

Mungkin marah ternyata aku bukan yang paling spesial. Sedih juga karena aku merasa ditinggalkan. Ya ampun, rumit dan jadi hiperbolik banget kan. Tapi ini perasaan manusia yang justru sering malah menang dan bikin ribut dunia sebenarnya. 

Akhirnya seperti biasa aku ceritakan kegundahan aku ke Abang.

“Abang…aku sedih.”

Aku ceritakan perasaan aku. Tapi aku juga cerita bahwa sebenarnya aku sudah tahu jawaban dari pikiran aku. Bahwa aku gak sepatutnya seperti itu. Kenapa aku harus egois merasa harus cuma bikinin aku yang bisa membahagiakan Luma?

Padahal Luma senang dengan bonekanya yang baru. Padahal bukan berarti aku kehilangan Luma atau Luma menjadi sosok yang meninggalkan aku.

Cuma super ego saja. Merasa harus yang paling paling untuk Luma. Padahal kalau aku relakan, tetap Luma insya Allah sayang sama aku. Gak ada hubungannya boneka ini sama hubungan antara aku dan Luma. Jadi kompleks banget karena kerumitan pikiran orang dewasa saja. 

Setelah aku cerita kesedihanku dan dengan segala pemikiran itu ke Abang. Cukup bikin aku lega. Alhamdulillah aku bisa bersikap biasa menghadapi hasil dari beli boneka perempuan tadi. 

Seperti dapat diduga, boneka perempuan itu menggantikan hari-hari Luma bersama boneka yang aku buat.

Bukan berarti boneka yang aku buat ditinggalkan seluruhnya. Tapi dia bukan lagi boneka favorit yang selalu dibawa kemana-mana.

Boneka baru Luma

Tetap Seorang Anak, Anakku

Aku lega banget karena aku bisa segera menetralisir pikiran negatif super ego yang bisa malah berujung marah-marah dan padahal gak ada yang diuntungkan selain rasa “menang” yang sebenarnya gak bikin bahagia siapapun. 

Hari-hari Luma seperti biasa. Selanjutnya dia masih minta dibikinkan boneka kain yang dari kemarin belum berhasil aku buat. Aku merasa masih belum ketemu yang cocok dengan boneka yang dia inginkan. Antara ingin bikin yang lebih baik dari sebelumnya tapi juga lebih praktis supaya bisa ada berbagai pritilan yang diharapkan Luma. 

Satu lagi ganjalannya adalah, aku ingin hasilnya “sempurna”.  Yes…overthinking, sempurna, berhasil, bagus. Mindset orang dewasa. 

Sampai suatu hari, aku bebikinan boneka kertas sama Luma. Simpel aja. Cuma dari kertas setengah lingkaran yang dibikin kaya rok. Kemudian ditambah bagian atasnya dll. Ngikutin petunjuk salah satu buku yang kami punya untuk prakarya bersama anak. 

Hasilnya…mau dibilang apa? Dari kacamata siapa? 🙂
Boneka hasil bebikinan itu dipegang Luma selama beberapa hari. Dicari ketika bangun tidur. Sampai akhirnya rusak karena memang bahan dasarnya hanya kertas. Sampai akhirnya aku bilang, insya Allah nanti kita bikin lagi.

Dari situ, dan kejadian boneka Handzolah di atas, aku akhirnya sadar, mereka tidak minta kesempurnaan. Kesempurnaan sebagaimana yang aku pikirkan. Bagi mereka, dibuatkan sesuatu sesuai yang mereka harapkan adalah sebuah kebahagiaan. 

Saat Ingin Membuat Sesuatu untuk Anak

Akhirnya kami berusaha memilih bersama boneka yang akan aku buatkan. Alhamdulillah akhirnya ketemulah contoh boneka yang diharapkan Luma. Yang sebenarnya kalau dikerjakan buanyak banget. 

Tapi…belajar lagi dari kejadian boneka Handzolah, ada satu lagi yang perlu ditanamkan selain mindset kesempurnaan yang tidak ada. Bahwa apa yang kita buat itu juga tidak harus terburu-buru. Sambil menyepakati boneka yang akan aku buat untuk Luma, aku sebenarnya juga sedang membuatkan boneka rajutan untuk Kholid.

Sebenarnya ada boneka lain di rumah yang bukan homemade. Salah satu boneka yang dia pilih adalah boneka dinosaurus dan babi. Aku tawarkan boneka lainnya yang pernah aku buat dia gak mau.

Karena aku mengenali karakter Kholid insya Allah, aku carikan pattern boneka baru yang kira-kira sesuai dengan dia. Aku bilang insya Allah aku bikinkan untuk Kholid. Karena ada perasaan aku ingin berusaha biar adil, ada boneka bikinan aku yang dipegang anak-anak. 

Dari rajutan ini aku belajar, bahwa proses itu gak harus cepat. Sabar karena kita gak sedang lomba dengan siapapun alhamdulillah. “Klien” kita ini bukan yang ngasih deadline juga. 

Berproses saja secara istiqomah. Dan ini sebenarnya berlaku untuk semua hal yang kita lakukan. 

Berproses saja secara istiqomah. 

Boneka rajut Kholid. Sudah masuk pekan kelima
Boneka rajut Kholid. Sudah masuk pekan kelima alhamdulillah

Untuk rajutan, kadang sehari dapat 4 baris rajutan. Kadang bisa dapat 10 baris. Dalam 4 pekan, alhamdulillah rajutan boneka untuk Kholid udah sampai tahap badan. Sempat selama sepekan aku gak terlalu dapat banyak hasil karena ada prioritas-prioritas lain yang bikin gak bisa kepegang. Satu kaki aku kerjakan dalam 1 pekan. 

Untuk Luma, dengan berprinsip seperti itu, akhirnya kami mulai project bikin boneka dari kain felt.

Mulai saja. Jangan anggap susah. Semuanya butuh proses. 

Alhamdulillah jadilah sosok boneka datar dari kain felt. Sudah dengan bajunya. Semoga dimudahkan untuk tambahan lainnya. 

Dunia anak, memang gak lepas dari boneka. Apalagi anak perempuan. 

Sama seperti hadits Aisyah yang sedang memainkan boneka dan ditanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

مَا هَذَا يَا عَائِشَة , قَالَتْ : بَنَاتِي . قَالَتْ : وَرَأَى فِيهَا فَرَسًا مَرْبُوطًا لَهُ جَنَاحَانِ فَقَالَ : مَا هَذَا ؟ قُلْت فَرَس . قَالَ فَرَس لَهُ جَنَاحَانِ ؟ قُلْت : أَلَمْ تَسْمَع أَنَّهُ كَانَ لِسُلَيْمَان خَيْل لَهَا أَجْنِحَة ؟ فَضَحِكَ “

“Apa ini wahai Aisyah ?, ia  menjawab: “Boneka saya”, beliau melihat ada seekor kuda (mainan) yang terikat dan mempunyai dua sayap, beliau bertanya: “apa ini ?”, saya menjawab: “kuda”, beliau menjawab: “kuda mempunyai dua sayap ?”, saya menjawab: “Tidakkah anda mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai seekor kuda yang bersayap ?, maka beliau tertawa”.

Riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Hajar adalah riwayat Abu Daud: 22813, dan di shahihkan oleh al Baani dalam Ghayatul Maram: 129. (https://islamqa.info/id/answers/119056/hukum-berbisnis-boneka-dan-bentuk-hadiah-yang-lainnya)

Semoga bermanfaat.

cizkah
27 Februari 2020
Ditulis weekend kemarin. Diselesaikan hari ini alhamdulilllah.

Belajar Nasab Nabi ﷺ

Kita kadang suka gak sadar, kalau kita ilmunya masih cupu banget. Untuk sebatas nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah anaknya Abdullah dan kakeknya adalah Abdul Muththolib secara umum insya Allah semua tahu.

Tapi aku bicara dari sudut pandang penuntut ilmu yang mungkin sudah bertahun-tahun mempelajari ini itu. Kitab ini itu. Rasanya jadi jomplang ketika gak tahu atau gak berusaha untuk menghafal nasabnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Alhamdulillah Allah bukakan kesadaran ini. Benar-benar berasa selama ini masih banyaak lalainya.

Ada sebuah cerita nyata. Suatu ketika sekumpulan penuntut ilmu selesai membahas suatu kitab. Kemudian salah seorang di antara mereka bertanya yang intinya, sebenarnya cara baca nama kakek nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu “muthollib” atau “muththolib”. Tasydidnya pada huruf lam atau huruf tho.

Seorang ada yang langsung berusaha mencari tahu dari referensi online. Seorang diantaranya lagi berkomentar dan meyakini bahwa yang benar Abdul Muthollib (yang ditasydid huruf lam). Yang lainnya berkata bahwa selama ini ia mendengar dari berbagai kajian berbahasa Arab syaikh selalu membaca dengan lafal “muththolib” (yang ditasydid huruf tho). Yang lain mengomentari, mungkin kamu salah dengar.

Sampai di situ. Selesai cerita. 

Kemudian sampailah ketika beberapa waktu lalu kami mulai menyadari apa yang tertinggal dari hal yang perlu kami pelajari. 

Kemudian kami sama-sama mulai menghafal. Lalu aku teringat cerita ini. Jadilah aku merasa…ada yang kurang. Apakah berarti di antara penuntut ilmu itu semuanya belum hafal nasab nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? 

Rasanya akan sangat lebih menyenangkan kalau setidaknya ada salah satu yang kemudian bisa memberikan ilmunya dan membacakan, insya Allah yang benar adalah “muththolib”, kemudian ia membacakan nasab nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Ala kulli haal…kalau masih belum hafal…mari kita hafalkan. Gak wajib. Tapi setidaknya kita berusaha. Bukan untuk dapat nilai ujian. Tapi sebagai salah satu bentuk kecintaan kita.

Ini adalah nasab nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara runtut. 

نسبُ النبيِّ  ﷺ :

هوُ َمحُمَّدٌ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ابْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارَ بْنِ مَعَدَّ بْنِ عَدْنَانَ. 

Ada video dari Syaikh Sa’id Al-Kamali yang membacakan secara langsung. Sebelumnya beliau bertana siapa yang hafal nasab nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ini aku udah share juga di telegram tapi belum dalam bentuk file

Supaya mudah mengingatnya, ada nadzom yang insya Allah lebih memudahkan kita untuk mengingat urutan nasab nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

منظومة تسهل عليك حفظ نسب النبي ﷺ 

آبَاءُ سَيَّدِ الوَرَى عَلَى الرُّتَبْ –  هُوَ ابْنُ عَبْدِاللهِ عَبْدِالمُطَّلِبْ

وَهَاشِمٍ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَىْي – ابْنِ كِلَابٍ مُرَّةٍ كَعْبٍ لؤيْ

وَغَالِبٍ وَ فِهْرٍبْنِ مَالِكْ – وَالنَضْرُ قُلْ كِنَانَةٌ كَذَلِكْ

خُزَيْمَةٌ مُدْرِكِةٌ إِليـَاسُ – وَمُضَـرٌ نِـزَارُهُم قِيـَاسُ

ثُمَّ مَعَّدٌ بَعْدَهُ عَدْنَانُ  – وَبَعْدَ ذاكَ اخْتَـلَـفَ الْأَعْـيَانُ

Kami mengikuti cara baca syaikh Amir Bahjat hafidzahullah. Syaikh Amir Bahjat masih ada keturunan Indonesia. Kakeknya dulu Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawy berasal dari Minangkabau yang hijrah ke Mekkah. 

File ini sudah aku share di channel telegram cizkahcom ya (t.me/cizkahcom)

Ini Thoriq lagi ngafalin. Alhamdulillah Luma juga dari dengar-dengar juga sudah mulai hafal. Karena Ziyad juga tiap pekan pulang, alhamdulillah juga bisa segera ikutan menghafal nasab ini.

Buat yang belum yakin dengan masalah muththolib tadi, bisa lihat nadzom lainnya tentang keluarga nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku belum belajar yang ini. Jadi teksnya belum bisa aku share ya. 

Ini screenshotnya di bagian Abdul Muththolib dan video bacaannya.

nasab nabi dan keluarga

Alternatifnya

Semoga bermanfaat. 

cizkah (@cizkah)
22 Februari 2020

Belajar dari Doktor Abdul ‘Aziz Ash-Shiini عبد العزيز الصيني

Gimana mulainya?

Kita belum akan bahas kitab-kitab atau hal-hal semacam itu.

Mungkin sudah ada yang lihat salah satu postingan aku di instagram tentang Mandzumah Abu Ishaq. 

Ada kisah dan perjalanan untuk sampai ke kitab itu.

Dan ada perjalanan dan liku untuk aku sampai menyadari betapa banyak pelajaran dan semangat yang bisa muncul dari mendengarkan bacaannya doktor Abdul Aziz Ash-Shiiniy ini. 

Baca selengkapnya Belajar dari Doktor Abdul ‘Aziz Ash-Shiini عبد العزيز الصيني

Antara Overthinking dan Melakukan Hal Bermanfaat

Lagi banyak muhasabah.

Salah satu yang cukup menganggu dari social media yang pakai platform like atau follower yang bagi aku seperti tipuan dunia. Aku sampai berharap semoga instagram benar-benar menghilangkan fitur like atau follower. Dalam arti, bisa dibikin option jadi kaya semacam plugin atau cuma sekedar opsi yang bisa digunakan lewat dashboard aja.

Baca selengkapnya Antara Overthinking dan Melakukan Hal Bermanfaat

Kurikulum Homeschooling

Saat menjalankan homeschooling usia SD, saya rasa hal yang paling sering ditanyakan adalah kurikulum.

Bagi kami,  kurikulum yang paling utama adalah ilmu tentang Islam untuk dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari.

Baca selengkapnya Kurikulum Homeschooling

Fokus dan Amanah

Ini salah satu bahan “kurikulum” yang perlu ditekankan ke anak-anak. Di kehidupan sehari-hari. Lewat kegiatan sehari-hari.

Ini bukan sekedar hitung-hitungan.
Atau hafal-hafalan.
Atau sekedar dibaca kemudian bisa jawab soal a, b c atau d.

Ini berkaitan dengan iman.
Ini berkaitan dengan akhlak.

Ini harus dibentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil dari kegiatan-kegiatan kecil sehingga menjadi sebuah hal yang melekat ke diri seseorang.

Seseorang yang beriman.

Baca selengkapnya Fokus dan Amanah

Jalankan Amanah = Bersyukur

Masih nyambung dengan bahasan jalankan prioritas sama saja dengan menjalankan amanah.

Walau kemarin bahasannya lebih banyak ke ibu-ibu, tapi sebenarnya usaha menjalankan prioritas yang berarti menjalankan amanah ini berlaku untuk semua orang.

Termasuk anak-anak.

Biasanya, saat keluar bersama di waktu weekend, aku kebagian memboncengi Ziyad dan Handzolah.

Obrolan biasa terjadi saat kami berada di perjalanan.

Salah satunya ya pesan tentang menjalankan prioritas ini.

Pesan Ummi:

Ziyad, Ziyad itu sudah dapat nikmat banyak. Bisa sekolah di situ. Alhamdulillah dapat guru yang insya Allah baik. Teman-teman yang baik. Bisa pulang Sabtu Ahad. Alhamdulillah Allah mudahkan Abi dan Ummi untuk bisa bayar biaya di pondok.

Semua fasilitas sudah ada buat Ziyad.

Tugas Ziyad cuma menghafal AL-Qur’an

Tolong jalanin tugas itu sebaik-baiknya.

Prioritas Ziyad ya menghafal Al-Qur’an.

Ziyad gak perlu cari-cari kesibukan-kesibukan lainnya.

Coba bayangin, ada orang sudah dapat fasilitas macam-macam, kemudian ketika dia diminta untuk menjalankan kewajibannya dengan fasilitas itu, dia merasa berat dan malah mencari kesibukan lainnya.

Itu gimana?

Aneh gak?

Itu hubungan antar manusia. Makanya jangan heran kalau Allah sudah kasih nikmat, tapi ga bersyukur. Kemungkinan nikmat itu akan Allah cabut. Na’udzu billah min dzalik.

Jadi menjalankan prioritas itu sebenarnya ya berarti bagian dari wujud rasa syukur.

Ziyad udah melihat sendiri bahkan yang sudah ada di pondok, ternyata Allah bisa cabut nikmat tersebut. Ternyata dia gak ada di pondok itu lagi. Gak bisa dapat guru lagi. Gak bisa bertemu dengan teman-teman yang insya Allah baik.

Jadi jangan merasa aman.

Kalau Ziyad mau cari kesibukan lain, itu nanti. Setelah Ziyad menjalankan prioritas dengan baik.

Tentu saja percakapan aslinya terjadi dua arah. Dia paham dengan apa yang aku maksud.

Jadi, yuk bersyukur dengan menjalankan apa yang menjadi tugas utama kita saat ini sebaik-baiknya.

Semoga Allah mudahkan semua urusan kita. Aamiin.

cizkah
Yogyakarta, 17 November 2019

Bagaimana Membagi Waktu untuk Aktifitas Sehari-hari?

Seringkali aku dapat pertanyaan bagimana aku bagi waktu sehari-hari. Ada juga yang tanya spesifik banget, sampai minta dijelasin kegiatan dari pagi sampai malam gimana.

Ini sesuatu yang sebenarnya gak bisa aku jawab spesifik karena tiap hari kejadiannya kan juga beda-beda. Yang jelas, yang bikin beda itu ya segala macam hal yang terkait dengan kehidupan. Tapi ada yang sifatnya rutinitas seperti masak, mandiin anak, nyuapin. Ada juga yang kemudian aku tentukan sebagai hal yang jadi prioritas yang dalam satu hari itu harus terpenuhi. Gimana ngaturnya, itu yang kemudian kita minta pertolongan Allah untuk bisa melaksanakan semuanya.

Baca selengkapnya Bagaimana Membagi Waktu untuk Aktifitas Sehari-hari?

Mengajarkan Anak Surat Al-Fatihah

Surat ini adalah yang akan dibaca seseorang sepanjang hidupnya insya Allah. Minimal 17 kali dalam sehari, yaitu dalam sholat-sholat wajib.

  • 2 kali saat sholat Subuh
  • 4 kali saat sholat Dzuhur
  • 4 kali saat sholat Ashar
  • 3 kali saat sholat Maghrib
  • 4 kali saat sholat Isya

Bayangkan jika – dengan izin Allah -, anak bisa membaca surat ini melalui hasil didikan orang tua. Maka semoga ini termasuk amal yang tak terputus ketika sang orang tua telah meninggal karena menjadi ilmu yang bermanfaat yang diamalkan.

Baca selengkapnya Mengajarkan Anak Surat Al-Fatihah

Apa yang Sangat Berharga dalam Hidup?

Penerapan dari “rumus kehidupan” yang sudah aku tulis sebelumnya pada kenyataannya gak mudah.

Kita sering kali terseret sama hiruk pikuk dunia.
Terseret agar ikut tervisualisasi dengan prototipe bahagia yang dibentuk oleh…segelintir orang atau media.

Baca selengkapnya Apa yang Sangat Berharga dalam Hidup?

Kegiatan Belajar Anak: Pra Sekolah

Masih berkaitan dengan tulisan yang lalu, kegiatan belajar bersama anak usia pra sekolah sebenarnya masih ringan.

Kalau ada yang merasa masih ragu-ragu untuk memilih sekolah atau homeschooling, masa-masa ini malah masa yang bagus untuk latihan.

Usia ini belum ada tuntutan ijazah atau semacam itu. Orang tua atau keluarga di sekitar juga belum banyak yang mempertanyakan hal-hal yang berbau sekolah atau prestasi akademik.

Sebenarnya godaan terbesar biasanya justru dari orang tua itu sendiri. Godaan biar anak sosialisasi. Godaan supaya lebih ringan tugas di rumah karena anak sudah ke sekolah. Godaan ini dan itu.

Baca selengkapnya Kegiatan Belajar Anak: Pra Sekolah

Nadzom Mutsallats Quthrub | نظم مثلث قطرب في اللغة

Sebelah kanan, syaikh Ukkasyah. Beliau yang juga mendidik Hamzah yang dulu menang juara 2 pas lomba Al-Qur’an di Dubai dan ust Abdurrohim juara 4. Sebelah kiri itu bapaknya Aisha. Disubscribe deh channelnya. Bagus-bagus isinya masya Allah.

Entah kenapa aku jatuh cinta banget dari awal lihat video ini dan jadi pingin banget ngafalin ini. Abang kasih lihat ke aku pas malam pertama dan akhirnya aku lihat terus di malam-malam lainnya selama kami di Jakarta.

Baca selengkapnya Nadzom Mutsallats Quthrub | نظم مثلث قطرب في اللغة