Rumah Makan “Cengkir”

Ternyata, kadang ada dalam kehidupan sesuatu yang udah di depan mata, tinggal dikiiiiit lagi, kalau belum rezekinya, ya ga akan dijalanin dan didapatkan.

Cengkir yang super sebelahan sama Yufid, ga pernah tersentuh walau sering dilewatin. Abang cuma taunya, ya, kalau ada kopi, standar kopi tubruk.

Pas akhirnya Abang ngerasain makan di sini, langsung ngajak aku berdua aja malam hari. Biar aku ada gambaran sebelum ngajak anak-anak semuanya (nunggu Thoriq pas pulang pondok soalnya).

Ya Allah, ini kan mirip sama Kampung Jawa.

Baca selengkapnya Rumah Makan “Cengkir”

Rumah Makan “Mertamu”

Sebagai keluarga yang jarang makan di luar –terutama sejak kembar lahir–lokasi yang kami coba pekan kemarin tuh gak disangka sebenarnya.

Karena lokasinya dekeeet banget sama kantor Yufid. Tinggal jalan kaki. Jadi, kalau aku sama Abang ada keperluan ya ke kantor Yufid, cuma sekedar lewat aja.

Kalau lagi sama anak-anak juga cuma ke Taman Sumberan yang pernah aku share juga.

Baca selengkapnya Rumah Makan “Mertamu”

Review Binder Rakit Sendiri (DIY)

Nyoba model “rakit” binder sendiri.

Ringnya yang model gini udah ada ukuran pasti B5 atau A5.
Isinya kayanya pas-nya isi 50-70 lembar aja.
Jadi bukan yang model bisa ditambah banyak-banyak kertas sesuai dg jenis bahasan yang kita catat. Bahkan untuk ngisi buka tutup agak susah ya.

Kelebihannya dapat feel rapi-nya ya.

binder diy
Penampakan ketika ditegakkan
Baca selengkapnya Review Binder Rakit Sendiri (DIY)

Buku Latihan Berhitung Gasing

Ini ya yang aku maksud buku latihan dari prof. Yohanes.

Alhamdulillah sekarang lebih mudah aksesnya, ga terkesan eksklusif kaya pas zaman Ziyad.

buku latihan gasing prof. yohanes
buku latihan gasing prof. yohanes

Ini cetakan 2021. Artinya cetakan baru.

Sempat sebelum-sebelum itu, aku cari di marketplace. Adanya keluaran lama dan ga lengkap plus mahal. Ga sreg jadi ga pernah jadi beli.

Baca selengkapnya Buku Latihan Berhitung Gasing

Review Buku Hiu dan Monster Bawah Laut

buku hiu dan monster bawah laut
hiu dan monster bawah laut

Buku ini beli tahun 2018. K,etika kami lagi beli buku pelajaran di toko buku Toga Mas. Yang namanya lagi beli buku pelajaran, berarti pengeluarannya sebenarnya udah banyak.

Tapi Thoriq pingin banget buku ini. Dia request di saat-saat terakhir. Aku ragu untuk menyetujui, karena tulisan di bukunya terlihat kecil-kecil dan padat. Bukunya juga tebal. Khawatir kalau buku ini ga dibaca.

Saat itu, usia Thoriq 7,5 th.

Baca selengkapnya Review Buku Hiu dan Monster Bawah Laut

Review Dryer

Sebelum lanjut bahasan lainnya, aku mau cerita salah satu cerita kehidupan yang ada pengaruhnya ke berbagai hal lainnya.

Adik sepupu Abang yang udah bantu dari sejak kembar lahir, udah ga bantu di sini lagi sejak awal Juli 2022 ini.

Sebenarnya, kami sudah mempersiapkan hal seperti ini sejak awal tahun 2021. Ketika dia mengabarkan sedang ta’aruf. Walau pada akhirnya ga berlanjut. Tapi ada hal lainnya juga yang terjadi waktu itu. Dia nyoba untuk melanjutkan kursus bahasa Arab secara online. Yang kalau secara tingkat materi dan tugasnya akan jauh lebih padat dibanding di kelas awal.

Waktu itu, bisa dibilang rasanya udah seperti ga ada yang bantuin. Karena dia masuknya sudah jam 13.30, yang berarti kerjaannya banyak banget yang udah aku beresin. Gimana kan ya, namanya rumah tangga perlu rapi beres-beres dari pagi.

Ditambah lagi, karena dia jadi kurang bisa konsentrasi karena ternyata jadi cukup tertekan karena tugas-tugas kuliah. Pekerjaannya jadi agak kurang maksimal. Bisa dibilang ada drama kehidupan yang aku lalui waktu itu dan cukup bikin guncang.

Musim Hujan

Di saat-saat seperti itu, hujan yang kadang berhari-hari, berefek jemuran yang ga selalu kering dalam sehari. Bahkan bisa berhari-hari. Terdengar biasa aja dan memang bagian dari kehidupan. Tapi, dengan jumlah baju seabrek karena anggota yang banyak, ruangan yang terbatas, waktu dan bantuan yang lagi sedang ga maksimal jadi membuat aku sibuk bolak-balik memasukkan baju yang belum kering untuk dijemur di teras.

Belum kebayang ya?

Jadi, pakaian yang di jemur di ruang jemuran dan kemudian ga kering, harus dimasukkan ke rumahm Aku bikin jemuran dadakan di teras. Akhirnya, baju yang tergantung di teras, jadi banyaaak banget.

Rumah jadi tambah terasa penuh dan berantakan.

Dryer

Alhamdulillah, sebelum kejadian itu, aku udah dapat info sedikit tentang dryer. Dryer yang biasanya butuh listrik banyak, bisa dimodif jadi memakai bahan bakar gas untuk energinya. Istilahnya, diconvert ke gas.

Akhirnya, aku ngajuin dryer ini ke Abang. Tentu saja disertai berbagai pertimbangan. Yang terutama adalah pertimbangan kalau misal adik sepupu Abang udah ga kerja di sini, kami udah sepakat kemungkinan besar ga pakai jasa asisten rumah tangga. Ada banyak pertimbangan. Tapi di postingan yang lalu-lalu, insyaAllah pernah aku sebut beberapa di antaranya.

Alhamdulillah, setelah diskusi yang kesekian, Abang setuju. Abang udah kasihan banget juga ngeliat aku yang juga mulai super kecapekan secara fisik dan mental. Seperti biasa, kami survey dulu ke toko yang memang khusus menjual alat-alat elektronik besar di Jogja. Namanya UFO.

Baca selengkapnya Review Dryer

Review Laundry Bag – Kantong Pakaian Kering

Bulan Desember-Januari kemarin, masa-masa ditinggal mudik sepupu suami yang bantu di rumah. Bertepatan dengan berbagai ujian yang menimpa, sakit beruntun macam-macam jenisnya. Niat hati, pinginnya gak ada pekerjaan yang bertumpuk. Rencana bubar total dari pekan pertama. Insya Allah cerita tentang ini menyusul. Alhamdulillah sebenarnya malah udah aku ketik duluan. Tapi karena lagi pingin bahas yang ringan-ringan, jadi aku pingin bahas ini dulu :). 

Baca selengkapnya Review Laundry Bag – Kantong Pakaian Kering

Review Kasur Rebounded

Suatu hari, aku mau ganti kasur kapuk di kamar anak-anak. Aku ingin yang bisa ditumpuk supaya ada ruang ketika siang hari.

Sebelum ini, aku udah nyoba b eberapa kasur di kamar anak-anak.

  1. Spring bed model twin. Yang model salah satu kasur ditarik. Tapi, akhirnya kasur yang jenis ini dijual. Sebabnya karena sering ada mainan masuk di bawah kolong kasur yang bikin berantakan banget. Kamar juga terasa penuh. Apalagi kamar anak-anak ada sudut yang bocor. Kalau udah bocor, kasur harus ditarik, dan semua posisi barang di kamar jadi benar-benar berantakan. Kesimpulannya gak mau beli yang model itu lagi.
  2. Kasur kapuk. Waktu itu tujuannya biar ada ruang saat siang hari. Sampai aku pesan ukuran khusus buat mereka. Sekitar 80 x 160 cm. Tapi ternyata kurang berhasil karena masih ada kesan berantakan karena cuma digulung gitu aja sama anak-anak. Ditambah lagi kasur kapuknya bisa dibilang cepat sekali tipis.

Gak mau beli kasur busa, karena gak mau kalau bakal cepat menipis dan jeber kasurnya. Jadi kurang rapi.

Aku sempat kepikiran untuk beli kasur springbed ukuran 90 cm. Nanti ditumpuk. Tapi sama mba yang jawab di tokopedia ditanyain, “Apa gak berat kak nanti?” :D.

Baca selengkapnya Review Kasur Rebounded

Fortuna Jogja

Ini di Fortuna. Dekat banget sama Progo. Dulu setiap mau ke Progo ngelewatin dan suka mikir ini tempat apa sih, kaya tempat peralatan juga.

Awal-awal nikah, tahunya juga Progo.
Dan biasanya, lebih ke aku yang pingin ke sana..

Sampai di saat kami mulai ngopi dan Abang ternyata juga mulai mencari cangkir kopi, ternyata dapat rekomendasi tempat ini.

Baca selengkapnya Fortuna Jogja

Review Buku Pintar Sejarah Islam

Samar-samar aku mengingat bagaimana akhirnya aku menemukan buku ini di daftar buku yang muncul di halaman Google Play Books.

Selama ini, aku berusaha tetap baca buku insyaAllah. Buku apa aja. Biasanya aku selang-seling dari topik satu ke topik lainnya. 

Waktu itu, aku sudah selesai membaca salah satu buku dengan topik yang lebih banyak membahas ke motivasi usaha atau manajemen. Bukunya ringan. Bisa aku selesaikan cukup cepat. Aku sudah membeli dua buku dari satu penulis ini. Akhirnya aku mulai membaca buku yang kedua. 

Tapi rasa hati kurang nyaman kalau membaca dari jenis yang sama secara berurutan. Apalagi bukunya buku umum. Aku merasa harus membaca buku yang berkaitan dengan agama.

Baca selengkapnya Review Buku Pintar Sejarah Islam

Wadah Sealware untuk Menyimpan Buku Belajar

Salah satu hal yang mungkin terlihat sederhana. Tapi, untuk menuju ke sini, cukup berliku-liku. Inti masalah dalam perjalanan belajar  adalah terkadang buku-buku yang sedang dipelajari ketelingsut entah dimana. 

wadah penyimpan media belajar

Ini biasanya utamanya terjadi usia pra sekolah. Karena buku-bukunya yang dipelajari hanya beberapa. Kadang, setelah belajar sudah berusaha diingat untuk diletakkan di tempatnya lagi. Tapi ya kadang tetap terlupa. Akhirnya sewaktu mau belajar lagi harus mencari-cari dulu.

Dulu akhirnya, mengumpulkan buku yang dipelajari di map berbahan plastik yang beritsleting. Masalahnya tetap sama. Sudah ditaruh di map plastik. Map plastiknya terselip entah dimana.

wadah media sumber  belajar
Ada beberapa media belajar yang masih di simpan di wadah plastik berritsleting

Sampai akhirnya, aku merasa butuh suatu wadah yang berisi buku-buku yang sedang aku pelajari atau sering aku akses. Aku ingin semua dalam kesatuan dan sekali duduk gak perlu cari-cari yang lainnya. Akhirnya aku pakai wadah sealware yang biasa digunakan orang-orang untuk menjual donat. Di rumah awalnya ada dua buah dan sudah berganti-ganti fungsi.

Wadah penyimpan media belajar
Kira-kira begini kalau aku lagi nyatat catatan haid

Enaknya lagi, aku bisa sekalian menulis di sini. Karena bisa difungsikan juga sebagai meja. Kalau mau lebih nyaman supaya semua bagian rata, bisa ditambah cutting matt.

Karena gak terlalu besar dan ringkas, bisa di bawa ke kasur dan mengakses buku yang mau digunakan sebelum tidur bersama anak-anak. Biasanya anak-anak jadi ikutan mencorat-coret atau menggunakan pena yang aku pakai. 

Ketika menyimak anak-anak membaca Al-Qur’an juga bisa langsung meletakkan di atas wadah. Supaya Al-Qur’an tidak sampai ditaruh di lantai.

Melihat kefleskbelan tersebut, ternyata Thoriq juga mau. Abang juga mau. Akhirnya alhamdulillah masing-masing anak punya. Untuk krucil masih dalam satu wadah, karena buku yang digunakan masih sedikit. Kalau Thoriq untuk buku-buku tertentu yang sering diakses semisa buku latihan yang tebal. Buku-buku pelajaran lainnya tetap berada di rak. 

Tapi kalau Abang, ujung-ujungnya masih agak sama seperti yang kemarin-kemarin sih. Jadinya numpuk buku yang sedang dipelajari di situ hehe. Lumayan deh. Kalau dulu bertumpuk penuh di meja. Sampai akhirnya aku sediakan laci khusus di samping meja Abang untuk meletakkan buku atau kitab lainnya sering digunakan. Nah, yang di wadah ini khusus yang lebih sering lagi atau yang lagi aktif dipelajari.

Wadah media belajar Abang
Abang tuh masih pemula (penuntut ilmu) dan merasa masih pemula. Jadi jangan dikira kami ini – terutama aku – adalah orang yang faqih banget dalam agama.

Saran aku, jika ingin membeli wadah sejenis ini, beli di tempat-tempat yang memang menjual dengan harga grosir. Kalau di Jogja bisa di Progo atau Fortuna. Karena perbedaannya cukup jauh. Bisa juga kalau di Jakarta, mencari di Tokopedia. Biasanya akses ke toko-toko online yang menjual barang murah lebih banyak. 

Semoga bermanfaat. 

cizkah

12 Juli 2020