Zaman sekarang, kalau ada orang menulis sesuatu yang berkaitan semesta apalagi dengan kata-kata puitis, seakan-akan penuh makna, sebaiknya hati-hati. Contohnya seperti ini:
“Semesta mendukungmu.“ “Biarkan semesta bekerja.”
Belum pernah dengar tentang perkataan ini? Alhamdulillah.
Alhamdulillah, Allah mudahkan untuk bisa bikin biopori.
Sebelum membuat biopori ini, ternyata yang ada di benak aku selama ini ada yang salah. Beberapa hal yang aku salah paham adalah:
Aku pikir, untuk bikin lubang biopori itu susah dan mesti pakai tukang. Soalnya lubangnya kecil dan dalam. Kayanya mesti alat khusus yang mungkin hanya tukang yang punya.
Nah, kalau sudah pakai tukang atau pakai alat khusus, tentu saja mindsetnya jadi urusannya agak sedikit lebih ribet dan mahal.
Kalau sudah urusan tukang juga, berarti mesti nunggu Abang yang bergerak. Bergerak untuk menghubungi tukang, dll.
Jadi, suatu hari aku merasa resah karena sampah sisa hewani dan sisa-sisa dari kotoran di wastafel sudah penuh di wadahnya. Wadah itu di taruh di bawah wastafel.
Yang agak parah, waktu itu, belatung putih – calon lalat yang jadi sumber penyakit – mulai jalan kemana-mana dari arah dapur. Tapi karena ngira itu belatung – calon BSF (black soldier fly) yang bermanfaat untuk kehidupan -, anak-anak malah heboh ngumpulin itu belatung.
Kalau ada yang ngikutin cerita tentang bercocok tanam ini, sebenarnya aku mulai dari mencoba segala hal. Mulainya juga udah lamaaa. Dan baru mulai nyadar lagi dapat hidayah taufik untuk nanam yang lainnya akhir tahun 2019 kemarin.
Tulisan ini terutama konteksnya adalah memulai homeschooling di usia pra sekolah (SD).
Waktu pertama kali hendak memutuskan “homeschooling”; dalam arti anak akan belajar bersama aku di rumah, tentu saja aku juga mencari-cari tahu informasi terlebih dahulu.
Tak semua kejadian – yang mungkin bagi kita tidak mengenakkan – harus diceritakan saat ini. Walau mungkin kita telah mengambil banyak pelajaran dari kejadian tersebut.
Salah satu hal yang mungkin terlihat sederhana. Tapi, untuk menuju ke sini, cukup berliku-liku. Inti masalah dalam perjalanan belajar adalah terkadang buku-buku yang sedang dipelajari ketelingsut entah dimana.
Ini biasanya utamanya terjadi usia pra sekolah. Karena buku-bukunya yang dipelajari hanya beberapa. Kadang, setelah belajar sudah berusaha diingat untuk diletakkan di tempatnya lagi. Tapi ya kadang tetap terlupa. Akhirnya sewaktu mau belajar lagi harus mencari-cari dulu.
Dulu akhirnya, mengumpulkan buku yang dipelajari di map berbahan plastik yang beritsleting. Masalahnya tetap sama. Sudah ditaruh di map plastik. Map plastiknya terselip entah dimana.
Ada beberapa media belajar yang masih di simpan di wadah plastik berritsleting
Sampai akhirnya, aku merasa butuh suatu wadah yang berisi buku-buku yang sedang aku pelajari atau sering aku akses. Aku ingin semua dalam kesatuan dan sekali duduk gak perlu cari-cari yang lainnya. Akhirnya aku pakai wadah sealware yang biasa digunakan orang-orang untuk menjual donat. Di rumah awalnya ada dua buah dan sudah berganti-ganti fungsi.
Kira-kira begini kalau aku lagi nyatat catatan haid
Enaknya lagi, aku bisa sekalian menulis di sini. Karena bisa difungsikan juga sebagai meja. Kalau mau lebih nyaman supaya semua bagian rata, bisa ditambah cutting matt.
Karena gak terlalu besar dan ringkas, bisa di bawa ke kasur dan mengakses buku yang mau digunakan sebelum tidur bersama anak-anak. Biasanya anak-anak jadi ikutan mencorat-coret atau menggunakan pena yang aku pakai.
Ketika menyimak anak-anak membaca Al-Qur’an juga bisa langsung meletakkan di atas wadah. Supaya Al-Qur’an tidak sampai ditaruh di lantai.
Melihat kefleskbelan tersebut, ternyata Thoriq juga mau. Abang juga mau. Akhirnya alhamdulillah masing-masing anak punya. Untuk krucil masih dalam satu wadah, karena buku yang digunakan masih sedikit. Kalau Thoriq untuk buku-buku tertentu yang sering diakses semisa buku latihan yang tebal. Buku-buku pelajaran lainnya tetap berada di rak.
Tapi kalau Abang, ujung-ujungnya masih agak sama seperti yang kemarin-kemarin sih. Jadinya numpuk buku yang sedang dipelajari di situ hehe. Lumayan deh. Kalau dulu bertumpuk penuh di meja. Sampai akhirnya aku sediakan laci khusus di samping meja Abang untuk meletakkan buku atau kitab lainnya sering digunakan. Nah, yang di wadah ini khusus yang lebih sering lagi atau yang lagi aktif dipelajari.
Abang tuh masih pemula (penuntut ilmu) dan merasa masih pemula. Jadi jangan dikira kami ini – terutama aku – adalah orang yang faqih banget dalam agama.
Saran aku, jika ingin membeli wadah sejenis ini, beli di tempat-tempat yang memang menjual dengan harga grosir. Kalau di Jogja bisa di Progo atau Fortuna. Karena perbedaannya cukup jauh. Bisa juga kalau di Jakarta, mencari di Tokopedia. Biasanya akses ke toko-toko online yang menjual barang murah lebih banyak.
Aku rasa hal yang paling sering bikin bingung perempuan adalah kapan berhenti haid. Karena memang samar-samar menipis, kadang lama seperti sudah berhenti, ternyata keluar darah lagi. Atau bahkan sudah memutuskan mandi, akhirnya ternyata keluar lagi.
Tulisan ini udah ditulis dari aku tulis tanggal di awal tulisan, yaitu bulan Februari. Cuma karena fokusnya tercurahkan ke pembuatan poster baru plus sambil ngadapin situasi Corona, terlupakanlah tulisan ini. Padahal niatnya mau dilengkapi.
Sekarang padahal udah ada beberapa perkembangan terbaru. Jadi, aku mau publish aja catatan yang ini.
Itu biasa. Apalagi pas masih kecil. Apalagi kalau setorannya sama Abang ☺️. Jangan khawatir insyaAllah. Karena Al-Qur’an itu penuh berkah. Jadi seharusnya Insya Allah bukan hal yang bikin stress. – Kemarin-kemarin, porsi terbesar untuk nyimak setoran hafalan di aku. Sampai beberapa waktu yang lalu, mereka masih merasa keberatan kalau diminta setoran sama Abang. Soalnya lebih ketat untuk sampai ke titik selesai setoran. Kalau salah bakal diulang-ulangnya sampai entahlah kapan selesainya 😁. Kalau setoran hafalan sama aku, sebenarnya kadang ya gitu, dan ya ada juga sih acara nangis-nangis. Tapi kesiapan mentalnya tetap beda ya ☺️. Masing-masing butuh adaptasi. Begitupun dengan Abang.
Sampai akhirnya mereka alhamdulillah mulai terbiasa setoran ke Abang. Abang juga akhirnya pakai cara minta mereka mempersiapkan maksimal hafalannya untuk disetorin. Alhamdulillah akhirnya sampai di titik mereka udah biasa dan emang bukan hal “eksklusif” lagi untuk setoran ke Abang. Yang terjadi sekarang malahan alhamdulillah mereka sudah bisa diminta nyimak hafalan Abang. Semuanya berproses. Ga langsung smooth jadi gitu aja. Jadi, keep moving forward. Sabar, Istiqomah..jangan lemah. – Bulan puasa ini, Ziyad mulai baligh alhamdulillah. Disusul suaranya yang mulai berubah. Alhamdulillah semua prosesnya bisa terjadi ketika di dekat aku dan Abang. Harapan Abang memang begitu. #limaanakhomeschooling #limaanakdirumah #alquran #islam #sunnah #parentingislam #homeschooling #homeschoolingislam
Selama ini, mungkin sulit dibayangkan bagi teman-teman yang belum pernah menjalankan homeschooling, praktek sehari-harinya tuh seperti apa.
Jika dikaitkan dengan pendidikan jarak jauh yang kemudian diartikan belajar dari rumah dikarenakan pandemi Corona ini, maka praktek homeschooling tidak seperti itu.
Homeschooling memang bisa terasa berat untuk beberapa hal. Tapi, praktek belajar di rumah bukanlah kegiatan padat terstruktur untuk anak sebagaimana yang diterapkan di belajar di rumah saat pandemi berlangsung.
Kalau proses belajar di rumah seperti itu, mungkin banyak yang langsung “nyerah” karena membayangkan bertahun-tahun harus menjalankan aktifitas bersama anak seperti itu.
Di sisi lain, memang belajar di rumah juga bukan hal yang mudah karena pastinya butuh keterlibatan orang tua.
Lalu, sisi ruangnya dimana?
Dalam praktek homeschooling, seperti aku pernah sebut di tulisan serihomeschooling sebelumnya, belajar tuh gak padat dalam arti seperti di sekolah harus dari pagi sampai siang atau bahkan sampai sore.
Kalau belum tahu tentang jenis kegiatan belajar anak, bisa-bisa dikira anak gak belajar. Atau hati orangtua jadi gak tenang karena merasa anak belajar sebentar dan sedikit.
Kalau seperti itu, berarti mindset proses belajar dan tentang belajar itu sendiri masih dengan mindset sistem belajar di sekolah. Anak dianggap belajar kalau baca buku, duduk diam, ngerjain soal, dapat tugas-tugas, dikasih instruksi untuk melakukan suatu kegiatan untuk kemudian dilaporkan, atau hal-hal sejenis itu.
Insya Allah, ini sekedar untuk mengingat tentang mindset belajar ya. Tapi tulisan kita kali ini sebenarnya bukan mau fokus di situ.
Kalau aku kelihatan ceria dan baik-baik aja 2 harian ini di wa atau ig, aslinya aku di keletihan maksimal. Sampai pas lagi sholat rasanya mau pingsan…siap jatuh. Campur aduk perasaan. Sedih.
Tapi alhamdulillah aku belum pernah pingsan. Biasanya kalo udah kaya gini, pingsannya di mimpi.
Udah hampir sebulan di rumah aja dan melakukan berbagai hal yang berkaitan dengan apa yang terjadi saat ini di SELURUH DUNIA. Wabah Corona atau covid-19.
Aku merasa, ada bagian dari perjalanan melalui ini yang perlu untuk dicatat.
Setahun lebih sedikit ini, Abang belajar dengan seorang syaikh. Syaikh Labib hafidzahullah namanya. Tadinya beliau belajar hanya berdua dengan akh Agus teman sepenuntut ilmu. Yang dipelajari utamanya adalah berbagai hal terkait fikih madzhab Syafi’i.