“Cintanya Boni”

Setelah -ternyata- hampir sebulan gak post apapun di instagram, postingan pertama aku bahas yang “ringan” dulu.

View this post on Instagram

Kalau di instagram, cerita ini mungkin jadi cerita ringan yang kesannya fokusnya tentang Boni semata. Walau adanya Boni dan kucing-kucing lainnya yang ada di kehidupan kami memang selalu punya cerita dan perhatian tersendiri. Tapi kenapa sampai aku catat di buku catatan tentang anak-anak adalah tentang fokus ke kalimat yang dipilih Handzolah.

Baca selengkapnya “Cintanya Boni”

Kabar Sedih dari Kakak

Aku beberapa kali cerita tentang kakak pertamaku yang tinggal di Belanda. Hari Jumat ba’da Subuh, aku baca pesan yang sangat mengejutkan. Perasaan dan pikiran langsung gak enak banget.

Sebenarnya tadinya aku udah semangat mau nyelesein bahasan stationary yang niatnya diselipin bahasan Al-Qur’an dulu. Karena udah hari Jumat biasanya agak lebih lowong insya Allah.

Semuanya buyar.

Di dalam pikiran dan perasaanku, aku ikut sedih banget, tapi juga sedihnya nambah karena jauh banget dan gak bisa berbuat apapun selain doa.

Dulu sekali, pas masih kuliah, aku juga pernah dapat kabar mengejutkan tentang kakak pertamaku ini. Waktu itu aku lagi KKN. Di tempat KKN, sepanjang hari itu aku nangis dan nangis.

Sama seperti sekarang, aku juga waktu itu merasa gak berdaya. Mengkhawatirkan keadaan Mas yang gak bisa aku jangkau.

Aku gak bisa cerita detil apa hal yang menimpa Mas-ku ini. Aku ngerasa Mas-ku dikasih ujian yang luar biasa sama Allah yang aku gak sangka bisa menimpa keluarga kami yang apalah. Keluarga biasa-biasa aja. Gak macem-macem insya Allah.

Kejadian pertama, Mas-ku harus sabar dengan cobaan karena fitnah. Tapi yang merasakan berat dan susahnya bukan cuma Mas, tapi juga melibatkan Mama Papa. Waktu dengar kabar dari adikku, adikku cerita gimana Mama juga menangis. Aku bisa membayangkan menangisnya sangat keras karena cobaan itu benar-benar seperti gak mungkin terjadi. Sebuah fitnah yang sungguh jahat.

Karena kejadian yang cukup berat itu pulalah, Mas-ku sepertinya ga ingin tinggal lagi di Indonesia. Terlalu traumatis apalagi jika bertemu dengan teman-teman yang bisa jadi dialah yang membuat fitnah besar itu.

Di Belanda, dia menjadi pekerja seperti pada umumnya kita semua bekerja. Membentuk keluarga dengan keluarga keturunan Arab yang sudah lama tinggal dan memang warga negara Belanda. Memiliki dua anak perempuan yang sekarang baru memasuki usia SMA dan SMP.

Insya Allah dia sangat berusaha menjadi ayah dan suami yang baik. Alhamdulillah sejak kejadian yang pertama, Mas-ku udah berusaha sedikit-sedikit belajar dan menjalani Islam. Sudah mengenal dakwah salaf walau belum bisa menjalankan sepenuhnya. Terakhir Mas ke Indonesia waktu dengar Papa kondisinya makin parah. Mas Lyno belum ke Indonesia lagi sejak itu karena ada pandemi dan kondisi anak-anak yang makin besar dengan berbagai kesibukannya. Jadi aku udah 6 tahun gak ketemu.

Tapi tahun ini, Mas-ku happy banget. Setelah kurang lebih 18 tahun tinggal di sana, Mama dan adikku serta istrinya tahun ini bisa berkunjung ke Belanda. Mas seneng banget bisa ketemu Mama. Pas Mama balik ke Indonesia, semua yang berkaitan Mama di foto dan disend ke grup keluarga. Tempat Mama biasa duduk, tempat Mama sarapan. Handuk Mama bahkan gak dicuci biar masih bisa cium bau Mama. Mas insya Allah sangat berusaha juga jadi anak yang berbakti.

Waktu Mama pulang, aku bahkan dapat oleh-oleh french khimar dan sirwal dari Mas. Aku pikir itu oleh-oleh yang dibeli waktu Mas umroh (ini juga ada ceritanya karena berkaitan dengan Mama). Ternyata itu bukan dibeli pas umroh. Ketahuannya karena ada label di french khimar dan sirwalnya, bertuliskan made in French. Aku sendiri cukup heran karena ternyata Perancis yang di media-media ngelarang dan sungguh ketat dengan “jilbab” apalagi “cadar” bisa ada yang produksi ini. Masya Allah.

Balik lagi ke Mas. Yang tambah bikin sedih adalah aku gak bisa membayangkan kesedihan Mama kali ini. Mama yang udah umur 70 tahun. Aku aja yang saudaranya sedih dan sering muncul pikiran sedih ini di aktivitas harian, apalagi Mama, ibu-nya.

Tapi Mama belum tahu. Mas berpesan untuk gak cerita ke Mama.

Mas insya Allah ke Indonesia setelah lebaran ini untuk menceritakan musibah yang menimpanya. Sebenarnya sama. Mas sepertinya terkena fitnah. Mendengar voice note ketika membalas pesan dari Abang yang berusaha menguatkan, aku tahu Mas menahan tangis atau bahkan sudah menangis. Aku jadi tambah sedih.

Insya Allah kemungkinan pekan depan Mama bakal datang. Ini yang juga bikin aku berat karena pas juga bertepatan Mama pas lagi berkunjung ke tempat Mba yang di Surabaya yang memang biasanya dilanjutkan ke aku di Jogja. Rasanya berat karena harus menahan cerita ini.

Jadi bertepatan dengan kejadian ini, aku juga sedang menyiapkan hal-hal sebelum Mama datang. Penataan rumah dan lain-lain agar semuanya bisa lebih nyaman insya Allah. Karena Mama akan menempati kamar yang biasa aku pakai dengan Abang. Sepekan kemarin, anak-anak juga baru aja melalui ujian semester. Biasanya, kalau anak-anak ujian, jadwalku lebih padat lagi karena ada hal yang harus dilakukan –yaitu ujian itu sendiri-. Jadi ritme kegiatan gak seperti biasanya.

Ya Allah mudahkanlah urusan Mas-ku. Berilah pertolongan padanya. Kuatkanlah dia dan beri kesabaran yang berlimpah untuknya.

cizkah
9 Desember 2024

Semoga Dipertemukan di Surga

Bacaan yang bikin hati bergetar, apalagi kalau pahamin artinya.

Kembar lagi hafalin surat Ath-Thur. Awal-awal pas sampai ayat 21 agak macet dan mesti hati-hati bagian dzurriyatu sama dzurriyata….

Entah kenapa setiap lagi bimbing kengiang-ngiang sebuah nada bacaan. Aku mikir bacaan siapa ya?

Baca selengkapnya Semoga Dipertemukan di Surga

Surat dari Ziyad

Surat dari Ziyad 10 tahun yang lalu (2014)

Waktu masih polos dan lebih banyak meluangkan waktu bareng aku. Belum banyak pengaruh pertemanan macem-macem.

Yang sering nulis romantis tentang aku –tanpa aku ketahui–.
Yang kalau disebut sekarang dia malah ngeles atau malah mengalihkan seakan-akan itu cuma iseng atau apa.

Walau… rasanya akan manis kalau dia masih bisa sesweet ini pas udah gede, tapi ya memang masa, cara berpikir dan bersikapnya juga memang udah beda.

Baca selengkapnya Surat dari Ziyad

Gelar…

“Penghambaan terhadap gelar…”

Waktu dengar kalimat ini pertama kali, rasanya belum terlalu yakin bentuknya seperti apa. Tapi sepertinya dengan berbagai fenomena yang ada sekaarang, ini bisa dengan mudah ditemukan contohnya.

Kita mungkin cukup terheran-heran mendengar informasi bagaimana ada sosok yang belum diketahui secara jelas latar belakang pendidikannya atau kontribusinya di masyarakat atau kemanusiaan tiba-tiba saja mendapatkan gelar doktor honoris causa. Tak lama dari berita ini, kita kembali lagi dibuat heran karena ada seorang yang bisa menyelesaikan program doktoral hanya dalam waktu 1 tahun 8 bulan.

Kita yang mendengar dan melihat berita ini dari “kejauhan” mungkin menganggapnya sebagai berita layaknya berita lainnya. Hanya menjadi “informasi” ada kejadian semacam ini, kemudian berlalu begitu saja karena merasa itu gak berkaitan dengan kehidupan kita.

Tapi mungkin kita gak menyadari bahwa ada hal-hal yang lebih sederhana sebenarnya juga terjadi di sekitar kita. Bentuknya bahkan bisa jadi kita sendiri yang memberi “ruang” gelar itu.

Hmm…Gimana gimana?

Belum Bergelar

Gak usah jauh-jauh tentang yang bergelar. Ada yang bahkan belum ber”gelar” juga memanfaatkan sesuatu yang belum diraihnya dengan menempeli program studi yang sedang ditempuh.

“Mahasiswa Program Studi …. Universitas ….”

Pernah melihatnya?

Baca selengkapnya Gelar…

Catatan Kembar Belajar Sepeda Roda Dua

Januari tahun 2023 -saat usia 6 tahun 3 bulan- kembar mulai bisa ngendarain sepeda roda dua. Aku keingat pingin catat cara mengajarkan mereka bersepeda roda dua di blog. Tapi seperti biasa, ada bahasan-bahasan yang udah berlalu waktu itu yah…jadinya malah kelewat dan udah makin tertumpuk sama bahasan-bahasan baru yang perlu ditulis.

Tapi karena ada hal terkait sepeda kecil mereka yang bakal aku bahas di bawah insya Allah, menguatkan tekad untuk mencatat ini. Karena sudah 5 anak yang dilalui dan alhamdulillah masing-masing ketika masa kecil punya sepeda kecil, jadi mungkin ada catatan dari pengalaman ini yang bisa untuk jadi pertimbangan teman-teman yang akan memilihkan sepeda untuk anaknya.

Berdasar pengalaman kakak-kakaknya, aku beliin kembar sepeda menunggu waktu yang tepat insya Allah. Dalam arti, sepedanya gak kebesaran dan tapi masih bisa dipakai juga untuk belajar sepeda roda dua. Waktu masih kecil, mainan yang sifatnya seperti mobil-mobilan, motor-motoran sudah mencukupi insya Allah. Selain harganya lebih murah, mainan seperti ini mudah digunakan dan anak-anak sudah bisa menikmati rasa “berjalan” di atas sebuah benda beroda.

mainan motor kembar
Baca selengkapnya Catatan Kembar Belajar Sepeda Roda Dua

Channel Murottal Tanpa Effect

Baru-baru ini, di suatu pagi, aku share video bacaan murottal tanpa auto tune. Nah, mungkin ada yang search berdasar nama yang muncul di layar, yaitu Omar Dia Aldeen. Tapi channelnya bukan khusus tentang beliau. Kalau Omar Dia Aldeen ada channelnya sendiri Channel Omar Dia Aldeen.

Nah, Omar Dia Aldeen yang waktu itu tampak di layar adalah satu qori yang bacaannya diedit lagi supaya efffect-effect suaranya hilang dan jadi seperti bacaan alami tanpa effect.

Baca selengkapnya Channel Murottal Tanpa Effect

Resep Ikan Gurami Bakar Mudah dan Lezat

Dulu-duluuu banget, masak ikan spesial itu berarti bikin ikan pepes yang berbumbu melimpah, dibungkus daun pisang. Tapi, untuk bikinnya jadi kerasa berat karena harus menyiapkan bumbu yang banyak dan proses bungkus ikan yang biasanya butuh usaha dan endingnya juga dapur suka jadi berantakan.

Tapi setelah bikin ikan bakar model bumbu simple kaya gini juga malah pada seneng dan bisa netral buat semua orang insya Allah. Akunya juga merasa jadi lebih mudah untuk mewujudkan masakan spesial.

Menurut aku, satu hal yang bikin spesialnya itu karena pakai gurami-nya. Kalau lagi ke warung makan sama keluarga besar, gurami –dengan berbagai variasi bumbu– biasanya jadi pilihan kan? Langsung aja ke resepnya ya. Resep yang aku catat di sini untuk 2 gurami. Jika untuk satu gurami, bisa dikurangi sedikit, bukan dijadikan setengah resep ya.

Baca selengkapnya Resep Ikan Gurami Bakar Mudah dan Lezat

Resep Sambal Teri Mudah

Sebenarnya resep ini sudah aku tulis di Resep Satu Sambal untuk Semua. Aku perjelas lagi dan tulis ulang dengan beberapa catatan tambahan lagi. Kenapa aku bilang mudah? Karena aku juga udah catat resep sambal teri lainnya yang juga enak tapi proses dan bahannya lebih banyak. Bisa dilihat di Resep Sambal Teri Terong.

Baca selengkapnya Resep Sambal Teri Mudah

Hadiah yang Berkesan dari Ibu Pemulung Tua

Cerita ini adalah kejadian yang baru saja terjadi di bulan Oktober 2024 ini. Suatu malam, aku sedang keluar rumah bersama Abang. Biasanya sekali keluar kami sekalian menyelesaikan berbagai hal. Sampailah kami di apotek yang letaknya di depan Superindo. Abang memesan roti bakar langganan yang berjualan di depan apotek Aku masuk ke apotek membeli beberapa obat. Ketika keluar, aku keingat susu di rumah sepertinya udah abis juga. Mumpung sedang di depan Superindo, aku ajak Abang ke sana.

Ketika mau menyebrang, tiba-tiba seorang ibu tua berjilbab menyapa Abang. Abang menjawab dan beramah tamah. Sang ibu masih terus mengajak Abang bercakap-cakap. Kami tetap dalam posisi bersiap menyeberang, tapi juga menunda karena membiarkan sang ibu menyelesaikan omongannya. Aku yang masih belum tahu siapa sang ibu hanya memberi gesture senyum ramah tapi tidak ikut dalam percakapan.

Saat jalan kosong, Abang menyudahi pembicaraan dan kami menyebrang ke superindo. Setelah menyebrang, baru aku ketahui sang ibu adalah seorang pemulung. Kami tidak berlama-lama di Superindo karena berniat segera pulang. Ini karena sebelumnya kami sudah ke tempat lain, di antaranya ke Prima Fresh. Kami membeli stok ayam untuk sekitar 4 hari. Belanjaan itu kami masukkan di tas tertutup dan diletakkan di bagian depan motor Revo. Aku pikir, setelah dari Superindo, membayar roti bakar, kami bisa segera pulang. Ternyata yang terjadi kemudian benar-benar di luar rencana.

Sang ibu pemulung masih ada di sana, di dekat penjual roti bakar. Beliau mengajak Abang bercakap-cakap lagi karena Abang sedang membayar roti bakar. Sang ibu kemudian mulai bergerak ke arahku yang sedang menunggu di dekat motor. Abang sempat memberikan satu bungkus roti bakar yang kami pesan. Sang ibu menolak, katanya sudah dibikinkan sang penjual roti bakar. “Gpp Bu, insya Allah ini bisa tahan 2-3 hari,” kata Abang.

Sang ibu menghampiri dan menyalamiku. Kami berkenalan. Perawakan sang ibu lebih kecil dariku. Memakai jarik, kebaya sederhana dan sendal jepit. Semuanya lusuh. Karung wadah mengumpulkan barang bekas sepertinya diletakkan di dekat penjual roti bakar yang ternyata sudah dikenalnya sejak 8 tahun yang lalu. Dengan cepat, aku langsung bisa paham bahwa sang ibu tinggal di dekat rumahku. Memang tempat tinggal kami dekat dengan pengepul dan pengumpul sampah. Ada pemulung-pemulung yang tinggal di situ.

Aku pikir ini akan jadi obrolan singkat di pertemuan singkat yang biasa terjadi ketika ketemu seseorang di jalan. Perkiraan ku salah. Sang ibu terus mengajak bicara. Tentu saja aku juga berusaha menanggapi pembicaraan sang ibu. Tapi aku heran karena Abang seperti tidak menunjukkan tanda-tanda membatasi percakapan. Justru Abang menanggapi dan memancing pertanyaan baru.

Baca selengkapnya Hadiah yang Berkesan dari Ibu Pemulung Tua

Bias Kehidupan Dunia Maya

Hampir dua pekan gak muncul di instagram. Banyak hal yang jadi penyebab. Mungkin karena akumulasi dari banyak hal ini, bikin aku sampai di titik kehilangan keinginan dan kekuatan untuk memposting atau membahas apapun di sana. Ada momen-momen aku mau posting, tapi selalu urung, mikir dan akhirnya gak jadi.

Faktor yang cukup bikin jadi di titik yang melemahkan adalah kesimpulan bahwa betapa kehidupan di social media ini seperti punya tolok ukur sendiri yang berbeda dengan dunia nyata. Gak tau orang sadar apa engga tapi ini jadi satu fenomena yang umum.

Orang senang melihat kehidupan yang terlihat luar biasa, hebat dan sempurna dan juga suka melihat kehidupan yang santai, seru, liburan kemana-mana. Padahal hidup gak semudah dan seindah yang tampak di social media itu.

Orang menikmati dan mewajarkan sajian dari keluarga yang menjadikan “berbohong” sebagai sebuah bercandaan. Apa aku yang terlalu serius dan menganggap ini sudah masuk ke ranah sesuatu yang harusnya bukan dijadikan bercandaan? Tapi kenapa orang-orang menganggap ini lucu, wajar dan sebuah “usil” yang menggemaskan? Bagaimana serapan dari anak yang melihat orang tuanya iseng dengan bohong?

Yang di atas ini cuma dua contoh aja dari banyak hal. Mungkin bisa dimaklumi karena pada umumnya begitulah memang dunia yang dunawi. Tapi yang paling bikin kecewa sepertinya yang satu ini:

Orang bisa dianggap berilmu dengan mudahnya dan orang merasa senang karena dianggap sebagai sosok berilmu. Paradoks.

Aku jadi merasa tiba-tiba mengkerut. Seperti bola yang kena paku-paku yang sangat banyak. Jadi gak berdaya.

Baca selengkapnya Bias Kehidupan Dunia Maya

Tentang Bacaan Buku Umum: Sebuah Cerita dan Renungan

Berapa bulan yang lalu, aku baru membaca buku- yang gak perlu aku sebut di sini. Dari situ, banyak hal di kehidupan yang rasanya jadi pingin aku catat. Karena ada hal-hal yang sifatnya fenomena sosial budaya yang mungkin hanya berlaku di masa itu dan kemudian tinggal sejarah karena perkembangan zaman.

Fenomena sosial budaya ini mungkin dianggap aneh oleh generasi selanjutnya. Gak terbayangkan ada hal yang bahkan sifatnya wajib atau dianggap aib di suatu masa. Sebaliknya, ada juga mungkin hal yang seperti biasa-biasa saja padahal sebenarnya banyak catatan jika dilihat dari kacamata “kenormalan” perilaku manusia atau masyarakat pada umumnya.

Jadi, kalau aku mencatat hal-hal yang gak kaya biasanya, itu sebenarnya ya karena pingin mencatat aja. Bukan mau bahas satu sosok tertentu insya Allah. Jadi gak usah dipikir-pikir atau dicari tahu lagi bahas siapa. Karena catatannya adalah fenomena sosial budayanya.

Tentang Buku Umum

Aku hampir gak pernah share buku umum yang aku atau kami baca di rumah. Sebabnya macem-macem sebenarnya. Salah satunya karena kadang pandangan orang -yang sudah ngaji- terhadap buku umum (atau bahkan novel) kadang-kadang kaya jadi antipati. Antipatinya sebenarnya juga macem-macem sebabnya. Jadi, terlalu kompleks dan melelahkan kalau harus dijelasin padahal tolak ukur masing-masing beda-beda.

Aku pernah punya satu pengalaman tentang ini. Kejadiannya masih sering muncul di percakapan aku dan Abang. Kejadian bullying Ziyad di TK-nya dulu semacam ada memori tersendiri -yang kurang menyenangkan- baik untuk Ziyad maupun untuk aku dan Abang.

Sebelumnya, mungkin kita perlu tahu realita bahwa lembaga pendidikan yang masih rintisan seringkali merekrut tenaga pekerja yang latar belakangnya bukan khusus dari pendidikan yang sesuai. Dari sinilah kejadian ini berlanjut..

Baca selengkapnya Tentang Bacaan Buku Umum: Sebuah Cerita dan Renungan

Cerita ke Toko Buku

Kemarin Sabtu 19 Oktober 2024, kami ke toko buku. Kata kami di sini sebenarnya perlu didetailin lagi. Banyak hal yang mau aku ceritain termasuk tentang “kami” di sini.

Buat mutusin “berangkat” dan “jadi” ke toko buku itu sebenarnya macem-macem pertimbangannya. Termasuk masalah biaya. Alhamdulillah baru-baru ini mereka dapat hadiah THR yang tertunda dari seorang sahabat. Aku tawarin ke anak-anak uangnya buat beli buku aja.

Mereka yang udah mulai besar dan udah milih-milih buku sendiri udah tahu kisaran harga buku berapa. Rezeki yang baru mereka dapat jadi penguat buat menjalankan rencana ke toko buku yang dari kemarin belum terwujudkan.

Aku sama Abang kalau bikin rencana tuh gak mau yang terlalu saklek banget. Diniatin tapi sama-sama “kita lihat situasi”. Hehehe. Jadi, yang berencana secara waktunya aku sama Abang aja. Gak disampaikan ke anak-anak. Biar kalau gak jadi ya gak kecewa, kalau jadi ya alhamdulillah.

Alhamdulillah, abis sholat ashar, Abang nanya, “Jadi gak ke toko buku?” “Ya ayo.” Tiga sekawan -Luma dan kembar- langsung seneng dengernya.

Dua Motor

Ya Allah, ternyata mau cerita ke toko buku aja, ada hal-hal yang perlu diceritakan supaya dapat gambaran di baliknya. Begitulah…Dalam hidup banyak faktor yang berpengaruh ke aktivitas hidup lainnya. Ini padahal baru satu kegiatan yang harapannya dilakukan bersama-sama.

Di rumah ada 2 motor alhamdulillah. Satu motor tua yang usianya udah >20 tahun, motor Karisma milik mertua dan satu motor Revo yang…ah ini ada ceritanya sendiri juga.

Kemungkinan untuk momen kaya gini, formasinya aku bonceng salah satu dari kembar dan Thoriq sedangkan Abang bonceng Luma dan salah satu dari kembar.

Tapi kalau gitu kan baru 3 + 3 = 6. Sedangkan kami bertujuh. Jadi gimana? 🙂

Dua Anak Bujang

Sebenarnya, aku berharap Ziyad ikut. Sama seperti dulu-dulu. Lagian kan buat variasi kegiatan dia.

Memori ke toko buku Toga Mas Januari tahun 2019

Memori ke toko buku Toga Mas Juli 2019

Pernah sekali berhasil dia ikut, dan itu dia naik gojek. Tapi dia gak tergerak. Karena dulu kami pernah ke toko buku Toga Mas pakai sepeda – karena sebenarnya ini memang cukup dekat ± 3,5 km-, aku motivasi Ziyad untuk naik sepeda. Tapi udah ketebak kalau dia kurang tertarik.

Ini sebenarnya bukan berarti dia gak suka ke toko buku. Tapi kalau ke toko bukunya harus effort naik sepedanya itu yang dia kurang tertarik. Akhir Agustus kemarin, karena ada buku yang pingin aku beli, aku nitip ke dia untuk beli di toko buku. Dia ke sana naik motor bareng Thoriq. Di sana dia malah beli buku bagus buat dia sendiri pakai duit dia sendiri, judulnya Psychology of Money.

Bukan juga dia gak suka naik sepeda. Karena ada momen lain dimana dia mau susah payah naik sepeda untuk bisa olahraga di lapangan Pemda yang lokasinya lebih jauh dari toko buku. Kompleks yaaa hehehe. Gitu yah ngadepin anak yang udah gede dan udah punya pertimbangan sendiri.

Baca selengkapnya Cerita ke Toko Buku

Jangan Mudah Tersilaukan

Anak-anak biasa bermain di sore hari. Kesempatan itu biasanya aku gunakan untuk melakukan pekerjaan di depan laptop. Suatu hari, Kholid pulang dan langsung masuk ke ruang kerjaku.

“Mi, biru tua campur biru emangnya merah?”

Aku heran dengan pertanyaannya. Mereka sudah sangat sering bermain dengan warna dan hafal campuran-campuran warna yang dihasilkan. Aku bilang, “Ya tetap biru.” Kholid tuh kaya masih ragu-ragu aku jawab seperti itu. Tambah lagi dia nanya,

Tambah lagi dia bertanya, “Kalau ungu campur merah nanti jadi hijau?”

Lho, kok makin aneh. Aku lupa bagaimana responku selanjutnya. Tapi akhirnya ketahuanlah bahwa ada anak kampung sini yang usianya lebih tua dari mereka yang mengatakan hal itu, merespons Kholid yang memberitahu bahwa, “Biru sama merah nanti jadi ungu.”

Perjalanan mereka mulai belajar bergaul dengan anak-anak di lingkungan kampung sini cukup intensif sekitar bulan Juli. Aku sudah mulai memberi batasan ketika melihat perkembangan proses pergaulan ini menunjukkan tanda-tanda SANGAT tidak bagus, bahkan sejak bulan Agustus.

Responku yang muncul dari kejadian di atas lebih karena aku sudah punya gambaran karakter anak, gaya pergaulannya, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu.

Baca selengkapnya Jangan Mudah Tersilaukan

Satu Jalur Waktu

Masih ingat tulisan singkat aku ketika menceritakan tentang keputusan supaya Thoriq kembali belajar di rumah? Waktu itu aku sedikit menyebut tentang satu jalur waktu. Aku perjelas di sini.

Mungkin ketika kita memahami dan menyadari bahwa kita hanya punya satu jalur waktu dalam kehidupan, akan memudahkan ketika kita mau memutuskan sesuatu atau menentukan skala prioritas.

Dalam satu jalur waktu, kita tahu gak semua bisa dijalankan berbarengan. Badan kita juga gak bisa berada di dua tempat. Ketika memutuskan langkah kehidupan, yang perlu kita lihat adalah tujuan di depan yang mau kita capai. Tujuan ini bisa tujuan jangka pendek atau jangka panjang.

Contoh Keputusan Thoriq Kembali ke Rumah

Untuk Thoriq, ada tujuan jangka pendek yang hendak dicapai. Tapi…Kalau Thoriq tetap di pondok, maka sekitar 6 hari dia melalui berbagai hal di pondok. Bertemu dengan aku hanya sekitar satu hari -karena dijemput Sabtu sore dan diantar Ahad sore-. Biasanya pun, karena sudah menghabiskan waktu yang lama di pondok, ketika di rumah lebih ingin digunakan untuk santai.

Baca selengkapnya Satu Jalur Waktu