Buku Pertama: Menata Hati

Alhamdulillah alhamdulilah terwujud juga.

Selama lebih dari 20 tahun membuat catatan kehidupan (baik di blog atau di media lainnya), aku mencatat berbagai hal yang ada di kehidupan.

Isi catatan tersebut bisa dari sisi aku sebagai seorang perempuan, sebagai seorang istri, seorang ibu, atau berupa renungan agar aku bisa lebih kuat menggenggam “tali” yang sudah Allah sediakan untuk hamba-Nya.

Karena catatan tersebut sudah saling tumpang tindih, aku mencoba memilahnya yang insyaAllah akan menjadi buku-buku.

Buku pertama ini adalah kumpulan tulisanku yang berkaitan dengan cara memandang, yang sebenarnya memandang itu diolahnya di hati.

Ada teman-teman yang mengira bahwa buku yang akan aku buat berkaitan dengan homeschooling atau pendidikan anak. Akan tetapi, pendidikan anakpun sebenarnya dimulai dari cara pandang orang tua terhadap akhirat dan dunia.

Alhamdulillah Allah beri petunjuk untuk mendahulukan tulisan tentang ini sebelum tulisan-tulisan lainnya.

Semoga Allah mudahkan buku ini bisa membantu hati teman-teman untuk melihat dengan cara yang lebih baik.




Buku ini dicetak mandiri dan terbatas sesuai yang ingin memesan. Karena aku bukan penerbit dan punya keterbatasan untuk menstok dalam jumlah banyak.

Pemesanan lewat Tokopedia Lumalumi ya.
https://www.tokopedia.com/lumalumi

Atau di lumalumi.com

Jogja 21 September 2023

#menatahati #menatahaticizkah

Narasi #1

Suatu hari, ada seorang ibu A berusia ±40 yang baru keluar dari rumah hendak ke warung. Suaminya juga sedang berada di luar rumah, sudah siap di atas motor, menunggu anaknya yang berusia 16 yang akan berangkat kuliah.

Ibu A sempat merekam kejadian tersebut karena itu adalah momen pertama kali anaknya berangkat kuliah. Sebuah momen yang membahagiakan.

Seorang perempuan muda yang berusia ±25 melewati keluarga tersebut.

Ternyata Ibu A bertemu dengan perempuan muda di warung yang tidak berada jauh dari situ. Sang perempuan membuka percakapan.

“Wah, ternyata trend celana pensil dipakai mamas.”

Ibu A yang tidak mengenal sosok perempuan muda ini berusaha menjelaskan dengan ramah. Karena merasa pembicaraan itu mengarah ke celana yang dipakai anaknya, ibu A menjelaskan kalau itu bukan celana pensil. Tapi celana biasa, celana blackhawk yang umum dipakai orang.

Ibu A kira hanya cukup sampai di situ.

Ternyata perempuan muda melanjutkan percakapan tersebut,

“Oh…Karena kurang suka lihat celana ketat pada lelaki.. kasihan ke testisnya. Katanya ngaruh ke kesuburan.”

Mendengar itu, ibu A cukup terkejut namun berusaha bersikap tenang. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Setelah diam sejenak, ibu A menjawab singkat untuk menghentikan percakapan yang terasa kurang menyenangkan ini, “Oo semoga Allah mudahkan supaya kamu bisa mendapatkan yang kamu sukai.”

Sang perempuan ternyata masih menjawab sambil tertawa, “Saya sudah punya suami, Bu. Maaf.”

Saat pulang kembali ke rumah, ibu A berusaha merenung, melihat ke hpnya. Melihat kemungkinan celana tersebut menjadi celana pensil.”

Saat melihat rekaman yang ia buat saat suami dan anaknya akan berangkat, semakin terkejutlah dia, karena sebenarnya sepertinya yang dimaksud dengan “Mamas” adalah celana suami ya.

Astaghfirullah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Padahal celana suaminya justru dari sebuah merk yang insyaAllah memperhatikan sunnah dalam berpakaian.

Semoga Allah memperbaiki adab dan akhlak perempuan tersebut. Semoga Allah memudahkannya menjaga pandangannya.

Ibu A berdoa semoga tidak dipertemukan lagi dengan perempuan muda tersebut.

Selesai narasi.

Batasan Celana Ketat

Sekitar tahun 2005-2007 sering terjadi ribut-ribut manhaj salah satunya karena masalah celana.
Abang mengingat salah satu yang pernah disampaikan ust Zaen, bahwa batasan celana ketat itu ketika dipakai posisi normal.
Adapun saat posisi rukuk, sujud (apalagi lagi mengendarai motor), bukan jadi ukuran.
Sarung yang super longgar aja, kalau lagi rukuk/sujud bisa jadi ketat :).
“Makanya Abang suka ngelarang Adek kalau di tempat umum posisinya yang jadi terlihat lekuk tubuhnya.”
Misal posisi mengambil barang di swalayan jangan rukuk, tapi jongkok aja.

cizkah

12 September 2023

Masih berkaitan dengan hal ini, Ketika Engkau Merasa Tidak Sopan

Pertama Kali Ujian ANBK

Dua hari ini cukup melelahkan, karena jadwal Ziyad ANBK.

Tanggal 23 Agustus (slide terakhir) aku sempat share lagi kalau Abang dan Ziyad lagi gladibersih untuk ANBK.

Ini sesuatu yang baru ya.
Seperti pernah aku bahas di tulisan PKBM, berbagai hal bisa terjadi dalam perjalanan homeschooling terkait birokrasi atau aturan dari pemerintah.

Tetap tenang dan ga usah khawatir insyaAllah.
Yang penting anaknya belajar.

Baca selengkapnya Pertama Kali Ujian ANBK

Khobar Lebih dari Satu dan Khobar Ma’rifah

Waktu aku posting tentang bab njelimet di bahasa Arab,

bab la nafiyah

ada yang mereply dan menanyakan sebuah pertanyaan menarik.

Alhamdulillah jadi diskusi dan bisa sama-sama dapat faidah.

  • Pertanyaannya terkait tentang khobar kedua apakah harus sama dengan khobar satu.
  • Pertanyaannya lainnya kapan khobar itu ma’rifah?

Aku jawab cepat – berdasar perkiraan – . Karena di otak aku fokusnya ke bahasan di kitab Ajurumiyah dan udah lama gak muroja’ah kitab lainnya yang pernah aku pelajarin jadinya malah fokus ke jenis khobar yang ada di penjelasan kitab Ajurumiyah (nanti dibahas di bawah insya Allah). Alternatifnya, di pikiran aku itu terlihat sebagai badal kul min kul tapi ternyata bukan hehe (dari dm-an yang masuk, ini banyak yang ngira ini na’at man’ut).

Akhirnya aku ngecek ngecek aplikasi Qur’an Android di i’rob Al-Qur’an sama search di internet. Hasilnya: i’robnya hanya menyebutkan خبران (dua khobar). Ya udah, kita cukupkan aja dengan penjelasan dari i’rob Al-Quran.

i'rob alquran surat mumtahanah ayat 10
Bisa dicek sendiri dari aplikasi Qur’an Android. Di bagian download, silakan download yang khsusu i’rob Al-Qur’an.
i'rob alquran surat mumtahanah ayat 10
yang ini dari website surahquran.com

Penjelasan Khobar Lebih dari Satu

Alhamdulillah tapi jadi buka-buka lagi pelajaran di kitab yang aku pernah pelajari dan kitab yang ada di rumah. Makanya ini dicatat lagi di sini ya.

Bahasan ini memang gak ada di kitab Ajurumiyah atau di syarahnya di kitab Tuhfatus Saniyah. Jadi, khobar bisa lebih dari satu. Ini ada penjelasannya detilnya.

Untuk yang aku cek di kitab di Mulakhos halaman 34. Sebenarnya mau bahas tentang mulakhos, tapi sepertinya di lain kesempatan lagi ya insya Allah.

Salah satu contohnya:
الرُّمانُ حلْوٌ حامِضٌ

Buah Delima itu manis asam.

mulakhos bab khobar lebih dari satu
Ini tulisan di buku tulisan lama banget pas baru belajar tahun 2005

Ada juga di Mutamimmah Ajurumiyah

Tapi kelihatan sebenarnya dari sumber-sumber kitab, bahasan ini memang bahasan lanjutan. Jadi, ya gpp kalau ternyata kita jadi sadar kita perlu terus belajar.

Baca selengkapnya Khobar Lebih dari Satu dan Khobar Ma’rifah

Pohon Bidara dan Haid

Punya pohon bidara sejak Corona kemarin. Tapi suka lupa kalau pas mau mandi haid.

Akhirnya setahun terakhir pas mulai ada matahari yang cukup panjang jadinya kering terus mati.

Mungkin ada yang ga nyadar, tiap tahun 2022 itu sepanjang tahun gelaaap, menduuung. Aku udah sampai di tahap ga semangat kerja pas di bagian teras gelap terus. Akhirnya alhamdulillah mutusin beli lampu meja, bener-bener emang wujud nyata dari “jangan cela kegelapan tapi nyalakan lampunya” hehe.

Tapi waktu itu, aku membutuhkan peyakinan dari Abang untuk “Gpp beli lampu yang aku suka untuk di meja kerja, karena itu lebih berharga daripada nilai harga lampu itu sendiri –yang menurut aku cukup mahal–.

Alhamdulillah nurut Abang dan happy.

Balik lagi ke masalah Bidara, tahun 2022 yang dominan mendung dan hujan dengan sesekali panas, bidara-nya masih bertahan hidup.

Baca selengkapnya Pohon Bidara dan Haid

Angka 1-100, Outlined Siap Print di Kertas Berwarna (Potong per Angka)

File ini dibuat saat hamil kembar dan diupload di lumalumi.com. Jadi, bahasa awal yang dipakai memang umum, bukan seperti tulisan di cizkah.com ^^. Aku salah hitung berarti pas share di story hari ini, ternyata 7 tahun yang lalu. Karena ingatnya saat hamil kembar, sedangkan kembar udah mau 7 tahun. Berarti mundur lagi setahun. Ternyata hamil dan lahirnya kembar terjadi di tahun yang sama tahun 2016.

angka 1-100 cizkah
Ini salah hitung, harusnya 7 tahun yang lalu

File ini dapat di print di kertas HVS berwarna.
Sengaja aku pisahkan antara bilangan ganjil dan genap untuk memudahkan orang tua yang ingin memprintnya di kertas berbeda warna seperti yang kami lakukan.

File ini berisi:

Angka genap 1-100.

ganjil-outline 1-100

Angka ganjil 1-100.

genap-outline 1-100

Setelah diprint, orangtua/anak dapat menggunting angka-angka ini. Agar lebih efektif, berikut tips yang kami lakukan saat memotong hasil print angka 1-100 ini. Sebenarnya angka ini tidak banyak, karena total hanya 4 halaman :). Jadi, tetap semangat dari awal ya!

Baca selengkapnya Angka 1-100, Outlined Siap Print di Kertas Berwarna (Potong per Angka)

Bukti Homeschooling di Social Media?

Homeschooling itu…

Bukan berarti nyariin activity buat anak, dokumentasi tiap aktivitas, kemudian seperti terjebak harus posting social media tiap hari untuk menunjukkan ke-homeschooling-an.

Atau kalau dibalik, ketika ada kelihatan yang melakukan itu, jangan insecure.

Activity yang terlihat di social media itu, bisa jadi mengambil porsi “sebentar”.

Kenyataannya, kita beraktivitas sama anak itu seharian.

main angka 1-100
angka 1-100 cizkah

Pernah suatu saat, ada yang dm di IG tanya, “Mba masih homeschooling?”

Pas aku lihat feed aku, emang ga kelihatan homeschooler banget ya hehehe. Ga ada foto-foto aktivitas atau apa gitu.

Baca selengkapnya Bukti Homeschooling di Social Media?

Juz 28

Haloo yang anak-anaknya udah sampai juz 28 :).

Selamat berjuang 🙂.

Nanti sampai Al-Hadid (surat terakhir juz 27), okee tambah harus konsentrasi ya pas nyimaknya.

Karena di Al-Hadid banyak lagi yang mirip sama surat di juz 28 terutama surat At-Taghobun.

Walaupun udah lewat sampai juz di atasnya lagi, pas setoran juz 28 biasanya kerasa tetap lebih butuh konsentrasi.

Ternyataaa, pas Ziyad di pondok (pas SMP), setiap juz itu kan di tes dulu (ujian kenaikan juz). Semua anak rata-rata ya sama, di juz 28 yang bikin “gemes”.

Sebenarnya, aku udah ngasih titik ingat-titik ingat. Tapi yang namanya titik ingat tetap butuh perhatian, pengulangan, konsentrasi, paham arti. Kalau ga konsen tetap bakal nyasar.

[di postingan instagram ini ada beberapa “testimoni” terkait juz 28)

Nah, sekarang lagi masa-nya Luma.
Untuk hafalan baru, Luma udah sampai Al-Waqi’ah.
Tapi setiap setoran Al-Hasyr bagian ini cukup super belibet.

Kemarin, pas setoran Al-Hasyr belibet banget di sini, dan udah aku bantu jelasin biar ga terlalu belibet. Akhirnya aku hentikan dan minta dia ulang-ulang sendiri 2 ayat ini.

Baca selengkapnya Juz 28

Review Binder Rakit Sendiri (DIY)

Nyoba model “rakit” binder sendiri.

Ringnya yang model gini udah ada ukuran pasti B5 atau A5.
Isinya kayanya pas-nya isi 50-70 lembar aja.
Jadi bukan yang model bisa ditambah banyak-banyak kertas sesuai dg jenis bahasan yang kita catat. Bahkan untuk ngisi buka tutup agak susah ya.

Kelebihannya dapat feel rapi-nya ya.

binder diy
Penampakan ketika ditegakkan
Baca selengkapnya Review Binder Rakit Sendiri (DIY)

Dari Pepes ke Kholil bin Ahmad

Di momen makan bareng, memang banyaaak banget hal yang bisa di bahas.

Ini makan siang kemarin (7 Agustus 2023). Awalnya kami lagi bahas ttg lauk pepes yang sedang kami makan.

Ziyad lagi bahas, ngebayangin ada cara kalau foto makanan langsung bisa ngeluarin resep.

Baca selengkapnya Dari Pepes ke Kholil bin Ahmad

Cara Ngompos Sederhana

Penjelasan ringkas dan dibikin super sederhana.

Tapi pada dasarnya begitulah praktek aku dari awal.
Ga ada istilah-istilah atau teknis tertentu.

Dimulai pakai lemari bekas buat nampung, kasih tanah sedikit, sudah. Mulai.

Baca selengkapnya Cara Ngompos Sederhana

Kompos Matang

Target keluar ke halaman (yang ga sering dilakukan ini 😊) adalah ngecek kompos yang kemungkinan udah matang.

Target awal planter bag paling besar ukuran 160l.

Proses isi sampah organik + daun kering di tiap wadah komposter sebenarnya udah lama banget.

Tapi, ketika udah mau “matang”, diisi lagi sama Abang, Ziyad atau Thoriq, karena biasanya nuang ke wadah mana aja yang terlihat lapang 😌.

Aku juga ikutan nuang tapi kadang-kadang aja, kalau pas lagi mau cek ricek kondisi atau rapihin beberapa hal di halaman seperti hari ini.

Sampai akhirnya, aku putusin beli tambahan 3 planterbag lagi ukuran 100l kemudian pesan ke semuanya untuk JANGAN tuang lagi di planter bag yang lama-lama, biar bener-bener bisa matang komposnya.



Setiap hal memang butuh kerjasama. Walau sesebentar apapun peran yang terlibat, semuanya berharga.


Misal:
– di rumah, semua udah tau, buang kulit buah, sayur, kulit telur, ya ke tempat sampah yang udah tersedia –yang aku taruh di bawah wastafel–.

– semua yang bertugas nuang dari tempat sampah organik ke planterbag perlu kerelaan melalui proses dari megang sampai nuang karena kadang ada baunya atau terlihat becek –karena kadang aku tuang air cucian beras yang tujuannya mempercepat penguraian 😊 –.

Tenang, kalau udah ketuang di planterbag dan bercampur dengan daun kering (unsur coklat), bakal aman ga ada bau insyaAllah.

Tujuan ngompos ini ga yang gimana-gimana. Kalau memang udah matang kemudian ga kepakai semua, ga punya tempat untuk nyimpan, ga punya waktu untuk ngolah semuanya, ga ada kenalan yang mau pakai, ya udah tuang ke tanah.

Insya Allah tetap bermanfaat di proses ngompos itu sendiri atau yang kembali lagi ke tanah Insya Allah :).



Planter bag ukuran 100 l (50 x 50cm) harga 18rb.
Tokonya di Tokopedia namanya MTP planterbag.

Mending pakai ini daripada yang didesain khusus ngompos –ada celah bukaan samping–. Kalau yang model gitu malah suka ambrol ga kuat nahan beban si kompos apalagi kalau diaduk-aduk.

Gimana sih sebenernya proses ngompos ini? Belum pernah aku bahas ya di blog.

Sekitar 2 hari yang lalu aku baru aja menjelaskan secara singkat di grup ibu-ibu RT karena berkaitan dengan penutupan sementara salah satu TPA di Jogja yang cukup bikin mikir penanganannya di tiap keluarga

Semoga Allah mudahkan untuk lebih bisa dijelaskan detil di blog teknis ngompos yang aku pakai ya.

Jogja, 27 Juli 2023



#komposcizkah #kompostercizkah #komposter #kompos #planterbag

Baca selengkapnya Kompos Matang

Jus Wortel

Sabtu kemarin jadwal ke dokter gigi, dan lagi dibahas tentang gigi bagian geraham yang masih agak goyang. Alhamdulillah yang depan udah bagus .

Keinget lagi tujuan beli slow juicer 3 th lalu kan utamanya untuk kesehatan gusi gigi ini.

Akhirnya meniatkan ngejus wortel lagi tapi nunggu Thoriq pulang. Karena ngejus ini butuh effort nyucinya biar sekalian dan biar Thoriq juga dapat manfaatnya.





Pas masa corona, aku pernah sakit gigi parah (yang waktu itu sakitnya bukan karena gigi bolong, malah secara dilihat biasa ya ga ada yang bolong).

Baca selengkapnya Jus Wortel

Apakah Bikin Kurikulum Sendiri?

Ada beberapa kali pertanyaan, apakah bikin kurikulum sendiri. Spesifiknya lagi, apakah bikin kurikulum yang isinya lebih ke arah sunnah?

Jawabannya: engga. Pakai buku pelajaran yang bisa dibeli di toko buku. Sesuai yang kemungkinan akan diujikan.

Pelajaran SD dan SMP
Pelajaran SMA

Apakah harus pilih atau seleksi yang kira-kira bisa kasih soalnya – khususnya agama – yang kira-kira anak-anak gak jadi salah paham?

Jawabannya juga engga. Karena ini bukan cuma PKBM yang tentukan, tapi juga dari pusat. Pun kalau ada soal-soal yang sekiranya gak sesuai yang kita didik ke anak, maka anak yang memang dibekali.

Ini salah satu contohnya.

Baca selengkapnya Apakah Bikin Kurikulum Sendiri?

Nasehat untuk Anak Perempuan

Sama seperti ketika aku bercerita tentang Thoriq saat hamil si kembar. Maka aku harus sampaikan juga ketika aku bercerita tentang Luma dengan karakter perempuannya, bukan berarti dia anak yang tidak baik. Masya Allah, malah banyak kelebihan-kelebihan lainnya yang Abang juga sering ingatkan aku.

Masing-masing anak tentu saja ada lika-likunya sendiri. Mendidik anak perempuan – yang ada kebengkokan di dirinya – dan dididik oleh aku yang juga perempuan – yang juga ada kebengkokan di diriku -, mungkin membuat suatu hal yang sederhana jadi bisa kompleks dari kedua belah pihak.

Alhamdulillah, Allah memberi petunjuk dan penguatan dalam mendidik anak Al-Qur’an. Kemudian Abang juga membantu mengarahkan aku untuk bersikap bagaimana menghadapi Luma. Tentu saja, di berbagai kesempatan, Abang juga ikut menasehati Luma. Biasanya tapi ketika momen ketika Luma sedang belajar sama aku, Abang gak ikut nyahut-nyahut saat aku memberi nasehat. Biasanya setelah selesai menasehati kemudian aku menghampiri Abang yang sedang kerja, Abang menguatkan aku dan mengingatkan aku untuk terus mendoakan dan sabar.

Baca selengkapnya Nasehat untuk Anak Perempuan

Salah Satu Momen Setoran; Sambil Rebahan di Kasur

Ga ada foto dan rekaman aktivitas yang lagi mau diceritain, jadi pakai foto September 2022.

Mau catat salah satu kondisi hafalan anak-anak.

Hari ini agak meriang jadi sambil nunggu Abang beli lauk, aku rebahan. Aku ajak kembar duluan yang setoran supaya terasa lebih ringan karena mereka lagi setoran di juz 30, setoran surat Al-Balad, Asy-Syams, Al-Lail, Adh-Dhuha.

Setorannya alhamdulilah berjalan dengan smooth. Mereka sambil duduk dekat aku, aku peluk-peluk atau mereka yang dusel-dusel di sekitarku. Sebelumnya juga bisa cium-cium dulu pipi mereka.

Ini sekalian buat meluruskan kesalahpahaman bahwa setoran hafalan itu harus dengan kondisi yang strict banget.

Di beberapa postingan saat kembar masih bayi, bisa dibilang setoran kakak-kakaknya hampir selalu di kamar karena harus menyusui mereka.

Tadi yang setoran, giliran pertama Handzolah baru Kholid.

Pas Handzolah udah selesai, aku bilang ke dia untuk ngelancarin 1 ayat baru yang masih agak kelibet di surat Al-Qolam (kemarin aku tes).

Dia kelihatan keberatan – karena baru aja setoran 3 halaman. Alhamdulillah bisa dibilangin, “Itu cuma 10x Han, Handzolah udah hafal kok. Cuma perlu dibenerin biar ga kelibet.”

Biar dia merasa itu bukan hal yang berat banget.

Yang namanya anak-anak berat ketika ibadah itu wajar, yang dewasa aja gitu kan. Tugas kita bimbing dan didik.

Ada satu syubhat yang aku lihat bersliweran ttg mendidik anak menghafal Al-Qur’an kemudian diidentikkan dengan sekedar mendidik kognitif anak atau hal-hal “negatif” karena anak dipaksa menghafal.

Akhirnya jadi pembenaran untuk “Iya ya, ga usah didik anak hafal Al-Qur’an.”

Semoga Allah mudahkan buat meluruskan pola pikir ini ya.

Disclaimer:
Sendal Handzolah pas lagi rusak terus pakai sendal lama bang Thoriq-nya 😊

13 Juli 2023
Jogja
cizkah