Biasanya, kembar pakai Al-Qur’an Al-Fatih besar (A4) seperti dari kemarin terlihat. Al-Qur’an Al-Fatih, terbitan Indonesia, ada terjemahan per kata dan terjemahan ayat.
Dulu, kami beli 3 Al-Qur’an Al-Fatih. Yang 2 sudah pernah dipakai dipakai Ziyad dan Thoriq sampai lusuh dan pretel. Satu Al-Qur’an lagi, sengaja dibelikan persediaan untuk Luma.
Maksud aku yang mengiringi anak ketika baca iqro, adalah:
Buku lain yang isinya sudah langsung keseluruhan hijaiyah
Poster harokat yang isinya juga sudah keseluruhan hijaiyah. Ini beneran memudahkan insya Allah karena anak tinggal tengok aja.
Buku iqro itu sendiri (misal yang sering lupa materi di iqro 3, berarti bawa iqro tersebut)
Jadi, kalau anak lupa, tinggal tunjuk si huruf. Atau ketika lupa materi, berarti dijelasin lagi.
Kadang, masih di iqro yang sama juga tetap harus dibolak-balik untuk mengingatkan materi yang mereka lupa.
Karena sebenarnya membaca hijaiyah ini, memang butuh latihan banyak, sedangkan satu materi di iqro, kadang cuma latihan 2 halaman sudah materi baru.
Misal:
Belajar fathahtain kalau diwaqof, maka ga dibaca tanwin, tapi dibaca mad ada di halaman awal iqro 5. Sampai akhir halaman iqro 5, anak-anak masih sering banget dijelasin ulang, lihat lagi ke halaman tsb.
Buat pengiring pengingat huruf, sebenarnya bisa buku apa aja. Cuma buat wasilah untuk bantuan anak mengingat. Dulu, waktu zaman Thoriq, pakai buku metode Asy-Syafi’ karya Abu Ya’la.
Nah, kalau buku yang di foto, ini buku klasik banget ya. Siapa yang masa kecilnya masih ketemu buku ini :)?
Buku turutan ukuran buku tulis besar, cover biru
Aku dulu sempat diajarin Mama, sekitar usia 7-8 tahun. Ujung-ujungnya mandeg cuma sampai halaman 2 hehe. Akhirnya belajarnya dari iqro, belajar dari guru TK aku – rohimahallah – yang buka kelas TPA di rumahnya.
Beli buku ini di Social Agency. Ke sana abis lebaran. Masih suasana libur, diajak Abang dadakan. Kita seneng banget di sana. Akhirnya kepegang buku ini, kirain buat nambah referensi aja di rumah. Ternyata kepakai alhamdulilah.
Aku pakai yang biru, karena lebih jelas.
Perbandingan ukuran buku turutan dan iqro.
Kebayang ya, buku-buku yang sederhana ini puluhan tahun bermanfaat buat orang belajar Al-Qur’an. Ga heboh-heboh atau dibranding “penulis best seller”, “buku best seller”.
Ga perlu.
Tapi pahalanya insyaAllah mengalir untuk orang yang membuat dan menyusunnya. Sederhana apapun manfaat dari ilmu yang diambil.
Iqro Cadangan
Tips lain buat ngajar anak iqro, sediakan iqro cadangan . Ini mungkin bisa beda-beda situasi di tiap keluarga.
Tapi, kalau di sini, selalu ada momen iqro-nya ketelingsut entaah dimana. Jadinya, nambah waktu buat nyari dulu. Akhirnya mutusin untuk beli lagi untuk cadangan.
Ternyata, cetakan terbaru Iqro Rasm Utsmani, ada perubahan.
Tulisan bertumpuk tetap ada, tapi ga sebanyak yang lama.
Tulisannya ga full padat seperti versi lama. Sebenarnya tulisannya ada yang terlihat jadi lebih kecil.
Meja panjangnya dipindahin ke dalam. Soalnya di luar lagi mendung. Kalau mendung, terasnya jadi gelap banget.
Ini mereka lagi ngerjain soal dari buku gasing. Bahas buku gasingnya di post sendiri ya insyaAllah. Belum foto-foto.
Mau cerita lainnya.
Waktu aku pikir bisa “narik napas” setelah antar Ziyad hari Kamis dan pelan-pelan mau beresin rumah setelah segala persiapan ke pondok 2 anak..
Ternyata ujian berikutnya langsung ada lagi…
Waktu Thoriq dijemput hari Sabtu, aku sambut di pintu ke arah garasi.
Abang langsung cerita sesuatu.
Thoriq yang lagi aku peluk juga langsung nangis. Kasihaan…
Malamnya dan hari-hari berikutnya, dia sakit. Drop, lemas, pilek.
Malam Rabu, aku pesan alat nebulizer khawatir Kholid ketularan dan efeknya bakal cepet kaya sebelum-sebelumnya.
Sengaja cari yang di Jogja. Kamis siang udah sampai alhamdulilah.
Alhamdulillah Kholid baik-baik aja.
Malam Kamis, akhirnya Thoriq diuap pakai minyak kayu putih pakai nebulizer.
Alhamdulillah ternyata ingusnya langsung keluar meleer…
Besoknya dia enakan dan lebih ceria. Udah bisa nimbrung sama adek-adeknya duduk di meja di video ini. Tapi nafasnya masih agak pendek. Jadi biar bener-bener nunggu fit dulu baru diantar ke pondok.
Ketika baru mau “narik napas” lagi, qodarullah Jumat pagi tiba-tiba Luma demam.
Laa haula wa laa quwwata illa billah…
Sehari sekali, Luma juga diuap minyak kayu putih.
Alhamdulillah jadi keluar ingusnya.
—
Alhamdulillah insyaallah mulai terlalui. Thoriq di antar sore ini ke pondok Luma udah enakan ga lemes lagi. Udah mulai tegak, makan sendiri dan mulai baca-baca lagi.
Bukan sebuah rekaman yang super rapi. Tapi, kenyataannya, kadang pas setoran hafalan seperti ini ya.
Ini lagi setoran hafalan baru. Insya Allah untuk membantu menggambarkan realita gimana praktek hafalan buat anak-anak.
Dari rekaman ini, aku juga dapat poin bahasan tentang hafalan baru. Yaitu tentang momen cek dan setoran hafalan baru yang sudah dihafal. Ini bisa aja bebas kapan aja, gak mesti duduk. Apalagi kalau surat-suratnya masih pendek-pendek juz 30 bagian belakang.
Tapi untuk NAMBAH ayat baru, seperti pernah aku share di salah satu postingan ya. Mereka duduk dan lihat Al-Qur’an. Karena ayatnya sudah model ayat yang kompleks. Plus suratnya juga panjang.
Alhamdulillah, hari ini terasa lebih damai dari biasanya. Materi anak-anak alhamdulillah juga tercapai juga dengan damai. Mungkin juga karena aku belum ngajarin materi baru (Matematika). Tapi aku mau catat tentang hari ini. Karena siapa tahu dengan pola hari ini, hari-hari dan materi insya Allah bisa tercapai dengan tenang dan gak kerasa buru-buru atau terasa hectic.
Aku masak lauk ringan siang. Sudah ada kue dan roti bikinan aku kemarin. Kembar udah aku mandiin. Aku udah mandi duluan juga, jadi kerasa lebih segar.
Setelah makan siang udah sempat minum kopi dan ngobrol sama Abang di teras. Aku masih sempat review satu kerjaan sama tim. Alhamdulillah bisa aku cek lewat hp. Jadi, sambil ngopi sambil review dan bahas kerjaan.
Lagi dijelasin tentang wadi dan madzi. Ga kerekam dari awal tapi :). Ini juga aku ngerekamnya berusaha gak ganggu dan mutus Abang yang lagi nerangin.
Penjelasan penting untuk anggota keluarga karena berkaitan dengan najis. Najis yang kemungkinan menempel di pakaian dan ga disadari. Kalau najis di kaki atau tangan, biasanya masih kelihatan dan disadari untuk dibersihkan.
Tapi kalau wadi dan madzi bisa jadi ga disadari kalau belum punya pengetahuan tentang ini. Kita muroja’ah sedikit pengetahuan tentang ini ya :).
WADI
adalah cairan putih keruh yang muncul tanpa syahwat. Biasa keluar sebelum atau setelah kencing, pup, mengangkat beban berat atau kelelahan.
Wadi itu najis dan wajib dibersihkan. Amannya kalau perempuan misal ga sadar, ganti aja celana dalam misal dalam kondisi lelah (safar dll).
MADZI
adalah cairan bening, lengket, mirip air liur yang tanpa buih. Madzi keluar karena syahwat.
Madzi itu najis dan wajib dibersihkan.
>>
Konteks membersihkan najis wadi dan madzi ini terutama ketika akan melakukan ibadah seperti sholat atau membaca Al-Quran ya.
Karena wudhu tapi kalau masih ada najis yang melekat ini maka tetap perlu dihilangkan najisnya.
MANI
Kalau ini cairan berwarna putih kental. Keluar karena syahwat. Biasanya disertai rasa lemas setelah keluar. Mani tidak najis. TAPI… Untuk pasangan suami istri, biasanya mani akan keluar setelah berhubungan. Dan saat berhubungan, pasti diawali adanya madzi. Jadi, amannya, seluruh area dan pakaian saat itu dibersihkan agar bersih dari najis madzi ☺️. Semoga bermanfaat. @cizkah #wadi #madzi #mani #najis #islam #sunnah #catatancizkah #limaanakhomeschooling #parentingislam - Versi Instagram
Ada beberapa hal yang berubah seiring waktu dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari. Ini karena terkait banyak hal. Alhamdulillah praktek dengan speaker ini berjalan cukup lama, sampai kembar hampir usia 3 tahunan.
Abang pulang membawa berita kalau info dari SKB, sudah terlambat kalau mau mendaftarkan untuk ikut ujian nasional tahun 2019. Daftarnya harus menunggu tahun ajaran baru nanti tahun 2019. Berarti baru bisa ikut UN tahun 2020.
Waktu dengar berita ini, tentu saja perasaan aku campur aduk. Ada rasa sedih, tapi insya Allah tetap berusaha tenang dan gak langsung bereaksi yang gimana-gimana. Gimana-gimana ini maksudnya panik, kesal, marah atau yang seperti itu. Lebih langsung mikir ke berbagai opsi-opsi lain berkaitan konsekuensi dari berita baru ini.
Tulisan ini terutama konteksnya adalah memulai homeschooling di usia pra sekolah (SD).
Waktu pertama kali hendak memutuskan “homeschooling”; dalam arti anak akan belajar bersama aku di rumah, tentu saja aku juga mencari-cari tahu informasi terlebih dahulu.
Selama ini, mungkin sulit dibayangkan bagi teman-teman yang belum pernah menjalankan homeschooling, praktek sehari-harinya tuh seperti apa.
Jika dikaitkan dengan pendidikan jarak jauh yang kemudian diartikan belajar dari rumah dikarenakan pandemi Corona ini, maka praktek homeschooling tidak seperti itu.
Homeschooling memang bisa terasa berat untuk beberapa hal. Tapi, praktek belajar di rumah bukanlah kegiatan padat terstruktur untuk anak sebagaimana yang diterapkan di belajar di rumah saat pandemi berlangsung.
Kalau proses belajar di rumah seperti itu, mungkin banyak yang langsung “nyerah” karena membayangkan bertahun-tahun harus menjalankan aktifitas bersama anak seperti itu.
Di sisi lain, memang belajar di rumah juga bukan hal yang mudah karena pastinya butuh keterlibatan orang tua.
Lalu, sisi ruangnya dimana?
Dalam praktek homeschooling, seperti aku pernah sebut di tulisan serihomeschooling sebelumnya, belajar tuh gak padat dalam arti seperti di sekolah harus dari pagi sampai siang atau bahkan sampai sore.
Kalau belum tahu tentang jenis kegiatan belajar anak, bisa-bisa dikira anak gak belajar. Atau hati orangtua jadi gak tenang karena merasa anak belajar sebentar dan sedikit.
Kalau seperti itu, berarti mindset proses belajar dan tentang belajar itu sendiri masih dengan mindset sistem belajar di sekolah. Anak dianggap belajar kalau baca buku, duduk diam, ngerjain soal, dapat tugas-tugas, dikasih instruksi untuk melakukan suatu kegiatan untuk kemudian dilaporkan, atau hal-hal sejenis itu.
Insya Allah, ini sekedar untuk mengingat tentang mindset belajar ya. Tapi tulisan kita kali ini sebenarnya bukan mau fokus di situ.