Ada beberapa hal yang berubah seiring waktu dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari. Ini karena terkait banyak hal. Alhamdulillah praktek dengan speaker ini berjalan cukup lama, sampai kembar hampir usia 3 tahunan.
Alhamdulillah, dari kegiatan edit sensor buku, anak-anak itu menangkap banyak hal lainnya. Hal yang itu jadi praktek di kehidupan sehari-hari.
Edit sensor buku itu kan mengedit gambar, aurot, dan kata-kata yang kurang tepat. Ternyata kalau mereka mendapati hal yang diedit itu di luar perbukuan, mereka langsung cepat menangkap.
Beberapa waktu lalu baca tulisan tentang generasi home service yang generasi ini terbiasa semuanya serba enak, ada, tinggal pakai, dibantuin terus dsb.
Kemudian dibilang kalau lebih baik anak itu diberi TANTANGAN.
Seperti biasa, kalau ada tulisan parenting atau apapun, kita pikirin dulu yah. Kalau secara syariat gimana. Dari awal, seperti ada yang kurang pas kalau disebut tantangan.
Secara Masehi, Luma lahir bulan Februari tahun 2014. Tapi karena memang ada selisih hari di tahun Masehi dengan Hijriah, aku udah mulai waspada dan memperkirakan bahwa Luma sudah mendekati masa usia 7 tahun secara Hijriah. Selisih hari ini, kalau di”rapel” bakal jadi selisih bulan yang lumayan banyak.
Bukan waspada dalam arti negatif hehe. Cuma bagian dari usaha memulai sesuatu yang diperintahkan dalam agama Islam supaya gak sampai kelewat banget. Yaitu perintah dari syariat untuk memerintahkan anak sholat di usia 7 tahun.
“Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika telah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia.” (Shahih: HR. Abu Dawud)
Salah satu hal yang mungkin terlihat sederhana. Tapi, untuk menuju ke sini, cukup berliku-liku. Inti masalah dalam perjalanan belajar adalah terkadang buku-buku yang sedang dipelajari ketelingsut entah dimana.
Ini biasanya utamanya terjadi usia pra sekolah. Karena buku-bukunya yang dipelajari hanya beberapa. Kadang, setelah belajar sudah berusaha diingat untuk diletakkan di tempatnya lagi. Tapi ya kadang tetap terlupa. Akhirnya sewaktu mau belajar lagi harus mencari-cari dulu.
Dulu akhirnya, mengumpulkan buku yang dipelajari di map berbahan plastik yang beritsleting. Masalahnya tetap sama. Sudah ditaruh di map plastik. Map plastiknya terselip entah dimana.
Ada beberapa media belajar yang masih di simpan di wadah plastik berritsleting
Sampai akhirnya, aku merasa butuh suatu wadah yang berisi buku-buku yang sedang aku pelajari atau sering aku akses. Aku ingin semua dalam kesatuan dan sekali duduk gak perlu cari-cari yang lainnya. Akhirnya aku pakai wadah sealware yang biasa digunakan orang-orang untuk menjual donat. Di rumah awalnya ada dua buah dan sudah berganti-ganti fungsi.
Kira-kira begini kalau aku lagi nyatat catatan haid
Enaknya lagi, aku bisa sekalian menulis di sini. Karena bisa difungsikan juga sebagai meja. Kalau mau lebih nyaman supaya semua bagian rata, bisa ditambah cutting matt.
Karena gak terlalu besar dan ringkas, bisa di bawa ke kasur dan mengakses buku yang mau digunakan sebelum tidur bersama anak-anak. Biasanya anak-anak jadi ikutan mencorat-coret atau menggunakan pena yang aku pakai.
Ketika menyimak anak-anak membaca Al-Qur’an juga bisa langsung meletakkan di atas wadah. Supaya Al-Qur’an tidak sampai ditaruh di lantai.
Melihat kefleskbelan tersebut, ternyata Thoriq juga mau. Abang juga mau. Akhirnya alhamdulillah masing-masing anak punya. Untuk krucil masih dalam satu wadah, karena buku yang digunakan masih sedikit. Kalau Thoriq untuk buku-buku tertentu yang sering diakses semisa buku latihan yang tebal. Buku-buku pelajaran lainnya tetap berada di rak.
Tapi kalau Abang, ujung-ujungnya masih agak sama seperti yang kemarin-kemarin sih. Jadinya numpuk buku yang sedang dipelajari di situ hehe. Lumayan deh. Kalau dulu bertumpuk penuh di meja. Sampai akhirnya aku sediakan laci khusus di samping meja Abang untuk meletakkan buku atau kitab lainnya sering digunakan. Nah, yang di wadah ini khusus yang lebih sering lagi atau yang lagi aktif dipelajari.
Abang tuh masih pemula (penuntut ilmu) dan merasa masih pemula. Jadi jangan dikira kami ini – terutama aku – adalah orang yang faqih banget dalam agama.
Saran aku, jika ingin membeli wadah sejenis ini, beli di tempat-tempat yang memang menjual dengan harga grosir. Kalau di Jogja bisa di Progo atau Fortuna. Karena perbedaannya cukup jauh. Bisa juga kalau di Jakarta, mencari di Tokopedia. Biasanya akses ke toko-toko online yang menjual barang murah lebih banyak.
Itu biasa. Apalagi pas masih kecil. Apalagi kalau setorannya sama Abang ☺️. Jangan khawatir insyaAllah. Karena Al-Qur’an itu penuh berkah. Jadi seharusnya Insya Allah bukan hal yang bikin stress. – Kemarin-kemarin, porsi terbesar untuk nyimak setoran hafalan di aku. Sampai beberapa waktu yang lalu, mereka masih merasa keberatan kalau diminta setoran sama Abang. Soalnya lebih ketat untuk sampai ke titik selesai setoran. Kalau salah bakal diulang-ulangnya sampai entahlah kapan selesainya 😁. Kalau setoran hafalan sama aku, sebenarnya kadang ya gitu, dan ya ada juga sih acara nangis-nangis. Tapi kesiapan mentalnya tetap beda ya ☺️. Masing-masing butuh adaptasi. Begitupun dengan Abang.
Sampai akhirnya mereka alhamdulillah mulai terbiasa setoran ke Abang. Abang juga akhirnya pakai cara minta mereka mempersiapkan maksimal hafalannya untuk disetorin. Alhamdulillah akhirnya sampai di titik mereka udah biasa dan emang bukan hal “eksklusif” lagi untuk setoran ke Abang. Yang terjadi sekarang malahan alhamdulillah mereka sudah bisa diminta nyimak hafalan Abang. Semuanya berproses. Ga langsung smooth jadi gitu aja. Jadi, keep moving forward. Sabar, Istiqomah..jangan lemah. – Bulan puasa ini, Ziyad mulai baligh alhamdulillah. Disusul suaranya yang mulai berubah. Alhamdulillah semua prosesnya bisa terjadi ketika di dekat aku dan Abang. Harapan Abang memang begitu. #limaanakhomeschooling #limaanakdirumah #alquran #islam #sunnah #parentingislam #homeschooling #homeschoolingislam
Selama ini, mungkin sulit dibayangkan bagi teman-teman yang belum pernah menjalankan homeschooling, praktek sehari-harinya tuh seperti apa.
Jika dikaitkan dengan pendidikan jarak jauh yang kemudian diartikan belajar dari rumah dikarenakan pandemi Corona ini, maka praktek homeschooling tidak seperti itu.
Homeschooling memang bisa terasa berat untuk beberapa hal. Tapi, praktek belajar di rumah bukanlah kegiatan padat terstruktur untuk anak sebagaimana yang diterapkan di belajar di rumah saat pandemi berlangsung.
Kalau proses belajar di rumah seperti itu, mungkin banyak yang langsung “nyerah” karena membayangkan bertahun-tahun harus menjalankan aktifitas bersama anak seperti itu.
Di sisi lain, memang belajar di rumah juga bukan hal yang mudah karena pastinya butuh keterlibatan orang tua.
Lalu, sisi ruangnya dimana?
Dalam praktek homeschooling, seperti aku pernah sebut di tulisan serihomeschooling sebelumnya, belajar tuh gak padat dalam arti seperti di sekolah harus dari pagi sampai siang atau bahkan sampai sore.
Kalau belum tahu tentang jenis kegiatan belajar anak, bisa-bisa dikira anak gak belajar. Atau hati orangtua jadi gak tenang karena merasa anak belajar sebentar dan sedikit.
Kalau seperti itu, berarti mindset proses belajar dan tentang belajar itu sendiri masih dengan mindset sistem belajar di sekolah. Anak dianggap belajar kalau baca buku, duduk diam, ngerjain soal, dapat tugas-tugas, dikasih instruksi untuk melakukan suatu kegiatan untuk kemudian dilaporkan, atau hal-hal sejenis itu.
Insya Allah, ini sekedar untuk mengingat tentang mindset belajar ya. Tapi tulisan kita kali ini sebenarnya bukan mau fokus di situ.
Dari sebuah boneka, banyak hal ternyata bisa dijadikan pelajaran.
Ini adalah boneka bikinan aku buat Luma. Aku bikin ini waktu hamil Luma. Artinya sekitar 6,5 tahun yang lalu.
Saat ini, boneka ini Handzolah anggap sebagai boneka miliknya. Yang dibawa kemana-mana.
Ada pelajaran yang aku anggap dari kejadian ini:
Pertama, Sesuatu yang kita buat hari ini, bisa jadi dimanfaatkan bukan pada hari ini atau hari yang dekat. Tapi dimanfaatkan oleh orang yang bahkan belum ada di pikiran kita saat membuatnya.
Jadi, berkarya saja.
Ini gak cuma bukan masalah boneka atau bikin sesuatu untuk anak-anak ya. Tapi juga ke hal berkaitan dengan ilmu atau hal lainnya yang bermanfaat.
Tapi dalam bahasan kita kali ini, kalau ada yang bisa kita bikin untuk anak-anak kita, maka luangkanlah waktu. Gak harus jadi dalam waktu sehari dua hari tiga hari. Nikmati setiap proses dari sebuah proses yang insya Allah hasilnya nanti akan berguna.
Kedua. Apakah teman-teman melihat kalau boneka ini terlihat dekil, cacat dan tidak sempurna?
Dari berbagai kejadian dengan anak-anak yang berkaitan dengan mainan-mainan mereka, mereka tidak mengenal yang namanya kesempurnaan seperti yang di benak orang dewasa.
Mereka adalah orang yang penuh penghargaan insya Allah.
Mereka gak merasa kurang yang bikin gak hepi dengan wujud boneka ini.
Kayanya sedih ya kalo ada yang bikin sesuatu kemudian dibilang jelek. Ada yang mau aku bahas juga berkaitan sama ini. Insya Allah di tulisan lain.
Jangan over expectation. Yang dibawa-bawa juga bisa ditinggalkan begitu saja. Ini dilempar karena asyik main yang lain. Lokasi foto di Mika Coffee Jogja
Sayang dan Super Ego (Posesif?)
Ini adalah catatan lanjutan dari proses yang kita lakukan untuk anak-anak kita. Aku gak tahu istilah yang tepat untuk hal ini.
Pelajaran ini aku dapati dari satu kejadian.
Waktu itu kami lagi pergi ke toko merah. Sebelumnya beli jaket untuk Ziyad dan Thoriq karena jaket mereka udah pada kekecilan. Kalo krucil masih cukup. Jadi kami putuskan untuk krucil dibelikan barang yang lain. Kami bolehkan membeli yang mereka inginkan di Toko Merah.
Sampailah sudah di waktu-waktu terakhir, Luma belum menemukan yang benar-benar dia inginkan.
Di lantai 3, ternyata ada satu sudut boneka. Ada boneka perempuan dari bahan kain yang menarik perhatiannya. Karena wujudnya bukan boneka seksi seperti barbie, aku goyah. Antara ingin membolehkan atau tidak.
Tau gak salah satu perasaan yang muncul pada saat itu apa? Aku sedih dan khawatir, bahwa boneka yang aku bikin yang biasa jadi kesayangannya Luma akan tersingkirkan.
Tapi aku berusaha bersikap “bijak”. Aku berusaha (keras) berpikir tanpa ada pengaruh dari pikiran itu. Akhirnya, Abang yang ambil keputusan untuk membolehkan membeli boneka itu.
Waktu baru pulang dari toko Merah, sesampainya di kamar ada perasaan gelisah, sedih dan rasanya ingin marah. Campur aduk juga ingin menangis.
Mungkin marah ternyata aku bukan yang paling spesial. Sedih juga karena aku merasa ditinggalkan. Ya ampun, rumit dan jadi hiperbolik banget kan. Tapi ini perasaan manusia yang justru sering malah menang dan bikin ribut dunia sebenarnya.
Akhirnya seperti biasa aku ceritakan kegundahan aku ke Abang.
“Abang…aku sedih.”
Aku ceritakan perasaan aku. Tapi aku juga cerita bahwa sebenarnya aku sudah tahu jawaban dari pikiran aku. Bahwa aku gak sepatutnya seperti itu. Kenapa aku harus egois merasa harus cuma bikinin aku yang bisa membahagiakan Luma?
Padahal Luma senang dengan bonekanya yang baru. Padahal bukan berarti aku kehilangan Luma atau Luma menjadi sosok yang meninggalkan aku.
Cuma super ego saja. Merasa harus yang paling paling untuk Luma. Padahal kalau aku relakan, tetap Luma insya Allah sayang sama aku. Gak ada hubungannya boneka ini sama hubungan antara aku dan Luma. Jadi kompleks banget karena kerumitan pikiran orang dewasa saja.
Setelah aku cerita kesedihanku dan dengan segala pemikiran itu ke Abang. Cukup bikin aku lega. Alhamdulillah aku bisa bersikap biasa menghadapi hasil dari beli boneka perempuan tadi.
Seperti dapat diduga, boneka perempuan itu menggantikan hari-hari Luma bersama boneka yang aku buat.
Bukan berarti boneka yang aku buat ditinggalkan seluruhnya. Tapi dia bukan lagi boneka favorit yang selalu dibawa kemana-mana.
Boneka baru Luma
Tetap Seorang Anak, Anakku
Aku lega banget karena aku bisa segera menetralisir pikiran negatif super ego yang bisa malah berujung marah-marah dan padahal gak ada yang diuntungkan selain rasa “menang” yang sebenarnya gak bikin bahagia siapapun.
Hari-hari Luma seperti biasa. Selanjutnya dia masih minta dibikinkan boneka kain yang dari kemarin belum berhasil aku buat. Aku merasa masih belum ketemu yang cocok dengan boneka yang dia inginkan. Antara ingin bikin yang lebih baik dari sebelumnya tapi juga lebih praktis supaya bisa ada berbagai pritilan yang diharapkan Luma.
Satu lagi ganjalannya adalah, aku ingin hasilnya “sempurna”. Yes…overthinking, sempurna, berhasil, bagus. Mindset orang dewasa.
Sampai suatu hari, aku bebikinan boneka kertas sama Luma. Simpel aja. Cuma dari kertas setengah lingkaran yang dibikin kaya rok. Kemudian ditambah bagian atasnya dll. Ngikutin petunjuk salah satu buku yang kami punya untuk prakarya bersama anak.
Hasilnya…mau dibilang apa? Dari kacamata siapa? 🙂 Boneka hasil bebikinan itu dipegang Luma selama beberapa hari. Dicari ketika bangun tidur. Sampai akhirnya rusak karena memang bahan dasarnya hanya kertas. Sampai akhirnya aku bilang, insya Allah nanti kita bikin lagi.
Dari situ, dan kejadian boneka Handzolah di atas, aku akhirnya sadar, mereka tidak minta kesempurnaan. Kesempurnaan sebagaimana yang aku pikirkan. Bagi mereka, dibuatkan sesuatu sesuai yang mereka harapkan adalah sebuah kebahagiaan.
Saat Ingin Membuat Sesuatu untuk Anak
Akhirnya kami berusaha memilih bersama boneka yang akan aku buatkan. Alhamdulillah akhirnya ketemulah contoh boneka yang diharapkan Luma. Yang sebenarnya kalau dikerjakan buanyak banget.
Tapi…belajar lagi dari kejadian boneka Handzolah, ada satu lagi yang perlu ditanamkan selain mindset kesempurnaan yang tidak ada. Bahwa apa yang kita buat itu juga tidak harus terburu-buru. Sambil menyepakati boneka yang akan aku buat untuk Luma, aku sebenarnya juga sedang membuatkan boneka rajutan untuk Kholid.
Sebenarnya ada boneka lain di rumah yang bukan homemade. Salah satu boneka yang dia pilih adalah boneka dinosaurus dan babi. Aku tawarkan boneka lainnya yang pernah aku buat dia gak mau.
Karena aku mengenali karakter Kholid insya Allah, aku carikan pattern boneka baru yang kira-kira sesuai dengan dia. Aku bilang insya Allah aku bikinkan untuk Kholid. Karena ada perasaan aku ingin berusaha biar adil, ada boneka bikinan aku yang dipegang anak-anak.
Dari rajutan ini aku belajar, bahwa proses itu gak harus cepat. Sabar karena kita gak sedang lomba dengan siapapun alhamdulillah. “Klien” kita ini bukan yang ngasih deadline juga.
Berproses saja secara istiqomah. Dan ini sebenarnya berlaku untuk semua hal yang kita lakukan.
Berproses saja secara istiqomah.
Boneka rajut Kholid. Sudah masuk pekan kelima alhamdulillah
Untuk rajutan, kadang sehari dapat 4 baris rajutan. Kadang bisa dapat 10 baris. Dalam 4 pekan, alhamdulillah rajutan boneka untuk Kholid udah sampai tahap badan. Sempat selama sepekan aku gak terlalu dapat banyak hasil karena ada prioritas-prioritas lain yang bikin gak bisa kepegang. Satu kaki aku kerjakan dalam 1 pekan.
Untuk Luma, dengan berprinsip seperti itu, akhirnya kami mulai project bikin boneka dari kain felt.
Mulai saja. Jangan anggap susah. Semuanya butuh proses.
Alhamdulillah jadilah sosok boneka datar dari kain felt. Sudah dengan bajunya. Semoga dimudahkan untuk tambahan lainnya.
Dunia anak, memang gak lepas dari boneka. Apalagi anak perempuan.
Sama seperti hadits Aisyah yang sedang memainkan boneka dan ditanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Apa ini wahai Aisyah ?, ia menjawab: “Boneka saya”, beliau melihat ada seekor kuda (mainan) yang terikat dan mempunyai dua sayap, beliau bertanya: “apa ini ?”, saya menjawab: “kuda”, beliau menjawab: “kuda mempunyai dua sayap ?”, saya menjawab: “Tidakkah anda mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai seekor kuda yang bersayap ?, maka beliau tertawa”.
Masih nyambung dengan bahasan jalankan prioritas sama saja dengan menjalankan amanah.
Walau kemarin bahasannya lebih banyak ke ibu-ibu, tapi sebenarnya usaha menjalankan prioritas yang berarti menjalankan amanah ini berlaku untuk semua orang.
Termasuk anak-anak.
Biasanya, saat keluar bersama di waktu weekend, aku kebagian memboncengi Ziyad dan Handzolah.
Obrolan biasa terjadi saat kami berada di perjalanan.
Salah satunya ya pesan tentang menjalankan prioritas ini.
Pesan Ummi:
Ziyad, Ziyad itu sudah dapat nikmat banyak. Bisa sekolah di situ. Alhamdulillah dapat guru yang insya Allah baik. Teman-teman yang baik. Bisa pulang Sabtu Ahad. Alhamdulillah Allah mudahkan Abi dan Ummi untuk bisa bayar biaya di pondok.
Semua fasilitas sudah ada buat Ziyad.
Tugas Ziyad cuma menghafal AL-Qur’an
Tolong jalanin tugas itu sebaik-baiknya.
Prioritas Ziyad ya menghafal Al-Qur’an.
Ziyad gak perlu cari-cari kesibukan-kesibukan lainnya.
Coba bayangin, ada orang sudah dapat fasilitas macam-macam, kemudian ketika dia diminta untuk menjalankan kewajibannya dengan fasilitas itu, dia merasa berat dan malah mencari kesibukan lainnya.
Itu gimana?
Aneh gak?
Itu hubungan antar manusia. Makanya jangan heran kalau Allah sudah kasih nikmat, tapi ga bersyukur. Kemungkinan nikmat itu akan Allah cabut. Na’udzu billah min dzalik.
Jadi menjalankan prioritas itu sebenarnya ya berarti bagian dari wujud rasa syukur.
Ziyad udah melihat sendiri bahkan yang sudah ada di pondok, ternyata Allah bisa cabut nikmat tersebut. Ternyata dia gak ada di pondok itu lagi. Gak bisa dapat guru lagi. Gak bisa bertemu dengan teman-teman yang insya Allah baik.
Jadi jangan merasa aman.
Kalau Ziyad mau cari kesibukan lain, itu nanti. Setelah Ziyad menjalankan prioritas dengan baik.
—
Tentu saja percakapan aslinya terjadi dua arah. Dia paham dengan apa yang aku maksud.
Jadi, yuk bersyukur dengan menjalankan apa yang menjadi tugas utama kita saat ini sebaik-baiknya.
Surat ini adalah yang akan dibaca seseorang sepanjang hidupnya insya Allah. Minimal 17 kali dalam sehari, yaitu dalam sholat-sholat wajib.
2 kali saat sholat Subuh
4 kali saat sholat Dzuhur
4 kali saat sholat Ashar
3 kali saat sholat Maghrib
4 kali saat sholat Isya
Bayangkan jika – dengan izin Allah -, anak bisa membaca surat ini melalui hasil didikan orang tua. Maka semoga ini termasuk amal yang tak terputus ketika sang orang tua telah meninggal karena menjadi ilmu yang bermanfaat yang diamalkan.
Udah lamaaa banget mau nulis tentang buku. Entah kenapa kalau pas bisa nulis, malah nulis yang lain. Pagi ini menguatkan tekad untuk menulis tentang ini..
Mari kita mulai ngomongin buku dari berbagai sudut.
Pertama, ketika aku ngomongin masalah budget untuk buku, itu karena aku homeschooling ya. Jadi, memang dana pendidikan anak-anak, hampir sebagian besar (setiap bulan) itu ya ke buku dan peralatan tulis.
Pengeluaran tambahannya paling kalau ada hadiah hafalan mereka atau jalan-jalan.
Usia mereka udah 21 bulan. Biasanya, kakak-kakaknya mulai toilet training sejak usia 18-19 bulan. Tapi aku kan merasa masih gak sanggup deh. Wong gak toilet training aja udah berapa kali bolak-balik ke kamar mandi, bolak-balik gendong mereka, dst. Intinya sih belum siap fisik dan mental.
Alhamdulillah, suatu malam, beberapa hari setelah lebaran, aku merasa kaya, pengen nyoba toilet training deh. Merasa lagi kuat fisiknya dan merasa cukup siap mental untuk menjalankan proses ini.
Mungkin karena efek libur kerjaan dan homeschooling selama 2 minggu ya. Jadinya pressure yang biasanya ada tiap hari berkurang. Tambahan lagi, beberapa bulan terakhir ini aku mulai merasa pengeluaran buat diaper mereka ko gede banget ya.